RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Don Vincenzo beserta rombongannya kini telah tiba di vila pribadinya yang disiapkan khusus selama ia berada di Indonesia. Setelah memastikan sang Kakek sudah beristirahat dengan nyaman, Sara segera bergegas melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan yang campur aduk tak menentu.
Ia tidak bisa tinggal diam. Ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya, dan ia harus segera menyelidiki kebenaran di balik keluarga Wijaya. Bukan karena ia tidak senang jika Chelsea memang benar cucu kandung Don. Jika itu fakta, ia pasti ikut bahagia. Namun ia tak sanggup membiarkan kebaikan dan kasih sayang tulus Kakek angkatnya dimanfaatkan oleh orang-orang yang bermuka dua dan serakah.
Jam kini menunjukkan pukul lima sore. Sara sudah berganti kendaraan, ia kini mengendarai motor sport hitam yang biasanya hanya ia gunakan untuk keperluan khusus. Di sebelahnya, Leon juga tampak gagah dengan motor sport serupa. Keduanya terlihat beriringan membelah jalanan dan saling terhubung lewat alat komunikasi kecil yang terselip di telinga masing-masing.
"Nona, Anda yakin ini tidak akan membuat Tuan Besar kecewa jika beliau tahu kita meragukan cucu kandungnya sendiri?" tanya Leon dengan nada khawatir.
Sara menghela napas pelan di balik helmnya. "Kakek pasti akan sedih jika tahu, Kak. Tapi aku tidak bisa membiarkan dia tertipu begitu saja. Aku berhutang nyawa sama Kakek. Tenang saja, selama kita melakukannya dengan diam-diam Kakek tidak akan tahu!"
"Baiklah kalau begitu. Saya mendukung keputusan Nona sepenuhnya!"
"Itu baru benar! Sebagai kakak yang baik, tentu harus mendukung adiknya, kan?" sahut Sara terkekeh pelan.
Leon ikut tersenyum. Ia mengenal Sara dengan baik, jika nalurinya mengatakan ada yang salah, maka memang benar ada sesuatu yang tidak beres.
"Ngomong-ngomong Nona, bagaimana dengan rahasia pernikahan Anda dengan Tuan Muda Raven? Apakah Nona berencana memberitahu Tuan Don?" tanya Leon kembali.
"Soal itu aku masih ragu, Kak. Apalagi sekarang Kakek sedang merasakan kebahagiaan yang baru ia temukan setelah sekian lama. Sebaiknya kita pastikan dulu fakta tentang keluarga Wijaya ini baru memikirkan hal lain," jawab Sara mantap.
"Setuju. Lebih baik begitu."
Sara hanya mengangguk singkat, lalu memutar gas motornya lebih kencang menuju markas rahasia yang diam-diam telah ia bangun bersama Leon di negeri ini tanpa sepengetahuan sang Kakek.
Tak jauh di belakang mereka, empat motor sport lainnya juga melaju membelah jalanan sore yang mulai ramai. Raven, Alden, Arga, dan Angga pasukan inti Geng Phoenix juga sedang menuju markas mereka. Raven yang baru saja keluar dari tugas kantor menyelesaikan urusan kantor. Langsung memanggil mereka untuk berkumpul. Tujuannya ia ingin menyusun rencana untuk acara amal yang akan mereka lakukan minggu depan.
"Raven! Lihat dua motor di depan sana! Bukankah itu motor yang sama persis dengan yang dikendarai orang yang menolong kita saat dikepung Geng Kobra malam itu!" seru Arga sambil menyamarkan posisinya di samping Raven.
Raven segera memfokuskan pandangannya. Detak jantungnya seketika berpacu cepat.
"Benar juga! Itu motor yang sama persis! Kita susul aja mereka sekarang!" tambah Alden semangat, tak sabar ingin melihat seperti apa wajah penolongnya malam itu.
Tanpa menunggu lama, Raven mengangguk, lalu langsung menambah kecepatan motornya, berusaha mengejar dua sosok di hadapannya di ikuti yang lainnya.
