NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPULUH

"BERHENTI RUN!!!" ucap Tia sambil menepuk-nepuk pundak Arun.

Saat ini Arun dan Tia sedang menuju suatu lokasi melalui google maps di handphone Tia.

"TI, ini udah yang ke delapan ya lo nyuruh gue berhenti. Tapi apa?! Tempatnya bukan juga" geram Arun dari balik helm.

"Yakan gue juga cuma ikutin maps, ya lo salahin lah si mba googlenya ini!" ujar Tia.

"Bukan salah dia, lo nya aja yang bodoh gak bisa baca maps" singut Arun.

"Ya udah kalo gitu, nih!" sahut Tia sambil menyodorkan hp nya ke hadapan Arun.

"Apaan lagi?!!" tanya Arun heran.

"Ya ini lo yang baca maps nya!" jawab Tia.

Arun membuka kaca helmnya, "Lo lupa kita sejenis?" Sambil mendorong kembali hpnya pada Tia.

Emang garis keras. Valid no debat.

Kalo cewek itu gak bisa baca maps.

"Ya udah, ayok turun" ajak Tia pada Arun.

"Yakin ya? Kali ini bener" ucap Arun sambil melepas helm dari kepalanya.

"ALLAHUAKBARR! iya Arun sayang, cantik, anak baik. Ini bener tempatnya kok. Toko Roti" ucap Tia.

Mereka melangkah menuju sebuah ruko berwarna biru muda dengan plang bertuliskan huruf V sebagai lambang roti tersebut.

"Permisi" ucap Tia saat masuk kedalam ruko tersebut.

"Iya, silahkan masuk kak" sahut seorang karyawan, kasir toko roti tersebut.

Tia berjalan lebih dulu untuk masuk, sedangkan Arun baru akan melangkahkan kakinya mengikuti Tia. Tiba-tiba handphone Arun bergetar menandakan panggilan masuk.

Akbar

Satu nama tertera di layar hpnya, "Ngapain sih ni orang?" Gumam Arun.

Arun bersiap untuk menjawab panggilan tersebut namun ter urung saat sebuah suaran memanggilnya.

"ARUN!" ucap Tia setengah teriak.

Semua mata karyawan tertuju pada Tia, "Maaf kak, i--tu soalnya temen saya agak kurang pendengarannya" ucap Tia dengan pelan.

Arun pun langsung memasukan hpnya kembali, lalu berjalan menghampiri Tia.

"Maaf kak" ucap Arun sambil sedikit menundukan badannya.

Plak!

Arun memukul lengan Tia, "Suara lo ya!" ucap Arun tepat ditelinga Tia, hanya mereka yang bisa mendengarnya.

"Silahkan kak masuk ke ruangan ini" ujar salah satu karyawan setelah keluar dari ruangan tersebut.

"Iya kak, makasih" sahut Tia dan Arun berbarengan lalu masuk kedalam ruangan tersebut.

Sedangkan di sebuah lobi rumah sakit. Akbar sedari tadi hanya bisa mondar mandir sambil sesekali menelpon Arun, tapi nihil. Arun tidak menjawab satupun panggilannya.

"Run, please angkat" lirih Akbar.

Akbar mengusap wajahnya gusar, "Akbar" panggil seorang perempuan, Linda.

"Tante, Arun gak bisa di hubungin" ucap Akbar pada mama Arun tersebut.

"Nanti kita hubungin lagi ya, sekarang bantu tante buat urusbin jenazahnya dulu" ucap Linda.

"Iya tante" sahut Akbar.

Sebelum memasukan hpnya ke dalam saku celana, Akbar mengetikan sesuatu lalu mengikirimnya pada Arun.

Walaupun Arun tidak mengangkat telpon, setidaknya Arun bisa membaca pesannya saat dia membuka hp nanti.

Lalu Akbar pergi menyusul Linda yang sudah berjalan lebih dulu dengan langkah gontai.

Pukul 14:11

"Run?" Panggil Tia.

"Apaan?"

Tia menyedot minuman, lebih tepatnya es kelapa muda. Setelah acara interview tadi alias melamar kerja di toko roti itu mereka memutuskan untuk jajan untuk menghilangkan sedikit rasa shok mereka.

Meski tidak ada yang aneh.

"Kok feeling gue, kita bakal keterima ya" ucap Tia.

"GAK USAH NGAREP" balas Arun dengan penuh penekanan.

"Nih ya Run, menurut apa yang gue liat. Tipe dia nyari karyawan itu kayak tipe-tipe kita gini nih. Lo liatkan tadi beberapa karyawannya?" tanya Tia.

