NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Rencana besar yang disusun Bara selama bertahun-tahun akhirnya mencapai puncaknya. Seperti efek domino, setiap strategi dingin, pengambilalihan saham secara merayap, hingga manipulasi dokumen keuangan yang ia lakukan dari balik layar meluncur tanpa cela, menghantam jantung pertahanan keluarga itu tepat di pusatnya.

Pagi itu, kehancuran melanda rumah megah milik Pak Danu.

Suasana di dalam kediaman yang biasanya tenang dan megah kini berubah menjadi neraka. Suara barang pecah, teriakan frustrasi, dan lembaran kertas aset yang berhamburan di lantai ruang keluarga menyambut pagi yang kelam. Surat penyitaan dari bank, pembekuan rekening atas dugaan penggelapan yang telah dirancang Bara, serta surat pengunduran diri massal dari jajaran direksi menghantam Pak Danu bertubi-tubi.

"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa semua aset atas namaku sudah berpindah tangan?!" teriak Pak Danu histeris, dadanya naik-turun menahan sesak. Pria tua yang dulu amat berkuasa itu kini terduduk lemas di lantai, mencengkeram dadanya yang mendadak nyeri hebat.

Selina, wanita yang selalu tampil anggun dan penuh kendali, kini ikut bersimpuh di samping suaminya dengan rambut acak-acakan dan air mata yang terus mengalir deras.

"Mas ... Mas Danu, bertahan Mas! Ya Tuhan ....!!" jerit Selina histeris, suaranya melengking memenuhi setiap sudut rumah yang kini terasa dingin dan asing.

Sementara di sudut tangga, Andrea berdiri membeku. Jemari tangannya mencengkeram erat railing kayu, menyaksikan pemandangan mengerikan di hadapannya.

Ibunya menangis meraung-raung, ayahnya tersengal-sengal menahan serangan jantung di atas lantai, dan dokumen-dokumen bernilai miliaran rupiah berserakan bagaikan sampah tak berharga.

Pada detik itulah, sebuah kebenaran yang teramat pahit merasuki kesadaran Andrea, bagaikan petir di siang bolong.

Semua teka-teki itu ... akhirnya terjawab.

Kepindahan Bara dari rumah, tatapan dingin dan asing di kampus, adegan ciuman yang disengaja bersama Angel di sirkuit, hingga kehangatan malam itu ... semuanya bukan karena cinta. Tidak pernah ada cinta, dan sudah direncanakan.

Bara tidak pernah berniat menjadikannya kekasih. Bara menggunakan dirinya, tubuhnya, dan perasaannya sebagai senjata paling berdarah untuk menghancurkan mental ibunya, sementara di saat yang sama pria itu menggerogoti harta ayahnya sampai tak bersisa. Kehangatan malam itu hanyalah cara Bara mengunci lidahnya agar tidak mengacaukan rencananya.

"Semua itu ... cuma bohong, padahal aku datang dengan tulus demi janjiku pada mamamu Kak .... " bisik Andrea, suaranya begitu pelan, hancur, dan nyaris tenggelam dalam riuhnya teriakan Selina.

Dada Andrea terasa dihantam oleh beban yang teramat berat. Rasa tertipu, terkhianati, dan hina menyatu menjadi satu gelombang guncangan emosi yang luar biasa dahsyat. Kepercayaan tulus dan kesucian yang ia serahkan atas nama cinta mendadak berubah menjadi lelucon paling kotor yang diciptakan oleh pria yang paling ia puja.

Kepala Andrea mulai berputar hebat. Pandangannya mengabur, warna-warna di sekitarnya berubah menjadi hitam. Suara tangisan ibunya mendadak terdengar semakin jauh, memantul bagai gema di lorong kosong.

"Kak ... Bara ...."

Tubuh mungil Andrea melemas. Pegangannya pada railing tangga terlepas, dan dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk meluncur jatuh dari anak tangga, terkapar tak berdaya di lantai dingin bawah tangga.

"ANDREA!" jerit Selina histeris saat melihat putrinya terkulai pingsan dengan wajah seputih kertas.

Sirine ambulans membelah kemacetan kota, membawa dua jiwa yang hancur ke Rumah Sakit Medika. Pak Danu dilarikan langsung ke ruang ICU karena serangan jantung mendadak, sementara Andrea segera ditangani di ruang gawat darurat.

Selina berjalan bolak-balik di lorong rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap, dan pakaian mewahnya kini lusuh. Dalam satu hari, ia kehilangan harta, kejayaan, kesehatan suaminya, dan jiwa putri tunggalnya.

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan Andrea. Wajah sang dokter tampak serius, membawa map rekam medis di tangannya.

"Dokter! Bagaimana keadaan anak saya? Andrea baik-baik saja, kan?" cecar Selina penuh kecemasan sambil mencengkeram lengan baju dokter.

Dokter itu menghela napas pelan, menatap Selina dengan pandangan prihatin yang mendalam.

"Ibu Selina, selain karena kehilangan banyak da rah, kondisi pasien mengalami tekanan emosional dan stres tingkat berat, yang menyebabkan tekanan darahnya anjlok drastis hingga tidak sadarkan diri."

"Lakukan apa saja, Dok! Tolong selamatkan anak saya!" tangis Selina pecah.

"Putri Anda sudah sadar."

"Terima kasih, Tuhan ...." bisik Selina sambil memegang dadanya yang sesak.

