Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Mengurai Masa Lalu
Surat ayahnya menyuruh Arga mulai dari keluarga Dewantara. Maka Arga mulai dari keluarga Dewantara.
Tetapi sebelum itu, ia harus membuka arsip. Dan arsip itu tidak mau dibuka.
Tiga flash drive yang berada di dalam koper kulit bersama surat Raka membawa enkripsi berat. Bukan AES standar, bukan PGP komersial. Sesuatu yang dibuat tangan sendiri: sandi Vigenere yang dimodifikasi, dengan lapisan substitusi polialfabetik yang memakai kunci terlalu panjang untuk brute force.
Arga mengetahui itu pada malam pertama. Butuh empat malam lagi untuk memahami sistemnya.
Ia tidak meminta bantuan. Tidak menyewa kriptografer, tidak mencari spesialis. Apa yang dikunci Raka Mahendra, hanya seorang Mahendra yang seharusnya membuka. Arga memahami logika ayahnya meski tidak benar-benar mengenal pria itu: kecurigaan bukan paranoia, melainkan metode.
Kantor pribadi, lantai yang sama tanpa papan nama dan tanpa resepsionis, berubah menjadi laboratorium. Dua monitor menyala, buku catatan berserakan, cangkir-cangkir menumpuk. Mesin kopi bekerja dalam sif enam jam. Arga tidur tiga atau empat jam semalam di sofa kulit yang menempel pada dinding. Sisanya adalah kode, percobaan, kesalahan, kopi, lalu mencoba lagi.
Pada hari ketiga, ia mulai bicara sendiri. Kalimat-kalimat pendek, seolah berdebat dengan hantu ayahnya. "Ayah tidak akan memakai sesuatu yang jelas. Tapi juga tidak akan memakai sesuatu yang tidak mungkin kutemukan. Jadi ada di tengah. Sesuatu yang harus pantas kudapatkan."
Pada malam kelima, ia menelepon Pak Jaya pukul dua pagi.
"Kuncinya tanggal-tanggal bersejarah keluarga. Saya benar?"
Sambungan itu hening selama tiga detik. Lalu suara pria tua itu terdengar, serak karena tidur, tetapi tetap mantap seperti biasa.
"Ayah Anda memakai tanggal yang hanya diketahui seorang Mahendra. Kelahiran, kematian, pernikahan. Tapi bukan yang jelas. Yang terlupakan. Yang tidak ada di catatan publik mana pun."
"Beri saya contoh."
"Hari ketika buyut Anda, Helena, kehilangan anak pertamanya. 1947. Tidak ada kantor catatan sipil yang mencatat. Keluarga menguburkan bayi itu di halaman perkebunan di Jawa Tengah."
Arga memejamkan mata. Tujuh Maret seribu sembilan ratus empat puluh tujuh. Ia mengetik urutannya. Bilah progres maju dua persen.
"Saya butuh lebih banyak."
"Saya tahu. Saya akan kumpulkan apa yang bisa saya kumpulkan. Tapi Arga, sebagian tanggal itu mati bersama ayah Anda. Anda harus menyimpulkannya sendiri."
Sepuluh hari. Sepuluh malam percobaan dan kesalahan, menyilangkan tanggal yang Pak Jaya kirim lewat pesan terenkripsi dengan variasi algoritmik yang Arga uji satu per satu. Flash drive pertama menyerah pada hari Selasa, pukul tiga lewat tujuh belas dini hari.
Arga membuka arsip utama. Membaca baris-baris pertama. Napasnya berhenti.
Itu sebuah dosier. Empat puluh delapan halaman. Tentang keluarga Dewantara.
Albert Dewantara: pemegang saham mayoritas Grup Dewantara Investama. Kekayaan tercatat: Rp1,2 triliun. Kekayaan riil diperkirakan: Rp3,8 triliun. Selisihnya disembunyikan di offshore Panama, Kepulauan Virgin, Curacao. Dosier itu memuat nomor rekening, nama-nama nominee, jalur pencucian uang.
Halaman dua puluh tiga: "Dugaan keterlibatan langsung dalam eliminasi pesaing bisnis. Lihat Lampiran B."
Lampiran B: tiga kematian. Dua pengusaha dan seorang akuntan. Semua antara 2003 dan 2006. Semua diklasifikasikan polisi sebagai kecelakaan atau bunuh diri. Tak satu pun diselidiki tuntas.
