NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006: Sastra Sampah untuk Orang Sampah

Senyum Tante Lina tidak langsung hilang. Orang seperti dia terbiasa menganggap semua bantahan sebagai kekurangajaran, lalu memakai kata "sopan" untuk mengikat leher lawan.

"Tentu, Bima," katanya manis. "Tante senang kalau kamu mau bicara. Asal jangan emosional, ya. Ini keluarga."

"Justru karena ini keluarga, Tante," jawab Bima, "saya bicara pelan. Kalau bukan keluarga, mungkin saya sudah bicara terlalu jujur."

Ratna langsung menunduk, pura-pura mengambil sambal. Bahunya bergetar menahan tawa. Bu Sri menatap Bima dengan wajah pucat, seperti ingin melarang sekaligus ingin mendengar.

Pak De Hartono mengerutkan kening. "Maksudmu apa?"

"Tidak ada maksud aneh, Pak De." Bima mengangkat kedua tangan sedikit. "Saya cuma ingin mengucapkan terima kasih. Hari ini Tante Lina mengajarkan banyak hal. Misalnya, rumah memang bisa kecil, tapi ucapan orang bisa jauh lebih sempit."

Sendok Bu De Sumiyati berhenti di udara.

Lina tertawa pendek. "Aduh, Bima. Kamu menyindir Tante?"

"Tidak, Tante. Saya memuji ketelitian Tante. Tante bisa salah menyampaikan jam, tapi tidak pernah salah memilih momen untuk membuat orang lain malu. Itu kemampuan langka."

Darmawan menurunkan gelasnya.

[Combo bantahan sopan aktif.]

[Poin +212]

Tante Lina masih berusaha tersenyum. "Mas Harto, anakmu ini sekarang pandai sekali. Tapi orang pandai kalau tidak punya penghasilan tetap, ya tetap saja..."

"Tetap manusia, Tante," potong Bima halus. "Tidak berubah menjadi bahan pertunjukan."

Beberapa orang di meja menahan napas.

Bima melanjutkan sebelum Lina sempat mengambil alih. "Tadi Tante bilang keluarga kami datang terlambat. Saya pikir Tante benar. Orang yang datang sesuai informasi salah memang terlihat terlambat di mata orang yang sengaja memberi informasi salah. Itu sangat masuk akal."

Mbak Dewi menunduk. Sudut bibirnya bergerak.

Pak De Hartono menatap Lina. Untuk pertama kalinya malam itu, ada keraguan kecil di matanya.

"Informasi salah apa?" tanya Pak De.

Bima menunjuk ringan ke ponsel Lina. "Tante bilang sudah menulis jam empat di grup keluarga. Benar. Tapi Papa tidak ada di grup itu. Kemarin Tante telepon Mama, menyebut jam lima. Kalau salah dengar, aneh juga, karena kami berempat salah dengar dengan kompak. Mungkin keluarga kami miskin, tapi telinga kami belum patungan."

Ratna batuk. Bulik Tini cepat mengambil minum.

Wajah Lina mulai memerah. "Kamu jangan membesar-besarkan hal kecil. Tante juga sibuk mengatur semuanya."

"Betul, Tante. Mengatur memang melelahkan. Mengatur restoran, mengatur jam, mengatur siapa yang harus terlihat salah, semua butuh energi."

[Poin +319]

[Combo tekanan balik: 4]

Pak Harto menatap putranya. Ada sesuatu di wajah lelaki itu yang sudah lama tidak muncul: hampir senyum, kecil dan takut-takut, seperti orang yang baru menyadari pintu ruangan ternyata tidak terkunci.

Lina mengetuk amplop merah dengan kuku. "Tante cuma mau membantu. Kalau hati kamu kotor, bantuan juga terlihat hinaan."

Bima menoleh ke amplop itu. "Lima ratus ribu dari orang mampu tentu bantuan. Dipamerkan di depan satu meja keluarga tentu pendidikan. Disebut kecil oleh Om Darmawan tentu kerendahan hati. Semua itu indah sekali, Tante. Sulit mencari sastra sampah sepadat itu dalam satu amplop tipis."

Kali ini Ratna benar-benar tersedak.

"Bima!" Bu Sri memanggil lirih.

Bima menoleh sebentar. Suaranya langsung melembut. "Tenang, Bu. Saya masih sopan. Saya belum menyebut sampahnya siapa."

Darmawan memukul meja sekali. Pelan saja; piring tetap bergetar. "Jaga mulutmu."

