Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara koper
Alea masih tergeletak di lantai bandara dengan posisi tidak jelas, satu kaki tertekuk, satu lagi lurus, rambut berantakan, dan ekspresi puas seolah baru saja menyelamatkan dunia.
"Kau mau di situ terus?" tanya Damon datar.
Alea menoleh, menatap Damon dari bawah dengan santai.
"Lagi menikmati hasil kerja keras, om. Jarang-jarang loh aku jadi pahlawan di negara orang."
Damon tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan satu tangan ke arah Alea. Dia tahu gadis ini memang agak random mengingat terakhir kali mereka ketemu. Sunyi sejenak. Alea menatap tangan itu. Lalu menatap wajah Damon. Lalu kembali ke tangannya lagi.
"Kenapa?" tanyanya, alis terangkat.
"Berdiri," jawab Damon singkat.
Alea mendengus.
"Cih, sok datar. Udah kenal juga. Aku bisa sendiri."
Sudut bibir Damon terangkat. Tapi hanya dia yang tahu kalau dirinya sedikit tersungging dengan kelakuan Alea. Gadis itu mencoba bangkit tanpa bantuan.
Namun begitu pinggangnya menopang tubuhnya...
"AU!"
Alea langsung nyengir kesakitan dan refleks meraih tangan Damon tanpa izin. Dengan senyum lebar tanpa dosa.
"Hehehe." ia menyengir.
Damon menggeleng kepalanya lalu menarik gadis itu berdiri dengan satu gerakan ringan, seolah tubuh Alea tidak ada beratnya sama sekali. Begitu sudah berdiri, Alea masih belum melepaskan tangannya. Beberapa detik, Damon menatap tangan mereka. Alea ikut menunduk… lalu buru-buru melepas.
"Refleks pak dokter." katanya cepat, pura-pura santai.
Damon kembali tersungging. Tatapannya kemudian menyapu Alea dari atas sampai bawah. Baju sedikit kotor. Rambut acak-acakan. Dan yang paling jelas, cara berdirinya agak miring.
"Kamu pincang."
"Enggak," bantah Alea refleks.
Damon menatapnya datar.
Alea terdiam… lalu berdehem.
"Sedikit."
Tanpa banyak bicara, Damon melangkah mendekat satu langkah lagi. Tiba-tiba, tangannya terulur ke arah pinggang Alea.
"Eh, eh, om mau ngapain?! Kita bukan muhrim ya!" Alea refleks mundur, tapi langsung meringis lagi.
"Diam," potong Damon singkat.
Tangannya tetap di sana, menahan sisi pinggang Alea dengan hati-hati. Sentuhannya tidak kasar, justru terkontrol, seolah dia tahu betul apa yang dia lakukan. Dengan posisi seperti itu, Alea dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah pria yang usianya jauh di atas dia itu.
Gile, wajahnya mulus banget.
"Om,"
Damon yang fokus mengusap bagian pinggang Alea menatap gadis itu.
"Bisa spill skincare-nya nggak om? Om-nya ganteng sekalii..."
Damon terdiam beberapa saat. Nada bicara itu seperti familiar. Namun dia tidak menyangka saja gadis ini akan mengatakan itu.
"Jangan main-main. Aku bukan teman mainmu." balasnya datar. Tapi dalam hati dia merasa lucu.
"Cih, ya iyalah om bukan teman main aku. Secara om kan sudah tua. Kita beda genera...agkh!"
Alea kaget karena tangan Damon memijit kuat bagian pinggangnya yang sakit tadi. Makin sakit jadinya. Dia menatap pria itu kesal.
"Om sengaja ya?!"
Damon tak menjawab. Hanya tersenyum miring. Alea di buat makin kesal.
"Heran deh, bisa-bisanya mata Kamara buta. Masa om-om gak ada lembut-lembutnya begini dia kejar-kejar. Katarak kali. Jauh kakak gue lah ke mana-mana. Yang sana ganteng kekinian, yang ini ganteng tua."
Mendengar itu Damon mendengus. Jelaslah dia merasa dongkol. Kali ini dia tidak memijat kuat lagi, tapi malah sedikit menggelitik hingga Alea tertawa geli.
"Om, hahaha... Geli... Jangan sentuh kayak gitu... Hahah... Om Damon!"
