NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 16: Rahasia Kecil

Di sore itu, Kirana merasa aman di samping Arya, sekaligus baru melihat seberapa tajam perlindungan lelaki tersebut bisa berubah.

Dua malam kemudian, rasa aman itu bertabrakan dengan semua pertanyaan yang belum terjawab.

Kirana duduk di lantai kamar dengan laptop terbuka. Di layar, Feby muncul dari apartemen kecilnya di luar negeri, rambut diikat asal dan pensil terselip di telinga.

“Jam segini baru video call. Ada masalah?”

“Kenapa harus ada masalah?”

“Karena kalau hidup lo tenang, lo kirim meme. Kalau video call, berarti ada ledakan.” Feby menyipitkan mata. “Spill.”

Kirana menarik napas. “Gue tidur sama seseorang waktu di Singapura.”

Feby membeku.

Ponsel yang ia pegang jatuh dari tangannya. Setelah mengatur ulang kamera, wajahnya memenuhi layar.

“Lo apa?”

“Pelan.”

“Gue di negara lain. Tetangga lo nggak dengar.”

“Winda ada di ruang sebelah.”

Feby menutup mulut, lalu tiba-tiba tertawa sampai bahunya berguncang. “Kirana yang bahkan nolak pegangan tangan waktu SMA? Sekali berani langsung internasional?”

“Feb!”

Tawa itu berhenti ketika Feby melihat mata Kirana berkaca. “Eh. Maaf. Lo baik-baik saja? Dia memaksa?”

“Nggak. Saya yang mulai. Dia berkali-kali memastikan.”

“Oke.” Feby duduk lebih tegak. “Terus kenapa baru cerita?”

Kirana menceritakan malam itu, uang dan catatan yang ditinggalkan, lalu pertemuan di kelas enam minggu kemudian. Saat ia menyebut lelaki tersebut adalah dosen pengganti, Feby mengeluarkan jeritan tanpa suara.

“Jadi lo tidur sama dosen sendiri?”

“Waktu itu saya belum tahu.”

“Dan sekarang?”

“Dia pindah ke apartemen sebelah.”

Feby berdiri dari kursi lalu berjalan keluar bingkai. “Gue butuh minum.”

“Jangan alkohol.”

“Air putih. Cerita lo sudah bikin mabuk.”

Feby kembali membawa botol. Kirana melanjutkan tentang tugas tambahan, ciuman, 999 mawar, klinik, dan Arya yang mengaku sebagai pacarnya di depan Winda.

“Winda tahu bagian Singapura?”

“Belum.”

“Kenapa gue duluan?”

“Karena lo jauh. Kalau lo marah, lo nggak bisa langsung datang.”

“Strategi bagus.” Feby mengusap wajah. “Kira, gue ngerti kenapa lo mulai suka. Cowok ganteng, kaya, perhatian, masak, beli apartemen sebelah. Terlalu sempurna.”

“Itu pujian atau peringatan?”

“Peringatan.”

Feby mencondongkan badan. “Cowok berduit yang terbiasa dapat semua hal bisa sangat manis waktu mengejar. Setelah dapat, belum tentu sama.”

“Mas Arya nggak begitu.”

“Lo baru kenal beberapa minggu.”

“Dia menghormati kalau saya bilang tidak.”

“Bagus. Itu syarat dasar, bukan bukti dia akan setia selamanya.”

Kirana menggigit bibir. Ucapan Feby terdengar pahit seperti pengalaman, bukan teori.

“Ini karena Aldi?” tanyanya.

Ekspresi Feby menutup sesaat. “Jangan bahas dia.”

“Kalian masih bersama?”

“Secara teknis.” Feby memutar tutup botol terlalu keras. “Makanya gue bilang, jangan menyerahkan seluruh hidup hanya karena seorang laki-laki tahu cara membuat lo merasa dipilih.”

“Mas Arya memang memilih saya.”

“Pastikan dia juga mau bertanggung jawab atas pilihannya ketika keadaan nggak manis.”

