NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Wush.

Waktu terasa melambat di mata Bima saat dia melihat tangan pelayan itu bergerak di balik kain troli.

Dia tidak punya waktu untuk berteriak memperingatkan Leo atau pihak keamanan.

Bima langsung melompat dari atas panggung dengan gerakan yang sangat gesit.

"Menyingkir dari jalan!" teriak Bima pada beberapa anggota panitia yang berdiri di dekat tangga panggung.

Pelayan katering itu menyeringai gila sambil menekan ibu jarinya ke atas tombol detonator.

Namun pergerakan Bima jauh lebih cepat berkat peningkatan ketangkasan fisik dari sistem.

Bima merogoh saku dalam jasnya dan mencabut sebuah jarum akupunktur perak panjang saat masih melayang di udara.

Jleb.

Jarum perak itu menancap sangat akurat di bagian belakang leher pelayan tersebut.

Bima menusuk tepat di titik saraf kranial yang menghubungkan sinyal motorik otak ke anggota gerak.

"Ugh..." erang pelayan itu dengan mata yang langsung berputar ke atas.

Ibu jarinya membeku hanya satu milimeter sebelum tombol detonator itu tertekan sepenuhnya.

Bruk.

Tubuh pelayan itu ambruk seketika seperti boneka yang tali penggeraknya diputus paksa.

Bima dengan cepat menangkap sisi troli itu agar tidak terguling ke lantai.

Grep.

Dia menahan napasnya sambil menatap papan sirkuit detonator yang masih berkedip merah di tangan pria yang lumpuh itu.

"Apa yang terjadi?!" jerit seorang dokter wanita dari barisan paling depan.

"Pelayan itu membawa bom!" teriak dokter lain yang melihat rangkaian kabel di balik kain troli.

Kepanikan luar biasa langsung meledak di dalam aula Balai Kartini tersebut.

Ratusan dokter elit yang biasanya tampil berwibawa kini saling dorong untuk berlari menuju pintu keluar.

"Semuanya tenang dan jangan bergerak dari tempat kalian!" teriak Bima dengan suara bariton yang menggelegar.

"Jika kalian membuat getaran keras di lantai, sensor getar di bom ini akan meledak dan menyebarkan racun!"

Bima sengaja berbohong soal sensor getar itu untuk menghentikan kepanikan massa.

Kebohongan itu bekerja dengan sangat sempurna.

Semua orang di ruangan itu langsung terdiam kaku seperti patung, menahan napas karena teror yang mencekam.

Kiara yang duduk di barisan depan juga ikut berdiri, namun dia sama sekali tidak lari.

Wanita cantik itu menatap Bima dengan sorot mata penuh kepercayaan mutlak.

"Sistem, bagaimana cara mematikan pemicu racun ini?" batin Bima dengan cepat.

[Menganalisis rangkaian elektronik pemicu.]

[Putuskan kabel berwarna kuning yang terhubung ke katup pelepas tekanan di tabung gas utama.]

Bima perlahan menyingkap kain penutup troli itu sepenuhnya.

Di dalamnya terdapat sebuah tabung kaca besar berisi gas berwarna hijau pekat yang tersambung ke papan sirkuit.

"Pisau bedah," gumam Bima pada dirinya sendiri.

Dia menarik sebilah pisau bedah steril dari sabuk pinggang tersembunyinya.

Dengan tangan yang sangat stabil tanpa sedikit pun getaran, Bima mengarahkan mata pisau itu ke kumpulan kabel.

Sret.

Kabel berwarna kuning itu terpotong dengan rapi dalam satu gerakan mulus.

Lampu merah yang berkedip pada detonator itu seketika mati total.

"Ancaman biologis sudah dinetralisir," umumkan Bima sambil menghela napas panjang dan meletakkan pisaunya.

Tepat pada saat itu, Leo dan belasan petugas keamanan berseragam hitam menerobos masuk ke dalam aula.

"Amankan area ini dan bawa pria itu ke ruang interogasi!" perintah Leo pada anak buahnya.

Para penjaga itu segera menyeret tubuh pelayan yang masih lumpuh dan mengamankan troli beracun tersebut.

Melihat ancaman benar-benar sudah hilang, para dokter elit di ruangan itu perlahan kembali ke kursi mereka.

Wajah mereka masih pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin akibat kejutan barusan.

Profesor arogan yang tadi berdebat dengan Bima terlihat sedang mengelap dahinya yang basah dengan saputangan.

Bima berjalan santai menaiki tangga panggung kembali dan menepuk debu dari jas abu-abunya.

Dia memperbaiki letak mikrofon di mimbar dan menatap tajam ke arah sang profesor.

