aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - Pertemuan di Mulut Gua
Srekk... Srekk...
Gesekan akar pohon dan semak belukar di mulut gua terdengar semakin jelas. Sun Chen menahan napasnya, mengunci seluruh tumpuan raga balitanya di atas lantai tanah yang dingin. Tangan kirinya memeluk erat bungkusan kain berisi lempengan besi berkarat, sementara benih Qi keemasan yang baru saja terkumpul di Dantiannya dipusatkan ke telapak tangan kanan.
Satu serangan jarak dekat. Jika yang menyingkap akar itu adalah pemburu bergaun hitam, Sun Chen akan melepaskan dorongan raga murni ke titik lemah di leher musuh sebelum lawan sempat bersuara.
Akar-akar pohon yang menutupi mulut gua perlahan terkuak lebar. Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menyilaukan pandangan Sun Chen untuk sepersekian detik.
Sebuah bayangan masuk ke dalam celah gua. Namun, alih-alih pedang panjang berkilat atau jubah hitam yang memancarkan aura membunuh, sosok yang berdiri di sana adalah seorang pria tua bertubuh agak membungkuk. Pria itu mengenakan pakaian kain kasar yang bertambal di sana-sini, memikul sebuah keranjang bambu di punggungnya, dan memegang sabit kecil berkulit kayu di tangan kanan.
Pria tua itu tertegun, matanya membelalak kaget saat melihat seorang anak balita berusia empat tahun berada di dalam gua terisolasi ini sendirian.
"Ehh? Ada anak kecil di sini?" gumam pria tua itu dengan suara serak yang penuh keheranan.
Sun Chen tidak membiarkan kewaspadaannya mengendur sedikit pun. Ia tetap mempertahankan posisi berdirinya, matanya yang tajam mengamati setiap inci detail dari sosok di hadapannya. Sun Chen memeriksa irama hembusan napasnya, kestabilan langkah kakinya, sudut genggaman tangannya pada sabit kayu, serta fluktuasi energi di sekitarnya.
Hasil pengamatan dari pengalaman hidupnya yang panjang memastikan satu hal: pria tua ini hanyalah seorang pemburu hutan atau pencari tanaman obat biasa. Tidak ada aliran Qi yang tersembunyi, dan tidak ada niat membunuh sedikit pun di dalam matanya.
"Siapa kau?" tanya Sun Chen, suaranya jernih dan tenang tanpa getaran ketakutan.
Pria tua itu buru-buru menurunkan keranjang bambunya, menunjukkan sikap bersahabat. "Jangan takut, Nak. Aku hanya pencari obat dari desa di kaki perbukitan ini. Namaku Paman Song. Aku biasa mencari akar obat di lereng tebing ini setiap fajar."
Paman Song melangkah masuk satu jengkal, menatap heran ke arah Sun Chen yang sendirian dengan jubah yang agak kotor. "Mengapa anak sekecil dirimu berada di dalam gua liar ini? Di mana orang tuamu?"
Sun Chen merapikan lipatan jubahnya, menyembunyikan bungkusan kainnya di belakang tubuhnya. Ia tentu tidak akan menceritakan identitas sebenarnya atau hubungannya dengan Setan Tinju Chou Tian.
"Saya tersesat, Paman," jawab Sun Chen dengan nada datar yang teratur. "Kemarin malam kelompok paman saya diserang oleh segerombolan bandit di jalan utama. Paman saya menyuruh saya berlari dan bersembunyi di dalam gua ini."
Paman Song menepuk paha dan menghela napas panjang, tampak prihatin. "Ah, kasihan sekali dirimu... Tapi perkataanmu benar. Hutan ini sedang sangat tidak aman sejak semalam."
Sun Chen menyipitkan matanya. "Apa yang terjadi di luar, Paman?"
Paman Song berjongkok, berbisik pelan seolah takut ada yang mendengarkan. "Sejak tengah malam tadi, banyak pria bertopeng dan bergaun hitam berkeliaran di seluruh hutan ini. Mereka seperti sedang melakukan pencarian besar-besaran, memeriksa setiap semak dan sungai. Aku sendiri harus bersembunyi di balik parit untuk mengindari mereka."
