"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.23. Mencari Usi dan Caca
Kara sudah membuka semua kain putih yang menutupi semua perabotan yang ada di ruangan itu, dan jika di perhatikan baik - baik.. sebenar nya ruangan itu seperti rumah tinggal biasa, hanya saja tidak tahu kenapa Kara merasa di sana membuat kepala nya pusing, sangat pusing.
"Apa yang salah sama kakek." Gumam Kara, dia kemudian mencoba membuka lemari kaca dengan kaca yang lumayan gelap yang berisi buku - buku yang berjejer di dalam nya.
Tapi ternyata lemari itu terkunci, Kara tidak bisa membuka nya. Saat Kara mengintip di dalam nya.. saat itu juga sebuah tangan menepuk pundak nya.
"HH!!" Kara tersentak kaget, tapi ternyata itu adalah mang Jupri.
"Neng ngapain?" Tanya nya, Kara mengusap dada nya karena kaget.
"Eh, maaf atuh.. mamang ngagetin ya?" Ucap mang Jupri lagi, Kara pun tersenyum.
"Cuma mau lihat - lihat isi ruangan ini mang." Jawab Kara, kemudian dia teringat sesuatu.
"Oiya, mamang punya kunci lemari ini?" Tanya Kara, mang Jupri kemudian melihat lemari yang Kara maksud.
"Itu.. kakek teh berpesan, jangan di buka." Ucap mang Jupri, mendengar itu.. Kara pun makin yakin ada sesuatu di dalam nya.
Kara semakin yakin bahwa memang ada hal besar yang kakek nya lakukan yang Kara tidak tahu..selain itu ayah nya juga bahkan tidak pernah menceritakan apapun hal yang menyangkut dengan kakeknya Kara.
"Mamang bisa ceritakan nggak, sebener nya selain semua hal yang mamang ceritakan ke aku, ada apa lagi yang terjadi? Selain kakek yang punya keyakinan tersendiri. Atau.. gimana cara kakek meninggal?" Tanya Kara, mendengar itu.. mang Jupri menelan ludah nya.
Mang Jupri agak nya ketakutan saat mendengar pertanyaan Kara, dia sampai memegangi tengkuk nya sendiri seperti merinding dan takut akan terjadi hal besar.
"Punten, neng.. mamang teh nggak berani." Ucap mang Jupri, lalu dia buru - buru keluar.
"Eh, mang!" Kara tidak sempat mencegah mang Jupri yang pergi kabur keluar.
'Kayak nya aku sendiri yang harus cari tahu..' Batin Kara, dia kemudian mengedarkan kembali pandangan nya menyisir ruangan yang mengerikan itu.
'Kalo ada yang salah, biar aku cari sendiri.' Batin Kara lagi.
MALAM HARINYA..
Kara berada di kamar nya, dia menunggu jam di lantai satu kembali berbunyi.. Kara memandangi dupa yang ada di tangan nya saat ini, dia bahkan sudah menyiapkan sebuah senter yang dia kalungkan di leher nya. Putri ada di lantai bawah karena tidak tahu kenapa mang Jupri yang semula sudah terlihat sehat tiba - tiba mendadak sesak nafas setelah adzan maghrib.
Dia kemudian berdiri menatap keluar jendela, dia juga memikirkan Nurma yang tidak datang lagi setelah dia menceritakan kedatangan nya pada mang Jupri. Kara jadi teringat dengan ucapan - ucapan Nurma yang mengatakan bahwa Nurma tidak akan menyakiti Kara.. di awal pertemuan mereka.
Sekarang setelah Kara pikir - pikir lagi, Hilang nya Nurma dan cara meninggal nya yang sama sekali tidak di ketahui oleh keluarga nya dan juga jasad nya yang tidak pernah pulang pada keluarga nya, rasanya ada kaitan nya juga dengan sang kakek, apalagi kemunculan Nurma di sana.. sudah pasti tempat terakhir Nurma ada di rumah itu.
"Atau jangan - jangan.." Gumam Kara, tapi tiba - tiba dia mendengar suara jam di bawah sudah berbunyi.
