NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Rahasia yang Disembunyikan Ibu

Darah segar menetes lambat dari sela-sela buku jari Sekar, mendarat di atas salah satu pecahan cermin yang berserakan di lantai tegel. Di dalam pantulan pecahan kaca itu, wajah ibunya tampak terdistorsi—terbagi menjadi bilah-bilah geometris yang ganjil, kaku, dan dingin. Keheningan yang tercipta di antara mereka berdua terasa jauh lebih menakutkan daripada dentang kaca yang pecah beberapa saat lalu.

Sekar tidak mundur. Alih-alih menyembunyikan tangannya yang terluka atau meminta maaf atas kehancuran cermin di kamarnya, dia justru melangkah maju. Sepasang matanya yang sembap dan merah menatap lurus ke dalam manik mata wanita tua yang melahirkannya itu.

"Ibu tahu, kan?" Suara Sekar bergetar, parau, memecah kesunyian dengan nada menuduh yang tajam. "Ibu tahu siapa yang ada di dalam cermin tadi. Ibu tahu siapa mahluk yang membunuh Bagas semalam!"

Ibunya, Rahayu, tidak menjawab seketika. Tubuhnya yang ringkih, dibalut daster batik lusuh sewarna tanah, mendadak membeku. Pegangannya pada gagang pintu kayu kamar Sekar mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Angin malam yang membawa sisa gerimis menyelinap masuk melalui kisi-kisi jendela yang retak, menerbangkan aroma kenanga busuk yang samar, berbaur dengan bau anyir darah dari tangan Sekar.

"Jangan bicara sembarangan, Sekar. Bersihkan kacanya, lalu obati tanganmu," jawab Rahayu. Suaranya datar, namun ada getaran halus di ujung kalimatnya—sebuah usaha keras untuk menyembunyikan kepanikan yang teramat sangat.

"CUKUP, BU! JANGAN BOHONG LAGI!" Sekar berteriak gila. Dia menyentak kerah kaus oblongnya ke bawah, memutar tubuhnya dengan kasar membelakangi ibunya, mengekspos belikat kanannya sendiri. "Lihat ini, Bu! Lihat!"

Di bawah siraman cahaya lampu kamar yang suram, tanda lahir bersisik itu tampak hidup. Sisik-sisik hitam legam itu telah mengeras seutuhnya, menonjol keluar dari permukaan kulit lembut Sekar, membentuk siluet kepala ular tanah purba yang seolah-olah sedang mendongak, siap mematuk. Hawa dingin yang pekat menguar dari sana, membuat uap napas Rahayu mengental di udara kamar.

Melihat wujud fisik di punggung anaknya, pertahanan mental Rahayu runtuh seketika. Seluruh wajahnya memucat pasi, kehilangan rona kehidupan seolah-olah seluruh darahnya telah disedot habis ke dalam bumi. Lutut wanita tua itu lemas; dia merosot jatuh terduduk di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu yang lapuk.

"Gusti... Sang Kalingga..." bisik Rahayu dengan suara yang tercekik. Air mata mendadak tumpah ruah dari kelopak matanya yang keriput, membasahi pipinya yang kuyu. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat. "Waktunya sudah tiba... upacara itu benar-benar menagih janjinya."

Sekar berlutut di depan ibunya, mengabaikan rasa perih pada tangannya yang berdarah. Dia mencengkeram kedua pergelangan tangan ibunya, memaksa wanita itu untuk menatapnya. Rasa takut di dada Sekar kini bercampur dengan kemarahan atas rahasia besar yang sengaja dikubur selama dua puluh dua tahun ini.

"Apa yang Ibu sembunyikan dari Sekar? Siapa Kalingga? Apa maksudnya dengan Sabtu Kliwon?! Jawab, Bu! Sekar berhak tahu sebelum mahluk itu melenyapkan Sekar seutuhnya!" desak Sekar setengah menjerit, mengguncang-guncang tubuh ibunya.

Rahayu terisak-isak, napasnya memburu kencang seolah dadanya dihimpit oleh beban gaib yang tak kasat mata. Bau kemenyan bakar yang pekat mendadak menguar dari pakaian Rahayu—bau masa lalu yang sengaja disimpannya di dalam lemari tua peninggalan almarhum suaminya.

"Dua puluh dua tahun lalu..." Rahayu memulai ceritanya dengan suara yang terputus-putus, matanya menatap kosong ke lantai tegel, menerawang masuk ke dalam labirin memori kelam yang paling ia takuti. "Saat itu, Ibu sedang mengandungmu usia tujuh bulan, Sekar. Malam itu... malam Jum'at Kliwon, Ibu mengalami pendarahan hebat. Darah hitam pekat mengalir tidak berhenti dari rahim Ibu, melumuri kasur."

Rahayu mencengkeram tangan Sekar balik, cengkeramannya teramat kuat, menyalurkan rasa ngeri yang teramat murni.

