Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 023: Rasa yang Tak Bisa Dimengerti
Hari-hari berlalu tanpa kehadiran Aries di sampingnya, dan perlahan Aldara mulai terbiasa dengan kesunyian itu. Namun hal yang tak pernah berubah adalah kedatangan Randy yang kerap maMpir ke rumahnya. Lama-kelamaan, mereka pun terlihat semakin akrab layaknya sahabat lama, meski di hati Randy tersimpan niat yang jauh lebih dari sekadar persahabatan.
Pagi ini pun sama seperti hari-hari sebelumnya. Randy sudah berdiri di depan pagar rumah Aldara, menenteng seikat bunga mawar merah dan sekotak sarapan hangat.
“Aku yakin dia pasti suka makanan ini. Ini kesempatan emas untuk perlahan merebut hatinya dari Aries,” batin Randy sambil tersenyum licik. Ia pun melangkah mendekat dan mengetuk pintu.
Tak lama pintu terbuka, menampakkan wajah Aldara yang baru saja selesai bersiap. “Randy? Kamu pagi-pagi sudah ke sini? Datang sama siapa?” tanyanya terkejut.
“Datang sendiri dong. Ini aku bawakan bunga dan sarapan, aku yakin kamu belum sempat makan pagi,” jawab Randy sambil menyodorkan bungkusan di tangannya.
“Terima kasih ya, seharusnya tidak usah repot-repot begini. Sebentar lagi juga ada yang datang membawakan makanan,” tolak Aldara halus namun tetap menerima pemberian itu.
“Tidak apa-apa, kita kan teman,” ucap Randy santai.
Aldara mengangguk pelan. “Cuma aku merasa tidak enak sama Siska. Takutnya dia salah paham kalau melihat kita sering berdua begini.”
“Aku tidak peduli soal itu,” jawab Randy Datar tanpa rasa bersalah.
“Ya sudah, duduklah sebentar. Aku buatkan minuman dulu,” ajak Aldara lalu masuk ke dalam rumah untuk menyeduh teh hangat.
Tak lama kemudian ia kembali menyajikan teh di meja teras. “Terima kasih ya,” ucap Randy sambil menyesap teh itu, namun matanya tak lepas dari kalung inisial A&A di leher Aldara. Ada rasa kesal yang menyelinap di hatinya melihat simbol kesetiaan itu.
“Ngomong-ngomong, Aries masih belum ada kabar?” tanyanya memancing pembicaraan.
Aldara mengangguk lemah. “Belum. Mungkin dia sangat sibuk atau memang di tempatnya tidak ada sinyal sama sekali,” jawabnya lirih berusaha meyakinkan diri sendiri.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Makanlah dulu, nanti kamu sakit kalau telat makan,” ucap Randy berusaha terlihat perhatian.
“Iya.” Aldara pun membuka kotak bekal itu dan menikmati isinya. “Wah, ini enak sekali. Sangat lezat,” puji Aldara tulus.
“Syukurlah kalau kamu suka,” jawab Randy tersenyum puas. Hingga kotak itu kosong tak bersisa, mereka mengobrol sebentar sebelum Randy bertanya rencana harian Aldara.
"Terus hari ini, Rencana kamu mau kemana?" Tanya Randy.
"Tidak kemana-mana, Namun sebentar malam aku akan kepesta teman soalnya mendapat undangan." Jawab Aldara yang diangguki Randy.
Ponsel Aldara berdering pertanda pesan masuk, Dan pesan itu dari Siska.
"Assalamualaikum, Kak Ntar malam kita bareng kepestanya ya kak, aku juga dapat undangan. Aku malu berangkat sendiri." Pesan dari Siska.
"Dari siapa?" Tanya Randy penasaran.
“Dari Siska, dia mengajak berangkat bersama nanti malam karena malu pergi sendiri,” jelas Aldara setelah membaca pesan itu.
“Oh begitu ya. Kalau begitu aku pamit dulu, Dar. Aku harus berangkat kerja sekarang,” pamit Randy dengan wajah yang tiba-tiba berubah suram.
“Iya, terima kasih makanannya ya,” ucap Aldara tulus.
Setelah kepergian Randy, Aldara masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat. Hari ini ia benar-benar tak ingin beranjak dari tempat tidur, hanya ingin beristirahat atau melanjutkan tulisannya. Namun setiap kali Ia menatap layar ponsel yang tetap sunyi, rasa kesal dan kecewa kembali meluap.
“Kamu ke mana saja sih? Kalau sudah bosan denganku, katakan saja! Jangan hanya pergi begitu saja tanpa kabar. Kalau memang sudah tidak mau, aku akan pergi sendiri tanpa perlu kamu usir. Kamu benar-benar menyebalkan,” gerutunya dalam hati, tangannya mengepal erat menahan emosi yang meledak-ledak.
“Aaaaahhh!” teriaknya pelan sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Kenapa aku bisa selemah ini padamu? Kalau laki-laki lain berani meninggalkanku, aku pasti sudah pergi tanpa menoleh lagi. Tapi kamu… kamu pengecualian yang entah mengapa aku tak sanggup tinggalkan,” isaknya pelan di tengah kesunyian kamar.