Sun Chen mengepalkan jemari tangannya di balik jubah. Dugaan dan analisanya tepat. Organisasi pemburu yang dipimpin Pelindung Merah dan Lu Gu masih menutup seluruh perimeter hutan untuk melacak keberadaannya.
"Lalu... bagaimana dengan Kota Gunung Hijau di balik bukit?" tanyakan Sun Chen, mencoba mengarahkan percakapan tanpa membuka niat aslinya.
Paman Song mengangguk-angguk cepat. "Ah, kota itu! Tadi pagi seorang pedagang kayu dari pinggiran kota bercerita padaku. Katanya, kawasan barat Kota Gunung Hijau hancur parah semalam! Tembok benteng batu dan gudang-gudang besar runtuh akibat pertarungan dahsyat dua ahli tingkat tinggi!"
Dada Sun Chen bergetar tipis. "Apakah... ada yang tahu siapa yang menang?"
"Tidak ada yang tahu pasti, Nak," jawab Paman Song seraya menggelengkan kepala. "Orang-orang hanya bilang ledakan energi di sana sangat menakutkan. Saat fajar tiba, tempat itu sudah sepi dan dijaga ketat oleh prajurit kota. Ada yang bilang para pembuat keributan itu sudah melarikan diri, ada juga yang bilang mereka hancur bersama bangunan."
Jawaban itu menyalakan secercah harapan samar di dalam batin Sun Chen. Belum ada kepastian mengenai gugurnya Chou Tian. Sang guru yang memegang julukan Setan Tinju mungkin saja berhasil menerobos kepungan Pelindung Merah dan meloloskan diri ke tempat lain.
Sun Chen menekan keinginan emosionalnya untuk kembali memeriksa lokasi tersebut. Ia mengingat pesan tulisan tangan Chou Tian di dalam suratnya: Jangan biarkan hatimu dipenuhi penyesalan atau amarah yang buta. Hiduplah, Sun Chen.
Ia memantapkan hatinya untuk terus melangkah maju menuju Provinsi Selatan.
Paman Song kemudian berdiri seraya melihat ke luar gua, menatap ke arah lereng tebing batu di samping mulut gua. Di atas sebuah celah tebing yang agak tinggi, tumbuh sebatang rumput liar berdaun lima dengan warna keperakan.
"Ah, Rumput Perak Malam itu tumbuh di sana..." gumam Paman Song dengan raut wajah kecewa. "Sayang sekali tempatnya terlalu tinggi dan licin untuk pinggang tuaku ini."
Sun Chen memperhatikan posisi rumput obat tersebut. Tempat itu memang cukup terjal bagi seorang pria tua biasa, tetapi raga Sun Chen yang telah ditempa latihan keseimbangan tiang kayu dapat mengatasinya dengan mudah.
"Saya bisa mengambilkannya untuk Paman," ujar Sun Chen pelan.
Paman Song terkejut. "Eh? Jangan, Nak! Itu berbahaya!"
Tanpa menunggu balasan, Sun Chen melangkah keluar dari gua. Ia memancarkan seutas benih Qi halus ke telapak kakinya, lalu melompat ringan meniti tonjolan batu di dinding tebing. Gerakannya tampak amat alami dan sederhana, seperti anak kecil yang lincah memanjat pohon, tanpa memamerkan teknik bertarung yang mencolok.
Dalam hitungan detik, Sun Chen telah memetik Rumput Perak Malam itu dan melompat turun kembali ke atas tanah dengan stabil. Ia menyerahkan rumput obat itu kepada Paman Song.
Paman Song membelalakkan mata kaget, lalu tertawa gembira seraya menerima rumput obat tersebut. "Luar biasa! Kau anak yang sangat berani dan lincah, Nak!"
Sebagai bentuk balasan atas kebaikan Sun Chen, Paman Song merogoh keranjang bambunya. Ia mengeluarkan dua batang umbi obat berwarna kuning muda dan menyerahkannya kepada Sun Chen.
"Ini Umbi Penambah Tenaga," kata Paman Song ramah. "Rebus atau kunyah ini jika kau merasa lelah. Ini sangat bagus untuk memulihkan kesegaran tubuh. Dan satu hal lagi, Nak..."
