NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di balik semuanya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu kamar memecah keheningan pagi. Alden, yang baru saja memejamkan mata di kursi setelah semalaman terjaga, langsung tersentak bangkit. Jantungnya berdesir waswas.

"Alden? Kamu sudah bangun, Sayang? Ibu boleh masuk?" Suara lembut Rania Ibu Alden terdengar dari balik pintu.

Alden menoleh cepat ke arah ranjang. Aleta masih tertidur pulas, tubuhnya meringkuk di balik selimut tebal dan syal masih melingkari lehernya. Jika ibunya masuk dan melihat ada seorang gadis di ranjang Alden semuanya akan menjadi rumit.

Dengan langkah lebar namun tanpa suara, Alden bergegas menuju pintu. Ia membukanya hanya sedikit—membuat celah yang cukup untuk menghalangi pandangan ibunya ke dalam kamar.

"Ya, ma? Ada apa?" tanya Alden, berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin, khas orang yang baru bangun tidur.

Rania tersenyum hangat, memegang sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan roti. "Ini, mama buatkan sarapan. Tadi malam kamu pulangnya larut sekali, mama khawatir kamu telat sarapan. Boleh mama taruh di dalam?"

Mata Alden melirik nampan itu, lalu kembali menatap ibunya dengan ekspresi datar andalannya.

"Gak usah, ma. Taruh di meja luar aja. Alden baru mau mandi, kamar masih berantakan."

Rania sempat mengernyitkan alis, merasa ada yang aneh dengan sikap putranya yang tampak lebih protektif terhadap area kamarnya pagi ini.

Rania terdiam sejenak, menatap putranya yang tampak enggan membiarkannya masuk. Alih-alih mendesak, ia hanya menghela napas panjang dan menurunkan sedikit nampan di tangannya, mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius namun tetap tenang.

"Ya sudah kalau kamu mau mandi dulu," ujar Rania.

"Tapi mama mau ingatkan satu hal penting. Nanti malam ada pertemuan keluarga besar kita dengan keluarga Felicia. Kamu jangan sampai telat atau bikin alasan lagi untuk gak datang, Alden. Ini penting."

Mendengar nama Felicia disebut, rahang Alden langsung mengeras. Sorot matanya menajam, dan senyum sinis hampir saja lolos dari bibirnya.

Pantesan, batin Alden dalam hati.

Pantas saja ibunya pagi-pagi sekali sudah mengantarkan sarapan langsung ke kamarnya dengan sikap yang begitu manis. Ternyata ada udang di balik batu. Sarapan ini bukan sekadar bentuk perhatian seorang ibu yang khawatir anaknya pulang larut malam, melainkan "pelicin" agar Alden mau menuruti kemauan keluarga untuk menghadiri perjodohan atau pertemuan formal dengan Felicia nanti malam.

Alden menekan emosinya dalam-dalam agar tidak meledak di depan ibunya. Ia melirik sekilas ke arah dalam kamar melalui celah pintu, mengingat ada Aleta yang sedang terbaring di ranjangnya, sementara di luar sini, ibunya justru menuntutnya untuk menjadi anak berbakti demi pertemuan keluarga lain.

"Alden dengar, ma" jawab Alden dingin, memutus kecanggungan.

"Nanti Alden usahakan datang. Taruh aja makanannya di meja luar."

Rania mengangguk puas, mengira perhatiannya berhasil melunakkan sikap keras kepala putranya.

"mam pegang kata-kata kamu ya. Bersiap-siaplah," ucap ibunya sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

🌍🌍🌍

Setelah memastikan langkah kaki ibunya benar-benar menjauh, Alden menutup pintu kamar dengan rapat dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, menatap lurus ke arah ranjang tempat Aleta masih terpejam. Pikirannya mendadak menjadi sangat rumit.

Alden perlahan melangkah mendekati ranjang, langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin. pergerakan itu rupanya mengusik tidur tipis Aleta. Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan terbuka.

Efek obat demam semalam sepertinya bekerja dengan baik. Bibir Aleta yang kemarin tampak pias dan pecah-pecah, kini sudah mulai memperlihatkan sedikit rona alami, tidak sepucat kemarin.

Aleta memosisikan tubuhnya membelakangi posisi Alden berdiri. Karena pandangannya langsung tertuju ke arah kaca besar di kamarnya, ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Alden yang sedang berdiri mematung memperhatikannya. Gadis itu hanya diam bergeming, menatap kosong ke arah luar jendela.

Di dalam benaknya yang masih sedikit pening, sebuah tekad langsung muncul dengan kuat.

Aku harus kabur hari ini juga. Pikirnya dalam hati.

dia tidak bisa terus berada di rumah ini, menjadi tawanan ego dan emosi Alden yang bisa meledak kapan saja. Dia harus mencari celah untuk keluar dari kamar ini sebelum Alden kembali mendiktenya.

Aleta menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga di tubuhnya, masih tanpa menyadari bahwa sepasang mata tajam milik Alden sedang mengawasi gerak-gerik dan perubahan ekspresi wajahnya dari belakang.

Aleta secara perlahan menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil pun, ia menurunkan kedua kakinya ke lantai. Rasa pening masih sedikit melanda kepalanya, namun tekadnya untuk pergi jauh lebih besar dari rasa sakit itu.

dengan langkah mengendap-endap, bertumpu pada ujung-ujung jarinya demi meminimalisasi bunyi langkah. Pandangannya lurus tertuju pada jendela besar di ujung kamar. Setiap jengkal jarak ia tempuh dengan waspada, sesekali menahan napasnya karena takut memicu kecurigaan.

