Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secuil Masa Lalu
Erlan masih menatap wajah Nandikara dengan sorot mata penuh selidik. Tatapan tajam itu seolah berusaha menguliti setiap perubahan ekspresi di wajah mungil gadis tersebut, mencari sedikit saja tanda kebohongan yang mungkin tersembunyi.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Hanya hembusan angin pagi yang menggerakkan helai-helai rumput di sekitar mereka.
"Semua orang memiliki masa lalu," ucap Erlan akhirnya dengan suara rendah namun tegas."Aku akan mentolerir itu. Jadi kau tidak perlu berbohong."
Elisa langsung mengerucutkan bibirnya. Wajahnya menunjukkan rasa kesal yang semakin sulit disembunyikan."Siapa yang berbohong? Aku memang tidak menyukainya. Kalau Yang Mulia tidak percaya, ya sudah, terserah." jawabnya ketus sambil memalingkan wajah.
Sikap keras kepala itu justru membuat sudut bibir Erlan bergerak tipis. Tanpa peringatan, kedua tangannya terangkat, menangkup kedua pipi Elisa dengan lembut namun kokoh sehingga gadis itu terpaksa kembali menatapnya.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
"Sejujurnya," bisik Erlan pelan tepat di depan wajah Nandikara,"aku tidak terlalu peduli tentang perasaanmu pada pemuda itu."
Erlan berhenti sejenak, seolah ingin memastikan setiap kata yang diucapkannya tertanam jelas di benak gadis di hadapannya."Yang jelas sekarang kau adalah milikku."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi mengandung keyakinan yang tidak memberi ruang untuk dibantah."Dengan atau tanpa persetujuan hatimu, kau adalah milikku."
Jantung Elisa berdegup sedikit lebih cepat. Kalimat itu terdengar sangat arogan, namun entah mengapa diucapkan dengan begitu tenang hingga terasa lebih mengintimidasi.
"Aku hanya penasaran," lanjut Erlan sambil terus menatap kedua mata bening gadis itu,"apa yang kau sukai darinya?"
Elisa menarik kedua pergelangan tangan Erlan, berusaha melepaskan cengkeraman yang menahan wajahnya.
"Lepaskan, Pangeran." dia kembali mencoba menarik kepalanya menjauh."Sudah kubilang, aku tidak pernah menyukai Leonardo Snow."
Bukannya melepaskan, Erlan justru menarik tubuh Elisa mendekat. Dalam sekejap keseimbangan gadis itu hilang.
Elisa terjatuh tepat ke dalam pelukan Erlan. Kini mereka sama-sama berbaring di atas hamparan ilalang. Tubuh Elisa berada di samping sang pangeran, sementara satu lengan Erlan melingkari pinggangnya dengan erat, membuatnya sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bangkit.
Elisa membelalakkan mata."Anda selalu saja tidak sopan!" Dia memukul pelan dada Erlan beberapa kali, namun pria itu sama sekali tidak bereaksi.
Bukannya menjawab, Erlan justru kembali memejamkan kedua matanya, seolah tidak mendengar keluhan tersebut.
"Bangunkan aku kalau mataharinya sudah mulai tinggi." Kalimat itu keluar begitu santai, seakan semua yang baru saja terjadi bukanlah masalah besar.
Elisa terdiam beberapa detik karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya."Apa?" Dia menatap wajah tampan pria itu dengan kesal."Yang Mulia! Jangan tidur!"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya embusan napas Erlan yang mulai teratur.
"Anda sengaja mengabaikanku, ya?"
Elisa kembali meronta-ronta. Ia mencoba melepaskan tangan besar yang melingkari tubuhnya. Kedua tangannya menarik lengan Erlan, bahkan mencoba mendorong bahu pria itu agar bergeser sedikit saja.
Namun semua usahanya sia-sia.
Tubuh Erlan bagaikan batu besar yang tertanam di tanah. Tidak peduli sekuat apa Elisa berusaha, pria itu sama sekali tidak bergeming.
Elisa mulai terengah-engah. Ia kembali mencoba memutar tubuhnya, berharap bisa menyelinap keluar dari pelukan tersebut, tetapi lengan Erlan justru tanpa sadar mengencang beberapa senti, membuat ruang geraknya semakin sempit.
"Yang Mulia lepaskan aku..."
Tetap tidak ada jawaban.
Setelah berkali-kali mencoba, tenaga Elisa akhirnya habis. Napasnya memburu, pipinya memerah karena lelah sekaligus kesal.
Dengan wajah cemberut, ia akhirnya menyerah.
Karena tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan, Elisa hanya bisa diam di samping Erlan. Sesekali ia melirik wajah pria itu dengan kesal, melihat sang pangeran benar-benar tertidur dan bukan sengaja mengerjainya.
Elisa mengembuskan napas panjang. Matanya memandang langit beberapa saat, berusaha menenangkan diri. Namun setiap kali merasakan lengan kokoh yang masih melingkar di pinggangnya, rasa kesalnya kembali memuncak.
"Aku tau Yang Mulia hanya berpura-pura tidur."
Tidak ada jawaban.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Anda."
Sunyi.
"Orang lain kalau mau tidur ya tidur di kamar. Ini malah tidur di padang ilalang sambil menjadikan orang lain bantal."
Tetap hening.
Elisa melirik wajah Erlan dengan tajam."Kalau memang mengantuk, kenapa harus menyeretku ke sini juga?"
Pria itu bahkan tidak membuka mata.
Elisa mendecak pelan."Anda dengar, kan?" Tangannya masih memukul-mukul pelan tubuh Erlan.
Tidak ada respons.
"Yang Mulia."
"Pangeran."
"Erlan."
Elisa benar-benar kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa mendengus kesal, lalu bersandar dengan pasrah di samping pria keras kepala itu sambil terus mengomel pelan, meski ia tahu setiap omelannya hanya menjadi angin lalu.
selalu ditunggu episode selanjutnya
kok ini elisanya terlalu lembek dan tetpaku pengen jadi orang baik terlalu naif
padahal udh diperingatkan sama pemilik tubuh aslinya
kok aq yg masih dendam sm singa. jengkel gt.
usir dah usir 😁