"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Paket Misterius
Pagi berikutnya, suasana di Pradipta Tower terasa sedikit berbeda. Entah itu hanya perasaan Ayana saja atau memang ada desas-desus yang mulai menyebar di kalangan karyawan lantai eksekutif. Ketika Ayana melangkah keluar dari lift lantai 50 dengan jas putihnya yang tersampir rapi di lengan, beberapa staf administrasi yang biasanya hanya mengangguk sopan, kini menatapnya dengan binar mata yang dipenuhi rasa ingin tahu yang masif.
"Selamat pagi, Dokter Ayana," sapa seorang resepsionis dengan senyuman yang terlalu lebar, matanya melirik ke arah tas medis Ayana seolah-olah di dalam tas itu terdapat kunci rahasia negara.
"Pagi," jawab Ayana ramah namun penuh selidik. Ia mempercepat langkahnya menuju ruangan kerja pribadi miliknya yang terletak tepat di sebelah ruang kerja Arka.
Baru saja ia meletakkan tasnya di atas meja, pintu penghubung antar-ruangan terbuka tanpa diketuk. Karina melangkah masuk dengan kecepatan tinggi, menutup pintu di belakangnya dengan rapat, lalu bersandar di sana sembari mengembuskan napas panjang. Ekspresi wajah sekretaris andalan itu tampak seperti seorang agen rahasia yang baru saja lolos dari kepungan musuh.
"Dokter Ayana! Baguslah Anda sudah datang," bisik Karina setengah tertahan, melangkah mendekat ke meja Ayana.
Ayana menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa, Karina? Kenapa mukamu seperti orang yang baru melihat hantu inflasi?"
Karina menengok ke kanan dan ke kiri—memastikan tidak ada kamera tersembunyi—lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dokter, apakah Anda tahu kalau gosip tentang 'pelukan semalam' dan 'sarapan kangkung gosong' sudah menyebar sampai ke divisi hubungan masyarakat?"
Ayana yang baru saja hendak meminum air mineralnya seketika tersedak untuk kesekian kalinya dalam minggu ini. "Uhuk! Apa?! Bagaimana bisa? Siapa yang menyebarkannya?"
"Bukan saya! Demi apapun, bukan saya!" bela Karina cepat dengan dua jari membentuk huruf V. "Kemarin siang, salah satu staf logistik melihat Anda keluar dari mobil Rolls-Royce Pak Arka di depan lobi UGD dengan kondisi kemeja agak kusut dan rambut yang dicepol asal. Ditambah lagi, Dokter Hendra sempat memuji kedekatan Anda dengan Pak Arka di depan beberapa dokter senior. Jakarta itu sempit, Dok. Dan mulut orang-orang di industri korporat itu lebih cepat menyebar daripada virus flu burung!"
Ayana memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Aduh, pusing kepala saya. Pak Arka sudah tahu tentang hal ini?"
"Pak Arka tidak peduli dengan gosip semacam itu, Dok. Tapi masalahnya bukan di kalangan karyawan internal," suara Karina merendah, ekspresinya berubah menjadi sangat serius. "Masalahnya ada pada keluarga besar Pradipta. Terutama... Tuan Besar Hermawan Pradipta, kakek Pak Arka sekaligus pendiri Pradipta Group yang sekarang tinggal di Singapura."
Jantung Ayana berdegup sedikit lebih kencang. Nama Hermawan Pradipta bukan nama yang asing di lembaran berita ekonomi nasional. Beliau adalah naga bisnis tua yang terkenal bertangan besi dan sangat protektif terhadap garis keturunan keluarganya.
"Kenapa dengan beliau?" tanya Ayana ragu-ragu.
"Beliau sangat selektif tentang siapa saja wanita yang berada di lingkaran sedekat ini dengan Pak Arka. Sejak mendiang kekasih Pak Arka tiada, Pak Arka menutup diri total dari wanita mana pun. Kehadiran Anda yang tiba-tiba menginap di penthouse, memasak sarapan, dan mengantar Anda ke rumah sakit... itu adalah sinyal merah besar bagi mata-mata Tuan Besar di Jakarta," jelas Karina panjang lebar.
Sebelum Ayana sempat mencerna seluruh informasi berat tersebut, sebuah ketukan tegas terdengar dari pintu luar ruangan kerja Ayana.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," seru Ayana, mencoba mengembalikan wibawa dokternya.
Pintu terbuka, menampilkan seorang kurir internal gedung dengan seragam rapi. Pria itu membawa sebuah kotak kayu berukuran sedang yang dibungkus dengan kain sutra putih dan diikat dengan pita sutra berwarna merah darah.
"Permisi, Dokter Ayana. Ada kiriman paket kilat khusus yang ditujukan langsung untuk Anda. Pengirimnya tidak mencantumkan nama, hanya tertulis 'Dari Singapura'," ucap kurir itu sembari meletakkan kotak tersebut di atas meja kerja Ayana dengan sangat hati-hati, lalu membungkuk hormat dan pamit keluar.
Ayana dan Karina saling berpandangan. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi tegang. Kata 'Singapura' baru saja diucapkan oleh Karina beberapa detik lalu, dan sekarang sebuah paket misterius dari negara yang sama sudah mendarat di atas meja.
"Dok... jangan-jangan itu..." Karina menunjuk kotak itu dengan jari yang agak gemetar.
"Tenang, Karina. Ini bukan film aksi di mana paket dari luar negeri berisi bom waktu," ujar Ayana mencoba bercanda, meskipun telapak tangannya sendiri mulai terasa agak dingin.
Dengan gerakan perlahan, Ayana menarik ujung pita merah tersebut. Ikatan sutranya terlepas dengan mulus. Ia membuka lipatan kain putihnya, menampilkan kotak kayu jati dengan ukiran lambang keluarga Pradipta yang sangat halus di bagian tutupnya. Ayana membuka tutup kotak kayu itu.
Di dalamnya, tidak ada benda-benda berbahaya. Hanya ada sebuah toples kaca mewah berisi daun teh krisan emas langka (Golden Chrysanthemum Tea) yang sangat mahal, sebuah cangkir porselen kuno, dan sebuah amplop putih berstempel lilin merah dengan inisial H.P.
Ayana meraih amplop tersebut, membukanya dengan hati-hati, lalu membaca deretan kalimat yang ditulis menggunakan tinta emas dengan gaya kaligrafi yang tegas:
>
Kepada Dokter Ayana Sheenaz,
Teh krisan ini adalah jenis terbaik untuk menenangkan pikiran yang tegang akibat beban kerja yang berat. Saya mendengar Anda telah merawat cucu saya, Arkananta, dengan metode yang 'berbeda'.
Sebagai kakeknya, saya mengucapkan terima kasih. Namun, sebagai kepala keluarga Pradipta, saya ingin mengingatkan Anda: seorang tabib yang baik harus tahu batas antara mengobati luka... dan ikut menenggelamkan diri di dalam luka sang pasien.
Saya akan berada di Jakarta akhir minggu ini. Mari kita minum teh bersama.
— Hermawan Pradipta.
>
Ayana membaca surat itu dua kali, merasakan setiap kata di dalamnya seperti sebuah belaian sutra yang menyembunyikan sebilah belati tajam di baliknya. Ini bukan sekadar surat ucapan terima kasih; ini adalah sebuah peringatan terselubung sekaligus undangan interogasi resmi dari penguasa tertinggi dinasti Pradipta.
Karina yang ikut membaca sekilas dari samping langsung menutup mulutnya, matanya membelalak syok. "Oh, Tuhan... Tuan Besar benar-benar akan datang ke Jakarta. Dok, Anda dalam masalah besar atau... peluang besar, saya tidak tahu!"
Ayana melipat kembali surat itu dengan tenang, memasukkannya ke dalam saku jas putihnya, lalu menatap toples teh krisan emas di depannya. "Ini bukan masalah atau peluang, Karina. Ini hanyalah fase baru dari kontrak kerja saya. Dan kalau Tuan Besar Hermawan mengira saya akan gemetar hanya karena selembar surat bertinta emas... maka beliau belum tahu rasanya diomeli oleh dokter yang sedang mempertahankan prinsip medisnya."