"Profesor, Anda tadi mempertanyakan presisi dan kemanjuran metode saya, bukan?" tanya Bima memecah kesunyian.

Profesor itu menelan ludah dengan susah payah namun mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.

"Itu... itu tadi memang tindakan yang heroik, Anak Muda."

"Tapi melumpuhkan seseorang dengan jarum hanyalah trik bela diri jalanan, tidak membuktikan apa pun secara medis."

Bima tertawa dingin mendengar kebodohan yang keluar dari mulut orang tua itu.

"Trik jalanan Anda bilang?"

"Saya baru saja menusuk titik saraf kranial di lehernya melewati celah tulang belakang servikal."

"Asal Anda tahu, celah tulang itu tebalnya hanya dua milimeter."

Bima mencondongkan tubuhnya ke depan, memancarkan aura dominasi yang menekan seisi ruangan.

"Jika saya meleset satu milimeter ke kiri, dia akan mati karena gagal napas seketika."

"Jika saya meleset ke kanan, dia masih bisa menekan tombol itu dan kita semua di ruangan ini sudah menjadi mayat."

Seluruh dokter bedah di ruangan itu menahan napas menyadari fakta mengerikan tersebut.

"Saya melakukan tusukan itu dalam keadaan melompat dan target yang bergerak cepat."

"Apakah Anda, dengan pengalaman bedah puluhan tahun, bisa melakukan presisi tingkat dewa seperti itu dalam kondisi ekstrem?" tantang Bima.

Profesor itu membuka mulutnya untuk membantah, tetapi tidak ada satu kata pun yang berani dia ucapkan.

Semua orang di ruangan itu tahu persis bahwa presisi medis seperti itu hampir mustahil dilakukan oleh manusia normal.

"Jika saya bisa melakukan hal segila itu pada manusia sehat yang bergerak..."

"Apakah Anda masih ragu bahwa saya bisa memandu cairan untuk menyusutkan otot jantung pasien yang sedang terbaring diam?"

Aula utama Balai Kartini seketika menjadi sangat sunyi.

Tidak ada satu pun dokter yang berani berbisik, apalagi membantah ucapan pemuda di atas panggung itu.

Direktur Wira yang duduk di area VIP tersenyum sangat lebar dan bangga.

"Dia benar-benar monster medis yang lahir di era kita," gumam Direktur Wira pelan.

Kiara tiba-tiba mengangkat tangannya dan mulai bertepuk tangan memecah kesunyian.

Prok, prok.

Mendengar tepukan Kiara, para dokter di barisan depan mulai ikut bertepuk tangan.

Hanya dalam hitungan detik, seluruh aula itu meledak dalam tepuk tangan yang sangat gemuruh.

Prok prok prok!

Bahkan dokter-dokter senior dari ibu kota kini berdiri memberikan penghormatan langsung pada Bima.

Mereka harus menelan ego mereka mentah-mentah di hadapan kemampuan absolut yang baru saja dipertontonkan.

[Misi Tambahan berhasil diselesaikan dengan sempurna.]

[Dominasi medis berhasil diakui secara mutlak oleh komunitas medis nasional.]

[Hadiah: Fasilitas Operasi Virtual berhasil dibuka di dalam sistem.]

Bima merasakan sensasi hangat di kepalanya saat sebuah ikon baru menyala di dalam pikirannya.

Sekarang dia bisa berlatih membedah penyakit apa pun di dalam simulasi sistem tanpa harus membahayakan nyawa manusia sungguhan.

"Terima kasih atas perhatian Anda semua," ucap Bima ke arah mikrofon.

"Saya harap setelah hari ini, dunia medis tidak lagi menutup mata terhadap metode penyembuhan yang tidak konvensional."

Bima melangkah turun dari panggung, mengabaikan kerumunan wartawan yang kini sangat ingin mewawancarainya.

Dia berjalan lurus menghampiri Kiara dan mengulurkan tangannya.

"Ayo kita pulang, Nona Kiara."

"Urusanku di tempat ini sudah selesai sepenuhnya," ajak Bima dengan senyum yang sangat tulus.

Kiara menyambut uluran tangan Bima dengan wajah merona bahagia.

"Kau sangat luar biasa hari ini, Dokter Bima."

"Aku belum pernah melihat profesor itu terdiam seperti orang bodoh sebelumnya."

Mereka berdua berjalan keluar dari aula bergandengan tangan, dikawal ketat oleh Leo dan anak buahnya.

Hari ini, era kejayaan para profesor medis yang kolot dan sombong telah resmi berakhir.

Nama Bima Aditya kini telah terukir sebagai legenda baru di puncak dunia medis negara ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!