Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Turnamen
Wanita yang selalu berdandan sedikit menor itu tersenyum lebar begitu melihat Wira dan Sinta mendatanginya.
"Aku sudah tahu maksudmu menemuiku, Bambang. Kau pasti mau menerima tawaranku untuk menjadi suamiku bukan? Sekarang kita tinggal cari hari baiknya saja, bagaimana? Nanti kita undang semua penduduk Kotaraja, biar pernikahan kita terlihat meriah. Kalau perlu Yang Mulia pun kita undang sekalian," berondong Darsih tanpa henti.
Wira menepuk jidatnya pelan, "Bibi, aku lagi tidak ingin bercanda. Aku ke sini karena ada yang mau aku tanyakan."
"Setelah aku menjawab pertanyaanmu, aku juga ingin jawaban darimu."
"Jawaban apa?"
"Tentang pertanyaanku kemarin dan tadi! Masa kau sudah lupa?"
"Bibi, aku kemarin kan sudah menjawab pertanyaan yang Bibi ajukan. Tapi tak ada salahnya aku menjawabnya sekali lagi. Lebih baik aku menikah dengan pohon pisang yang kulitnya lebih mulus daripada kulit Bibi," jawab Wira sambil menutup mulutnya.
"Asem! Itu lagi jawabanmu, Bambang."
"Namaku Wira, Bibi. Bukan Bambang!"
"Terserah aku mau panggil kau apa. Sekarang apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Ini mengenai turnamen yang akan diadakan istana, Bibi."
Belum sempat Wira meneruskan ucapannya, Darsih langsung nyerocos begitu saja, "Kau mau ikut turnamen itu? Lebih baik jangan, Bambang sayang! Apa kau tidak sayang kulitmu yang mulus itu nanti bisa terluka?"
"Bisa tidak Bibi tidak bercanda sebentar saja?"
"Hehehehe... Baiklah. Lanjutkan apa yang ingin kau tanyakan?" Darsih terkekeh pelan.
"Benarkah turnamen itu untuk umum, dan pendaftarannya di mana?"
"Turnamen itu memang diperuntukkan buat khalayak umum. Tapi dari para prajurit yang kukenal, banyak pangeran dari kerajaan kecil yang akan ikut dalam turnamen nanti. Belum lagi para bangsawan yang jelas akan ikut serta ambil bagian."
Darsih mengambil gelas yang berisi air lalu meminumnya. Tenggorokannya terasa kering karena banyak bicara.
"Dari para pangeran dan bangsawan yang akan ambil bagian, Raden Sanjaya yang memiliki peluang besar untuk menjadi Senopati berikutnya."
"Raden Sanjaya?"
"Iya, apa kau mengenalnya?"
"Tidak, Bibi. Kebetulan aku pernah mendengar namanya. Lalu pendaftarannya di mana?"
"Nanti kau bisa mendatangi rumah bangsawan Lesmana. Rumahnya di sekitar alon-alon, menghadap ke timur, dan di sampingnya ada sebuah tempat makan," jawab Darsih.
"Terima kasih, Bi. Kami kembali ke kamar dulu!"
Tanpa menunggu jawaban Darsih, Wira dan Sinta segera menuju kamar mereka.
"Wira, sebaiknya kita pindah dari penginapan ini. Aku tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan pemilik penginapan ini. Dia terlalu genit kepadamu!"
"Mungkin dia hanya bercanda saja, Sinta," balas Wira menenangkan keresahan gadis itu.
"Tidak mungkin! Aku wanita seperti dia, Wira. Aku tahu persis mana yang bercanda, dan mana yang serius. Tatapan matanya kepadamu tidak bisa membohongiku!"
"Baiklah. Tapi kita pindah nanti malam saja. Saat ini Bibi yang menjaga penginapan. Aku tidak enak jika langsung pergi. Nanti malam dia akan diganti oleh karyawannya."
"Kita pindah ke mana?" tanya Sinta.
"Kau tunggu di sini. Aku mau mencari di sekitar alon-alon Kotaraja. Aku tadi sempat melihatnya saat kita jalan-jalan."
"Baiklah. Aku akan mengunci pintunya dan tidak akan membukanya, jika bukan kau yang datang."
"Gadis pintar! Aku pergi dulu sekarang," kata Wira.
