Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Hendra
Hendra berjalan menuju balkon kamarnya. Ia melihat jam di dinding memperlihatkan pukul lima sore. Ia tahu, jika Santi akan pulang malam ini, sebab ada lembur di kantor.
"Kasih... Aku tau semuanya. Aku sudah menyelidiki, jika pemilik warung itu seorang janda. Dan ini akan lebih mudah untuk mendapatkanmu," senyum seringai menghiasi wajah Hendra.
Ia mengambil sebatang rokok. Lalu menyulutnya dengan pemantik. Sebagai seorang mokondo sejati, hidupnya cukup bahagia. Istri bekerja, ia duduk manis saja di rumah.
Saat menghembuskan asap rokok ke udara, bayangan wajah Kasih langsung terbentuk diangannya. Bokong semok, pinggang ramping, dan tentunya buah semangka yang besar dan menggoda.
Semua itu selalu mengotori otaknya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika dapat menikmati itu semua.
Dengan cepat ia membuang puntung rokonya.
Pertama ia harus menyuap dua orang Satpam dan juga Polisi yang masih menyelidiki kasus kematian Dimas, agar mereka dapat menghilangkan kasusnya, dan menutupnya dengan kematian digigit binatang berbisa.
"Aku akan membereskannya sekarang. Agar nantinya aku bisa bersama Kasih tanpa harus repot di jadikan saksi kasus kematian Dimas. Masa iya pengantin baru harus terganggu saat malam pertama." gumamnya dengan senyum yang lebar.
Hendra bergegas untuk pergi, dan menyelesaikan pekerjaannya. Semua harus selesai malam ini juga.
****
Kasih baru saja selesai membantu Bu Yati mempersiapkan barang dagangan untuk besok. Semua sayuran sudah ia potong, dan bumbu juga sudah di tumis.
Ia membersihkan dirinya. Kemudian menuju tepian ranjang, dan membaringkan tubuhnya.
Wajahnya terlihat sangat lelah, hingga ia memejamkan kedua matanya. Saat ia memejamkan kedua matanya, maka bayangan kematian Dimas akan selalu hadir.
Tak hanya itu, sosok Kalajengking dengan kepala botak dan bertaring tajam dalam mimpinya tak pernah hilang begitu saja.
Ia kembali membuka kedua matanya. Nafasnya tersengal, dan merasa jika membuat semuanya terasa terganggu.
Sedangkan di perut bawahnya, ia merasakan seperti ada yang bergerak, dan mmebuat bagian intimnya berdenyut.
Kasih terdiam. Ia merasa sangat ketakutan, dan sejak kemtian Dimas, ia merasa jika kehidupannya begitu mengerikan.
Dengan berdoa, ia memejamkan kedua matanya. Berharap mimpi buruk itu menghilang.
Baru saja ia merasa ingin tertidur, tiba-tiba pintu digedor dengan keras.
Bu Yati yang baru saja selesai menyusun bahan dagangan di lemari pendingin, di kejutkan dengan suara gedoran yang cukup kuat dari arah luar.
"KASIH! BUKA PINTU!" Suara Hendra. Menggema di luar sana.
Bu Yati langsung berlari. Kemudian membuka pintu. "Siapa?!" tanyanya saat melihat tiga orang bertubuh tinggi sedang berdiri menatapnya.
"Aku bapaknya! Aku mau bawa anakku pulang!"
Bu Yati membuka pintu sedikit. "Dia bukan anak bapak lagi. Bapak yang sudah mengusirnya bulan lalu!"
"Ini urusan keluarga. Polisi gak bisa ikut campur!" Hendra nyelonong masuk. Ia menepis tubuh Bu Yati hingga tersurut ke dinding. Sedangkan dua orang preman di belakangnya masuk dengan cepat.
Kasih keluar dari kamar. Wajahnya cukup pucat.
"Papa Hendra... mau apa lagi?" tanyanya dengan nada bergetar.
"Mau nikahi kamu. Secara resmi. Malam ini juga. Biar gak ada yang ganggu kita lagi." Hendra menyapu bibirnya dengan lidah.
Kasih melangkah mundur. "Aku gak mau!"
"Berani kau melawanku?!" Hendra maju, kemudian menarik tangan Kasih.
Bu Yati yang melihatnya langsung menghadang. "LEPASKAN!" tangannya direntangkan, dan membelakangi Kasih.
Salah satu preman datang mendorong Bu Yati.
Buuugh!
Bu Yati terpental ke atas lantai. Ia meringis kesakitan..
"KALAU KALIAN BERANI SENTUH IBU!" teriak Kasih.
