Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan Yasmin
Sore itu, suasana di dapur kembali terasa hidup. Meski hatinya masih terasa perih dan penuh luka, Yasmin berusaha menguatkan diri. Ia mengenakan gamis baru berwarna soft blue dan hijab yang baru saja dibelinya. Bahannya jatuh, adem, dan sangat nyaman di kulit, membuatnya merasa lebih percaya diri meski hanya di dalam apartemen.
Dengan semangat yang dipaksakan namun tulus, Yasmin sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam. Ia mencuci sayuran, memotong bumbu, dan menyiapkan bahan-bahan dengan telaten.
"Ya Allah, bantulah aku... semoga masakan ini nanti bisa membuat Pak Baskara luluh dan sedikit lembut," gumam Yaya pelan pada dirinya sendiri sambil mengaduk kuah gulai yang mulai mengeluarkan aroma harum.
"Jangan ada yang kurang, jangan ada yang salah. Hari ini aku harus masak yang benar-benar enak," ucapnya lagi, mencoba memotivasi diri sendiri sambil mengipas-ngipas asap yang mengepul dari wajan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu utama terbuka. Langkah kaki berat terdengar memasuki ruangan. Itu pasti Baskara yang baru pulang kerja.
Jantung Yasmin berdegup kencang seketika. Tangannya yang sedang memegang spatula berhenti bergerak sesaat. Napasnya ditarik dalam-dalam untuk menenangkan diri.
'Tenang Yaya, jangan takut... Lakukan saja tugasmu,' batinnya menyemangati.
Baskara masuk ke ruang makan, meletakkan tas kerjanya dengan kasar di sofa. Wajahnya masih tampak dingin dan serius, sama seperti saat ia marah lewat telepon tadi. Ia mencium aroma masakan yang sangat wangi menyebar ke seluruh ruangan.
Perlahan, pandangannya beralih ke arah dapur terbuka di sana. Matanya sedikit membelalak saat melihat sosok Yasmin.
Wanita itu berdiri tegak di balik meja dapur, mengenakan gamis baru yang menutup seluruh tubuhnya dengan rapi dan sopan. Warna biru muda itu justru membuat kulitnya yang pucat terlihat semakin bersinar lembut, dan hijab yang berwarna navi terlihat sangat kontras namun indah. Yasmin terlihat anggun, bersih, dan sangat berbeda dari sebelumnya.
Baskara terdiam sejenak, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip. Ada rasa kagum yang tak sengaja muncul, namun ia segera menutupinya dengan wajah datarnya.
Merasakan tatapan itu, Yasmin menoleh. Ia melihat Baskara sudah berdiri di sana. Dengan cepat, Yasmin menundukkan kepalanya sedikit, memberi salam dengan suara lembut dan penuh hormat.
"Assalamu’alaikum, Pak... Selamat sore," sapa Yasmin takut-takut.
"Wa’alaikumsalam," jawab Baskara singkat, suaranya terdengar berat namun tidak seketus tadi siang.
Yasmin mengangkat wajahnya sedikit, memberanikan diri menatap suaminya.
"Sudah pulang, Pak? Maaf, masakannya sebentar lagi selesai kok. Tadi Saya masak gulai ayam sama sayur asem," ujar Yasmin berusaha ramah, meski suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
Baskara tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti tidak jauh dari Yasmin, matanya masih mengamati penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ke kepala.
"Kau pakai baju yang baru dibeli tadi?" tanya Baskara mendadak.
Yasmin mengangguk kecil, tangannya memegang ujung bajunya dengan gugup.
"I-iya, Pak. Ini... ini yang tadi dibeli di Mall. Bahan nya enak, Pak. Adem dipakai. Terima kasih ya, Pak sudah membelikan ini," ucap Yaya tulus, meski ia masih ingat betul bagaimana sakitnya proses mendapatkan baju ini.
"Hmph," dengkus Baskara singkat, namun tidak ada nada marah di sana. "Sudah seharusnya begitu. Kau sekarang ada di tempatku, harus terlihat pantas."
"Iya, Pak. Iya... Saya mengerti," jawab Yaya cepat, mengangguk patuh. "Saya janji akan menjaga penampilan dengan baik. Makasih banyak ya, Pak."
Baskara menghela napas panjang, lalu duduk di kursi makan, matanya tetap tak lepas dari wanita yang sedang sibuk di dapur itu.
