NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:272.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Calon Istri Cadangan

Bu Reni menghela napas dalam-dalam, mengusap punggung tangan Ingrid dengan gerakan memijat yang lembut untuk menenangkan emosi gadis muda itu.

"Ingrid, dengarkan Bude," ucap Bu Reni secara perlahan, menatap lurus ke dalam sepasang mata keponakannya yang berkaca-kaca. "Kamu harus bersabar dulu saat ini. Urusan jodoh itu rahasia Gusti Allah, tidak ada yang tahu. Sekarang tugasmu adalah berdoa saja yang banyak di dalam hati, minta yang terbaik. Siapa tahu ... Satria tidak jadi menikah dengan adik iparnya sendiri. Kan semuanya belum pasti, Keisha juga belum tentu menerima pinangan sekaku anak Bude itu. Bude berpikir mungkin Keisha hanya kandidat calon istri cadangan, karena tidak ada pilihan yang lainnya. Dan, sekarang kamu kan udah ada di sini."

Ingrid mendongak, menghapus air matanya dengan tisu, namun tatapan matanya masih menyiratkan keputusasaan. "Tapi tadi Kak Satria bilangnya serius sekali, Bude. Bahkan Ayahnya Keisha sudah setuju ...."

Bu Reni tersenyum tipis, seulas senyum penuh siasat tersembunyi dari seorang tetua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. "Kalaupun nanti pada akhirnya mereka beneran jadi menikah, kamu jangan berkecil hati atau langsung menyerah. Kamu harus tetap tinggal di rumah Satria ini seperti rencana awal kita. Ibu sudah meminta izin, dan Satria tidak keberatan kamu tinggal di sini untuk menemani Rafka."

Ingrid mengerutkan keningnya, sedikit tidak paham. "Maksud Bude?"

"Ingrid, watak Satria itu sangat kaku seperti es balok, persis seperti Pakdemu dulu. Tipe laki-laki seperti dia itu paling tidak suka dikejar atau dipaksa, tapi dia sangat lemah dengan kelembutan dan ketelatenan seorang perempuan di dalam rumah," bisik Bu Reni dengan suara setengah berbisik, menanamkan pengaruhnya. "Keisha itu anak bungsu yang manja, bandelnya minta ampun, dan tidak bisa diatur. Lambat laun, jika kamu tetap di sini, selalu ada untuk mengurus keperluan rumah dan merawat Rafka dengan kelembutanmu, kamu bisa mencoba meluluhkan hati Satria secara perlahan dari dalam. Laki-laki itu akan melihat sendiri mana spek perempuan yang beneran bisa mengurus rumah tangga dengan becus."

Mendengar nasihat terstruktur dari budenya, binar ambisi yang sempat redup di mata Ingrid mendadak menyala kembali dengan intensitas yang lebih pekat. Ia menggenggam balik tangan Bu Reni dengan erat, memantapkan tekadnya di dalam hati.

"Ingrid mengerti, Bude," ucap Ingrid dengan nada suara yang kembali mendayu lembut namun sarat akan ketegasan motif. "Ingrid ... Ingrid beneran sangat berharap bisa jadi istri Kak Satria, Bude. Ingrid janji akan merawat Rafka seperti anak kandung Ingrid sendiri, dan Ingrid tidak akan menyerah begitu saja sebelum janur kuning melengkung."

Bu Reni menepuk-nepuk bahu Ingrid dengan puas. "Nah, begitu dong. Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih badan lalu langsung tidur ya. Jangan dipikirkan terlalu berat sampai sakit."

Sementara itu, di ruang tengah yang kembali hening pasca-kepergian para wanita ke dalam kamar, suasana di sekeliling sofa kulit terasa sangat padat dan maskulin. Ayah Isa mengambil cangkir teh barunya yang baru saja diantarkan ulang oleh Bik Nini, menyesapnya seteguk, lalu meletakkannya kembali dengan ketukan yang tegas di atas meja kaca.

Sepasang mata paruh bayanya yang tajam khas mantan perwira tinggi militer menatap lurus pada anak laki-laki tunggalnya yang masih duduk dengan posisi tegap sempurna.

"Satria," panggil Ayah Isa, suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan dipenuhi wibawa yang menuntut kejujuran tanpa kompromi.

"Siap, Ayah," sahut Satria tangkas, memberikan atensi penuh secara refleks.

"Ayah mau menanyakan keseriusan kamu soal ucapanmu sebelum gelas pecah tadi," ujar Ayah Isa, memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja. "Menikahi adik ipar itu bukan perkara sepele yang bisa diputuskan hanya karena kamu butuh pengasuh untuk Rafka. Ini melibatkan perasaan keluarga besar almarhumah Vania, masa depan Keisha yang masih sangat muda, dan nama baik keluarga kita. Apakah kamu beneran sudah memikirkan dampaknya dari segala penjuru?"

Satria tidak berkedip sedikit pun. Sorot mata hitam pekatnya memancarkan keteguhan hati yang luar biasa kokoh, bagaikan batu karang yang diterjang ombak pasang di lautan. Tidak ada sedikit pun keraguan atau kegoyahan di dalam ekspresi wajah kakunya.

"Aku sangat serius, Ayah," jawab Satria dengan nada suara yang teramat mantap dan penuh penekanan di setiap katanya. "Niat ini bukan keputusan impulsif yang aku ambil dalam satu malam. Selama lima tahun ini, setelah Vania tidak ada, aku sudah mengamati dengan saksama bagaimana ketulusan Keisha merawat Rafka sejak bayi merah bersama Ibu Dania. Keisha adalah satu-satunya perempuan yang bisa membuat Rafka merasa memiliki figur ibu sejati, dan dia juga satu-satunya perempuan yang bisa saya terima untuk masuk ke dalam hidup saya."

Ayah Isa memicingkan matanya samar, menguji mental anaknya. "Bagaimana dengan Keisha sendiri? Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama? Tadi kamu bilang baru bicara dengan ayahnya."

Rahang tegas Satria mengetat samar selama beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali menguasai kendali suaranya dengan tenang. "Tadi pagi di meja makan, Keisha memang sempat melayangkan penolakan karena dia terkejut dan membawa alasan tentang teman kuliahnya. Tapi aku tahu betul wataknya, Ayah. Dia hanya sedang panik. Ayah Farrel secara pribadi sudah memberikan restu penuh karena beliau tahu karakterku."

Satria menegakkan kembali punggungnya, menatap langsung ke dalam manik mata ayahnya dengan pandangan memohon yang teramat jarang ia perlihatkan sebagai seorang Mayor. "Maka dari itu, Ayah ... mumpung Ayah dan Ibu sudah berada di Jakarta sekarang, aku sangat berharap besok pagi Ayah bisa mendampingiku untuk datang melamar secara serius dan resmi ke hadapan orang tua Keisha. Aku ingin ikatan ini segera disahkan sebelum jadwal dinas panjang saya ke luar Jawa dimulai."

Ayah Isa menatap anaknya lekat-lekat selama hampir setengah menit di dalam keheningan ruangan. Sebagai sesama laki-laki tentara, ia bisa merasakan dengan sangat jelas getaran komitmen, kecemburuan kaku yang tertahan, sekaligus tanggung jawab mutlak yang ada di dalam dada Satria untuk adik iparnya.

Setelah helaan napas yang panjang, Ayah Isa akhirnya mengangguk sekali dengan sangat tegas. "Baik, Satria. Kalau niatmu sudah sebulat itu dan jalanmu sudah lurus, besok pagi Ayah yang akan memimpin langsung rombongan kita untuk meminang Keisha di depan Mas Farrel. Persiapkan dirimu dengan baik."

"Siap. Terima kasih banyak, Ayah," sahut Satria dengan seulas senyuman tipis—sangat tipis namun menyiratkan kemenangan awal yang sangat krusial dalam pertempuran hatinya untuk mendapatkan si gadis barbar.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
syukurinnnnn udah ga ada celah buat km ingrid bu reni udah berpuhak sm keusha
Zalmah Adiwi
👍👍👏👏sdh dpt sekutu dr mertua..🥰🥰🥰
Zalmah Adiwi
si ular berbisa bikin ulah lg..🤣🤣
Ruwi Yah
ditunggu bab selanjutnya
Ruwi Yah
mungkin kecebong satria udah tumbuh di rahim keisha
Nar Sih
kasihan ingrid🤣🤣sdh di tolak mentah,,oleh ibu nya satria jht sih
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 calon pelakor langsung pucat ... mommy kira2 Ingrid kerja apa ya kok sdh bawa mobil
Sugiharti Rusli
semoga Keisha dan bu Reni semakin harmonis yah, apalagi saat sekarang Satria sedang tugas jauh,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Ingrid masih berharap sang bude tetap mengharapkan dirinya buat jadi menantunya, padahal sudah menyadari kekeliruannya pada Keisha sekarang,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!