NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Malam Sebelum Akad

Seminggu berlalu lebih cepat daripada yang Laras bayangkan.

Malam sebelum akad, kamar tamu dipenuhi kain, kotak perhiasan, alat rias, dan suara Kinan yang tidak berhenti memberi pendapat.

"Kebaya putih ini paling cocok," katanya. "Yang krem membuatmu terlihat terlalu serius."

"Besok aku menikah, bukan menghadiri pesta kampus. Serius tidak salah."

"Mas Bram sudah serius untuk dua orang. Mbak harus terlihat bahagia."

Laras menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya putih sederhana mengikuti tubuh tanpa berlebihan. Motif melati kecil dijahit halus pada bagian lengan. Bu Rahayu memesannya dari penjahit langganan, tetapi membiarkan Laras mengubah bagian bahu agar lebih nyaman.

"Aku bahagia," katanya.

Kinan berhenti memasang jarum pentul. "Benarkah?"

"Kenapa bertanya begitu?"

"Karena Mbak selalu terlihat seperti sudah menyiapkan jalan keluar."

Pertanyaan itu begitu jujur hingga Laras tidak bisa tersinggung.

Ia memandang kursi yang dulu dipakai mengganjal pintu. Selama beberapa malam terakhir, kursi itu kembali ke meja dan tidak pernah dipindahkan.

"Dulu jalan keluar satu-satunya cara aku bertahan," jawab Laras. "Sekarang aku sedang belajar bahwa tinggal juga bisa menjadi pilihan."

Kinan tersenyum, lalu memeluknya dari belakang.

"Aku senang Mbak tinggal."

Laras menepuk lengannya. "Kalau kamu terus memeluk, jarum di kebaya bisa menusuk kita berdua."

Kinan cepat-cepat mundur. "Lihat? Galak. Cocok dengan Mas Bram."

***

Setelah busana dirapikan, Laras membantu Kinan menghitung ulang kotak suvenir.

"Biar Bik Inah yang mengurus," kata Kinan.

"Tanganku tidak patah."

"Besok pengantin seharusnya duduk cantik."

"Besok. Malam ini aku masih pekerja gratis."

Mereka menyusun kotak sambil berbicara tentang kuliah Kinan. Gadis itu mengaku ingin ikut program magang di luar kota, tetapi khawatir orang tuanya menganggapnya terlalu jauh.

"Sudah bicara kepada mereka?" tanya Laras.

"Belum."

"Kalau belum bertanya, kamu sedang menolak dirimu sendiri atas nama orang lain."

Kinan terdiam.

"Bawa rencana yang jelas," lanjut Laras. "Lokasi, keamanan, biaya, manfaat. Jangan datang hanya dengan kalimat aku ingin. Tunjukkan bahwa kamu sudah memikirkan akibatnya."

"Kalau Bapak tetap tidak setuju?"

"Dengar alasannya. Kalau alasannya masuk akal, perbaiki rencanamu. Kalau hanya karena kamu perempuan, minta dia menjelaskan sampai terdengar betapa lemahnya alasan itu."

Kinan tertawa, tetapi matanya berbinar. "Aku ingin bisa bicara seperti Mbak."

"Jangan. Bicara seperti dirimu sendiri, asal jangan mengecil sebelum mulai."

Kalimat itu menempel di pikiran Kinan. Untuk pertama kalinya ia membayangkan kakak ipar bukan hanya sebagai istri Mas Bram, melainkan perempuan yang bisa menunjukkan cara berdiri dengan nama sendiri.

***

Bu Rahayu masuk membawa baki kecil berisi perhiasan keluarga dan sebuah kain batik.

"Ini bukan kewajiban," katanya. "Ibu hanya ingin kamu memilih kalau ada yang ingin dipakai."

Laras menyentuh sepasang anting sederhana. "Ini milik siapa?"

"Dulu milik ibu saya. Saya memakainya saat menikah."

Tangannya langsung mundur. "Terlalu berharga."

"Karena berharga, Ibu ingin meminjamkannya kepada orang yang juga berharga."

Laras tidak mampu menjawab selama beberapa detik.

Bu Rahayu duduk di sampingnya. "Besok setelah akad ada sungkeman. Kamu dan Bram akan memohon restu kepada Bapak dan Ibu. Tidak perlu menghafal kalimat panjang. Sampaikan saja isi hatimu."

"Aku tidak pernah melakukan itu."