Tepat pada pukul satu siang, setelah menyelesaikan beberapa pemeriksaan berkas klaim asuransi kesehatan karyawan, Ayana memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja Arka. Pria itu tampak sedang sibuk di depan tiga layar monitor besarnya, jemarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, menganalisis pergerakan saham global.
Ayana berjalan mendekat tanpa suara, lalu meletakkan toples teh krisan emas dari Singapura itu tepat di samping laptop kerja Arka.
Arka menghentikan gerakannya. Ia melirik toples kaca mewah itu, lalu mendongak menatap Ayana dengan dahi berkerut. "Apa ini? Saya sudah bilang, saya tidak mau minum teh herba di jam kerja. Saya butuh kafein—"
"Itu kiriman dari kakek Anda, Pak Arka," potong Ayana datar sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. "Beliau mengirimkannya ke ruangan saya pagi ini, lengkap dengan surat undangan 'minum teh bersama' akhir minggu ini."
Gerakan tubuh Arka seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi penuh dengan fokus bisnis mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin—sebuah ekspresi yang jauh lebih intens daripada saat ia mengomeli jajaran direksinya. Pria itu meraih surat yang disodorkan Ayana dari dalam sakunya, membacanya dengan cepat, dan seiring matanya membaca baris demi baris, rahangnya tampak mengencang hingga membentuk garis keras yang sempurna.
Arka meremas surat itu dalam satu genggaman tangannya, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di bawah meja dengan gerakan gusar.
"Jangan datang," ujar Arka dingin, suaranya terdengar seperti perintah mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. "Saya akan menyuruh Karina membatalkan pertemuan itu. Kamu tidak perlu terlibat dengan kakek saya, Ayana. Urusan medismu hanya dengan saya, bukan dengan politikus tua dari Singapura itu."
Ayana tidak mundur sepeser pun dari hadapan Arka. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja, menatap lurus ke dalam mata hitam Arka yang sedang dipenuhi emosi. "Pak Arka, apakah Anda sedang mencoba melindungi saya, atau Anda sebenarnya sedang ketakutan karena kakek Anda akan mengetahui bahwa cucunya yang perkasa ini ternyata punya titik lemah yang sedang saya sembuhkan?"
Arka berdiri dari kursi kebesarannya, membuat tinggi badannya yang menjulang memberikan tekanan intimidasi yang masif pada Ayana. "Ayana, kamu tidak tahu siapa Hermawan Pradipta. Beliau bisa menghancurkan karier kedokteranmu dalam satu malam jika beliau menganggap kehadiranmu mengganggu stabilitas Pradipta Group!"
Ayana tersenyum tipis—sebuah senyuman berani yang membuat kemarahan Arka mendadak kehilangan arah. "Pak Bos, saya sudah pernah berhadapan dengan kematian di atas meja operasi. Saya sudah pernah melihat detak jantung manusia berhenti dan saya harus berjuang menariknya kembali dari lubang kubur. Jadi, kalau cuma berhadapan dengan seorang kakek tua pemilik saham yang kesepian di masa tuanya... saya rasa nyali saya masih cukup mumpuni."
Ayana menegakkan tubuhnya kembali, membetulkan letak kerah jas putihnya dengan anggun. "Saya akan tetap datang ke acara minum teh itu, Pak Arka. Bukan sebagai wanita yang sedang digosipkan dengan Anda, tapi sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Dokter Pribadi Anda yang sah secara hukum kontrak. Saya akan memastikan kepada kakek Anda bahwa di bawah perawatan saya... cucunya tidak akan pernah tumbang lagi oleh hantu masa lalu."
Arka tertegun, mulutnya terkunci rapat. Untuk pertama kalinya, sang CEO diktator itu kehabisan kata-kata di depan seorang wanita. Keberanian Ayana yang begitu murni dan keras kepala seolah menjadi perisai baru yang tidak hanya melindungi diri wanita itu sendiri, melainkan juga mulai melindungi posisi Arka di dalam lingkaran keluarganya yang kejam. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Arka tahu, babak baru dalam hidupnya kali ini akan membawa mereka berdua ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dan menegangkan.
Bersambung.
💪💪