Matanya tampak merah menahan amarah. Denyutan di bagian tanda lahirnya menghantarkan rasa panas.
Sedangkan Hendra tertawa dengan wajah geli. "Tuh kan. Belum apa-apa sudah kesurupan. Makanya harus cepat dinikahin. Biar jinnya keluar." ucap Hendra sembari memberi isyarat kepada para premannya. "Bawa!"
Mereka menciduk Kasih tanpa perlawanan. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil.
*****
Mobil melaju memecah kesunyian malam. Kasih duduk di jok depan dengan wajah masam. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana jadinya kalau Hendra benar menikahinya.
Membayangkan pria itu akan menidurinya sudah membuatnya ingin muntah.
Hendra menyetir dengan wajah sumringah. "Tenang... Ini demi kebaikan kita, Sayang. Nanti kalau kita sudah nikah, kamu bakal ketagihan kok," ucapnya lagi.
Mobil terus melaju, hingga tanpa terasa mereka sudah melewati beberapa kecamatan, dan akhirnya berhenti karena macet.
Di depan sana, terdapat sebuah kecelakaan, dan memaksa alur lalu lintas harus bergantian.
Melihat Hendra yang hilang konsentrasi, diam-diam kasih menekan tombol pembuka pintu, dan bergegas kabur.
"Siak...!!" makinya dengan kesal.
Sedangkan Kasih berlari dengan cepat tanpa alas kaki melewati deretan mobil yang juga terjebak dalam kemacetan.
Penerangan yang sangat minim, membuat kondisi cukup gelap, sedangkan dua preman itu masih mengejarnya.
Kasih menyelinap diantara deretan mobil, dan karena terdesak, ia masuk ke dalam.salah satu pemilik mobil yang kondisinya cukup gelap.
Tap!
Pintu mobil di tutup di bagian depan. "Tolong, mereka mengejarku. Mereka ingin menculikku, bawa aku jauh dari sini," Kasih mengatupkan kedua tangannya di di bawah dagu.
Tangannya bergetar. Bahkan ia tidak melihat siapa pengemudinya, karena wajahnya menunduk dan rambutnya terurai menutupi wajahnya.
Sedangkan sang pengemudi yang terkejut dengan penumpang ilegalnya. Hanya terdiam sesaat.
Ia hanya membaca ekspresi sang wanita muda yang ketakutan, lalu melihat dari kaca spion dua orang pria berpakaian serba hitam sedang menatap sekeliling dan mencari sesuatu.
Saat bersamaan, pemandu jalan memberi aba-aba, jika lajur kiri sudah bisa di lalui, dan mobil bergerak pergi.
Sat tiba di pertigaan, mobil berbelok arah, lalu melaju kencang.
Sedangkan Hendra dan dua premannya ketinggalan jejak.
"Sial!! Kemana dia bersembunyi?!" Hendra memukul setir mobilnya dengan geram.
Khayalannya untuk menikmati tubuh Kasih kandas sudah. Ia harus merutuki kesialannya.
"Dasar kalian bodoh! Menangkap gadis kecil saja tidak sanggup! Buat apa aku bayar kalian mahal-mahal! Tapi gak ada gunanya!" maki Hendra lagi.
Kedua preman yang di maki merasa tersinggung. Mereka saling pandang. Lalu mengangguk.
Dengan gerakan yang tak terduga, mereka membekap Hendra yang sedang menyetir, lalu memaksa menepi.
Dengan kemampuan begalnya, mereka melumpuhkan Hendra, lalu melemparkan tubuhnya begitu saja di tepian jalan, dan membawa lari mobil tersebut.
Sementara itu, Kasih merasa jika ia sudah terlalu jauh. "Tolong, turunkan aku disini saja. Aku akan mencari taksi untuk kembali pulang," ucapnya berbohong. Sebab ia juga tak memiliki ongkos.
Pengemudi itu hanya diam saja. Karena Kasih yang terus memaksa, akhirnya ia menurunkannya di depan deretan ruko yang masih buka.
Kasih tampak terburu-buru. Ia melepaskan jam tangannya yang terukir nama.Kasih pada bagian bawah talinya yang terbuat dari stainless stel berwarna putih.
Itu adalah benda berharga pemberian Santi padanya yang tersisa.
"Ambillah, sebagai bayaran tumpangannya." Kasih meletakkan jam tangan tersebut ke atas dashbor mobil. Lalu keluar dengan cepat.
Sedangkan pengemudi mobil itu kembali melaju tanpa mengucapkan apapun. Sebab ia juga sedang dalam keadaan terburu-buru.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )