Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Segelas Terlalu Banyak
Minggu malam berikutnya, Sebastian membuka botol wiski yang sudah dua tahun tidak disentuh.
Ia baru pulang dari makan malam bisnis bersama Hendra dan Om Salim. Sepanjang acara, kedua keluarga membicarakan proyek dan pernikahan seolah keduanya bagian dari kontrak yang sama. Nama Jessica disebut berkali-kali.
Om Salim memuji kecocokan jaringan bisnis mereka. Hendra membahas lahan baru yang membutuhkan mitra modal, lalu Cornelia menunjukkan foto Jessica di sebuah acara amal. Tak seorang pun bertanya apakah Sebastian ingin mengenalnya lebih dekat. Mereka hanya membicarakan waktu yang tepat untuk makan malam keluarga berikutnya.
“Perempuan dari keluarga baik tahu cara menjaga nama suami,” kata Hendra sebelum mereka pulang.
Sebastian hampir menjawab bahwa Lia menjaga nama orang lain bahkan ketika namanya sendiri diinjak. Ia menahan kalimat itu karena belum mau menjadikan Lia bahan tawar-menawar di meja bisnis.
Sebastian menolak tanpa membuat keributan. Namun, ketika kembali ke ruang kerja rumah, tekanan yang ia tahan sejak restoran terasa menumpuk di tengkuk.
Ia menuang satu gelas.
Kemudian gelas kedua.
Robby datang membawa revisi dokumen Nara dan menemukan atasannya duduk tanpa jas, dua kancing kerah terbuka, menatap cairan amber seolah ada jawaban di dasarnya.
“Wah,” kata Robby. “Besok matahari terbit dari barat?”
Sebastian tidak menoleh. “Taruh dokumennya.”
Robby meletakkan map, tetapi tidak pergi. “Makan malam sama Om Salim?”
“Lo sudah tahu.”
“Jessica dibahas lagi?”
Sebastian menghabiskan sisa minuman.
“Berarti iya.” Robby duduk di sofa seberang. “Terus masalahnya apa? Lo tinggal bilang sudah suka orang lain.”
“Tidak sesederhana itu.”
“Karena orang lain itu Lia?”
Sebastian mengangkat mata. Alkohol membuat tatapannya lebih berat, tetapi tidak mengurangi ketajamannya.
“Jangan bawa namanya.”
“Justru karena lo enggak pernah bawa namanya, semua orang bebas membawa nama Jessica.”
Sunyi beberapa detik.
Robby mengenal Sebastian cukup lama untuk tahu kapan harus berhenti. Malam itu, ia memilih tidak berhenti.
“Gue lihat cara lo pulang waktu ada ancaman ke rumah. Gue lihat cara lo hampir membatalkan rapat hanya karena Lia belum balas pesan makan. Lo suka sama dia.”
Sebastian menuang lagi. Tetes terakhir botol jatuh ke gelas.
“Saya tahu.”
Pengakuan itu begitu pelan hingga Robby hampir mengira salah dengar.
“Akhirnya.”
“Jangan senang dulu.”
“Kenapa? Dia juga jelas punya rasa.”
“Dia pekerja di rumah saya.”
“Untuk sekarang.”
“Keluarganya bermasalah. Keluarga saya menjadikan nama baik seperti mata uang. Kalau saya salah melangkah, yang dihancurkan bukan saya. Lia yang akan disebut menggoda, memanfaatkan, atau mengejar uang.”
Robby mengangguk. Kekhawatiran itu nyata. Arisan beberapa hari lalu sudah menjadi bukti kecil.
“Ada satu masalah lain,” lanjut Sebastian. “Saya tahu utang bapaknya. Saya tahu ada orang yang membayar untuk membawanya pulang. Lia bahkan belum tahu saya memegang bukti itu. Kalau saya menyatakan perasaan sekarang, apa bedanya saya dengan semua laki-laki yang mengambil keputusan atas hidupnya?”
“Bedanya, lo bisa bertanya dan menerima jawaban tidak.”
Sebastian menatap minuman.
“Bisa?” desak Robby.
“Saya harus bisa.”
“Nah. Itu baru masalah sebenarnya. Lo takut bukan cuma karena keluarga. Lo takut Lia menolak.”
Sebastian tidak menyangkal. Dalam keadaan sadar, ia pasti menyuruh Robby keluar. Alkohol membuat kebenaran terasa terlalu berat untuk disembunyikan.
“Kalau dia memilih orang seperti Rudy,” katanya, “saya tidak punya alasan menghentikan.”
“Tapi lo tetap akan cemburu sampai darah tinggi.”
“Diam.”
“Tapi kalau lo diam terus, Lia tetap dihina tanpa status apa pun,” katanya. “Bedanya cuma dia menghadapi sendiri.”
Sebastian memijat pelipis. “Saya sedang memastikan dia aman.”
“Aman dari siapa? Bobby, Herman, atau perasaan lo?”
“Semuanya.”
Robby tertawa pendek. “Yang terakhir enggak bisa lo atur pakai CCTV.”
Sebastian ingin membalas, tetapi ruangan bergeser sedikit ketika ia berdiri. Tiga gelas dalam perut yang hampir kosong ternyata lebih kuat daripada perkiraannya.
Ia berpegangan pada meja.
Robby langsung bangkit. “Lo mabuk.”
“Belum.”
“Kalau orang mabuk bilang belum, berarti sudah.”
“Pulang.”
“Gue buat air hangat dulu. Jangan jalan ke mana-mana.”
Robby mengambil botol kosong dan keluar menuju dapur kecil di ujung lorong. Ia berniat mencampur air hangat, madu, dan irisan lemon agar Sebastian tidak bangun dengan kepala pecah.
Sebastian tetap berdiri. Udara ruang kerja terasa sesak, sehingga ia membuka pintu menuju balkon. Hujan sore meninggalkan bau tanah basah. Dari lantai bawah terdengar suara Lia menenangkan Bryan yang belum mau tidur.
Suara lembut itu menariknya lebih kuat daripada minuman.
Ia keluar dari ruang kerja.
Langkahnya masih lurus sampai mencapai ujung koridor. Di sana, lampu terasa terlalu terang. Sebastian menutup mata sesaat dan bahunya menyentuh dinding.
Ia seharusnya kembali duduk.
Sebaliknya, ia menuruni tangga.
Lia baru saja menyerahkan Bryan yang tertidur kepada pengasuh malam. Ia membawa jaket Sebastian yang sudah dilipat rapi, berniat mengembalikannya setelah seminggu disimpan. Meskipun dilarang mencuci, ia telah menjemurnya sebentar di tempat teduh dan menyikat debu pada bagian bahu.
Saat naik ke lantai dua, Lia mencium aroma alkohol sebelum melihat pemiliknya.
Sebastian berdiri di bordes, satu tangan memegang pagar. Kemejanya kusut, rambutnya jatuh sedikit ke dahi, dan wajah yang biasanya dingin tampak memerah.
“Ko Sebas?”
Ia mengangkat kepala.
Tatapan yang jatuh pada Lia tidak memiliki pertahanan biasa.
“Kenapa kamu bawa jaket itu?” tanyanya.
“Saya mau mengembalikan.”
“Bukankah saya suruh simpan?”
“Sudah seminggu.”
Sebastian turun satu anak tangga. “Saya belum minta kembali.”
“Ko Sebas mabuk?”
“Tidak.”
Ia melangkah lagi, tetapi telapak sepatunya kehilangan pijakan di tepi anak tangga.
Tubuhnya miring ke depan.
Lia menjatuhkan jaket dan mengulurkan kedua tangan untuk menangkapnya.