Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH SANG PREMAN ELIT DAN HUKUMAN POSESIF
Deru mesin limosin berlapis baja milik keluarga Azrael malam itu terdengar seperti geraman monster yang sedang terluka. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, atmosfer seketika membeku hingga ke titik minus. Oksigen terasa begitu tipis dan menyesakkan. Suasana sunyi yang mencekam itu berpusat pada satu sosok pria tegap kekar yang duduk di sudut jok kulit premium—Kaelen Azrael.
Sepasang mata merah maut sang tiran berkilat-kilat oleh amarah gila yang belum pernah terlihat sebelumnya. Rahangnya yang kokoh mengeras sempurna, dengan urat-urat biru yang menonjol di sepanjang leher dan pelipisnya. Tatapan elangnya mengunci mati raga ramping Aurora yang duduk di hadapannya.
Rae berusaha mempertahankan ekspresi wajah murninya tetap tenang, namun detak jantungnya tidak bisa berbohong; dada kembang kempisnya bergerak cepat di balik blazer hitamnya yang kini ternoda oleh darah para tentara bayaran tadi. Di leher porselen-nya, kalung pelacak platinum pemberian Kaelen terasa menghangat, seolah ikut merespons ketegangan sang pemilik.
"Kau pikir kau siapa, Sayang?"
Suara bariton Kaelen memecah keheningan. Nada suaranya tidak meledak-ledak, melainkan berupa bisikan rendah yang teramat berat, dingin, dan sarat akan titah kematian yang mengerikan. Pria itu memajukan tubuh besarnya, memperkasit jarak di antara mereka hingga aroma maskulin bercampur kayu cendana yang pekat langsung mengurung indra penciuman Rae.
"Aku melepaskan mu hari ini untuk bekerja di kantor Aletheia Tech, bukan untuk menjadi preman jalanan yang menantang maut demi menyelamatkan nyawa pria asing!" bentak Kaelen di akhir kalimatnya, tangannya menghantam dinding pembatas limosin dengan begitu keras hingga menciptakan dentuman yang menggetarkan seisi mobil.
"Dia dikepung oleh tiga puluh orang, Kaelen! Jiwa montir ku tidak akan membiarkan pembantaian pengecut seperti itu terjadi di depan mataku!" balas Rae menantang. Sepasang mata cokelat madunya berkilat berani, menolak untuk tunduk meski raga besarnya dikepung oleh aura intimidasi sang suami. "Lagipula, aku menang. Aku meremukkan mereka dengan otak dan pipa besi itu!"
"Kau menang?!" Kaelen tertawa gila, sebuah kekehan tiran yang teramat kejam. Sebelum Rae sempat menghindar, jemari besar Kaelen yang kasar sekeras beton langsung melesat maju, mencengkeram rahang murni Rae dalam satu sentakan dominan yang membuat wanita itu mendongak pasrah.
Cengkeraman itu begitu kuat namun penuh perhitungan agar tidak mematahkan tulang wajah istrinya. Kaelen memaksa mata madu Rae menatap langsung ke dalam pusaran netra merah mautnya yang sarat akan keliaran posesif ekstrem.
"Kau bisa membantai seratus tentara bayaran dengan pipa besi mu yang bar-bar itu, Ratu Kecilku. Tapi di hadapanku, kau tetaplah kelinci lemas yang tidak punya kekuatan untuk lepas bahkan satu milidetik pun!" desis Kaelen gila, napas panasnya yang memburu menghantam bibir bengkak Rae yang masih menyisakan bekas kecupan kasarnya di medan perang tadi. "Kau milikku, Aletheia. Setiap tetes darahmu, setiap helai rambutmu, dan setiap embusan napas mu adalah aset eksklusif milik Kaelen Azrael. Aku tidak sudi melihat matamu menatap penuh minat pada pria asing, apalagi mengotori tangan murni mu demi makhluk rendahan dari Sektor Luar!"
Rae meringis kecil menahan sakit pada rahangnya, namun senyuman miring tiraninya perlahan terbit seksi di sudut bibir. "Kau cemburu, Tuan Azrael? Penguasa tertinggi dunia bawah tanah ternyata bisa gemetar ketakutan hanya karena istrinya membantu pria lain?"
"Ya! Aku cemburu hingga rasanya ingin membakar seluruh Sektor Tiga ini menjadi abu!" akui Kaelen tanpa urat malu sedikit pun, kebucinan ekstremnya mencuat bersamaan dengan ego tiraninya yang terluka. "Pria asing tadi... aku melihat bagaimana cara netra kelabu-nya menatap ragamu yang basah. Dia menginginkanmu, Rae. Dan aku bersumpah demi namaku, sebelum dia sempat menyentuh seujung kuku dari kulitmu, aku akan meremukkan seluruh dinastinya hingga tak bersisa."
Kaelen melepaskan cengkeraman rahangnya, namun tidak memberikan Rae ruang untuk bernapas. Pria raksasa itu langsung menarik pinggul ramping Rae dalam satu gerakan taktis, memaksa tubuh wanita itu duduk di atas pangkuan kekarnya. Dengan satu tangan mengunci kedua tangan lentik Rae di balik punggung, tangan Kaelen yang lain meraba leher porselen istrinya, menyentuh liontin safir hitam yang melingkar di sana.
