Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 23.
Deris masih berdiri di depan pintu kontrakan itu. Kedua kakinya terasa begitu berat untuk melangkah pergi, sementara kata-kata Zahira terus terngiang di dalam kepalanya.
“Aku rela dianggap mandul... demi menjaga harga dirimu.“
Perkataan wanita yang telah menikah dengannya selama 7 tahun itu, menghancurkan benteng kesombongan yang selama ini ia bangun.
Ia baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun, Zahira bukan hanya mencintainya. Wanita itu juga menjaga kehormatannya sebagai seorang suami, bahkan dengan mengorbankan harga dirinya sendiri.
"Ra... aku benar-benar gak tahu, kalau kamu menanggung semua itu sendirian."
Suara Deris terdengar serak.
Zahira menatap pria itu tanpa rasa iba, hanya ada tatapan asing di matanya. "Kamu memang nggak tahu, Mas. Tapi bukan karena aku pandai menyembunyikannya, hanya saja kamu tidak tahu... karena kamu tidak pernah benar-benar ingin tahu."
"Apa maksudmu?" Deris mengangkat wajahnya perlahan.
"Kalau selama ini kamu sedikit saja peka, kamu pasti sadar setiap kali pulang dari acara keluarga aku selalu diam. Aku menangis di kamar mandi agar kamu tidak melihat. Berkali-kali aku pulang dari rumah sakit sambil membawa hasil pemeriksaan yang selalu menyatakan tubuhku sehat, tapi berkali-kali pula... ibumu memaksaku mencoba pengobatan baru. Dan kamu nggak pernah sekalipun bertanya bagaimana perasaanku."
Deris kembali menundukkan kepalanya, semua yang dikatakan Zahira benar. Ia memang tidak pernah bertanya. Baginya, selama Zahira tidak mengeluh, berarti semuanya baik-baik saja. Dan kini ia sadar, betapa bodohnya dirinya.
"Aku minta kesempatan sekali lagi."
"Tidak." Jawab Zahira tanpa ragu.
"Ra, dengarkan dulu."
"Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu, Mas. Selama tujuh tahun aku selalu mengalah, selalu memaafkan, selalu percaya kamu akan berubah. Sekarang, untuk pertama kalinya, izinkan aku... mendengarkan diriku sendiri."
Deris menatap wanita itu dengan mata memerah. "Kalau waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
"Sayangnya hidup tidak memberi pilihan seperti itu, Mas. Sekarang, silakan pergi. Minggu depan, kita bertemu di Pengadilan Agama untuk sidang perceraian kita.”
"Ra..."
“Aku lelah.” Zahira menghembuskan napas panjang.
Hanya dua kata, namun maknanya begitu dalam. Ia elah terus mencintai seseorang yang tidak pernah menghargai ketulusan dan pengorbanannya.
Deris perlahan menganggukkan kepala, Ia berbalik dengan langkah gontai. Kali ini, ia benar-benar memahami arti kehilangan.
Di dalam rumah kontrakan, Zahira menutup pintu perlahan. Ia bersandar di balik pintu sambil memejamkan mata, air matanya akhirnya jatuh. Air mata itu bukan lahir dari cinta yang masih tersisa, melainkan dari perpisahan dengan tujuh tahun kehidupan yang pernah ia perjuangkan tanpa pernah dihargai.
Ponselnya bergetar, nama Revan muncul di layar.
Zahira mengusap cepat air matanya sebelum mengangkat panggilan. "Halo."
"Maaf mengganggu malam-malam."
"Tidak apa-apa."
"Aku hanya ingin memastikan kamu sudah sampai rumah."
"Sudah."
"Syukurlah."
Revan terdiam beberapa saat sebelum kembali membuka suara.
"Deris... datang lagi?"
Zahira sedikit terkejut. "Kamu tahu?"
"Aku tidak tahu, hanya menebak." Revan mengembuskan napas pelan. "Waktu kejadian malam itu, dia sudah mengetahui alamat kontrakanmu. Sejak saat itu aku sudah menduga dia tidak akan menyerah begitu saja."
"Iya, dia datang."
"Apa dia memaksamu lagi?"
"Dia memang ingin berbicara, tapi semuanya sudah selesai."
Meski mendengar jawaban itu, rahang Revan tetap mengeras. Bayangan saat Deris menarik paksa tangan Zahira beberapa malam lalu masih teringat jelas di benaknya.
"Kalau dia kembali melakukan hal yang sama, jangan hadapi sendirian."
"Aku bisa menjaga diriku."
"Aku tidak meragukan kemampuanmu." Nada suara Revan tetap tenang, tetapi terdengar tegas. "Hanya saja, tidak semua beban harus kamu pikul sendiri. Kalau suatu saat kamu membutuhkan bantuan, telepon aku. Setidaknya... kali ini ada seseorang yang siap berdiri di pihakmu."
Kata-kata pria itu membuat Zahira terdiam. Sudah lama sekali, tidak ada orang yang mengatakan kalimat seperti itu kepadanya.
"Besok kita ada rapat dengan investor dari Singapura, istirahatlah yang cukup. Aku membutuhkan General Manager terbaikku dalam kondisi prima." Revan kembali berbicara.
Sudut bibir Zahira terangkat membentuk senyum kecil. "Baik, Pak Direktur."
"Masa baru beberapa detik, sudah kembali formal lagi?"
"Baik... Van." Zahira terkekeh pelan.
"Nah, begitu lebih enak didengar."
Suasana yang semula berat perlahan mencair.
"Selamat malam, Zahira."
"Selamat malam."
Panggilan berakhir.
Zahira memandang layar ponselnya beberapa saat, setelah percakapan singkat itu dadanya terasa jauh lebih ringan.