Kara langsung turun ke bawah, dia tidak menunggu lama lagi. Dan pada saat Kara yang sedang menuruni tangga, Kara melihat laki - laki tua yang Kara dan Putri lihat kemarin ada lagi.. dia jalan keluar, Kara pun menyalakan dupa dan kemudian mengikutinya. Dan seperti kemarin.. Kara melihat laki - laki itu masuk kedalam ruangan sebelah.
Tanpa pikir dua kali, Kara masuk juga ke dalam ruangan itu.. dia kembali melihat laki - laki itu turun ke ruang bawah tanah, lalu kali ini.. Kara bisa mendengar ada suara rintihan perempuan yang dia kenali.
"Selamatkan mereka, Kara."
Jantung Kara nyaris saja copot saat tiba - tiba dia mendengar ada suara perempuan yang berbicara di belakang nya, dan ketika Kara menoleh kebelakang.. dia melihat Nurma. Nurma sedang berdiri di atas tangga dimana saat ini Kara sedang mengintip ke arah ruangan yang ada di bawah tanah itu.
"Teman - temanmu ada di dalam." Ucap Nurma sambil tersenyum seperi biasanya, Kara yang melihat itu menelan ludah nya.
Kara merinding dan sampai nyaris menangis, karena kemunculan Nurma yang seolah menjadi jawaban bahwa memang Nurma adalah hantu yang datang menemani nya beberapa hari terakhir. Seolah menyadari Kara yang ketakutan juga sudah mengetahui identitas nya.. Nurma tersenyum kembali, tapi kali ini senyum nya lebih lembut.
"Kamu sudah tau siapa saya, kan.." Ucap nya, Kara dengan takut pun mengangguk..
"Teteh.." Kara hendak bertanya tapi Nurma menyela.
"Selamatkan dulu temanmu." Ucap Nurma, dia kemudian memudar.
Memudar.. bukan berjalan pergi atau menghilang dengan sekedipan mata, tapi memudar.. Kara sangat merinding melihat itu. Dia dengan jelas melihat tubuh Nurma yang semula berdiri nyata di depan nya pelan - pelan memudar dan hilang seperti hologram.
Kara kemudian kembali tersentak kaget saat dia mendengar suara kakek - kakek yang bicara padanya.
"Masuk, neng." Ucap nya, sampai Kara terlonjak kaget.
'Aki..' Batin Kara, dia mengenali suara itu, suara ki Brojo.
Tapi hanya siara nya saja, Kara tidak melihat keberadaan ki Brojo di sana sama sekali.
"Cari teman - temanmu, mereka tidak akan melihatmu. Bawa teman - temanmu keluar sebelum dupa nya habis." Ucap ki Brojo, Kara mengangguk.
Kara kemudian mengintip kedalam, di dalam kembali terjadi aktivitas yang pernah Kara lihat, terlihat perempuan yang sedang berteriak kesakitan dan kemudian tangan nya terkulai lemas. Kara seperti mengulangi kejadian yang pernah terjadi.
Kali ini Kara memberanikan diri nya masuk untuk melihat ke dalam, Kara mendekat pada para laki - laki yang sedang mengelilingi meja, dan saat Kara mengintip di antara laki - laki yang sedang berdiri itu, dia terkejut melihat bahwa perempuan itu sedang di mutilasi.
"Hh!" Kara mundur sambil gemetar menutup mulut nya.
Dia baru saja melihat kepala perempuan itu sudah terpisah dari badan nya, itu lah kenapa perempuan itu tidak berteriak lagi. Lalu tubuh nya di pisah - pisahkan menjadi beberapa bagian, yang kemudian di masukkan kedalam panci besar.
"Kara, fokusmu mencari teman - temanmu." Ucap ki Brojo, Kara akhir nya menguatkan dirinya dan kembali menoleh kesana kemar mencari kedua teman nya.
"Hiks! Hiks!"
Kara tertegun saat mendengar suara isakan perempuan, Kara tau suara siapa itu..
"Caca!" Gumam nya, dia pun berjalan mencari dari mana arah suaranya. Saat Kara mencari - ternyata ada sebuah pintu di sana, dan setelah pintu nya di buka..
"Caca, Usi!"
BERSAMBUNG!