“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Di dalam ruang rapat utama kantor PT Buana, atmosfer justru terasa sangat panas dan mencekam. Hendra duduk dengan tubuh kaku, sementara Arumi berada di sampingnya dengan wajah yang ditekuk masam, masih berusaha memasang gila hormatnya meskipun keadaan sedang di ujung tanduk.
Di seberang meja kayu jati panjang itu, duduk Pak Roni selaku kepercayaan senior PT Adiwangsa, didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam yang berdiri tegap di dekat pintu. Di atas meja, bertumpuk berkas-berkas bukti hitam di atas putih yang sangat tebal.
"Jadi, bagaimana, Pak Hendra?" Pak Roni membuka suara, memecah keheningan dengan nada baritonnya yang tenang namun mengintimidasi. Ia mengetuk berkas di depannya dengan ujung pulpen mahal.
"Ceo kami tidak mau bertele-tele. Kami memberikan anda dua pilihan mutlak. Pertama, bayar ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah secara tunai minggu ini atas kerugian proyek material yang anda oplos. Atau kedua, silakan anda dan tim logistik anda mempertanggungjawabkan perbuatan curang ini di dalam penjara."
Mendengar kata 'penjara', Hendra seketika mati kutu. Wajahnya yang biasanya angkuh kini mendadak pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang kusut.
"S–sepuluh miliar, Pak Roni? Tolong, angka itu terlalu besar untuk perusahaan kami yang baru saja kehilangan saham utamanya. Apakah tidak bisa dinegosiasikan lagi? Kita bisa bicarakan ini baik-baik secara kekeluargaan."
"Kekeluargaan?" Pak Roni terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Saat anda memutuskan untuk memotong anggaran besi dan semen demi meraup keuntungan pribadi, apa anda memikirkan keselamatan orang-orang yang menempati bangunan kami? Tidak ada negosiasi, Pak Hendra."
Arumi yang sejak tadi menahan kekesalannya, tiba-tiba menggebrak meja dengan centil.
"Heh, Pak! Jangan sok mengancam ya! Perusahaan kami ini sudah bertahun-tahun berdiri, kami punya nama! Jangan karena masalah sepele seperti ini, anda langsung mau memenjarakan calon suami saya!"
Hendra langsung menyenggol lengan Arumi dengan panik. "Arumi, diam!"
"Ih, kenapa diam sih, Mas?!" sahut Arumi dengan nada tinggi dan angkuh, menatap tajam ke arah Pak Roni. "Kita ini orang terpandang. Mas Hendra, kamu jangan mau diintimidasi. Tenang saja, kita pasti bisa bangkit lagi! Uang sepuluh miliar itu kecil kalau proyek kita yang lain cair. Kita tidak akan miskin cuma karena masalah modal begini!"
Pak Roni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Arumi dengan pandangan kasihan bercampur geli.
"Nona Arumi, saya sarankan anda menyimpan kesombongan anda. Karena menurut data audit keuangan yang kami terima, aliran dana korupsi material ini sebagian besar mengalir ke rekening pribadi anda untuk membeli barang-barang mewah. Jadi, jika Pak Hendra masuk penjara, anda adalah orang pertama yang akan menyusulnya memakai baju oranye."
Deg!
Kalimat Pak Roni barusan sukses membuat Arumi bungkam seketika. Mulutnya yang tadi berkicau sombong langsung terkunci rapat, wajahnya mendadak ikut pucat pasi.
Arumi segera mendekatkan tubuhnya ke arah Hendra, berbisik panik namun tetap berusaha memberikan masukan yang menurutnya cerdas.
"Mas tidak usah lewat dia. Kita harus menemui CEO atau pemilik utama PT Adiwangsa secara langsung! Kita buat janji temu malam ini, Mas. Rayu pemiliknya, ajak makan malam, atau tawarkan kompensasi lain. Pasti pemilik aslinya bisa diajak kerja sama dibanding asisten kaku ini!"
Hendra yang mendengar bisikan Arumi langsung membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, rasa takut yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya.
"Jangan gila kamu, Arumi!" bentak Hendra dengan suara berbisik yang tertahan, matanya melirik Pak Roni dengan gelisah. "Pokoknya, jangan sampai kita menemui pemilik PT Adiwangsa! Mau ditaruh mana wajahku nanti! Dia Ceo hebat, tidak sepertiku!"
