Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: TANDA DARI SANG RIVAL
BAB 27: GEMURUH BABAK FINAL
Peluit tanda dimulainya babak final Kejurnas Basket bergema nyaring di seluruh penjuru GOR Tri Dharma. Atmosfer pertandingan puncak ini berada di tingkat yang jauh berbeda dari semifinal lusa lalu. Suara genderang suporter, teriakan yel-yel, serta kilatan kamera penonton berpadu menjadi satu gemuruh besar yang memenuhi udara.
Di papan skor digital, nama SMA GARUDA dan SMA NUSANTARA terpampang berdampingan. Tim lawan merupakan juara bertahan yang terkenal dengan strategi pertahanan berlapis dan serangan balik secepat kilat.
Devan berdiri di tengah lapangan dengan balutan perban elastis di lengan kanannya. Sebelum wasit melakukan tip-off, mata Devan melirik sebentar ke arah tribun utama. Di sana, Raina duduk di barisan paling depan. Gadis itu mengepalkan tangannya di udara, menyunggingkan senyum penuh keyakinan yang seketika menghapus sisa kepenatan dan keraguan di benak Devan.
Brak!
Bola dilambungkan ke udara. Kuarter pertama hingga ketiga berlangsung amat sengit dan menguras fisik. Penjagaan ketat dari SMA Nusantara membuat Devan harus memutar otak. Sesuai strategi yang disepakati bersama Coach Farhan, Devan tidak memaksakan diri menjadi pencetak angka utama. Ia memanfaatkan pergerakannya untuk memecah konsentrasi lawan, lalu mengirimkan umpan-umpan matang kepada Rio dan rekan tim lainnya.
Namun, memasuki dua menit terakhir kuarter empat, SMA Nusantara berhasil menyamakan kedudukan menjadi 65 - 65.
Suasana arena makin menegangkan. Ketegangan mencapai puncaknya saat SMA Nusantara melancarkan serangan cepat. Devan melompat tinggi memblokir tembakan lawan, merebut bola rebound, dan langsung melaju cepat memimpin serangan balik terakhir (last possession).
Sisa waktu di jam pertandingan terus bergulir mundur: 10... 9... 8...
Tiga pemain lawan langsung mengepung Devan, menutup ruang tembak maupun ruang umpan. Bahu kanan Devan mulai terasa panas dan berdenyut nyeri akibat beban benturan sepanjang pertandingan.
"Devan, oper!" teriak Rio dari sudut lapangan.
Namun, jalur umpan ke Rio ditutup rapat oleh bek lawan. Tidak ada pilihan lain. Devan mengambil satu langkah mundur di balik garis tiga poin (step-back), menciptakan jarak sempit dari penjaganya.
Ia memejamkan mata sejenak. Di dalam kepalanya, suara hangat Raina bergema terang: Gua percaya sama kamu, Devan.
Devan menekuk lututnya, mendorong tubuhnya ke udara, dan melepaskan tembakan tiga poin dengan dorongan siku kanan terbaik yang ia miliki.
Sisa waktu: 3... 2... 1...
Bola basket meluncur tinggi membentuk kurva sempurna di udara, melintasi riuhnya penonton yang menahan napas bersamaan.
Swish!
Bola masuk bersih menembus jaring tanpa menyentuh besi ring tepat saat sirine tanda berakhirnya pertandingan memekik panjang!
Papan skor berubah seketika: 68 - 65.
Arena seketika meledak dalam gemuruh sorak-sorai yang luar biasa. Seluruh pemain cadangan dan official SMA Garuda berlari menyerbu ke tengah lapangan, menubruk dan memeluk Devan yang mengangkat kedua tangannya ke udara dengan napas terengah-engah dan senyum kemenangan yang memancar puas.
Dari balik kerumunan di pinggir lapangan, Raina berdiri sambil bertepuk tangan kencang, menahan air mata bahagia yang merebak di balik kacamata barunya. Janji di bawah bintang malam itu resmi tertunai.
(Lanjut ke Bab 28)
BAB 28: PIALA DAN JANJI YANG DITAGIH
Gema sorak-sorai penonton di GOR Tri Dharma masih membahana saat peluit panjang tanda berakhirnya babak final Kejurnas Basket meledak di udara. Papan skor digital mengunci angka kemenangan SMA Garuda: 68 - 65.
Piala emas raksasa kini berada di genggaman Devan. Sebagai Kapten Tim, ia diangkat ke udara oleh teman-temannya di tengah hujan confetti keemasan yang melayang turun. Namun, begitu kakinya kembali menapak lantai arena, mata Devan langsung memindai kerumunan di tepi lapangan.