Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jeffry menahan senyumnya agar tidak semakin meledek, meski binar jenaka masih jelas terpancar di matanya.
Ia tahu betul istrinya sedang mati-matian menahan malu akibat bunyi perut yang membocorkan gengsinya sendiri.
"Sudah, jangan malu begitu. Perut jujur, kok, orangnya gengsi," ujar Jeffry lembut sambil berdiri dari anak tangga.
Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Puja. "Ayo kita ke kantin."
Tanpa menunggu persetujuan, Jeffry langsung menggandeng tangan istrinya dengan erat, membimbing Puja untuk bangkit berdiri.
Puja sontak menarik-narik tangannya, berusaha melepaskan diri sambil melirik panik ke sekitar koridor yang mulai ramai oleh mahasiswa lain.
Wajahnya semakin merah padam. "Mas... lepasin! Malu, ih! Apa Mas nggak malu dilihat mahasiswa lain nanti?" bisiknya tertahan, takut ada yang mengenali dosen baru mereka sedang bergandengan mesra dengan mahasiswinya.
Jeffry melangkah santai, sama sekali tidak berniat melepaskan genggamannya.
Ia menoleh sekilas dengan senyuman hangat yang menenangkan.
"Kenapa harus malu?"
"Ya malulah! Mas kan dosen, aku mahasiswi!" protes Puja cemberut.
Jeffry menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap Puja lekat-lekat dengan manik matanya yang teduh.
"Meskipun di kelas tadi aku dosen kamu... di luar sana, dan sampai kapan pun, kamu tetap istri aku. Halal dan sah di mata agama maupun hukum. Jadi, tidak ada yang perlu disembunyikan atau membuat kita malu."
Mendengar kalimat tulus bercampur ketegasan itu, protes yang sedari tertahan di tenggorokan Puja mendadak menguap begitu saja.
Debaran hangat kembali menyapa dadanya, meruntuhkan sisa-sisa kekesalan dan kecemburuan yang sempat singgah di hatinya.
Puja akhirnya menyerah, membiarkan jemarinya tetap dalam genggaman hangat sang suami.
Mereka pun berjalan berdampingan menuju kantin kampus yang cukup ramai saat jam istirahat.
Setelah mencari meja yang kosong, Jeffry meminta Puja untuk duduk manis sementara ia sendiri yang pergi memesan makanan.
Tidak lama kemudian, Jeffry kembali dengan membawa dua mangkuk nasi soto ayam yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan dua gelas teh tawar di nampan.
Aroma harum rempah soto seketika menggugah selera, membuat perut Puja yang tadi sempat keroncongan semakin tidak sabar untuk segera menyantapnya.
Baru saja Puja akan menyendok kuah soto yang panas, seorang mahasiswi yang dikenal sebagai primadona kampus, Risa, tiba-tiba datang dan berdiri di samping meja mereka.
Risa menatap Jeffry dengan senyum yang dipaksakan dan pandangan yang terang-terangan menggoda.
"Lho, Pak Jeffry? Kok malah makan bareng dia? Kenapa hanya Puja yang diajak makan, Pak?" tanya Risa dengan nada manja, melirik Puja dengan tatapan tidak suka.
Puja yang merasa risih dan ingin menghindari konflik, baru saja akan membuka mulut untuk menjawab, namun Risa dengan angkuh menimpali, "Kamu mau juga? Maksudnya, kamu mau gabung?"
Risa kemudian dengan sengaja menggeser posisi duduknya yang berada di sebelah Puja, lalu berkata dengan nada memerintah, "Puja, kamu duduk di sana saja. Biar aku yang duduk di samping Pak Jeffry."
Jeffry tertegun melihat kelakuan mahasiswinya yang di luar batas.
Namun, sebelum Jeffry sempat menegur, Puja dengan tenang mengalah dan bergeser duduk di bangku yang lebih jauh.
Melihat istrinya pindah, Jeffry tanpa ragu sedikit pun ikut mengangkat mangkuk soto dan gelas teh tawarnya, lalu duduk tepat di samping Puja kembali.
Risa melongo, wajahnya yang penuh makeup tampak menegang.
"Lho, Pak? Kok malah pindah? Saya ditinggal sendiri di sini?"
"Dia..." Jeffry hendak bicara jujur, namun Puja cepat-cepat menggelengkan kepala, memberi isyarat agar suaminya tidak membongkar status
pernikahan mereka dulu.
Jeffry yang menangkap isyarat itu pun hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memedulikan kehadiran Risa sama sekali.
"Kamu makan saja sendiri, Risa," ucap Jeffry dingin.
"Saya ingin makan bersama Puja."
Risa terdiam, harga dirinya sebagai primadona kampus terasa runtuh seketika di depan meja makan itu, sementara Puja hanya menunduk dalam sambil menyembunyikan senyum puas di balik suapannya.
Melihat respons Jeffry yang secara terang-terangan lebih memilih menemaninya, Risa mengepalkan tangan karena kesal.
Harga dirinya sebagai primadona kampus benar-benar jatuh.
Dengan wajah memerah karena menahan malu dan amarah, Risa mendengus keras, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin di bawah tatapan beberapa mahasiswa lain.
Setelah punggung Risa benar-benar menghilang di balik pintu keluar, Jeffry menoleh ke arah istrinya.
Ia meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap Puja dengan kening berkerut penasaran.
"Dek, kenapa tadi harus dirahasiakan?" tanya
Jeffry lembut, meminta penjelasan. "Bukannya lebih baik kalau mereka tahu kamu ini istri saya, biar tidak ada lagi mahasiswi yang berani bersikap genit atau sembarangan sama kamu?"
Puja menghentikan suapannya, lalu menatap suaminya dengan senyuman kecil.
Ia menggelengkan pelan kepalanya.
"Bukan merahasiakannya, Mas..." ucap Puja membela diri dengan suara pelan namun tegas.
"Bukan berarti aku malu diakui sebagai istri kamu. Sama sekali bukan itu."
Jeffry mendengarkan dengan penuh perhatian, menunggu kelanjutan kalimat istrinya.
"Aku cuma nggak mau nanti ada omongan miring di kampus," lanjut Puja menjelaskan beralasan masuk akal.
"Kalau status pernikahan kita langsung terbongkar sekarang, orang-orang malah bakal bilang aku memanfaatkan posisi suaminya buat dapat nilai bagus, atau dibilang anak emas. Aku mau lulus dan kuliah dengan wajar seperti mahasiswa lainnya, Mas. Biar prestasi akademik aku dilihat dari usahaku sendiri, bukan karena aku istrinya dosen pengampu."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Puja, raut wajah Jeffry yang tadinya penasaran kini melunak.
Ada gelombang rasa bangga yang luar biasa menyelimuti hatinya.
Ia tidak menyangka istri mudanya itu memiliki pemikiran yang begitu dewasa dan mandiri.
Jeffry tersenyum hangat, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus lembut puncak kepala Puja yang terbalut hijab.
"Iya, Dek... Kamu benar. Maaf ya, Mas kadang kurang peka sama apa yang ada di pikiran kamu," ujar Jeffry penuh kasih sayang.
"Mas sangat bangga punya istri yang hebat dan mandiri seperti kamu."
Puja tersenyum malu-malu, pipinya kembali merona hangat mendapat pujian langsung dari suaminya di tengah suasana kantin yang mulai kembali tenang.
Mereka pun melanjutkan makan siang dengan hati yang damai dan perasaan yang semakin menyatu.
Setelah jam istirahat usai, suasana kampus kembali sibuk oleh lalu-lalang mahasiswa yang bergegas menuju kelas masing-masing.
Puja berjalan berdampingan dengan Jeffry hingga di persimpangan koridor, tempat jalur mereka harus berpisah sementara waktu.
"Mas, aku ke kelas dulu ya. Jadwal selanjutnya beda dosen," ucap Puja sambil merapikan tali tas ranselnya.
Jeffry mengangguk pelan, tatapannya menyiratkan kehangatan.
"Iya, Dek. Belajar yang rajin, jangan melamun lagi. Nanti pulang kuliah tunggu aku di parkiran ya."
Puja tersenyum dan mengiyakan, lalu melangkah menuju ruang kelasnya.
Sesuai jadwal, mata kuliah berikutnya diisi oleh dosen lain yang mengajar dengan gaya yang jauh berbeda dari Jeffry.
Meski sesekali pikirannya sempat melayang mengingat kejadian di kantin tadi, Puja berusaha fokus mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas.
Sementara itu, di gedung fakultas yang berbeda, Jeffry juga tengah berdiri di hadapan puluhan mahasiswa lainnya.
Suaranya yang tegas dan pembawaannya yang berwibawa membuat kelas yang ia ampu terasa hidup dan interaktif.
Sebagai seorang dosen baru yang cerdas dan berkarisma, ia langsung menarik perhatian para mahasiswanya, meski di dalam hatinya, pikiran pria itu sesekali tetap tertuju pada sang istri di gedung seberang.