Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 04 CARA PEDANG
Kabut subuh di Hutan Taring Hitam mulai terangkat, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Mu Jin masih terduduk di bawah dahan bambu yang basah, menatap telapak tangan kanannya yang membengkak kebiruan. Senut-senut rasa sakit menjalar dari pergelangan tangan hingga ke siku, persis seperti saat pertama kali dia salah mengayunkan kapak di usia dua belas tahun.
Dia mengangkat tangannya perlahan, memperhatikan setiap lekuk kapalan tebal di jemarinya. Kapalan-kapalan itu terbentuk dari gesekan gagang kayu yang kasar, disesuaikan untuk menahan beban tebasan lurus dari atas ke bawah.
Pedang bukan kapak.
Mu Jin teringat ucapan pria bersubah abu-abu itu sebelum menghilang ditelan kabut. Tebasan yang baru saja dia lakukan berhasil meremukkan leher lawan, namun daya tolak dari besi kaku itu hampir menghancurkan sendinya sendiri. Jika kapak mengandalkan berat kepala besi untuk merobek serat kayu, pedang membutuhkan aliran, sesuatu yang sama sekali tidak dipahami oleh seorang tukang kayu.
Sebelum belajar mengayunkan besi hitam itu, dia harus tahu bagaimana cara memegangnya tanpa merusak tubuhnya sendiri.
Dengan susah payah, Mu Jin mengikatkan pedang berat itu kembali ke punggungnya menggunakan tangan kiri. Setiap kali tali kain itu menekan dadanya yang memar, napasnya tertahan. Dia tertatih-tatih melangkah, mengikuti petunjuk arah yang diberikan pria misterius itu menuju desa di balik bukit.
Jalan setapak itu menanjak licin, ditutupi dedaunan membusuk dan batu-batu tajam. Beban pedang di punggungnya terasa dua kali lebih berat dari biasanya. Beberapa kali kaki jeraminya tersandung, melempar tubuhnya ke tanah berlumpur. Namun setiap kali jatuh, Mu Jin tidak mengeluh. Dia merangkak, bertumpu pada lututnya, lalu memaksa tubuhnya berdiri kembali. Amarah di dadanya bukan lagi api yang meletup-letup, melainkan bara dingin yang terus menuntutnya untuk bergerak.
Tiga jam berlalu sebelum lanskap hutan mulai berganti menjadi perbukitan tandus. Di lembah berbatu di bawahnya, tampak puluhan gubuk tua yang dibangun asal-asalan dari tanah liat dan jerami. Desa itu, jika tempat kumal itu pantas disebut desa, tampak sepi dan sekarat.
Mu Jin melangkah memasuki pemukiman tersebut. Tidak ada anak-anak yang bermain di jalanan, hanya beberapa orang tua berdada kempis yang menatapnya dengan pandangan curiga dari balik jendela kayu yang lapuk. Di desa perbatasan seperti ini, kedatangan pria asing yang membawa senjata selalu berarti satu hal: nasib buruk.
Mu Jin berhenti di depan sebuah gubuk yang memiliki penanda kain merah kusam di pintunya, tanda seorang tabib atau pembuat obat kasar.
Dia mendorong pintu kayu yang berderit nyaring. Di dalam, bau rempah busuk dan minyak wijen menyengat hidungnya. Seorang pria tua bermata satu sedang menumbuk akar kering di atas lumpang batu.
“Aku tidak punya uang,” kata Mu Jin langsung, suaranya serak dan menyakitkan.
Tabib tua itu bahkan tidak mendongak. “Kalau begitu, keluar. Di sini obat dibeli dengan koin, bukan dengan belas kasihan.”
Mu Jin melangkah mendekati meja kayu, meletakkan sesuatu dari balik kantong bajunya. Itu adalah sepasang pisau lempar milik bandit yang tewas di hutan tadi, yang sempat dia ambil sebelum pergi. “Baja pendekar pertengahan. Ini cukup untuk membalut tanganku dan sepotong roti.”
Tabib tua itu melirik dua pisau berkilat di mejanya. Jemarinya yang keriput meraih pisau itu, menguji ketajamannya dengan kuku ibu jarinya, lalu mengangguk pelan. “Duduk.”