Arumi mengernyitkan dahi, bingung dengan kepanikan Hendra yang berlebihan. "Lho, kenapa tidak boleh, Mas? Bukankah itu jalan satu-satunya agar kita tidak dipenjara? Memangnya kenapa kalau kita bertemu pemiliknya? Apa kamu takut?"
Hendra mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Arumi bahwa pemilik sah dari PT Adiwangsa, raksasa korporasi yang sedang memegang leher mereka saat ini, belum pernah ia temui? Pemiliknya terkesan misterius dan tak pernah menampakkan diri di pertemuan manapun.
"Pokoknya jangan bantah kata-kataku, Arumi! Cari jalan lain, tapi jangan pernah sebut soal pemilik PT Adiwangsa lagi!" seru Hendra tajam.
Arumi yang tidak tahu apa-apa justru semakin gencar merayu. Ia menggenggam lengan Hendra, mengguncangnya pelan dengan tatapan memohon.
"Mas, dengerin aku kali ini saja. Kenapa kamu ketakutan begitu? Kita harus menemui atasan Pak Roni atau CEO PT Adiwangsa secara langsung, Mas! Ayo dong, minta jadwal temu. Kita tanyakan baik-baik, siapa tahu pemiliknya mau kasih keringanan."
Hendra yang sebenarnya murni panik karena gengsi perusahaannya hancur, akhirnya terpengaruh oleh desakan Arumi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Pak Roni kembali.
"Pak Roni... begini, apakah ada kemungkinan saya bisa bertemu langsung dengan atasan nda? Pemilik atau Direktur Utama PT Adiwangsa? Saya ingin meluruskan masalah ini secara personal."
Pak Roni tidak langsung menjawab. Ia menatap Hendra dan Arumi bergantian dengan senyuman misterius yang sulit diartikan.
"Anda yakin ingin bertemu dengan bos saya, Pak Hendra?"
"Iya, Pak! Tolong hubungi atasan anda sekarang," sahut Arumi dengan nada sok perintah.
Pak Roni terkekeh pelan. Ia bangkit dari kursinya, membawa ponselnya, lalu melangkah sedikit menjauh ke sudut ruangan yang sepi untuk menghubungi sang nyonya besar. Panggilan itu langsung diangkat.
"Halo, Nyonya Ningsih," ucap Pak Roni setengah berbisik. "Saat ini saya sedang bersama pak Hendra dan wanita selingkuhannya di ruang rapat. Mereka mati kutu, Nyonya. Tapi... mereka terus merayu dan memaksa saya agar bisa bertemu langsung dengan pemilik PT Adiwangsa untuk meminta keringanan."
Di seberang telepon, Ningsih yang sedang bersantai di rumah baru bersama Luna seketika menyunggingkan senyum dingin yang teramat licik. Rasa puas menjalar di dadanya mendengar musuh-musuhnya mulai mengemis.
"Oh, ya? Mereka mau bertemu denganku?" tanya Ningsih dengan nada suara yang begitu tenang. "Kalau begitu, kabulkan saja permintaan mereka, Pak Roni. Katakan pada Hendra dan perempuan gatal itu, aku bersedia menemui mereka besok pagi di kantor pusat. Aku ingin melihat bagaimana rupa wajah mereka saat tahu siapa yang memegang kendali atas hidup mereka sekarang."
"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan," jawab Pak Roni puas.
Pak Roni mematikan telepon, lalu kembali ke meja rapat dengan wajah datar. Ia menatap Hendra dan Arumi yang sedang menunggu dengan cemas.
"Atasan saya sudah setuju. Besok pagi jam sembilan, silakan datang ke kantor pusat PT Adiwangsa. Pemilik aslinya sendiri yang akan menyambut anda."
Arumi langsung tersenyum penuh kemenangan, menyenggol bahu Hendra dengan bangga.
"Tuh kan, Mas! Apa aku bilang, mereka pasti mau ketemu kita. Siap-siap besok kita selesaiin masalah ini!"
"Makasih, sayang. Sudah selalu ada di sampingku." Hendra bernapas lega, mengira ini adalah awal dari keselamatannya.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut