NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Yang Tertinggal di Kampung

Keesokan siangnya, Bu Ratna berdiri di depan kelompok arisan dan menyebut kejadian puntung rokok sebagai “kesalahpahaman pemeriksaan”.

Ia tidak meminta maaf kepada Laras. Namun ia mengakui bahwa lorong rumah dinas merupakan jalur umum dan tidak boleh dipakai untuk menuduh penghuni tanpa bukti.

Bagi orang lain, kalimat itu terdengar seperti penjelasan biasa.

Bagi enam perempuan yang mengetahui urutan sebenarnya, itu adalah kekalahan.

Bu Titin pulang dari pertemuan membawa kabar tersebut sambil tersenyum puas. “Dia juga mencabut usulan ganti pengasuh. Katanya kondisi Satya sudah baik dan tidak ada alasan mengubah pengaturan.”

Laras sedang mengupas pepaya di dapur. “Bagus.”

“Cuma bagus?”

“Mau bagaimana lagi? Saya menari di halaman?”

“Sedikit senyum boleh.”

Laras akhirnya tersenyum. Beban yang sejak hari pertama menekan tengkuknya terasa turun. Ia masih seorang janda muda yang tinggal di rumah duda. Orang-orang mungkin belum sepenuhnya berhenti bicara. Namun kini mereka tahu Laras bukan sasaran yang akan diam ketika kehormatannya diinjak.

Satya juga menjadi pembela paling kuat tanpa pernah mengucapkan kata. Pipi bayi itu berisi. Demam tidak kembali. Saat Bu Titin mengulurkan tangan, Satya justru memutar tubuh mencari Laras.

“Nah, lihat,” kata Bu Titin. “Yang punya rumah saja sudah memilih.”

“Jangan bicara begitu. Nanti terdengar orang.”

“Saya bicara soal Satya.”

“Bu Titin suka menambah arti.”

Tawa mereka terdengar sampai halaman.

Hari itu ada penimbangan bayi bulanan di pos kesehatan kompleks. Laras sempat ragu datang karena tempat tersebut dipenuhi istri prajurit, tetapi Bu Titin menariknya ikut.

“Kalau kamu bersembunyi, mereka akan bilang Satya cuma kelihatan gemuk karena selendang,” katanya.

Di meja timbang, perawat jaga membuka buku kesehatan Satya. Angka berat badannya membuat perempuan itu memeriksa catatan lama dua kali.

“Naiknya bagus. Muntahnya bagaimana?”

“Sudah jarang. Saya susui sedikit tapi sering, lalu ditegakkan sampai bersendawa.”

“Teruskan. Jangan paksa makanan pendamping terlalu cepat karena perutnya masih sensitif.”

Percakapan itu didengar banyak orang. Seorang ibu yang dulu ikut menertawakan Laras mendekat sambil menggendong anaknya.

“Mbak Laras, bagaimana cara pijat kalau bayi kembung?”

Laras menunjukkan gerakan dengan telapak tangan di atas kain, tanpa membuat perempuan itu merasa bodoh. Ibu lain ikut bertanya. Dalam waktu singkat, sudut penimbangan berubah menjadi lingkaran kecil tentang menyusui, bubur lumat, dan pola tidur.

Bu Ratna datang terlambat. Ia berhenti ketika melihat Laras dikelilingi para ibu, sementara perawat menulis kata `perkembangan baik` di buku Satya.

Tidak ada yang membahas puntung rokok.

Tidak ada yang meminta Laras pergi.

Untuk pertama kalinya, Bu Ratna hanya berdiri di pinggir, bukan di tengah.

Saat pulang, Laras tidak merasa menang atas siapa pun. Ia hanya memeluk Satya lebih erat. Anak itu sehat. Fakta tersebut adalah jawaban yang tidak bisa dihapus dari daftar mana pun.

Sore harinya, seorang staf personel datang bersama Iwan membawa map. Bima sengaja membuat penugasan Laras lebih jelas: namanya dicatat sebagai ibu susuan dan pengasuh tinggal dalam rumah dinas untuk kebutuhan medis serta pengasuhan Satya. Jadwal makan, gaji, hari kunjungan ke desa, dan kontak darurat poliklinik tertulis di sana.

Tidak ada kalimat yang menyebut Laras sebagai keluarga. Namun untuk pertama kalinya, kedudukannya bukan lagi hasil kesepakatan lisan yang bisa dipelintir siapa saja.

“Komandan yang minta dibuatkan?” tanya Laras.

Staf itu mengangguk. “Supaya tidak ada lagi orang membuat aturan sendiri.”

Iwan berdeham, menyembunyikan senyum.

Laras menandatangani lembar penerimaan. “Matur nuwun.”

“Sampaikan ke Komandan,” jawab staf tersebut. “Beliau yang merepotkan bagian kami sejak pagi.”

Laras membaca lagi bagian jadwal kunjungan. Dua kali dalam sebulan ia boleh pulang ke Girisari sehari penuh, selama kondisi Satya stabil dan pengganti sementara disiapkan. Ada juga satu ketentuan bahwa keadaan darurat keluarga dapat diajukan langsung kepada Bima.

“Ini tidak mengurangi gaji?” tanyanya.

“Tidak. Hari kunjungan sudah dihitung dalam pengaturan kerja.”

“Sebelumnya tidak ada.”

Staf itu menutup pena. “Sebelumnya semuanya lisan. Pak Bima bilang orang yang menjaga anaknya tidak boleh kehilangan hak hanya karena aturan tidak ditulis.”

Laras terdiam.

Iwan memeriksa jendela, pura-pura tidak mendengar. Namun ketika staf sudah pergi, ia berkata, “Komandan membaca map itu tiga kali. Bagian jadwal pulang yang paling lama diperdebatkan.”

“Kenapa diperdebatkan?”

“Bagian personel bilang ibu susuan tinggal sebaiknya selalu siap. Komandan tanya kalau ibunya sendiri tidak pernah boleh melihat anaknya, siapa yang menjaga kesehatan pikirannya.”

Laras menatap Iwan.

“Beliau bilang begitu?”

“Kurang lebih.”

“Kamu memperhalus lagi?”

Iwan tersenyum bersalah. “Aslinya lebih pendek. `Dia juga punya anak.` Cuma begitu. Tapi bagian personel langsung diam.”

Laras mengusap tepi map. Kertas itu tidak hangat, tetapi ujung jarinya merasakan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan daripada belas kasihan. Bima mengingat bahwa sebelum menjadi ibu susuan Satya, ia adalah ibu Nala.

Malamnya, Bima datang membawa sebuah kantong dari koperasi. Isinya kacang hijau, telur, buah, dan dua kotak susu untuk Laras.

“Ini terlalu banyak,” kata Laras.

“Jatah tambahan.”

“Di map tadi tidak ada dua kotak susu.”

Bima memandang Iwan, yang sedang berdiri dekat pintu.

“Saya ke depan, Komandan,” kata Iwan cepat.

“Tetap di situ.”

Iwan kembali berdiri seperti tiang.

Bima meletakkan kantong di meja. “Yang dari satuan hanya telur dan kacang hijau. Sisanya dari saya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu masih kurus.”

Jawaban terus terang itu membuat Laras kehilangan kata-kata.

“Saya sudah makan cukup.”

“Cukup menurutmu berbeda dengan cukup menurut timbangan.”

“Komandan menimbang saya?”

“Tidak perlu. Tulang pipimu terlihat dari halaman.”

Iwan menunduk agar tidak ketahuan menahan tawa.

Laras menyilangkan tangan. “Kalau saya tambah gemuk, apa pekerjaan saya lebih bagus?”

“Satya mendapat lebih banyak susu.”

“Jadi tetap untuk Satya.”

Bima mengangguk terlalu cepat. “Untuk Satya.”

Laras tahu itu alasan yang dipilihnya karena paling aman. Entah mengapa, pengetahuan itu membuat bagian dalam dadanya menghangat.

“Baik. Saya terima. Tapi saya akan mencatat harganya.”

“Untuk apa?”

“Supaya bisa saya ganti.”

“Kalau kamu mengganti, saya tambah dua kotak lagi.”