Sementara di dalam mobil yang terparkir beberapa puluh meter dari rumah kontrakan, Deris belum juga menyalakan mesin. Tangannya masih menggenggam setir dengan erat, tatapannya kosong menembus kaca depan.
...*****...
Keesokan paginya, Wiranata Corp kembali dipenuhi kesibukan.
Para karyawan keluar masuk ruang rapat sambil membawa berkas, beberapa staf sibuk menyiapkan presentasi untuk pertemuan dengan investor dari Singapura yang dijadwalkan berlangsung pukul sembilan.
Di ruang kerja General Manager Operasional, Zahira sedang memeriksa laporan distribusi triwulan.
Tok... tok...
"Masuk."
Seorang staf administrasi melangkah masuk sambil membawa beberapa map.
"Bu Zahira, seluruh data efisiensi biaya yang Ibu minta sudah selesai direkap."
"Terima kasih."
Zahira membuka satu per satu laporan tersebut. Matanya bergerak cepat membaca setiap angka, lalu mengambil pena untuk memberi beberapa catatan.
"Tolong revisi bagian biaya logistik wilayah timur, angka di sini masih memakai tarif lama. Setelah diperbaiki, langsung kirim salinannya ke ruang Pak Revan sebelum rapat dimulai."
"Baik, Bu." Staf itu segera keluar.
Tak lama kemudian, telepon kantor berdering.
"Selamat pagi, Bu Zahira." Suara sekretaris Revan terdengar dari seberang. "Pak Revan meminta Ibu hadir lima belas menit lebih awal. Beliau ingin membahas beberapa poin presentasi sebelum investor datang."
"Baik. Saya segera ke sana."
Di lantai eksekutif, Zahira mengetuk pintu ruang Direktur Utama.
"Masuk."
Zahira melangkah masuk sambil membawa tablet berisi seluruh data operasional.
Revan masih berdiri di depan jendela besar sambil membaca sebuah dokumen. Begitu melihat Zahira datang, ia menutup map tersebut.
"Duduk."
Zahira mengambil tempat di seberang meja kerja. "Apa ada perubahan strategi?"
"Ada."
Revan menyalakan layar besar di dinding ruangan, grafik pertumbuhan perusahaan langsung muncul. "Investor hari ini ingin melihat proyeksi ekspansi dua tahun ke depan, aku ingin kamu yang menjelaskan efisiensi operasional."
"Saya?" Zahira tampak sedikit terkejut.
"Kamu yang menyusun strateginya."
"Tapi biasanya bagian itu disampaikan direktur."
"Aku lebih percaya orang yang mengerjakannya langsung. Aku tidak sedang memberimu beban tambahan, aku sedang memberimu kesempatan menunjukkan kemampuanmu." Lanjut Revan.
Sudut bibir Zahira terangkat tipis. "Baik, saya tidak akan mengecewakan Anda."
"Jangan membuktikan padaku." Revan menggeleng pelan. "Buktikan pada dirimu sendiri."
Ucapan pria itu kembali membuat kepercayaan diri Zahira tumbuh.
Pukul sembilan tepat, para investor mulai memasuki ruang rapat utama. Beberapa di antaranya berasal dari Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Presentasi berlangsung lancar.
Saat giliran Zahira berbicara, ruangan mendadak hening. Dengan suara tenang, ia menjelaskan bagaimana restrukturisasi jalur distribusi mampu memangkas biaya operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Tak ada kata yang berlebihan, semua disampaikan berdasarkan data.
Setelah hampir dua puluh menit, presentasi berakhir.
Salah seorang investor asal Singapura mengangkat tangan. "Strategi ini sangat menarik, siapa yang menyusunnya?"
"Ibu Zahira Narapati." Revan menjawab tanpa ragu.
Beberapa investor langsung menoleh ke arah Zahira. "Anda sangat mengesankan."
"Terima kasih." Jawab Zahira dengan wajah ramah.
"Jarang ada General Manager baru yang memahami operasional sedetail ini."
Zahira hanya membalas dengan senyum profesional. Di sisi lain meja rapat, Revan tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun dari sorot matanya, terlihat jelas bahwa ia puas.
Di waktu yang sama, Deris duduk di ruang kerjanya dengan wajah kusut. Sejak pagi, pikirannya terus dipenuhi ucapan Zahira semalam.
Pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Sekretaris masuk sambil membawa beberapa berkas. "Pak, ada kabar dari Gardapati Group."
"Apa?"
"Mereka resmi kehilangan sembilan investor besar, beberapa proyek kerja sama juga mulai ditunda."
Tatapan Deris berubah. "Secepat itu?"
"Iya, Pak."
Sekretaris itu tampak ragu sebelum melanjutkan. "Dan... di luar sedang ada Nona Kayla."
"Bilang saja aku sedang sibuk." Deris memejamkan mata sejenak.
"Tapi beliau memaksa ingin bertemu."
"Kalau begitu katakan aku sedang keluar."
"Baik, Pak."
Begitu sekretaris keluar, Deris menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sekarang mendengar nama Kayla saja membuat kepalanya terasa berat.
Di luar ruangan, Kayla mengepalkan tangannya ketika mendengar penolakan itu. "Mas Deris gak ada?"
"Iya, Nona."
Kayla tertawa pelan. "Tidak ada... atau sengaja menghindariku?"
Sekretaris hanya tersenyum canggung.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kayla berbalik meninggalkan perusahaan. Namun di dalam hatinya, amarah terus membesar. Baginya, semua kekacauan ini bermula sejak kemunculan Zahira dan Revan. Kalau bukan karena mereka, hidupnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang.
Dan ketika kebencian mulai menguasai akal sehat seseorang, sering kali lahirlah rencana yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