Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUKANG CUCI MOTOR
"Iyaa sama-sama, ayo cepat. Disini udaranya semakin dingin" (Tukas Aziz sembari lebih dulu melangkah masuk kedalam rumah, yang kemudian disusul oleh Hafidz dan Izzan)
Izzan pun masuk kedalam kamar, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Izzan tampak mengingat-ingat semua obrolannya bersama kedua kakak laki-laki Zahra ditaman tadi
"Kamu jangan takut Zahra, aku pasti akan selalu menjagamu. Tidak akan aku biarkan seorangpun dapat menyakitimu" gumam Izzan dalam hati sambil menatap kosong pada langit-langit rumah
Tak lama kemudian, diapun sudah masuk kedalam alam mimpinya
Sementara Zahra, kini tengah asik membaca buku novelnya yang bergenre horor. Ditemani dengan segelas susu hangat diatas nakas samping tempat tidurnya
Jam menunjukkan pukul 23.00 malam, tapi Zahra masih asik membaca novelnya. Sesampainya dia pada BAB yang menurutnya sangat membuatnya takut, akhirnya Zahra menyudahi kegiatan membacanya. Perlahan dia memejamkan kedua matanya, dan gadis cantik itupun kini menyusul Izzan yang sedaritadi sudah berada dialam mimpi
***
Malam, kini berganti pagi. Sinar mentari pagi hari menembus masuk kedalam jendela, sehingga membangunkan seorang gadis cantik yang tertidur pulas dibawah selimut
Zahra mengerjapkan matanya perlahan, kemudian mengucek kedua matanya lalu perlahan bangun dari tempat tidurnya. Zahra dengan masih menahan kantuk, membereskan tempat tidurnya. Setelahnya pergi menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya juga menggosok gigi, dan ketika sudah selesai Zahra pun berjalan menuju lemarinya. Karena hari ini adalah hari minggu maka Zahra mengambil setelan baju olahraga, karena dia ingin jogging pagi ini
Setelah selesai berpakaian, Zahra keluar dari kamarnya dan perlahan dia menuruni anak tangga sambil melihat kearah ibunya yang sudah membantu para ART menyiapkan sarapan pagi
"Pagi ummi.. Eemuuahh, muuaahh" (Sapa Zahra sambil mengecup kedua pipi ibunya)
"Pagi juga sayaangg... mau jogging?" (Tanya ummi Marwah sambil terus memotong sayuran)
"Iyaa mi, kalau gitu Zahra jogging dulu ya mi" (Ucap Zahra pada sang ibu)
"Iya nak, hati-hati yaa" (Balas ummi Marwah)
"Siap bu komandan" (Ucap Zahra sambil mengangkat tangannya memberi hormat, membuat sang ibu tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya)
"Daaahh ummi" (Ucap Zahra sambil melambaikan tangannya pada sang ibu dan dibalas lambaian dari ibunya juga)
Zahra mulai berlari pelan melewati rumah-rumah dikomplek tempat tinggalnya. Beberapa kali juga Zahra tampak menyapa para tetangganya. Tapi ketika Zahra menyapa tukang sayur keliling yang ada dikompleknya, Zahra dibuat menyrengitkan dahinya
"Mari mang Asep.." (Sapa Zahra sambil sedikit menganggukkan kepalanya sekilas memberi hormat)
"Mari neengg, lohh tumben berdua? itu siapanya nengg?" (Tanya mang Asep, yang membuat Zahra bingung dan langsung membalikkan tubuhnya)
"Lohh? kenapa dia ada disini sih?!" gumam Zahra dalam hati sambil menatap tajam pada Izzan dan langsung menoleh kearah mang Asep
Rupayanya, Ketika Zahra baru saja keluar rumah untuk Jogging. Izzan terbangun, dan langsung bertanya pada ummi Marwah akan keberadaan Zahra. Dan setelah tau dimana Zahra, Izzan pun bergegas membersihkan dirinya lalu menyusul Zahra yang sedang Jogging
"Ohh diaa, dia ini anaknya pak Urip mang.. lumayan bisa bantu-bantu nyuci mobil dan motor dirumah, hehe"
"APAA?! Tukang cuci motor? Enak saja. Wajah seperti dewa yunani begini dibilang tukang cuci motor" gumam dalam hati merasa sangat kesal pada Zahra
Ketika Izzan baru membuka mulutnya untuk bicara, Zahra dengan cepat berlalu meninggalkannya
"Yasudah saya lanjut jogging dulu ya mang" (Ucap Zahra pada Mang Asep)
"Iyaa neengg" (Ucap Mang Asep sambil melihat kearah Zahra yang sudah berlari kecil kembali)
Izzan yang ditinggalkan oleh Zahra pun, akhirnya memutuskan untuk menyusulnya. Dia tidak ingin ada pria yang mencoba menggoda Zahra
Zahra yang sedaritadi sudah berlari kecil cukup lama, diapun merasa lelah. Dan Zahra terduduk dibangku yang ada pinggiran jalan komplek, Zahra tampak menyeka keringat dikeningnya. Namun, tiba-tiba ada tangan yang memberinya minuman botol
Seketika Zahra menoleh keatas, ternyata yang memberinya minum itu tak lain adalah Izzan
"Ini, minumlah" (Ucap Izzan pada Zahra, dan kemudian dia duduk disamping Zahra)
Lalu, Zahra menerima minuman itu dari tangan Izzan dan dia meminum minuman itu hingga tandas
"Kenapa kamu bilang aku tukang cuci motor tadi pada tukang sayur itu?" (Tanya Izzan sambil menatap ke arah Zahra, dan yang ditatap pun tampak mengedipkan matanya berkali-kali karena merasa gugup untuk menjawabnya)
Gleggg
"Aduhh, gimana ya jawabnya. Tadi aku asal ceplos aja sihh.." gumam Zahra dalam hati
"Aarghh gemasnyaaa!! ketika dia seperti ini, dia persis sekali seperti boneka hidup. Kulit putih bersih, pipi chubby, bibir mungil.. aku jadi ingin memakan bibirnya itu" gumam Izzan merasa gemas pada Zahra
Izzan seketika membuang pandangannya kearah lain, dan dia tampak mengatur nafasnya yang tak lagi beraturan karena melihat bagaimana menggemaskannya Zahra itu
"Emm anuu.. anuu, tadi aku cuma bercanda kok hehe" (Jawab Zahra sambil memainkan ujung hijabnya)
"Heemm jadi cuma bercanda yaa? baiklahh, aku maafkan. Tapi aku akan memberikanmu hukuman nanti setelah kita menikah" (Ucap Izzan dengan nada seriusnya, yang membuat Zahra melotot dan menelan kasar salivanya)
"Hukuman? apa dia akan memukulku?" gumam Zahra dalam hati, dia merasa sangat gemetar saat mendengar ancaman Izzan