“Komandan mengancam?”

“Memberi pilihan.”

“Pilihan yang buruk.”

“Tetap pilihan.”

Kali ini Bima benar-benar tersenyum tipis. Laras buru-buru mengangkat Satya, menggunakan bayi itu sebagai alasan untuk memalingkan wajah.

Ia harus tetap sadar. Bima adalah atasannya, seorang perwira dengan hidup yang jauh dari jangkauannya. Kebaikan seorang laki-laki tidak otomatis menjadi janji. Laras pernah memiliki suami, pernah kehilangan, dan sekarang bahkan belum mampu membawa putrinya sendiri tinggal bersama.

Ia tidak boleh membangun mimpi di atas dua kotak susu.

Beberapa hari berikutnya, keadaan kompleks berubah. Perempuan yang dulu sengaja merendahkan suara ketika Laras lewat mulai menyapanya. Ada yang bertanya cara mengatasi anak susah makan. Ada pula yang meminta resep sayur bening karena mencium aroma dapurnya.

Laras menjawab seperlunya. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Namun setiap kali melihat Satya sehat dalam gendongannya, punggungnya menjadi lebih tegak.

Ia telah bertahan.

Ia telah membuat tempat untuk dirinya sendiri.

Menjelang akhir pekan, seorang tukang ojek dari Desa Girisari datang membawa amplop kusut. Mbah Inah tidak pandai menulis panjang. Surat itu dituliskan oleh tetangga dan dibubuhi cap jempol perempuan tua tersebut.

Laras membacanya di kamar belakang.

Nala sakit dua hari lalu. Demamnya sudah turun, tetapi badannya semakin kurus dan beberapa kali buang air encer. Uang yang dikirim Laras memang sampai, namun Bu Jum datang meminta bagian untuk Parman. Mbah Inah menolak. Sejak itu Bu Jum berkali-kali membuat keributan di depan rumah.

Tetangga yang menuliskan surat juga mencatat harga pemeriksaan di puskesmas dan ongkos ojek. Jumlahnya tidak besar bagi orang lain, tetapi cukup menghabiskan sisa uang Mbah Inah. Jika Nala sakit lagi sebelum gaji berikutnya, mereka tidak punya cadangan.

Di bagian akhir tertulis satu kalimat sederhana.

Nala menangis setiap malam kalau mendengar suara perempuan menyanyi.

Tangan Laras gemetar.

Ia membayangkan putrinya terbangun dengan tubuh panas, mencari bau ibunya, lalu hanya menemukan kain gendong Mbah Inah. Uang yang dikirim tidak bisa menepuk punggung Nala. Beras tidak bisa menggantikan pelukan.

Satya tidur di sampingnya, pipi bulat dan napas teratur. Laras menyentuh wajah bayi itu, lalu air matanya jatuh ke surat.

“Mama jahat, ya, Nduk?” bisiknya. “Mama membuat anak lain sehat, sementara kamu sakit tanpa Mama.”

Ia menekan surat ke dada. Rasa bersalah hampir menenggelamkannya, tetapi kali ini Laras tidak membiarkan diri hanya menangis.

Gajinya sudah jelas. Kedudukannya di rumah ini sudah kuat. Ia punya jadwal kunjungan ke desa. Kalau perlu, ia akan meminta izin membawa Nala ke Magelang, mencari kamar kecil, atau membawanya tinggal di rumah dinas selama tidak mengganggu Satya.

Apa pun caranya, ia tidak akan membiarkan putrinya terus hidup dari kiriman uang dan janji pulang.

“Mama akan menjemputmu,” katanya. “Tunggu sedikit lagi.”

Laras tidak mendengar langkah di koridor.

Bima baru pulang dinas dan hendak melihat Satya. Ketika sampai di pintu belakang yang setengah terbuka, ia melihat Laras duduk di bawah lampu dengan mata merah. Amplop kusut tertekan di dadanya.

Satu sudut surat memperlihatkan nama Nala.

Bima tidak masuk. Ia hanya berdiri di ambang, cukup lama untuk mendengar suara Laras yang patah namun tegas.

“Aku pasti akan membawamu ke sini, Nduk.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!