Alea masih tertawa, tubuhnya sedikit membungkuk sambil berusaha menjauh dari tangan Damon yang usil.
"Ampun om!" kata Alea di sela tawa, napasnya mulai terengah.
Damon akhirnya menarik tangannya, tapi sudut bibirnya masih terangkat tipis, ekspresi yang jarang sekali terlihat dari pria itu.
"Kau sendiri yang mulai," ujarnya santai.
Alea mendengus, masih mengusap pinggangnya yang sekarang malah terasa aneh antara sakit dan geli.
"Ih, dasar dokter kurang bisa di percaya … bukannya nolongin dengan lembut, malah nyiksa."
"Kau bilang apa?"
Alea cepat-cepat menutup mulutnya sambil menggeleng kuat. Damon mendengus lagi. Belum sampai satu menit, Alea sudah bersuara kencang.
"ASTAGA! KOPER AKUU!"
Dia baru ingat kopernya. Telinga Damon sakit sekali rasanya. Bahkan beberapa orang di sekitar situ menatap mereka.
"Jangan teriak Alea," katanya kesal.
Alea tidak peduli. Dia kembali berlari ke tempat pertama kali dia berdiri tadi. Dan tidak menemukan kopernya di mana-mana.
"Koper akuu ... Hilang." matanya berkaca-kaca.
Damon sudah berada di sampingnya lagi. Sebenarnya dia harus pergi secepatnya karena ada urusan. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan gadis yang dia kenal ini sendirian di sini. Mana kopernya hilang pula.
"Kamu taruh di mana tadi?"
"Di situuu ..."
Alea sudah duduk di lantai. Merengek seperti anak-anak yang kehilangan mainannya.
"Om, itu koper isinya barang-barang berharga semuaaa ... Kalo nggak ketemu gimanaa?"
Ya Tuhan. Damon menutup matanya dalam-dalam. Dia yang malu orang-orang memperhatikan mereka.
Damon menghembuskan napas panjang, berusaha menahan kesabarannya yang mulai diuji sejak lima belas menit terakhir.
"Alea," panggilnya pelan tapi tegas.
"Berdiri dulu, ayo."
"Tapi koper akuu..."
"Kita bisa cari. Cepat berdiri." suara Damon makin tegas.
"Galak amat." di sela-sela kesedihan akan kopernya, dia masih bisa berkomentar.
Alea berdiri di bantu Damon lagi.
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu beralih menatap sekeliling. Matanya tajam, mengamati area sekitar dengan cepat.
"Kamu yakin tadi jatuhnya di sini?" tanyanya lagi.
Alea mengangguk lemah.
Damon menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu singkat, lalu mengangkatnya ke telinga.
"Iya. Area kedatangan internasional. Cek cctv sepuluh menit terakhir," ucapnya singkat dalam bahasa yang tidak terlalu jelas bagi Alea.
Alea langsung berhenti merengek.
"Tunggu sebentar, pihak keamanan sedang memeriksanya." kata Damon. Alea tidak banyak bicara lagi. Hanya berharap kopernya cepat ketemu.
Beberapa menit menunggu, seseorang menelpon Damon lagi melaporkan sesuatu. Alea menunggu dengan tidak sabaran.
Ia langsung bertanya begitu lelaki itu mengakhiri panggilan.
"Gimana-gimana, ada hasil?"
Damon menatapnya sesaat.
"Sudah di amankan di ruang keamanan, ayo ke sana sekarang."
Raut wajah Alea berubah lega sekali. Ia melangkah dengan cepat mendahului Damon.
"Hei," Damon belum berjalan selangkah pun. Alea berbalik dengan alis terangkat.
"Kau salah jalan, bukan ke arah sana. Ikut aku."
Setelah berkata begitu, Damon langsung berjalan ke arah kiri. Alea mendengus lalu mengikuti langkah pria itu sambil mencak-mencak sendiri.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino,,,,
semoga mereka berdua berjodoh 🤣
kocak bget alea el,buat pusing anthony..selama 3 ntar jd pcr pak anthony el🤣🤣
Alea jodohnya om damon, dan pak anthony dosen killer jodohnya elora😃
elora kena hukuman selama 3 bulan kasian, pastinya pak dosen anthony pusing, menghadapi alea dan elora...
thankyou mae dah update 2x
yang di gibahin muncul kaya jalangkung.....😂