Begitu sampai di depan jendela, Aleta mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar. Ia mencengkeram ujung gorden tebal itu, lalu menggesernya dengan sangat pelan dan lembut, berusaha agar ring gorden tidak berderit nyaring.

Melalui celah gorden yang terbuka sedikit, Aleta melongokkan kepalanya ke bawah, memeriksa situasi halaman rumah Alden untuk mencari jalan keluar dan melihat seberapa tinggi posisinya saat ini dari permukaan tanah.

Aleta benar-benar fokus pada rute pelariannya, sama sekali tidak menyadari bahwa di sudut kamar yang remang, Alden masih berdiri mematung. Sepasang mata tajam cowok itu terus mengikuti setiap gerak-gerik mengendap-endap Aleta dengan tatapan dingin, seolah sedang menonton seekor burung dalam sangkar yang mencoba mencari celah untuk terbang.

🌍🌍🌍

baru saja berhasil membuka celah gorden lebih lebar, matanya langsung memindai halaman bawah dengan jantung yang berdegup kencang. Ia mencoba menghitung jarak dari jendela ke tanah, mencari kemungkinan rute melompat atau memanjat turun, ketika tiba-tiba—

Tap.

Suara langkah kaki yang berat dan tenang terdengar tepat di belakang punggungnya. Sebelum Aleta sempat membalikkan badan atau bereaksi, sebuah tangan yang kuat sudah menyentuh bingkai jendela di samping kepalanya, mengunci ruang geraknya.

Alden berdiri begitu dekat, memojokkan Aleta di antara tubuhnya dan dinding kaca jendela.

"Nggak usah repot-repot," suara Alden terdengar rendah dan dingin tepat di samping telinga Aleta.

"Lantai dua, Aleta. Kalau kamu nekat loncat, yang kamu dapat bukan kebebasan, tapi kaki patah."

Alden menarik gorden itu kembali ke posisi semula dengan satu sentakan cepat, menutup akses cahaya dan pemandangan luar seketika. Ia kemudian menunduk, menatap wajah Aleta yang kini memucat pasi karena tertangkap basah.

"kamu pikir kamu bisa pergi semudah itu setelah apa yang aku lakuin?" tanya Alden lagi, matanya menyipit, menatap Aleta dengan tatapan yang mengancam namun menyimpan sisi posesif yang tak masuk akal.

"kamu bakal tetap di sini "

Alden menatap lurus ke dalam manik mata Aleta yang bergetar.

"aku tahu apa yang aku lakuin kemarin keterlaluan. Dan aku... aku bakal tanggung jawab soal perlakuan aku ke kamu."

Aleta tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan kata "tanggung jawab" keluar dari mulut cowok seranum Alden.

"aku bakal urus semua pengobatan" lanjut Alden, ada penekanan yang serius dalam kalimat terakhirnya.

"Tapi syaratnya, lo harus tetap di sini sekarang. Turuti kata-kata aku, seenggaknya sampai luka di leher kamu itu hilang."

Mendengar itu, Aleta merasa emosinya campur aduk. Tanggung jawab seperti apa yang dimaksud Alden? Apakah ini bentuk penyesalan tulus, atau hanya cara lain dari Alden untuk terus mengikat dan mengendalikan hidupnya?

Aleta tertegun, menatap Alden dengan sepasang mata yang membelalak tidak percaya. Kata "tanggung jawab" yang keluar dari bibir cowok itu terdengar begitu janggal dan asing di telinganya.

"Tanggung jawab?" bisik Aleta lirih, suaranya masih agak parau.

"Maksud kamu apa, ka Alden? Kamu pikir dengan obat-obatan dan kurungan di kamar ini, semuanya bisa selesai gitu aja?"

Alden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah Aleta, memperhatikan rona di pipinya yang perlahan kembali. Di dalam kepalanya, arti kata tanggung jawab itu sudah bulat dan mutlak.

Di kamarnya ini, setelah semua yang terjadi, Alden sudah mengambil keputusan besar: ia akan menikahi Aleta, mengikat gadis itu sepenuhnya di bawah namanya agar tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh atau merebutnya.

Alden sengaja menahan kalimat itu di ujung lidahnya. Ego dan gengsinya yang setinggi langit menolak untuk menjabarkan niat itu dengan gamblang sekarang. Ia tidak ingin Aleta mengetahuinya terlalu cepat dan justru memiliki celah untuk menolak atau makin memberontak.

"Gue bakal ikat lo dengan cara yang gak akan pernah bisa lo bayangin, Aleta," ujar Alden

Aleta mengernyitkan dahi, merasa bingung dan semakin waswas. Kalimat Alden terdengar begitu ambigu dan penuh teka-teki. Alih-alih menangkap sinyal pernikahan, di otak Aleta yang sedang kalut, ucapan Alden justru terdengar seperti ancaman bahwa cowok itu berniat menjadikannya tawanan atau boneka pemuas egonya selamanya.

"Kamu... kamu gila, ka Alden," cicit Aleta sambil menggelengkan kepalanya pelan, mencoba memalingkan wajah dari tatapan intens Alden yang terasa begitu menyesakkan.

Melihat respons Aleta yang salah paham, Alden hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Ia menegakkan kembali tubuhnya. Biarlah Aleta tidak paham sekarang. Lagipula, fokus Alden hari ini terpecah—ia harus menghadapi makan malam dengan keluarga Felicia nanti malam, sembari memastikan

"rencana masa depannya" bersama Aleta di rumah ini tetap aman dari kecurigaan ibunya

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!