Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sudah satu bulan Kartika pergi dari rumah. Namun bagi Deva, rasanya seperti bertahun-tahun.
Setiap pulang kerja, rumah itu terasa semakin asing. Tidak ada suara Kaivan yang berlari menyambut sambil tertawa. Tidak ada Kalingga yang suka bercerita tentang sekolah dan teman-temannya. Tidak ada Kartika yang menyuruhnya cepat mandi sebelum makan malam.
Yang ada sekarang hanya rumah penuh suara pertengkaran. Dan Deva mulai membencinya.
Hari Minggu pagi itu Deva kembali menyetir mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Sejak keluar dari rumah selepas subuh, ia sudah berkeliling hampir dua jam. Jalanan kota sebelah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak berolahraga, sarapan, atau sekadar jalan pagi bersama keluarga.
Namun, mata Deva tidak benar-benar melihat keramaian itu. Ia justru sibuk mencari satu wajah yang sangat dirindukan di setiap sudut jalan.
Mobilnya melaju pelan melewati deretan cafe yang biasa ramai anak muda. Sesekali Deva melambatkan kendaraan ketika melihat perempuan berambut panjang menggandeng anak laki-laki dari kejauhan. Namun, setiap kali diperhatikan lebih jelas bukan Kartika.
Pria itu kembali melanjutkan perjalanan. Ia masuk ke area taman kota. Tempat itu cukup ramai oleh anak-anak yang bermain sepeda dan balon. Mata Deva langsung bergerak liar mencari dua sosok kecil yang sangat dirindukannya, Kalingga dan Kaivan.
Beberapa kali dadanya berdebar ketika melihat anak kecil seusia Kaivan berlari sambil tertawa. Namun, lagi-lagi bukan anaknya.
Deva sampai mengembuskan napas panjang sambil menggenggam setir lebih erat. Sudah sebulan penuh ia berkeliling seperti orang kehilangan arah. Ia mencari ke butik Anggun. Mencari ke tempat bermain anak, ke mall, ke rumah makan favorit Kartika. Bahkan gang-gang kecil pun ia masuki satu per satu seolah berharap tiba-tiba melihat motor Kartika terparkir di sana. Namun, hasilnya tetap sama, tidak ada. Kartika benar-benar menghilang dari hidupnya, bak ditelan bumi.
Mobil Deva akhirnya berhenti di pinggir jalan dekat taman kecil. Pria itu mematikan mesin mobil lalu menyandarkan kepala ke kursi.
Matanya terasa panas. Kurang tidur selama berminggu-minggu membuat wajahnya tampak jauh lebih kusut dari biasanya. Janggut tipis mulai tumbuh tidak rapi di dagunya. Ia mengusap wajah kasar sebelum mengambil ponsel dari dashboard. Layar ponsel langsung menyala. Seperti orang bodoh yang sengaja menyiksa dirinya sendiri, Deva membuka galeri foto.
Seketika wajah Kartika memenuhi layar. Ada foto istrinya sedang tertawa di dapur sambil memegang spatula. Waktu itu Kartika marah karena dirinya diam-diam memotret saat wajahnya belepotan tepung.
Deva menelan ludah pelan. Jarinya bergeser ke foto berikutnya. Kaivan kecil tertidur pulas di dada Kartika. Wanita itu ikut tertidur sambil memeluk anak bungsu mereka dengan wajah lelah setelah begadang semalaman.
Foto Kalingga memeluk mamanya sambil menunjukkan piala lomba mewarnai. Senyum anak itu lebar sekali. Sedangkan Kartika terlihat mencium pipi putra sulung mereka penuh bangga.
Dada Deva langsung terasa sakit sekali. Ia menunduk sambil menahan napas berat.
“Kenapa kamu pergi sejauh ini, Yang,” bisiknya serak.
Selama ini Deva selalu berpikir semuanya masih bisa diperbaiki. Ia yakin Kartika hanya marah sesaat. Yakin istrinya cuma butuh waktu menenangkan diri. Karena selama ini setiap mereka bertengkar Kartika selalu mengalah lebih dulu.
Wanita itu selalu kembali dan bertahan. Namun, kali ini berbeda. Kartika pergi tanpa menoleh lagi. Kartika benar-benar berniat meninggalkan dirinya.
Kenyataan itu membuat Deva takut. Pria itu sadar kalau ia benar-benar bisa kehilangan keluarganya.
Kartika tidak pergi karena sudah tidak cinta.
Wanita itu pergi karena terlalu lama terluka sendirian.
Deva tidak pernah membayangkan Kartika tinggal di kawasan perumahan elit. Komplek besar dengan gerbang tinggi dan keamanan ketat. Tempat yang bahkan tidak bisa dimasuki sembarang orang. Karena itulah selama ini pencariannya tidak pernah membuahkan hasil.
Deva terus mencari di tempat-tempat biasa. Padahal wanita yang dicarinya berada sangat jauh dari jangkauannya.
***
Di rumah hidup Deva semakin terasa kacau setiap harinya. Rumah yang dulu bersih, rapi, dan hangat sekarang berubah berantakan seperti kapal pecah.