"Dokter di puskesmas desa menggelengkan kepala. Mereka bilang, janin di dalam rahim Ibu sudah tidak berdetak. Kau sudah mati di dalam perut Ibu, Nduk. Dokter bilang rahim Ibu harus dikosongkan keesokan harinya agar nyawa Ibu bisa diselamatkan," lanjut Rahayu dengan bibir yang membiru kaku.

Sekar mematung. Kepalanya mendadak pening mendengarkan penuturan itu. Mati? Dia pernah dinyatakan mati sebelum sempat lahir?

"Lalu... apa yang terjadi, Bu?" bisik Sekar dengan jantung yang berdegup kencang seumpama tabuh bertalu-talu.

"Bapakmu... bapakmu tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia gila karena kehilangan anak pertama kami," Rahayu terisak lebih keras, tubuhnya berguncang. "Melihat Ibu yang sekarat dan bayinya yang dinyatakan mati, Kakekmu—Mbah Jatmiko—mengambil jalan pintas yang terkutuk. Dia membawa bapakmu pergi di tengah malam buta, membawa ari-ari yang belum lahir dan sejumput tanah makam tua, menuju ke lereng Gunung Raung."

Rahayu menarik napas dalam, seolah oksigen di dalam kamar itu kian menipis dan beracun. Dia menatap mata Sekar dengan tatapan yang dipenuhi oleh penyesalan yang terlambat.

"Di sana, di dalam ceruk hutan yang gelap, ada sebuah tempat bernama Sendang Kalingga—sebuah mata air keramat yang airnya berwarna hitam dan berbau anyir bunga kenanga. Tempat bersemayamnya Sang Kalingga, penguasa melata purba yang menguasai garis gaib tanah Jawa Timur," suara Rahayu berbisik, begitu lirih hingga nyaris menyerupai desisan angin malam di luar jendela.

"Kakekmu melakukan ritual ruwat sengkolo yang sesat. Di tepi sendang itu, dia mempersembahkan sumpah darah. Dia meminta Sang Kalingga untuk meniupkan kembali roh dan kehidupan ke dalam rahim Ibu yang sudah mati. Dia meminta nyawa... diganti dengan nyawa."

Sekar merasakan seluruh darah di tubuhnya membeku. Tangannya yang mencengkeram ibunya mendadak lemas. "Meminta nyawa diganti dengan nyawa...?"

Rahayu mengangguk lambat, air matanya menetes melewati sela-sela jarinya. "Sang Kalingga mengabulkan permintaan itu. Malam itu juga, pendarahan Ibu berhenti total. Besok paginya, saat dokter memeriksa kembali rahim Ibu... mereka terkejut setengah mati. Jantungmu kembali berdetak kuat, seolah tidak pernah ada kematian di sana. Tapi... itu bukan mukjizat Gusti Allah, Sekar. Itu adalah pinjaman dari iblis."

Wanita tua itu menunjuk tepat ke arah punggung Sekar dengan jari yang bergetar hebat.

"Saat kau lahir tepat pada tengah malam Sabtu Kliwon, kau lahir tanpa suara tangisan. Kau hanya diam, menatap kami dengan mata yang tidak berkedip. Dan di belikat kananmu... tanda lahir bersisik itu sudah ada di sana, berwarna merah kehitaman seumpama luka bakar. Itu adalah stempel kepemilikan. Kakekmu telah menjual jiwamu bahkan sebelum kau sempat melihat cahaya dunia. Kau dihidupkan dengan napas milik Kalingga... dan kini, dia datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi haknya."

Suara gerimis di luar kamar mendadak terdengar seperti desis ribuan lidah bercabang yang sedang menertawakan ketidaktahuan Sekar selama dua puluh dua tahun ini. Kebenaran yang diucapkan ibunya terasa lebih dingin dan tajam daripada serpihan cermin yang kini mengelilingi tempat mereka berlutut.

"Jadi... karena itu Bapak meninggal?" Suara Sekar terdengar hampa. Bayangan tentang kematian mendiang ayahnya yang selama ini ditutupi oleh keluarga kini mulai menari-nari di pelupuk matanya.

Rahayu menghapus air matanya dengan ujung daster yang gemetar. Dia mengangguk pelan, tatapannya kosong menembus kegelapan lorong rumah mereka yang sepi.

"Bapakmu tidak kuat menahan beban perjanjian itu, Sekar," bisik Rahayu, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam. "Perjanjian dengan Sendang Kalingga tidak pernah gratis. Setiap beberapa tahun, mahluk itu meminta tebusan energi. Bapakmu mulai berhalusinasi, mendengar desisan ular di dalam telinganya setiap malam, persis seperti yang kamu alami sekarang."

Rahayu mencengkeram bahu Sekar, matanya membelalak ketakutan seolah-olah ingatan masa lalu itu sedang menjelma kembali di hadapan mereka.

"Malam sebelum bapakmu ditemukan meninggal di ladang belakang, dia menjerit-jerit di kamar ini. Dia bilang, sisik-sisik di tubuhmu mulai merayap ke tubuhnya. Saat kami menemukannya besok pagi... tubuh bapakmu sudah kaku, melilit melingkar dengan tulang-tulang yang patah seolah diremuk oleh ular sanca raksasa. Sama... sama persis dengan kondisi Bagas yang kamu ceritakan tadi!"

Sekar menutup mulutnya dengan tangan yang berdarah, menahan pekikan ngeri yang hendak lolos dari tenggorokannya. Pola itu nyata. Bagas bukanlah korban acak; pria itu dihancurkan dengan cara yang sama seperti Kalingga menghancurkan ayahnya. Siapa pun yang mencoba mengusik, memiliki, atau menahan Sekar dari takdirnya akan diremukkan tanpa sisa.

"Lalu kenapa Ibu mendiamkan ini?! Kenapa Ibu pura-pura gak ada apa-apa saat Sekar ketakutan di kamar mandi?!" tuntut Sekar, air matanya bercampur dengan noda darah di pipinya.

"Karena Ibu takut, Sekar! Ibu takut kalau Ibu menolak atau melawan, Sang Kalingga akan mengambil nyawamu malam itu juga!" Rahayu meratap, mengguncang tubuh anaknya dengan putus asa. "Kakekmu membuat perjanjian bahwa kau akan dibiarkan hidup sebagai manusia biasa hanya sampai weton kelahiranku dan kelahiranmu bertemu di angka dua puluh dua tahun. Dan tahun ini... beberapa hari lagi, adalah puncaknya. Sabtu Kliwon terakhirmu sebagai manusia."

Rahayu menarik napas pendek yang sesak. Bau bunga kenanga busuk di dalam kamar mendadak menebal, berputar-putar di sekitar mereka seolah-olah entitas tak kasat mata di dalam ruangan itu sedang menikmati pengakuan dosa tersebut.

"Apa yang akan terjadi pada hari Sabtu Kliwon itu, Bu?" tanya Sekar dengan nada yang pasrah. Kewarasannya telah terkikis habis, digantikan oleh kepasrahan yang dingin.

"Di malam itu, Sang Kalingga akan datang dalam wujud utuhnya untuk menjemputmu kembali ke Sendang Kalingga. Dia akan mengklaim raga dan jiwamu sebagai permaisurinya. Sisik-sisik di punggungmu itu... mereka tidak akan berhenti tumbuh sampai kulit manusiamu habis terkelupas, berganti dengan kulit melata," Rahayu berbisik, matanya menatap liar ke sudut-sudut plafon kamar yang menggelap. "Kau tidak akan mati, Sekar. Tapi kau tidak akan lagi menjadi manusia. Kau akan hidup selamanya di bawah air sendang yang hitam, mengabdi pada keabadian yang terkutuk."

Sekar terenyak. Bayangan wajah tampan Kalingga di dalam cermin beberapa saat lalu kini terasa seperti sebuah janji eksekusi yang mutlak. Mahluk itu tidak sedang merayunya; dia hanya sedang menghitung mundur hari-hari terakhir kemanusiaan Sekar.

Tiba-tiba, lampu bohlam di langit-langit kamar Sekar berkedip-kedip tidak stabil.

Pet... pet... pet...

Ruangan itu mendadak disergap kegelapan total selama beberapa detik sebelum lampu kembali menyala dengan pendar kemerahan yang suram. Di atas lantai tegel yang dipenuhi pecahan kaca, bayangan tubuh Rahayu dan Sekar memanjang ke arah dinding.

Namun, di bawah temaramnya cahaya merah itu, bayangan Sekar di dinding kembali terdistorsi. Siluet itu membesar, meliuk kaku, membentuk ekor dan leher reptil raksasa yang tegak berdiri di belakang bayangan ibunya, seolah-olah Kalingga sedang berdiri mengawasi percakapan mereka dari dalam kegelapan dimensi lain.

Sreeet... sssss...

Suara gesekan sisik kering terdengar dari arah lemari pakaian tua peninggalan ayahnya yang terletak di sudut kamar. Pintu lemari kayu jati yang terkunci rapat itu mendadak bergetar halus, mengeluarkan aroma kemenyan dan bunga kenanga yang begitu pekat hingga membuat kepala mereka berdua pusing.

Rahayu langsung membekap mulutnya sendiri, matanya melotot menatap lemari tua itu dengan ketakutan yang teramat sangat. "Dia... Dia mendengar kita, Sekar. Jangan bicara lagi... Dia tidak suka rahasianya dibongkar."

Dengan tubuh yang gemetar hebat, Rahayu bangkit berdiri merangkak, lalu buru-buru keluar dari kamar Sekar tanpa menoleh lagi, menutup pintu kayu itu dengan bantingan keras, meninggalkan anaknya sendirian di tengah kekacauan serpihan kaca dan bayangan melata yang kian mendekat.

Sekar berdiri mematung di tengah kamar. Dia menatap tangannya yang berdarah, lalu melirik sisa pecahan cermin di bawah kakinya. Waktu terus berjalan, dan malam Sabtu Kliwon yang dikutuk itu hanya tinggal menghitung hari. Tidak ada tempat bersembunyi. Dunia nyata dan dunia gaib telah bersekongkol untuk menyeretnya turun ke dalam perut bumi.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!