"Hukuman mu dimulai malam ini, di dalam mobil ini, dan akan berlanjut di atas ranjang penthouse kita," bisik Kaelen seksi namun sarat ancaman, sebelum akhirnya menundukkan kepala dan membungkam bibir mungil Rae dengan ciuman posesif yang teramat menuntut, kasar, dan penuh luapan gairah dominasi yang mutlak. Rae mencoba melawan, namun stamina monster Kaelen mengunci pergerakannya sepenuhnya, memaksa sang ratu hacker bar-bar untuk kembali takluk di bawah dekapan sang pawang tertinggi.
Sementara itu, di tempat yang berbeda jauh dari kemewahan limosin Azrael.
Di sebuah markas rahasia bernuansa gotik modern milik Vane Oligarchy yang terletak di perimeter terluar Sektor Luar, suasana tidak kalah mencekam. Ruangan medis privat itu berbau obat-obatan antiseptik yang pekat, bercampur dengan aroma cerutu mahal.
Regulus Vane duduk di atas ranjang medis tanpa mengenakan kemeja. Bahu kirinya yang tertembak telah diperban rapi oleh tim dokter pribadi sindikat. Sepasang netra kelabu-nya yang seputih porselen menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota bawah tanah yang diguyur hujan asam. Pikirannya sama sekali tidak berada pada luka tembaknya, melainkan pada kilasan bayangan seorang wanita berambut hitam panjang yang mengayunkan pipa besi dengan begitu liar dan indahnya.
Aletheia. Nama itu terus bergaung di dalam otaknya bagai melodi kutukan yang memikat.
"Kau terlihat seperti pria tolol yang baru saja kehilangan jiwanya, Regulus."
Sebuah suara wanita yang penuh dengan nada sinis dan dendam memecah lamunan sang pemimpin Oligarchy. Evadne melangkah masuk ke dalam ruangan medis. Dia telah selesai dibersihkan; kini mengenakan gaun malam beludru berwarna merah darah pemberian Regulus, dengan rambut pirangnya yang ditata rapi. Meski penampilannya kembali anggun, sorot mata Evadne tetap memancarkan kegelapan gila setelah diusir oleh Kaelen.
Regulus tidak mengalihkan pandangannya dari jendela. Dia hanya menyunggingkan senyuman miring aristokrat-nya yang penuh teka-teki licik. "Aku tidak kehilangan jiwaku, Nona Evadne. Aku baru saja menemukan alasan baru untuk menghancurkan Kaelen Azrael secepat mungkin."
Evadne memicingkan matanya, berjalan mendekat hingga berdiri di samping ranjang medis Regulus. "Apa maksudmu? Bukankah target utama kita adalah melumpuhkan jalur pasokan siber dan logistik militer Azrael Corps?"
Regulus akhirnya menoleh, menatap Evadne dengan kilat mata kelabu yang dipenuhi dengan obsesi baru yang teramat mengerikan. "Rencana itu tetap berjalan. Tapi ada perubahan pada komoditas utama yang ingin aku rampas. Aku tidak hanya ingin takhta Sektor Tiga milik Kaelen... aku ingin wanita yang berada di sisinya."
Evadne tersentak gila, rahangnya mengeras sempurna menahan rasa syok. "Maksudmu... Aletheia?! Wanita jalang bar-bar yang membuatku terusir dari mansion itu?!"
"Jaga bicaramu, Evadne," desis Regulus, suara baritonnya mendadak merendah penuh intimidasi yang sanggup membuat nyali Evadne menciut. "Wanita itu adalah dewi perang yang baru saja menyelamatkan nyawaku dari penyergapan para pengkhianat tadi. Dia terlalu berharga untuk berada di tangan tiran sekasar Kaelen. Dia pantas duduk di atas takhta Oligarchy bersamaku."
Regulus bangkit dari ranjang medis, mengabaikan rasa perih di bahunya saat dia memakai kembali mantel bulu abu-abu gelapnya yang mewah. Dia berjalan mendekati meja kerja, menatap sebuah peta holografik yang menampilkan cetak biru sistem keamanan fisik maupun siber dari penthouse dan mansion milik Kaelen yang baru saja diberikan oleh Evadne.
"Gunakan semua informasi buta yang kau miliki tentang pasukan bayangan Azrael, Evadne," perintah Regulus dingin dengan senyuman predatornya yang terbit. "Kita akan menyusun aliansi serangan dadakan berskala penuh. Hancurkan benteng pertahanan Kaelen, lumpuhkan pasukannya, dan biarkan aku yang turun tangan langsung untuk menyeret Aletheia keluar dari sangkar emasnya."
Evadne menyunggingkan senyuman licik yang penuh kepuasan di bibirnya. Meski dia muak mendengar Regulus menginginkan Rae, baginya yang terpenting adalah melihat Kaelen hancur dan Rae menderita dalam perebutan kekuasaan ini. "Dengan senang hati, Tuan Vane. Aku akan memastikan gerbang neraka terbuka lebar untuk menyambut kehancuran sang tiran."
Di bawah langit Sektor Tiga yang semakin pekat oleh badai, dua kubu penguasa dominan kini telah resmi mengobarkan perang terbuka. Dan di tengah pusaran intrik berdarah tersebut, sang ratu hacker bar-bar menjadi pemicu utama dari ledakan kehancuran yang sesungguhnya.