Proses pembenahan tulang itu berlangsung cepat dan tanpa rasa ampun. Tabib tua itu mencengkeram pergelangan tangan Mu Jin dan memutarnya dengan gerakan sentakan mendadak.
CRACK!
Mu Jin memejamkan mata rapat-rapat. Gigi atas dan bawahnya bergemertak menahan sakit yang membakar hingga ke kepala, namun tidak ada jeritan yang keluar dari tenggorokannya. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi kotornya.
“Pergelangan tanganmu retak,” ujar tabib tua itu santai sambil melilitkan kain kasa kasar yang diolesi minyak herbal berbau tajam. “Kalau kau paksa mengayunkan benda berat lagi dalam tiga hari ke depan, tanganmu akan lumpuh selamanya.”
“Aku tidak punya waktu tiga hari,” gumam Mu Jin sambil menatap balutan kain di tangannya.
“Maka siapkan makammu sendiri,” balas si tabib pendek. Dia melemparkan sepotong roti gandum kering yang sudah agak keras ke meja. “Sekte-sekte di sekitar sini sedang bergolak. Orang-orang berpedang lalu-lalang seperti lalat. Orang cacat sepertimu hanya akan jadi sasaran empuk.”
Mu Jin meraih roti itu dengan tangan kirinya dan mulai mengunyah pelan. Dia berjalan keluar dari gubuk tabib tanpa mengucap sepatah kata pun, mencari tempat berteduh di balik reruntuhan kuil tua di pinggir desa.
Kuil itu atapnya sudah bocor di mana-mana. Patung dewa yang berdiri di tengah ruangan telah kehilangan kepalanya, ditutupi lumut hijau yang tebal. Mu Jin duduk menyandar pada pilar batu yang dingin, melepaskan ikatan pedang besi hitam dari punggungnya.
Dia meletakkan pedang itu di atas paha.
Dengan tangan kiri yang tersisa, Mu Jin mencoba mengangkat pedang tersebut. Senjata itu terasa sangat tidak seimbang. Beratnya terkonsentrasi di bagian tengah hingga ke ujung bilah, sebuah rancangan yang ditujukan untuk tebasan kuat, bukan penangkisan cepat.
Dia mencoba mencengkeram gagangnya. Kulit gagang pedang itu licin, tidak seperti kayu jati yang memiliki serat alami untuk ditahan oleh kapalan tangannya. Saat dia mencoba mensimulasikan ayunan perlahan, pergelangan tangan kirinya langsung bergetar hebat.
Bagaimana orang-orang itu memegangnya? pikir Mu Jin.
Dalam ingatannya, pembantai bertopeng tembaga tiga tahun lalu bergerak seperti bayangan. Pedang mereka membunuh tanpa suara, tidak ada hentakan keras saat besi bertemu dengan tulang. Gerakan mereka halus, seolah-olah pedang itu hanyalah perpanjangan dari lengan mereka sendiri.
Mu Jin memejamkan mata. Dia membayangkan kembali momen ketika dia membunuh bandit di hutan. Dia telah mengayunkan seluruh beban tubuhnya, membiarkan gaya gravitasi memandu besinya. Tapi itu salah. Dia memperlakukan pedang seperti benda mati yang dipaksa jatuh, bukan sebagai alat yang harus dikendalikan dari pangkal hingga ujungnya.
Dia membuka matanya kembali, menatap jemari tangannya yang terbalut kain kasa.
“Pegang dengan longgar di pangkal, ketatkan di ujung...” gumamnya menirukan ingatan samar tentang seorang prajurit kelana yang pernah singgah di desanya dulu.
Mu Jin meraih gagang pedang dengan tangan kiri yang tak terbiasa. Dia tidak mencoba mengayunkannya. Dia hanya memegang besi itu, merasakan titik beratnya, membiarkan otot-otot tangannya yang terbiasa membelah kayu menyesuaikan diri dengan keseimbangan baru ini. Jika dia harus menjadi pendekar untuk menuntut balas, maka dia akan memulainya dari cara paling dasar: belajar bagaimana cara memegang besi kematian ini tanpa menghancurkan dirinya sendiri terlebih dahulu.