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat selesaikan masaknya, aku lapar," perintah Baskara, meski nada suaranya terdengar sedikit lebih lunak dibandingkan tadi siang.
"Siap, Pak! Sebentar lagi matang kok. Sebentar lagi bisa di makan," sahut Yasmin ceria, berusaha menunjukkan kepatuhannya sepenuhnya.
Ia kembali sibuk mengaduk masakan, berharap malam ini bisa berjalan lebih damai, dan luka di hatinya perlahan bisa terobati sedikit demi sedikit.
"Saya ke kamar dulu untuk bersih-bersih. Setelah saya keluar, semuanya sudah harus siap." Imbuh Baskara.
Yasmin langsung mengangguk patuh. "Baik, Pak. Silahkan, saya juga sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi Bapak."
*****>>>{}<<<*****
Setelah memastikan masakan di atas kompor tidak gosong, Yasmin segera beralih. Ia melihat tas kerja besar milik Baskara masih tergeletak sembarangan di sofa.
"Ah, tas Pak Baskara," gumamnya pelan.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Yasmin mengambil tas kulit itu, lalu membawanya ke sudut ruangan untuk diletakkan di tempat yang lebih rapi. Matanya kemudian tertuju pada sepatu pantofel hitam mengkilap yang baru saja dilepas Baskara dan diletakkan di dekat kaki meja.
Yaya segera berjongkok, mengambil kedua sepatu itu dengan lembut.
"Sepatunya harus disimpan biar tidak kemana-mana," ucapnya pelan. Ia membersihkan sedikit debu yang menempel menggunakan ujung jari atau sapuan tangan, lalu membawanya ke rak sepatu yang sudah disiapkan, menaruhnya dengan sangat rapi dan hormat seolah itu barang berharga.
Saat kembali ke ruang tengah, tangan Yaya secara refleks meraih kotak bekal makan siang yang tadi pagi ia kemas dengan penuh cinta dan ia selipkan ke dalam tas suaminya. Ia membuka penutup kotak itu perlahan.
Gluk...
Jantung Yaya mencelos seketika.
Wajahnya berubah sedikit murung saat melihat isi di dalamnya. Nasi dan lauk pauk yang ia susun rapi pagi tadi, kondisinya masih sama persis. Tidak ada satu butir pun nasi yang berkurang, tidak ada lauk yang terangkat. Kotak itu terasa berat, menandakan isinya utuh tak tersentuh sama sekali seharian penuh.
"Bapak... tidak makan bekalnya ya..." bisik Yasmin kecewa, bibirnya sedikit manyun.
Rasa sedih langsung menyelinap di hati. Pagi tadi ia bangun lebih awal, memasak dengan telaten, membungkusnya dengan kasih sayang, berharap suaminya makan enak di kantor. Nyatanya, bekal itu justru dibawa pulang kembali dalam keadaan utuh.
"Kenapa ya? Apa masakannya tidak enak? Atau Bapak lupa makan? Atau... Bapak memang tidak sudi memakan masakanku?" tanya Yaya pada dirinya sendiri, matanya mulai berkaca-kaca namun ia segera menggeleng kuat-kuat menepis pikiran negatif itu.
"Tidak, tidak boleh berpikir buruk! Aku harus semangat!" ucapnya menyemangati diri sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.
Ia menutup kembali kotak makan itu dengan hati-hati, lalu menarik napas panjang.
"Gapapa, Yaya. Wajar kok kalau Bapak belum terbiasa. Mungkin hari ini Bapak terlalu sibuk atau ada kepentingan lain," ucapnya berusaha berpikir positif. "Tapi Yaya janji, besok Yaya akan masak lagi. lusa, dan seterusnya."
Yaya menatap kotak makan itu dengan tekad yang kuat.
"Selama Bapak tidak melarang, Yaya akan terus buatkan bekal. Sekarang memang belum disentuh, tapi Yaya yakin... Yaya yakin suatu hari nanti, pasti akan ada waktunya Bapak mau membuka kotak ini dan menikmati masakan Yaya di kantor. Pasti akan ada saatnya Bapak menghargai usaha Yaya," tekadnya bulat.
Dengan semangat yang kembali membara, Yasmin membawa kotak makan itu ke dapur untuk dicuci, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lelah berusaha membahagiakan suaminya, sekecil apapun itu bentuknya.