NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Reuni yang Tak Terlupakan

"Itu Fortuner siapa?"

Pertanyaan itu muncul dari mulut Rina tepat ketika mobil hitam berhenti di depan Restoran Bunga Rampai. Di teras restoran, belasan alumni SMA sudah berkumpul. Doni duduk paling tengah, kunci Innova baru ia taruh di meja seperti piala perang.

Fajar turun lebih dulu, membuka pintu belakang.

Raka keluar dengan setelan charcoal, langkah tenang, dan aura Ramuan Karisma yang bekerja halus namun jelas. Percakapan di teras turun setengah nada. Orang-orang yang tadi tertawa kini mengukur ulang ingatan mereka tentang anak miskin yang dulu sering duduk di pojok kantin.

Rina berdiri terlalu cepat. "Raka?"

Raka menoleh. "Rina."

Hanya nama. Tidak ada senyum. Tidak ada dendam yang diumbar. Justru itu membuat pipi Rina memanas.

Doni berdiri sambil tertawa keras.

"Wah, benar-benar niat. Sewa mobil plus sopir? Bagus. Video viral kemarin ternyata menghasilkan."

Fajar menutup pintu mobil tanpa ekspresi.

Raka berjalan melewati Doni dan langsung menghampiri Adi, yang berdiri agak di samping memakai kemeja hitam restoran. Adi tampak ragu, antara senang dan malu karena sedang bertugas di tempat yang sama dengan reuni teman-temannya.

"Di," kata Raka.

Adi tersenyum lega. "Rak. Kamu berubah banyak."

"Kamu tidak. Masih orang pertama yang tidak ikut tertawa."

Adi menepuk bahunya. "Sudahlah. Itu masa SMA."

"Buat orang yang menjatuhkan piring, mungkin cuma masa SMA. Buat orang yang mengambilkan piring baru, itu hutang yang saya ingat."

Doni berdehem keras. Ia tidak suka panggung berpindah.

"Ayo masuk. Kita sudah pesan private room. Tapi hati-hati, harga di sini tidak seperti warteg."

Raka menatap papan nama restoran. "Saya tahu."

Mereka masuk ke ruang makan privat. Doni sengaja duduk di kursi utama, memesan menu mahal, lalu berbicara tentang pabrik plastiknya di Gresik. Ia menyebut omzet dua ratus juta berkali-kali, menyebut mobil Innova dibeli cash, menyebut susahnya mencari karyawan loyal.

Rina duduk dekat Raka tanpa diundang.

"Rak, kamu sekarang kerja apa?"

"Mengelola aset."

"Aset apa?"

"Properti."

Doni langsung menyambar. "Jadi broker? Baguslah. Dari pelayan naik jadi calo. Progres."

Beberapa orang tertawa canggung. Tidak sekeras dulu. Aura Raka membuat mereka berhati-hati, tetapi Doni terlalu menikmati kebiasaan lama.

Adi menatap Doni. "Jangan begitu."

"Santai, Di. Kita bercanda. Raka pasti kuat. Dia kan sekarang artis viral."

Raka menuang air untuk dirinya sendiri. "Doni, pabrikmu masih di Gresik?"

"Masih. Kamu mau beli plastik? Minimal order besar. Jangan tanya diskon alumni."

"Utang vendor sudah beres?"

Ruangan hening satu detik.

Senyum Doni menegang. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Hanya bertanya. Orang dengan omzet dua ratus juta biasanya tidak perlu menunda pembayaran bahan baku sampai dua bulan."

Wajah Doni berubah merah. "Kamu stalking bisnis saya?"

Bayu tidak hadir, tetapi laporan yang ia kirim cukup tajam. Raka tidak membuka semua. Ini reuni. Jangan ubah jadi audit.

"Kamu mengundang saya untuk dilihat. Saya datang setelah melihat sedikit. Adil, kan?"

Rina cepat mengalihkan. "Sudahlah. Kita makan. Raka, kamu sudah punya pacar lagi? Setelah Vera itu..."

"Tidak."

"Kalau butuh teman ngobrol..."

"Saya lebih butuh orang yang ingat kapan harus diam."

Rina terpukul halus. Beberapa alumni menunduk menahan senyum. Doni melihat pengaruhnya memudar, lalu mengangkat gelas.

"Baiklah. Karena Raka sedang sensitif, malam ini saya traktir sebagian. Tapi jangan pesan berlebihan. Tagihan restoran seperti ini bisa bikin orang pingsan."