"Tidak apa-apa. Kami juga belum pernah menerima sungkem dari seorang anak perempuan yang baru datang ke hidup kami. Kita belajar bersama."

Laras menunduk melihat batik di pangkuan Bu Rahayu. "Kalau aku menangis?"

"Menangis bukan kesalahan."

"Aku takut tidak bisa berhenti."

Bu Rahayu meraih tangannya. "Kalau begitu Ibu peluk sampai kamu berhenti."

Dada Laras seperti diremas. Sepanjang hidup, tangis selalu membuat Pak Rusdi semakin marah. Ia belajar menelan suara, membasuh wajah sendiri, lalu bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Janji untuk dipeluk sampai tangis berhenti terasa lebih asing daripada seluruh persiapan pernikahan.

"Ibu tidak tahu semua tentang masa laluku," bisiknya.

"Kamu akan bercerita saat siap. Penerimaan kami tidak menunggu cerita itu lengkap."

Air mata pertama jatuh sebelum Laras sempat menyekanya.

Bu Rahayu benar-benar memeluknya.

Setelah Laras lebih tenang, Bu Rahayu menunjukkan satu map terakhir. Di dalamnya ada salinan jadwal akad, data wali hakim, mahar, dan nama saksi.

"Bapak sempat ingin memastikan apakah dia bisa menjadi wali," kata Bu Rahayu. "Penghulu menjelaskan aturan wali nasab dan wali hakim. Bapak menerimanya. Dia tidak mau kasih sayang membuat prosedur agama dibengkokkan."

Laras membaca nama Pak Hardjono pada kolom saksi keluarga. "Apakah dia kecewa?"

"Tidak. Dia bilang menjadi saksi bahwa kamu memilih Bram dengan bebas sudah cukup penting."

Kalimat itu kembali membuat mata Laras panas.

"Kami tidak sedang menggantikan orang tua kandungmu di atas kertas," lanjut Bu Rahayu. "Kami juga tidak akan memaksa kamu memanggil kami dengan cara tertentu. Tapi kalau suatu hari kamu butuh tempat pulang, rumah ini ada."

"Bagaimana kalau orang tua kandungku masih hidup dan suatu hari muncul?"

"Kita cari fakta. Kita dengarkan kamu. Hubungan darah tidak otomatis memberi siapa pun hak menyakiti atau menuntut."

Jawaban itu sangat berbeda dari cerita-cerita yang biasa Laras dengar, bahwa anak harus menerima orang tua apa pun yang mereka lakukan. Bu Rahayu tidak menolak darah, tetapi menempatkan keselamatan dan pilihan Laras di depan.

"Aku ingin memanggilmu Ibu," katanya pelan. "Bukan karena harus. Karena aku mau."

Pelukan kedua terasa lebih erat.

Sesudah Bu Rahayu keluar, Laras merapikan tas kain lamanya. Isinya tinggal buku sketsa, salinan ijazah, dan beberapa pakaian. Dulu seluruh hidupnya muat dalam tas itu agar ia bisa lari kapan saja.

Malam ini ia mengeluarkan buku sketsa dan meletakkannya di meja. Tas kosong itu dilipat ke dasar lemari.

Ia belum membuang jalan keluar. Ia hanya tidak lagi menaruhnya paling dekat dengan pintu.

Untuk pertama kalinya, lemari itu terasa seperti tempat menyimpan masa depan, bukan singgah sementara sebelum pelarian berikutnya.

***

Menjelang tengah malam, Bram muncul di pintu.

"Pengantin laki-laki dilarang masuk," kata Kinan.

"Saya hanya mau memastikan Laras sudah makan."

"Sudah," jawab Bu Rahayu.

Bram tetap mencari wajah Laras. Ketika tatapan mereka bertemu, sorot matanya melunak. Ia melihat anting keluarga di telinga Laras dan bekas air mata yang belum sepenuhnya hilang.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

Laras mengangguk. "Lebih dari baik."

Bram tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Kinan mendorong pintu perlahan.

"Besok saja, Mas."

Sebelum pintu tertutup, Bram berkata, "Tidur. Jangan menghitung suvenir lagi."

"Perintahmu berlaku setelah akad."

"Besok saya tagih."

Pintu tertutup diiringi tawa Kinan.

Bu Rahayu merapikan ujung rambut Laras, lalu tersenyum kepadanya melalui cermin.

"Besok, kamu resmi jadi bagian dari kami, Nak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!