"Namun, Ibu ...." Dokter menahan kalimatnya sejenak, menimbang kata-kata yang tepat. "Ada hal penting lain yang harus Ibu ketahui. Dari hasil pemeriksaan darah dan USG darurat yang kami lakukan ... Andrea sedang mengandung. Usia kehamilannya baru memasuki minggu keempat."

Deg ....

Dunia Selina yang sudah hancur, kini kembali dihantam gumpalan batu untuk yang kedua kalinya. Udara di sekitarnya juga terasa tersedot habis.

"Apa ... Dok? Dokter bilang apa?" suara Selina bergetar hebat, matanya membelalak tak percaya. "Hamil? Anak saya ... Andrea hamil?!"

"Benar, Bu. Andrea hamil," tegas Dokter dengan nada penuh simpati. "Dan mengingat kondisi emosionalnya yang sangat labil, kandungan ini sangat rentan. Pasien butuh ketenangan ekstra."

Selina mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding dingin lorong rumah sakit. Tubuhnya merosot perlahan ke lantai. Isak tangisnya yang tadinya tertahan kini pecah menjadi jeritan keputusasaan. Dalam satu hari yang kelam ini, suaminya sekarat di ICU, hartanya dikuras habis, dan kini putri tunggalnya, gadis polos yang bahkan tak pernah terdengar dekat dengan pria mana pun, terbaring lemah dalam keadaan hamil.

Siapa yang tega melakukan ini pada putri kecilnya? Siapa pria bajingan yang telah merusak masa depan Andrea di tengah kehancuran keluarga mereka?

Beberapa jam kemudian, cahaya temaram lampu kamar rawat menyapa Andrea yang baru saja membuka matanya. Rasa mual dan pusing yang hebat langsung menyerang kepalanya.

Di samping ranjang, Selina duduk menggenggam jemari mungil Andrea. Wajah ibunya tampak lebih tua dari biasanya, penuh dengan goresan penderitaan dan air mata yang tak kunjung mengering.

"Andrea ... anak Mama ...." bisik Selina, suaranya parau.

"Ma ...." suara Andrea amat lirih, hampir berupa bisikan. Ingatan tentang kehancuran rumah mereka dan pengkhianatan Bara langsung menghantam kesadarannya, membuat matanya kembali berkaca-kaca.

Selina mengecup jemari Andrea yang dingin, lalu menatap matanya dengan pandangan hancur berkeping-keping. "Sebut satu nama pada Mama, Nak ... Siapa? Siapa laki-laki yang sudah berbuat ini sama kamu? Siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu ini?!"

Kalimat itu menghantam dada Andrea. Tangannya refleks bergerak gemetar meraba perutnya yang masih datar.

"Di dalam sini ... ada benih dari Kak Bara .... " lirihnya di dalam hati.

Rasa sesak yang luar biasa membakar tenggorokannya. Pria yang baru saja meremukkan keluarganya, yang menghancurkan hatinya di sirkuit malam itu, yang memperlakukannya tak lebih dari alat untuk balas dendam ... kini menghadiahkan sebuah nyawa di dalam rahimnya.

Andrea menatap ibunya yang menangis histeris memohon sebuah jawaban. Kebenaran itu sudah ada di ujung lidahnya. Satu nama saja keluar dari bibirnya, Selina pasti akan mengamuk dan mengejar Bara habis-habisan.

Namun, di balik rasa sakit dan pengkhianatan yang teramat dalam, bayangan malam manis itu kembali terngiang. Janji yang ia ucapkan di bawah kungkungan jemari Bara di kamar temaram itu mendadak mengunci rapat tenggorokannya.

"Jangan sampai ada yang tahu ... biar ini menjadi rahasia kita berdua."

Bara menggunakan rahasia itu untuk menghancurkannya. Namun bagi Andrea, rahasia ini adalah benteng terakhir dari sisa kebodohan dan cinta matinya yang tragis. Ia tidak ingin anak di dalam rahimnya dibenci oleh neneknya sendiri sebagai "anak dari musuhnya". Ia juga tidak ingin Bara tahu bahwa ikatan di antara mereka tak akan pernah benar-benar putus.

Andrea memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya menetes deras membasahi bantal. Dengan keteguhan hati yang lahir dari kehancuran jiwa yang paling dalam, Andrea memutuskan untuk mengunci rahasia ini rapat-rapat, selamanya.

"Nggak ada, Ma ...." bisik Andrea, gelengan kepalanya terasa begitu berat dan menyiksa.

"Andrea! Jangan bohong sama Mama!" jerit Selina frustrasi sambil mencengkeram bahu putrinya. "Siapa bajingan itu, Andrea?! Kasih tahu Mama!"

"Nggak ada siapa-siapa, Ma ...." Andrea membuka matanya, menatap Selina dengan pandangan yang teramat kosong dan mati. "Ini ... ini cuma kesalahan Andrea. Nggak ada laki-laki mana pun. Tolong ... jangan tanyakan ini lagi. Tolong ...."

Selina meraung dalam tangisnya, memeluk tubuh ringkih Andrea yang kini gemetar hebat. Selina tidak tahu, bahwa di balik diamnya sang putri, ada nama 'Bara' yang terpatri abadi sebagai luka paling berdarah dalam hidupnya. Sebuah rahasia kelam yang akan disimpan oleh Andrea seumur hidupnya, seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!