Pemuda itu berjalan keluar meninggalkan penginapan menuju alon-alon Kotaraja, saat hari menjelang malam.
Sesampainya di penginapan yang ditujunya, Wira langsung memesan sebuah kamar. Setelah itu dia kembali ke penginapan sebelumnya untuk menjemput Sinta.
Malam yang berhiaskan bintang pun hadir menggantikan siang. Setelah Darsih diganti oleh karyawannya, Wira dan Sinta keluar dari penginapan tersebut dengan santainya. Setelah itu mereka berjalan menuju penginapan yang baru.
Sengaja Wira meninggalkan kereta kudanya di depan penginapan Darsih agar pemuda yang menjaga penginapan itu tidak mencurigai mereka.
Sesampainya di penginapan yang baru, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Menjelang tengah malam, empat sosok berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala, tampak memasuki penginapan Darsih.
Pemuda yang bertugas menjaga penginapan tersebut saat malam, dibuat kaget dengan kedatangan keempat sosok tersebut. Dia menduga keempatnya adalah para perampok yang hendak menyatroni penginapan Darsih.
"Aku tidak punya apa-apa, Tuan. Semua uang yang ada, dibawa juragan Darsih," kata pemuda tersebut.
"Kami tidak butuh uangmu! Sekarang katakan di mana kamar yang ditempati seorang pemuda dan gadis cantik?"
Pemuda itu membuka daftar tamu yang menginap di penginapan tersebut. Setelah menemukan kamar yang dicari keempat orang berpakaian serba hitam itu, dia langsung berjalan untuk menunjukkannya kepada mereka.
"Itu kamarnya, Tuan," pemuda itu menunjuk kamar yang tadi ditempati Wira dan Sinta.
Seorang dari sosok yang berpakaian serba hitam itu langsung menendang pintu kamar hingga jebol. Dia dan seorang temannya langsung masuk ke dalam untuk memeriksanya.
"Sepertinya mereka sudah meninggalkan penginapan ini!" ucap seorang dari mereka. Keduanya kemudian keluar dari kamar tersebut.
"Di mana dua orang yang menyewa kamar ini!?"
"Aku tidak tahu, Tuan. Tapi tadi ada seorang pemuda dan gadis yang keluar dari penginapan. Tapi aku tidak tahu kemana mereka pergi."
"Apa mereka tidak bilang apa-apa padamu ketika keluar dari penginapan ini?"
"Tidak, Tuan."
"Apa mungkin mereka sudah pindah atau meninggalkan penginapan ini?"
"Sepertinya tidak, Tuan. Buktinya kereta kuda yang mereka bawa, masih berada di depan."
"Ayo kita cari mereka! Mungkin saja mereka masih berada di Kotaraja."
Keempat orang itu berlari keluar dari penginapan. Pemuda yang menjaga penginapan itu jatuh terduduk karena masih merasakan ketakutan.
"Jangan sampai gagal kita menculik gadis itu. Bisa-bisa Raden Sanjaya akan memberi kita hukuman! Kita sisir Kotaraja. Nanti kita berkumpul di sebelah timur alon-alon."
Keempat orang berpakaian serba hitam yang ternyata pengawal Raden Sanjaya itu bergerak menyebar. Dengan tatapan tajam, mereka mengawasi setiap tempat yang dirasa mencurigakan.
Namun hingga dua jam lamanya, dua orang yang mereka cari itu tidak jua ketemu. Setelah merasa putus asa, akhirnya mereka kembali berkumpul.
"Bagaimana kita melaporkan kegagalan kita kali ini?" ucap seorang dari mereka.
"Entahlah, sepertinya kita akan mendapat hukuman dari Raden Sanjaya," sahut temannya.
"Kita tetap harus menemui Raden Sanjaya. Setidaknya kita bisa meminta kepadanya agar tidak memberi kita hukuman."
Sementara itu, Raden Sanjaya begitu geram menunggu kedatangan keempat pengawal pribadinya. Dia bahkan sampai tidak tidur sampai menjelang pagi hanya demi bisa menikmati tubuh Sinta.
"Kemana mereka semua? Awas saja jika sampai gagal menculik gadis itu!" gumam Raden Sanjaya.
Di luar kediaman Raden Sanjaya, empat pengawal itu berhenti untuk mengambil nafas. Setelah itu, mereka melangkah dengan perasaan cemas memasuki kediaman besar nan megah tersebut.