Raka memberi isyarat kepada pelayan.

Adi refleks maju, tetapi manajer restoran lebih dulu datang. Namanya Pak Surono, dan ia menunduk kepada Raka dengan hormat yang membuat seluruh meja melihat.

"Selamat malam, Pak Raka. Semua pesanan sudah kami siapkan. Apakah ada instruksi tambahan?"

Doni mengerutkan kening. "Pak Raka? Kamu kenal dia?"

Pak Surono menjawab hati-hati, "Pak Raka adalah pemilik baru Restoran Bunga Rampai."

Sendok Rina jatuh ke piring.

Doni tertawa satu kali, pendek dan palsu. "Tidak mungkin. Restoran ini nilainya ratusan miliar."

Raka membuka map tipis yang dibawa Fajar. Ia tidak menyerahkan semuanya, hanya menunjukkan halaman kepemilikan dan tanda tangan perjanjian pengalihan.

"Benar. Ratusan miliar."

Doni menatap dokumen itu seperti huruf-hurufnya berubah menjadi ular.

Sebelum ia pulih, Raka mengeluarkan kotak-kotak kecil dari tas. Sepuluh jam tangan kustom, masing-masing dengan nama alumni yang hadir. Tidak terlalu norak, tetapi jelas mahal.

"Untuk yang datang malam ini. Anggap hadiah reuni."

Rina menerima kotaknya dengan tangan gemetar. Orang yang tadi siap menertawakan kini menghitung harga benda di telapak tangan.

Doni tidak mau kalah. "Jam bisa sewa juga. Dokumen bisa dibawa untuk gaya. Kalau kamu benar sehebat itu, kenapa dulu makan saja dibantu Adi?"

Raka menatapnya. Inilah kalimat yang ia tunggu. Doni akhirnya membuka luka lama di depan semua orang.

"Karena dulu saya miskin," kata Raka. "Dan kamu menikmati itu."

Ruangan hening total.

"Kamu menabrak piring saya di kantin. Rina tertawa. Guru diam. Adi membeli makanan baru. Saya tidak lupa satu pun."

Rina menunduk. Doni mencoba tertawa lagi, tetapi suaranya pecah.

"Aduh, kamu baper sekali. Masa SMA saja dibawa-bawa."

Raka mengambil satu dokumen lain dari map.

"Kalau cuma masa SMA, kenapa tadi kamu mengulanginya?"

Ia meletakkan sertifikat kepemilikan Menara Langit di tengah meja.

Nama PT Langit Sembilan dan Raka Surya Pratama tertulis jelas.

"Restoran ini hanya tempat makan malam. Gedung ini kantor saya. Kalau kamu masih ingin membandingkan siapa yang lebih tinggi, mulai dari lantai empat puluh dua."

Doni tidak punya jawaban.

Di ujung meja, Adi menatap Raka dengan mata merah, tetapi ia belum tahu hadiah sebenarnya belum dikeluarkan.

Raka menutup map.

Sebelum sertifikat itu keluar, Raka sengaja meminta semua orang melihat tagihan sementara. Totalnya cukup besar untuk membuat beberapa alumni saling lirik. Doni sudah membuka mulut hendak menawarkan membayar separuh, mungkin demi menyelamatkan wajah.

Raka menekan bel meja lebih dulu.

"Semua atas nama saya. Termasuk tip untuk dapur dan service."

Pak Surono mengangguk. "Sudah kami catat, Pak."

Adi tampak ingin menolak perlakuan khusus, tetapi Raka hanya berkata, "Malam ini kamu tidak perlu menyelamatkan siapa pun dari malu. Duduk sebentar."

Adi akhirnya menarik kursi. Gerakan kecil itu membuat Doni semakin tidak nyaman, karena orang yang ia anggap pelayan mendadak diperlakukan sebagai tamu kehormatan oleh pemilik baru.

Seorang alumni bernama Siska berbisik kepada temannya bahwa Doni sejak dulu memang begitu. Bisikan itu kecil, tetapi Doni mendengarnya. Wajahnya makin buruk. Raka menangkap perubahan itu dan tahu panggung sudah berbalik: orang yang dulu memimpin tawa sekarang menjadi alasan orang lain menjaga jarak.

"Makan dulu. Setelah itu, saya punya satu urusan dengan Adi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!