Paman Song menunjuk ke arah celah semak di balik gua batu. "Jika kau ingin pergi jauh dari hutan ini tanpa bertemu pria-pria bergaun hitam itu, ikuti celah aliran air kering di balik semak sana. Itu adalah jalan setapak kuno para pencari kayu yang mengarah langsung ke kaki Pegunungan Awan Hijau. Jalur itu tertutup pepohonan rapat dan jarang sekali dilewati orang."
Mata Sun Chen berkilat. "Jalur ke Pegunungan Awan Hijau?"
"Benar," jawab Paman Song mengangguk. "Tiga hari lagi, di sebuah desa kecil dekat kaki Pegunungan Awan Hijau, akan diadakan Pasar Pengelana. Banyak tabib, pemburu, dan pengelana dari berbagai tempat berkumpul di sana untuk berdagang. Kau bisa mencari bantuan pamanmu yang lain atau bergabung dengan karavan di sana."
Mendengar nama Pasar Pengelana di kaki Pegunungan Awan Hijau, ingatan kehidupan masa lalu Sun Chen seketika berputar. Ia teringat bahwa pasar berkala itu memang merupakan salah satu pusat pertukaran informasi dan perdagangan bebas bagi para pendekar independen sebelum memasuki wilayah Provinsi Selatan. Tempat itu adalah lokasi yang sangat tepat untuk memperbarui informasi peta keamanan dan membeli perbekalan.
"Terima kasih banyak, Paman Song," kata Sun Chen seraya membungkukkan tubuhnya penuh hormat.
"Berhati-hatilah, Nak," pesan Paman Song seraya memikul kembali keranjang bambunya dan melangkah pergi menyusuri lereng bawah.
Setelah Paman Song menghilang di balik kerapatan pohon, Sun Chen kembali ke dalam gua sejenak. Ia mengunyah sedikit Umbi Penambah Tenaga pemberian Paman Song, lalu meminum satu pil penyembuh luka dalam dari kantong simpanan Chou Tian.
Rasa hangat segera merayap dari perutnya, menyebar ke seluruh Meridian utama. Benih Qi keemasan di dalam Dantiannya berputar makin stabil dan cepat, membersihkan rasa pegal dan memar di otot-otot kecilnya. Kondisi fisiknya perlahan-lahan pulih kembali.
Sun Chen merapikan seluruh perbekalannya, mengikat bungkusan kain lempengan besi di punggungnya, dan melangkah keluar dari gua. Ia menyusup ke dalam celah aliran air kering yang ditunjukkan Paman Song, bergerak cepat menembus kerapatan hutan menuju kaki Pegunungan Awan Hijau.
Perjalanan panjang menuju Provinsi Selatan resmi dimulai.
Sementara itu, jauh di atas langit perbukitan yang diselimuti kabut pagi.
Seekor burung merpati kecil berbulu kelabu melayang anggun di udara. Matanya yang tajam menatap ke arah lereng tebing di bawah, menangkap gerakan samar dari celah gua batu yang baru saja ditinggalkan Sun Chen.
Burung pembawa pesan milik organisasi pemburu itu mengepakkan sayapnya tajam, berputar di udara, lalu terbang kencang menuju ke arah selatan.
Di sebuah kemah darurat di tepi jalan utama hutan, Pelindung Merah duduk di atas batu besar seraya mengusap pergelangan tangannya yang memar. Lu Gu dan belasan pemburu bergaun hitam berdiri berjejer di sekelilingnya dengan wajah tegang.
Kepakan sayap burung merpati itu terdengar mendekat. Burung itu mendarat di atas lengan baju Pelindung Merah.
Pelindung Merah mengambil gulungan kertas kecil di kaki burung tersebut, membacanya sejenak, lalu memisahkan kertas itu hingga hancur menjadi abu di dalam genggamannya.
Bibirnya terangkat di balik topeng perak, memancarkan senyuman dingin yang mengerikan.
"Bocah itu bergerak menuju Pegunungan Awan Hijau..." kata Pelindung Merah dengan suara berat yang menembus keheningan hutan. "Panggil pasukan bayangan kedua. Permainan ini... baru saja dimulai."