Percakapan berlanjut hampir satu jam. Feby meminta nama lengkap, usia, pekerjaan, bahkan foto Arya. Ketika melihat foto candid dari acara kampus, ia bersiul.

“Oke, wajahnya memang kriminal.”

“Maksud lo?”

“Bisa mencuri akal sehat.”

Kirana tertawa kecil.

“Sekarang jawab tiga pertanyaan,” kata Feby. “Dia pernah meminta hubungan kalian dirahasiakan demi dirinya?”

“Nggak. Justru saya yang minta low profile.”

“Pernah membuat lo merasa berutang karena hadiah atau bantuan?”

Kirana memikirkan kata upah yang sering digunakan Arya. Namun ketika ia meminta ciuman, Arya memisahkan nilai dan persetujuan dengan tegas. “Dia suka menggoda soal utang. Tapi kalau saya benar-benar menolak, dia berhenti.”

“Terakhir. Lo bisa tetap kuliah, berteman, dan mengambil keputusan tanpa dia?”

“Bisa.”

“Pertahankan itu.” Feby menatapnya serius. “Cowok posesif mungkin seksi di novel. Di hidup nyata, lo tetap butuh pintu keluar yang bisa dibuka sendiri.”

Kirana mengingat kartu elektronik unit 805 yang ditawarkan Arya lalu disimpan kembali saat ia menolak. Mengingat pintu kantor yang dibiarkan terbuka, nilai yang diperiksa Prof. Hartono, dan sikap Arya saat menerima batasnya.

“Sejauh ini, dia selalu menyisakan pintu.”

“Bagus. Jangan jatuh cinta pada kemungkinan. Lihat konsistensinya.”

“Sejak kapan lo jadi konsultan?”

“Sejak hidup gue sendiri terlalu berantakan untuk diperbaiki.”

Nada pahit itu muncul lagi. Kirana ingin mendesak soal Aldi, tetapi wajah Feby memintanya berhenti. Sebagai gantinya, ia berkata, “Kalau lo butuh pulang, rumah saya selalu ada.”

Feby tersenyum tipis. “Gue tahu.”

Ketukan terdengar dari pintu kamar. Winda menyembulkan kepala. “Kira, lo ngobrol sama siapa? Dari tadi ketawa sendiri.”

Feby langsung melambai dari layar. “Hai, Win.”

“Feby!” Winda masuk dan mengambil alih separuh layar. “Kapan pulang? Gue butuh bantuan buat festival teater. Orang-orang di sini bikin gue cepat tua.”

“Kirim proposal. Kalau jadwal gue bisa, gue bantu online.”

Kirana mendengarkan keduanya berbicara soal naskah kampus yang belum selesai. Untuk sesaat, percakapan tentang Arya tenggelam oleh candaan tiga sahabat, memberi dadanya ruang bernapas.

Namun sebelum menutup panggilan, Feby kembali memandang Kirana dengan arti yang hanya dipahami mereka berdua.

Sebelum menutup panggilan, Feby menunjuk kamera. “Dengar. Gue bukan melarang lo bahagia. Tapi jangan abaikan rahasia, perbedaan kuasa, dan fakta bahwa dia delapan tahun lebih tua.”

“Saya tahu.”

“Dan kalau dia macam-macam, gue terbang pulang buat ngehajar dia.”

“Dengan apa?”

Feby mengangkat pensil dari telinganya. “Ini tajam.”

Kirana tertawa lagi, kali ini lebih ringan. Setelah layar gelap, kamar menjadi sunyi.

Dari balik dinding terdengar suara pintu unit Arya terbuka. Ponsel Kirana menyala.

Sudah makan malam?

Ia mengetik iya, lalu menghapusnya. Feby benar tentang satu hal: ada terlalu banyak bagian hidup Arya yang belum ia kenal.

Kirana berbaring, menatap pesan itu sampai larut.

Malam tersebut, peringatan Feby membuatnya tidak bisa tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!