Bima menatapnya. "Om Darmawan benar. Mulut harus dijaga. Karena kalau mulut terlalu sering menghitung harga diri orang lain, suatu hari orang bertanya, apakah harga diri pemilik mulut itu sudah pernah diaudit."

Mbak Dewi mengangkat alis. Bulik Tini akhirnya berkata pelan, "Sudah, Lina. Makan saja."

Namun Lina sudah kehilangan pijakan. Ia menunjuk Bima dengan senyum yang mulai retak.

"Anak muda itu memang begitu. Baru bisa bicara sedikit, merasa paling benar. Kamu tahu tidak, Bima, Tante dan Om Dar ini sudah membantu banyak orang. Kalau keluarga kamu merasa tersinggung hanya karena amplop, berarti masalahnya bukan di kami. Masalahnya di rasa minder kalian sendiri."

Bima mengangguk, seolah menerima nasihat berharga.

"Benar, Tante. Rasa minder memang buruk. Karena itu saya belajar dari Tante untuk tidak minder. Kalau suatu hari saya ingin menghina orang, saya akan bungkus dengan amplop merah, lalu menyebutnya bantuan. Kalau saya ingin membuat orang terlambat, saya beri jam salah, lalu menyebutnya lupa. Kalau saya ingin pamer, saya bilang ini semua demi keluarga. Praktis sekali. Terima kasih, Tante."

[Evaluasi konflik verbal: presisi tinggi.]

[Poin +486]

[Hadiah fase 1 terbuka: Pembaca Mikro-ekspresi - Biasa/Hijau]

[Efek: Tuan Rumah dapat membaca kebohongan dasar, rasa takut, dan niat agresif dari perubahan kecil wajah, mata, dan napas.]

Seolah ada kaca bening turun di depan mata Bima.

Ia melihat rahang Lina menegang sebelum bibirnya tersenyum. Jari Darmawan menekan gelas terlalu kuat. Siska menggeser kamera ponsel ke arah dirinya. Gerakan itu terlalu terarah untuk kenangan keluarga; ia sedang menunggu satu kalimat kasar.

Bima tersenyum ke arah Siska.

"Siska, kalau mau merekam, anglenya agak naik. Dari bawah membuat wajah orang terlihat lebih galak. Nanti susah kalau mau dipakai untuk narasi korban."

Siska membeku.

"Aku cuma pegang ponsel," katanya cepat.

"Saya juga cuma memberi saran," jawab Bima.

Pak De Hartono akhirnya berdeham. "Bima, bagaimanapun Lina ini tantemu. Kamu harus hormat."

"Saya hormat, Pak De. Dari tadi saya memanggil Tante, tidak satu kali pun menaikkan suara. Tapi hormat tidak berarti membiarkan orang tua memukul orang tua lain memakai kata keluarga. Papa saya adik Pak De. Jangan jadikan beliau bahan lelucon meja makan. Mama saya ipar Pak De. Jangan perlakukan beliau seperti penerima sedekah panggung. Kalau keluarga besar hanya berani menekan yang diam, mungkin yang harus belajar hormat bukan saya sendirian."

Ruangan VIP itu benar-benar sunyi.

Di luar, pelayan lewat membawa nampan minuman. Ia memperlambat langkah tanpa sadar, lalu cepat-cepat pergi saat Darmawan menatapnya.

Bu Sri menutup mulut. Matanya basah. Kali ini rasa malu tidak tampak di sana. Pak Harto menunduk lebih dalam, namun bahunya tidak lagi runtuh.

Lina membuka mulut. Tidak ada kata keluar. Semua jalan yang biasa ia pakai tertutup: kalau ia marah, ia terlihat kalah; kalau ia menangis, terlalu cepat; kalau ia tertawa, semua orang sudah mendengar isi hinaannya dibuka satu per satu.

Bima mengambil teh hangat, minum seteguk, lalu meletakkan gelas perlahan.

"Tante tadi mengajak doa, kan? Saya ikut. Semoga tahun depan keluarga kami lebih berkecukupan. Dan semoga tahun ini Tante punya cukup keberanian untuk membantu orang tanpa mempermalukannya."

Wajah Lina merah padam.

"Darmawan!" Ia menoleh kepada suaminya. Suaranya pecah antara marah dan malu. "Kamu diam saja?"

Om Darmawan meletakkan gelasnya. Senyumnya hilang. Mata dinginnya menancap pada Bima. Darmawan tampak seperti orang dewasa yang tidak suka mainannya direbut.

"Tenang, sayang," katanya pelan. "Biar aku yang urus bocah ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!