"Iya. Tapi lo inget gak first impresion kita tadi?" tanya balik Arun.

"Ya elah, cuma manggil lo dengan sedikit tenaga doang mah. Gak masalah lah" alibi Tia.

"Menurut lo gak masalah, menurut mereka?"

Tia tidak bisa menjawab, malah kembali menyedot es kelapa mudanya.

Tia mengeluarkan hp dari dalam tasnya, "jam berapa sih?" Ucap Tia. "Eh apaan nihh, si Akbar. Anjirr nelponin gue banyak banget!!" ucap Tia dengan kaget.

Arun menepuk jidatnya, "gue lupa dia tadi juga nelponin gue" ucap Arun sambil mengeluarkan hp dari saku kardigan miliknya.

Deg!

Saat Arun membuka hpnya dan melihat notifikasi pesan masuk, seketika Arun lemas dan langsung mengeluarkan air matanya.

Akbar

Kamu dimana? nenek masuk rumah sakit.

Nenek koma.

Tia yang melihat itu di buat panik setengah mati, "RUN, LO KENAPA?" tanya Tia sambil memegang tangan kiri Arun.

Arun tidak menjawab melainkan langsung berdiri sambil menggigit bibir bawahnya, pertanda dia sedang ketakutan.

"RUN, LO KENAPA SIH?!! ADA APA?"

Arun memberikan hpnya pada Tia.

Tia membulatkan matanya, "E--hh, Run lo jangan panik dulu okee??" Tia memperingati.

"ENGGAK!!"

Arun berteriak seolah tidak ada orang disana, "Run, lo tenang dulu" pinta Tia.

"E--enggak mungkin, nenek gak mungkin Ti. Tadi pagi dia masih sama gue, kita makan bareng kok hiks ... n--enek sehat kok Ti" ucap Arun sambil terus menangis.

Tia menganggukan kepala tanda mempercayai ucapan Arun, "Kita pulang sekarang oke. Sini kunci motornya biar gue yang bawa" ucap Tia.

Harapan Arun cuma satu, tidak terjadi sesuatu pada sang nenek. Karena hanya Salma yang Arun punya.

Motor Arun melaju dengan kecepatan sedang, Tia tidak mau membuat bahaya disaat seperti ini.

"RUN, COBA LO TELPON AKBAR. TANYA DI RUMAH SAKIT MANA SAMA RUANGAN APA NENEK LO" ucap Tia sambil sesekali melihat ke jok belakang.

Arun mengangguk lalu mengeluarkan hpnya.

Tidak ada jawaban dari panggilan pertama Arun, namun saat mencoba kedua kali. Akbar mengangkat panggilannya.

"Halo"

"Run" sahut Akbar.

"Nenek di rumah sakit mana?" tanya Arun dengan suara bergetar.

"Run, lo pulang aja ya"

"LO APA-APAAN SIH! GUE MAU LIAT NENEK GUE! KENAPA LO SURUH GUE PULANG! CEPET BILANG DI RUMAH SAKIT MANA?" ucap Arun dengan nada penuh amarah.

Tia yang mendengar itu seketika langsung menepikan motornya dipinggir jalan dulu.

"Kenapa Run?" tanya Tia.

"Sekarang lo bilang, rumah sakitnya dimana?!" tanya Arun pada Akbar lagi.

"Run lo tenang dulu, coba sini biar gue yang ngomong sama Akbar" sahut Tia sambil mengambil alih hp dari tangan Arun.

"Hallo, Akbar? Ini gue Tia"

"Tia ..."

"Lo tinggal kasih tau gue dimana rumah sakitnya, lo tenang aja bukan Arun yang bawa motornya tapi gue kok" ucap Tia.

Tia pikir, Akbar tidak ingin memberitahu Arun karena takut akan terjadi sesuatu nanti pada Arun.

"Kalian pulang aja ke rumah nenek Salma sekarang"

"Karena semua orang udah pada kumpul Ti, tinggal Arun" ucap Akbar.

"M--maksud lo?" tanya Tia bingung.

"Nenek Salma udah gak ada Ti" ucap Akbar dengan lirih.

Sambungan telpon terputus.

Tia memberikan hpnya pada Arun, "Lo tau dimana rumah sakit nya? Akbar kasih tau lo?" tanya Arun.

Tia hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Arun, lalu melajukan motornya.

Arun bisa sedikit bernafas lega.

Sedangkan dari balik helm tersebut mata Tia sudah banjir dengan air mata tanpa Arun lihat. Namun Tia enggan Arun mengetahuinya.

Tia harus berusah fokus untuk membawa motor dengan selamat sampai tujuan.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!