Pagi itu Deva baru saja pulang membeli sarapan di luar karena di rumah tidak ada makanan sama sekali. Begitu membuka pintu, langkahnya langsung terhenti di ruang tamu.
Mainan Delisa berserakan di lantai. Bahkan bungkus snack dan tisu bekas tercecer di bawah sofa. Di meja ruang tamu masih ada mangkuk mie instan yang kuahnya mulai mengering. Gelas susu dibiarkan begitu saja sampai menimbulkan bau asam.
Deva memejamkan mata sebentar. Dadanya terasa sesak. Dulu rumah ini selalu bersih, rapi, dan wangi. Kartika bahkan tidak pernah membiarkan piring kotor menginap di wastafel. Namun sekarang, rumah itu terasa sumpek dan tidak terurus.
Deva berjalan cepat menuju dapur. Keadaannya tidak jauh berbeda. Wastafel penuh piring kotor. Rice cooker kosong.NTidak ada lauk, apalagi masakan hangat. Yang ada hanya plastik bekas makanan delivery di atas meja.
Deva mengusap wajah kasar. Kepalanya langsung nyut-nyutan. Dengan emosi yang sudah menumpuk sejak pagi, Deva membuka pintu kamar yang ditempati Iriana dan Delisa.
“Iriana!”
Suara keras itu membuat Delisa yang sedang menonton video di tablet langsung kaget.
Sementara Iriana masih rebahan santai sambil bermain ponsel, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya bahkan belum dicuci.
“Apa lagi sih, Kak?!” bentak Iriana kesal karena merasa kegiatannya terganggu.
Deva menunjuk keluar kamar dengan wajah tegang. “Lihat, rumah sangat berantakan!”
Iriana mengernyit malas. “Memangnya kenapa?”
“Kenapa?!” ulang Deva tidak percaya. Rahangnya sampai mengeras menahan emosi. “Rumah berantakan kayak gitu enggak kelihatan sama kamu?!”
Iriana malah kembali menyender santai ke bantal. “Kan, bisa dibersihin nanti.”
“NANTI?!” Suara Deva menggelegar sampai Delisa langsung mengecilkan volume tablet ketakutan.
“Kamu tinggal di sini udah sebulan! Minimal tahu diri!”
Iriana langsung duduk tegak sambil melotot. “Ini bukan rumah aku! Kenapa aku yang harus capek-capek beberes?!”
Deva sampai tertawa karena terlalu kesal. Namun, tawanya terdengar pahit penuh emosi yang dipendam terlalu lama.
“Terus siapa yang beresin?!” sindirnya tajam. “Mama?!”
Iriana langsung hendak membalas, tetapi suara langkah cepat terdengar dari depan rumah. Bu Hania muncul dengan wajah tidak senang.
“Ngapain sih pagi-pagi teriak begitu sampai kedengaran keluar?!” bentak Bu Hania membela putrinya.
Deva langsung menoleh cepat. “Bu lihat sendiri rumah sekarang kayak apa!”
Tangan Deva menunjuk ke arah ruang tamu dengan kesal. “Berantakan! Jorok! Enggak pernah ada yang beres!” Dadanya naik turun menahan emosi.
Setiap hari pulang kerja ia selalu disambut rumah kacau seperti itu. Padahal dulu semua sudah tersedia tanpa dirinya perlu bicara.
Baju bersih, makanan hangat, rumah rapi juga bersih. Anak-anak terurus. Kartika mengurus semuanya sendirian tanpa banyak mengeluh.
Deva baru benar-benar menyadari tidak semua wanita bisa melakukan pekerjaan yang Kartika lakukan.
Namun Bu Hania malah mendecak tidak peduli. “Ya, tinggal sewa pembantu.”
Kalimat itu langsung membuat Deva diam. Ia memejamkan mata beberapa detik. Dia lelah dan muak. “Semua solusinya selalu uang,” gumamnya lirih. Suara pria itu terdengar sangat capek.
Bu Hania tetap tidak merasa ada yang salah. “Kamu kan gajinya besar.”
Kalimat itu langsung membuat Deva tersenyum hambar. Senyum yang menyakitkan. Dulu ucapan seperti itu terdengar biasa saja di telinganya, tetapi sekarang terasa berbeda. Selama ini keluarganya hanya melihat hasil akhirnya saja. Melihat gaji besar, punya mobil, punya rumah. Namun, tidak ada yang pernah peduli bagaimana dirinya bekerja sampai larut malam.
“Apa yang harus aku lakukan agar kalian berubah?!” batin Deva.
aku nangis sampai mampet hidung ku 😭
kata-kata itu SGT sederhana sx tp penuh arti segala nya buat anak-anak 😭
ayo buka lebar mata mu Deva ,, jg buta ja Krn keluarga mu 🤣
aku malas mikir nya 🤣
yg U lakukan yaa menSTOP jatah mereka semuanya , biar sadar diri , biar tahu diri 😡😡
dan usiiiiir si Iriana dr rumah mu 😡
bgtu ja pke nanya , tolooooool 😡😡
tinggal bertiga an ja ma anak-anak mu ,, gsah mikirin suami pecundang itu 😡