Dan di halaman terakhir, digarisbawahi tangan oleh Raka:
Albert Dewantara adalah tersangka utama yang memerintahkan operasi terhadap keluarga Mahendra. Bukti tidak langsung ada di arsip 2-C. Bukti langsung belum ada. Lanjutkan penyelidikan.
Arga membacanya tiga kali. Kalimat terakhir, Lanjutkan penyelidikan, memiliki bobot yang berbeda. Karena Raka tidak melanjutkannya. Raka sudah mati. Penyelidikan itu berhenti di sana, pada 2006, membeku di dalam flash drive yang dikunci sandi yang tak seorang pun lagi tahu cara membukanya.
Sampai sekarang.
Arga menutup laptop. Menopang dahi dengan kedua tangan. Ia tetap begitu lama sekali, sementara kota bangun di luar dan cahaya kelabu masuk lewat celah tirai.
Flash drive kedua lebih sulit. Kuncinya berbeda: bukan tanggal keluarga, melainkan koordinat geografis yang digabungkan dengan tanggal. Arga butuh empat hari lagi untuk memecahkan lapisan pertama.
Isi yang terdekode sebagian memperlihatkan dimensi kedua pekerjaan Raka: koneksi politik. Nama-nama senator. Nomor rekening di kota pemerintahan. Aliran dana pemilu tanpa catatan.
Arga sedang membaca bagian tentang seorang gubernur dari Indonesia Timur ketika mendengar pintu apartemen. Ia meminimalkan semuanya secara refleks. Mematikan monitor kanan.
Bianca muncul di pintu kantor. Piyama, rambut diikat, lingkar gelap di bawah mata. Hampir pukul dua pagi.
"Kamu tidak tidur?"
"Sebentar lagi. Setengah jam lagi."
Bianca tidak bergerak. Ia bersandar pada kusen, menyilangkan tangan, matanya menyapu meja: cangkir-cangkir, buku catatan, post-it yang menempel di monitor.
"Arga. Sudah dua minggu kamu hampir tidak tidur. Hampir tidak makan. Hampir tidak bicara denganku." Suaranya bukan suara pertengkaran. Itu suara khawatir. Yang lebih buruk. "Kamu menyembunyikan sesuatu."
Arga memutar kursi. Menatap Bianca. Kebohongan itu datang mudah, terlalu mudah, dan itu menyakitkan.
"Proyek konsultasi. Rumit, tenggatnya ketat. Minggu depan normal."
Bianca menahan tatapannya selama lima detik. Lalu mengangguk perlahan, seperti seseorang yang menerima jawaban tanpa memercayainya.
"Minggu depan, kalau begitu."
Bianca pergi. Kaki telanjangnya di lantai dingin tidak menimbulkan suara.
Arga menatap pintu kosong. Setelah itu, ia kembali ke monitor. Membuka lagi arsip-arsip itu. Namun huruf-hurufnya lama sekali baru kembali masuk akal.
Pada dini hari berikutnya, lapisan kedua flash drive kedua menyerah. Dan membawa sesuatu yang tidak Arga duga.
Sebuah daftar. Judulnya: "Agen yang disusupkan ke keluarga Mahendra, aktif pada 2006."
Enam nama. Empat tidak Arga kenali. Satu sudah mati, dengan catatan Raka di sampingnya: "dihabisi oleh kontraktornya sendiri, 2008."
Nama keenam dicoret. Sebagai gantinya, ada sebuah simbol, sesuatu antara burung bergaya dan huruf Arab. Goresannya tegas, tinta hitam, dibuat dengan tangan.
Arga memotret simbol itu. Mengirimkannya kepada Pak Jaya. Tiga menit hening. Lalu telepon berdering.
Suara pria tua itu berbeda. Bukan lagi suara komando. Itu suara seseorang yang baru saja melihat hantu.
"Di mana Anda menemukan ini?"
"Di arsip ayah saya. Apa artinya?"
Hening panjang. Arga mendengar Pak Jaya bernapas.
"Simbol itu tanda Elang Hitam. Jaringan bawah tanah yang beroperasi di Indonesia pada era sembilan puluhan dan dua ribuan. Intelijen swasta, infiltrasi korporasi, eliminasi target. Ayah Anda menghabiskan bertahun-tahun untuk memetakan jaringan itu." Jeda. "Dan saya bersumpah saya kira jaringan itu sudah tidak ada."
Arga menatap simbol di layar. Burung bergaris hitam itu seperti menatap balik.
"Sepertinya ayah saya juga mengira begitu. Sampai menemukan nama ini."