Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setiap langkah terasa semakin berat. Tatapannya beberapa kali melirik ke arah rangka besi yang menopang lampu sorot di bagian atas.
Ia terus mengamati dan mencari tanda-tanda yang pernah ia lihat di kehidupan sebelumnya.
Sampai akhirnya matanya membelalak ketika melihat salah satu tiang penyangga tampak bergoyang.
Mur yang seharusnya mengikatnya sudah terlepas dan membuat batang besi itu mulai berayun pelan.
Tidak ada waktu lagi.
"Keyla!"
Keisya langsung berlari sekencang mungkin tanpa sempat berpikir panjang, ia menerjang tubuh remaja yang masih sibuk menyusun dekorasi itu.
Brak!
Tubuh mereka sama-sama terjatuh. Keisya memeluk leher Keyla dari belakang sambil mendorong tubuhnya menjauh dari titik semula.
Kedua kakinya menghentak kuat ke lantai agar dorongan itu semakin besar.
Keyla yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi hanya sempat mengernyit kesal.
"Apa-apaan sih.."
DUARR!
Suara benturan keras mengguncang seluruh aula.
Tiang besi, lampu sorot, dan dekorasi panggung runtuh hampir bersamaan tepat di belakang posisi mereka beberapa detik sebelumnya.
Jeritan para siswa memenuhi ruangan.
Hembusan benturan itu begitu kuat hingga tubuh Keyla sempat terpental beberapa meter.
Kepalanya terasa berdengung, pandangannya mengabur. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya ia mampu membuka mata kembali.
Saat penglihatannya mulai fokus, ia melihat Keisya terduduk tidak jauh di depannya.
Begitu menyadari Keyla masih sadar dan tidak mengalami luka serius, wajah Keisya langsung dipenuhi senyum lega.
"Syukurlah..."
Napasnya masih tersengal.
"Kamu nggak kenapa-kenapa."
Ketulusan dalam suara itu membuat Keyla terpaku. Ia bahkan belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun ketika hendak bertanya, matanya mendadak membesar.
Tatapannya tertuju pada pelipis Keisya.
Darah merah segar perlahan mengalir dari luka di sisi kepalanya, menetes melewati pipi hingga membasahi kerah seragam sekolah yang dikenakannya.
Keyla perlahan menggeser tubuhnya mendekati Keisya yang masih terduduk beberapa langkah di depannya. Tatapannya tak lepas dari darah yang terus mengalir dari pelipis remaja itu.
Tanpa sadar, tangannya hampir terangkat untuk menyentuh luka tersebut, memastikan seberapa parah kondisinya. Namun gerakan itu terhenti di udara ketika ia melihat Keisya justru menatapnya sambil tersenyum lebar.
Senyum yang terasa begitu tulus padahal wajahnya sendiri sudah mulai memucat.
Keyla mengerutkan dahi.
"Apa... dia jadi linglung karena kepalanya terbentur?"
Pikiran itu muncul begitu saja di benaknya.
Semakin lama diperhatikan, senyum Keisya justru terlihat semakin aneh. Bibirnya masih terangkat, tetapi tangannya kini mencengkeram sisi kepalanya sendiri dengan wajah yang jelas-jelas menahan sakit.
Rasa panik mulai merayapi hati Keyla.
"Eh... eh, kamu kenapa?"
Ia buru-buru menoleh ke sekeliling. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari keadaan aula yang telah berubah menjadi kacau.
Tiang penyangga lampu roboh. Papan dekorasi berserakan di mana-mana dan serpihan kayu memenuhi lantai.
Beberapa siswa masih berdiri mematung karena syok, sementara guru-guru mulai berlarian memastikan keadaan seluruh murid.
Tatapan Keyla kembali mengarah ke tempat ia berdiri beberapa detik sebelumnya. Posisi itu kini telah tertimbun rangka besi dan dekorasi yang hancur.
Napasnya mendadak tercekat.
Kalau saja Keisya tidak mendorongnya menjauh, mungkin sekarang dirinya yang akan tergeletak di bawah reruntuhan itu.
Kesadaran tersebut membuat dada Keyla terasa sesak.
"Dia..."
"Dia tadi menyelamatkanku?"
Matanya kembali beralih kepada Keisya. Namun detik berikutnya, pupil matanya membesar saat melihat darah yang mengalir dari pelipis Keisya ternyata belum berhenti.
Yang lebih membuatnya panik, cairan merah kini juga mulai menetes perlahan dari hidung remaja itu.
Wajah Keyla langsung memucat. Tanpa sempat berpikir panjang, ia segera meraih tubuh Keisya.
Untung saja ia bergerak tepat waktu.
Karena beberapa detik kemudian, tubuh Keisya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh membentur lantai yang dipenuhi serpihan kayu.
Keyla langsung menopangnya dengan kedua tangan.
"Aduh... kamu kenapa?" Suaranya bergetar.
"Tunggu sebentar. Aku panggil guru. Kita harus ke rumah sakit."
Dengan hati-hati ia berusaha membaringkan tubuh Keisya agar lebih nyaman sebelum mencari bantuan. Namun belum sempat ia berdiri, pergelangan tangannya mendadak digenggam.
Keyla menoleh dan merasakan Keisya yang masih memegang tangannya dengan lemah.
Keisya kembali tersenyum namun kini penuh kelegaan.
"Ha..." Napas Keisya terdengar berat.
"Syukurlah..."
"Syukurlah aku berhasil..."
Keyla hanya bisa menatap bingung.Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan itu.
Belum sempat ia bertanya, Keisya kembali membuka mulutnya dengan suara yang semakin lirih.
"Untung..."
"...kamu selamat."
Kalimat itu menjadi kata-kata terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya.
Genggaman tangannya perlahan melemah dan kelopak matanya terpejam. Tubuhnya kehilangan seluruh tenaga dan jatuh tak sadarkan diri di dalam pelukan Keyla.
"Keisya!"
Suara panik memenuhi aula.
Beberapa guru dan siswa segera berlari menghampiri mereka setelah menyadari ada korban yang mengalami luka cukup serius akibat kecelakaan tersebut.
Suasana yang sejak tadi sudah kacau kini berubah menjadi semakin gaduh.
Seseorang segera menghubungi ambulans.
Sebagian guru membantu menenangkan para siswa yang mulai menangis ketakutan, sementara yang lain memeriksa kondisi Keisya yang terbaring tak sadarkan diri.
Wajah-wajah mereka perlahan berubah pucat ketika mengenali identitas korban.
Remaja yang tergeletak bersimbah darah itu adalah Keisya Jordan, putri bungsu keluarga Jordan.
Keluarga yang selama ini dikenal sebagai donatur terbesar sekaligus salah satu penyokong utama sekolah mereka.
Dalam sekejap, kepanikan yang semula hanya disebabkan oleh kecelakaan berubah menjadi kecemasan yang jauh lebih besar. Semua orang menyadari bahwa insiden hari itu tidak lagi sekadar kecelakaan panggung biasa.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu