NovelToon NovelToon
Legenda Teratai Es Abadi

Legenda Teratai Es Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
​Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Bayangan Petir di Balik Air Terjun

​Di dalam gua yang tersembunyi di balik akar-akar beringin purba dan tirai air terjun, waktu seolah berhenti.

​Ye Chen duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Seluruh tubuhnya kini diselimuti oleh kepompong cahaya keemasan yang memancarkan aura kuno dan menekan. Di telapak tangan kirinya, sisa-sisa Fosil Cakar Naga Bumi telah sepenuhnya hancur lebur, menyerap masuk ke dalam daging dan tulangnya.

​KRAK... KRAK...

​Suara retakan yang sangat aneh terdengar dari dalam tubuh Ye Chen. Itu adalah proses penempaan tulang tahap kedua. Tulang lengan dan jari-jarinya kini dilapisi oleh semacam pola sisik naga transparan yang berkilau di bawah cahaya emas. Setiap kali ia bernapas, denyut jantungnya memancarkan suara bagaikan debaran genderang perang—berat, lambat, namun penuh kekuatan absolut.

​"Bagus... Pertahankan!" suara Ao Tian di dalam giok hitam terdengar sangat tegang namun penuh harap. "Esensi Naga Bumi sedang menyatu dengan Tulang Naga Api-mu. Tinggal sedikit lagi, pertahanan fisikmu akan mencapai tingkat di mana senjata spiritual biasa tidak akan mampu menembusnya!"

​Ye Chen tidak mengeluarkan suara. Seluruh konsentrasinya tercurah penuh untuk menahan gelombang rasa sakit yang luar biasa saat sumsum tulangnya mendidih. Ia berada di ambang kesuksesan yang sangat krusial.

​Namun, di dunia luar, badai sedang mendekat.

​Tiga puluh mil dari gua persembunyian Ye Chen, langit malam yang tadinya dihiasi bintang-bintang mendadak berubah menjadi gelap gulita. Awan badai berputar pekat, diselingi oleh sambaran petir biru yang menyambar-nyambar tanpa henti.

​BZZZTTT!

​Sekelompok bayangan melesat cepat di atas puncak-puncak pohon. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna, meninggalkan jejak percikan listrik di udara setiap kali kaki mereka menyentuh dahan.

​Ada sepuluh orang dalam kelompok itu. Empat di antaranya adalah kultivator bayangan elit dari Sekte Pedang Petir, dan memimpin di depan adalah dua orang pria paruh baya dengan jubah berlambang petir perak.

​Mereka adalah Tetua Ketiga dan Tetua Keempat Sekte Pedang Petir, keduanya berada di Tahap Pembentukan Fondasi awal!

​Kelompok itu tiba-tiba berhenti di atas sebuah dahan pohon besar. Tetua Ketiga—seorang pria berwajah tirus dengan mata elang yang tajam—mengangkat tangan kanannya memberi isyarat. Ia memegang sebuah piringan giok hitam di telapak tangannya. Piringan itu bercahaya kemerahan dan terus bergetar.

​"Kompas Pelacak Jiwa bereaksi sangat kuat," suara Tetua Ketiga terdengar serak dan sedingin es. "Sisa-sisa energi Api Roh Emas Ungu milik pembunuh itu masih tertinggal di area sekitar sini. Dia tidak lari terlalu jauh."

​Tetua Keempat mendengus dingin, memegang pedang panjang bermuatan listrik di pinggangnya. "Beraninya anjing kampung itu melukai Tuan Muda Kuang. Hari ini, aku akan mencincangnya menjadi seribu potongan daging dan membawa kepalanya ke hadapan Ketua Sekte!"

​"Jangan gegabah," Tetua Ketiga memperingatkan dengan nada kalkulatif. "Anak itu mampu meremukkan kultivasi Kuang'er dan mengalahkan empat ahli tingkat ketujuh dalam sekejap. Dia pasti memiliki harta rahasia atau teknik iblis yang kuat. Kita kepung area ini secara perlahan, pastikan tidak ada celah untuknya melarikan diri."

​"Dimengerti!" jawab keempat pasukan bayangan serentak.

​Menggunakan teknik gerakan tingkat tinggi, para pemburu itu menyebar, menelusuri setiap jengkal hutan pegunungan yang berkabut.

​Semakin mereka maju, suhu udara di sekitar mulai terasa aneh. Alih-alih semakin dingin di tengah malam, udara justru terasa hangat, dan jejak-jejak rumput yang hangus mulai terlihat di sepanjang tepi sungai kecil.

​"Tetua Ketiga, lihat ini," salah satu pasukan bayangan berbisik, menunjuk ke arah tanah berlumpur di tepi sungai.

​Tetua Ketiga melayang turun. Ia berlutut dan menyentuh tanah yang tampak baru saja terpapar suhu panas ekstrem. Batu-batu di dekatnya bahkan meleleh setengahnya.

​"Api yang sangat ganas... Ini pasti ulah si pembunuh," mata Tetua Ketiga menyipit tajam. Ia berdiri dan mendongak, mengikuti arah aliran sungai kecil yang mengarah ke sebuah tebing curam di ujung ngarai.

​Di ujung tebing itu, suara deru air terjun kecil terdengar gemuruh, menutupi suara-suara kecil di sekitarnya. Di balik tirai air terjun tersebut, tertutup rapat oleh rimbunnya akar beringin purba.

​Fluktuasi energi spiritual yang teredam, namun sangat padat, samar-samar terpancar dari balik air terjun itu.

​Tetua Ketiga memberi isyarat tangan kepada Tetua Keempat dan pasukannya. Mereka merapatkan barisan, mencabut senjata masing-masing, dan berjalan perlahan menyusuri sungai menuju air terjun.

​"Dia ada di balik tirai air itu," bisik Tetua Ketiga, senyum kejam terukir di bibirnya.

​Di dalam gua di balik air terjun, Ye Chen masih duduk mematung dengan kepompong cahaya emas yang perlahan-lahan mulai meredup ke dalam kulitnya. Tahap krusial penempaan tulang hampir selesai. Namun, insting pembunuhnya yang tajam tiba-tiba bergetar hebat.

1
Luo Zheng
💪💪💪💪💪👍
Luo Zheng
lanjutkan
Aman Wijaya
semangat Ye Chen jadilah kuat bunuh mereka semua yang membully mu
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!