Sara dan Leon yang sedang asyik berbincang tak menyadari keberadaan orang-orang yang kini mengejar mereka. Hingga tiba-tiba...
Brumm!
Tiinnn!
Suara klakson panjang terdengar tepat di sisi kanan motor Sara. Sara segera menoleh dengan wajah kesal siap memarahi pengendara yang tak sopan itu. Namun saat pandangannya menangkap sosok di balik helm itu, kata-kata di tenggorokannya seketika lenyap. Ia segera membuka kaca helmnya lebar-lebar.
"Raven?! Apa yang kau lakukan hah!" teriaknya kaget, tanpa sadar kini satu rahasianya perlahan mulai terbongkar.
Raven hanya tersenyum samar di balik helmnya.
"Sudah kuduga ternyata benaran dia orangnya!" batin Raven.
"Bisa berhenti sebentar?" tanyanya tenang namun penuh keyakinan.
Sara mengangguk pelan, lalu segera menepikan motornya ke pinggir jalan. Diikuti oleh Leon, serta Raven dan ketiga sahabatnya.
Sara sama sekali belum menyadari sepenuhnya situasinya saat ini. Begitu ia melepas helmnya sepenuhnya dan menampakkan wajah aslinya, Alden, Arga, dan Angga berseru serempak dengan mata melotot tak percaya.
"SARA?!!"
Sara mengerutkan kening bingung. "Kenapa sih pada teriak begitu? Kompak sekali suaranya, lagi latihan paduan suara ya?" tanyanya polos.
Raven mendekat perlahan, mencondongkan tubuhnya hingga suaranya hanya terdengar oleh Sara. "Ternyata benar juga dugaan aku tadi pagi," bisiknya pelan namun penuh kemenangan.
"Dugaan apa? Kenapa kalian semua bertingkah aneh begini?" Sara makin bingung.
"Sara... jadi kau dan Pak Leon orang yang menolong kami malam itu!" seru Alden mendekat dengan mata berbinar kagum.
Sara terpaku kaku. Seketika ia menyadari kesalahannya. Matanya langsung menyusuri motor dan penampilannya sendiri, Ia memakai motor dan pakaian yang sama persis saat kejadian malam itu!
"Sial! Aku ketahuan! Kenapa aku bisa seceroboh ini sih!" omelnya dalam hati pada diri sendiri.
"He he... itu cuma kebetulan saja kok kami lewat di sana, dan liat kalian di keroyok mana mungkin kami biarkan saja," cicitnya berusaha mengelak.
"Kebetulan apanya! Kau sangat hebat, Sara! Ternyata ilmu bela diri yang kau punya luar biasa, seperti sudah terlatih bertahun-tahun," timpal Arga penuh kekaguman.
"Iya, kami berempat berhutang nyawa padamu! Pakokya kau keren banget!" sahut Angga tak mau kalah. Mereka begitu antusias hingga lupa bahwa pemimpin mereka kini berdiri diam di belakang dengan tatapan tajam yang memancarkan kecemburuan.
"Ah... kalian memujiku berlebihan. Aku tidak sehebat itu kok," ucap Sara mencoba merendah.
"Kami bicara jujur! Nanti kalau ada waktu luang, ajari kami juga ya," pinta Arga bersemangat.
"EKHEM!"
Suara deheman keras terdengar memecah keramaian itu. Semua kepala serentak menoleh ke arah sumber suara, kecuali Leon yang hanya duduk tenang di atas motor sambil tersenyum tipis melihat tingkah para anak muda itu.
"Kalian minggir dulu! Aku mau bicara berdua sama pacarku!" ketus Raven menatap tajam ketiga sahabatnya itu.
"Wah pelit banget sih Bos! Kita juga mau ngobrol sama Sara!" protes Arga.
"Ini urusan pribadi. Sana cari pacar sendiri, jangan ganggu milikku!" usir Raven tanpa ampun.
Akhirnya mereka pun mengalah dengan cemberut, memberi ruang bagi keduanya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" tanya Sara cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/