NovelToon NovelToon
A World Full Of Zombies

A World Full Of Zombies

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Petualangan / Misteri
Popularitas:130.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: umi Dila

Bercerita mengenai Alisya dan semua sahabatnya, berjuang melawan para zombie yang tiba-tiba saja menggegerkan kampus mereka, mereka berhasil keluar dari kampus tapi tidak sedikit pula yang menjadi monster itu (zombie). Apakah kami bisa menemukan tempat yang aman, melewati setiap rintangan dan juga konflik asmara? Penasaran dengan cerita selanjutnya. Ayo ikuti terus novelku yang berjudul "A World Full Of Zombies" 😄👍

Dan dukung aku dengan cara LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😊
Terimakasih 😊👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi Dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Kekompakan.

Kami terus berjalan mengikuti jalan yang sudah di beri tanda oleh abang Rasyid, terlihat pepohonan yang tinggi dan rindang disertai oleh kicauan burung terdengar seperti sedang menyambut kedatangan kami. Kami terus berjalan menanjak naik di jalan yang lebar dan kemudian berjalan di jalan yang mulai menyempit. Setapak demi setapak kami lewati saling berpegangan satu sama lain dan berjalan di akar pohon yang besar, semua barang-barang di bawakan oleh para lelaki sedangkan kami para wanita hanya membawa badan dan itu pun selalu meminta bantuan kepada para lelaki.

Kami terus berjalan melewati jalan yang semakin kecil, sebelah kanan dan kiri terdapat tanah dan rumput yang lebat yang membuat jalan kami menjadi sempit, kami berjalan di antaranya hingga melewati jalan tersebut. Terlihat pohon yang sangat besar dan tinggi melebihi pohon-pohon lainya yang berada di sekitarnya. Kami terus berjalan dan sesekali menanjak naik berjalan di akar-akar pohon, setelah melewati pepohonan yang rindang tersebut. Terlihat di hadapan kami ada bunga-bunga yang indah dan beberapa pohon yang kecil, kami sudah berada di alun-alun kecil.

Sedangkan di sebelah kanan kami terdapat jurang yang tidak terhalang oleh pepohonan, kami bisa melihat kearah bawah dengan sangat jelas dan semua terlihat sangat kecil. Walaupun kami belum sampai puncak bukit, tapi pemandangan ini sudah membayar perjuangan yang sudah kami lewati sebelumnya. Rasa letih sudah terganti dengan semangat yang besar.

Kami sudah melewati alun-alun kecil dan terus berjalan di rerumputan yang panjang dan sangat sedikit sekali pohon. Kalau sudah melewati alun-alun kecil tentu semakin dekat dengan alun-alun besar. Bukan hanya di luar sana yang mempunyai alun-alun, tapi bukit pun juga memilikinya (alun-alun yang berada di bukit seperti tanah yang sangat luas dan terdapat Padang rumput atau taman bunga.)

Kami terus berjalan dan terus berjalan tidak kenal lelah ataupun untuk berhenti sedikitpun, yang hanya di dalam pikiran kami cuma satu. Berjumpa dengan sanak saudara di puncak bukit, hanya itu yang kami kejar sekarang.

Setelah sudah melewati alun-alun kecil dan pepohonan, kami melihat begitu banyak bebatuan besar yang menghalangi jalan kami. Walaupun demikian kami terus berjalan di atasnya dengan sangat perlahan kalau salah melangkah akan mengakibatkan fatal.

Kami melewati bebatuan besar dengan sangat berhati-hati hingga berada di bebatuan kecil, dan sepertinya sekarang kami sudah memasuki alun-alun besar. Terlihat begitu banyak batu-batu kecil yang berada di setiap tempat, sampah makanan yang berserakan, kaleng-kaleng bekas di mana-mana, kayu bakar yang tersusun rapi seperti kayu yang dibuat untuk api unggun, dan terdapat mayat-mayat yang bergelimpangan. Batu yang sebelumnya berwarna abu-abu kehitaman sekarang menjadi berwarna merah darah, usus terurai dari perut hingga tergelatak di tanah dan batu, sedangkan tangan terlepas dari tubuhnya. Sepertinya sekolompok zombie telah menyerang tempat ini tadi malam.

Dengan spontan kami semua berlari mendekati mayat-mayat dan melihat satu persatu wajah mereka untuk memastikan apakah dari mayat-mayat tersebut terdapat wajah yang kami kenali. Tiba-tiba saja terdengar teriakan yang memanggil namaku dari balik batu yang sangat besar di antara batu-batu lainya, kami semua pun berlari kearah batu tersebut dengan memasang raut wajah yang sangat cemas dan terlihat Kirana sedang berdiri menghadap batu itu sambil tersenyum.

Aku mendekatinya dan melihat ada tulisan di batu tersebut dari tinta darah.

«Yang Tertulis.»

Kami mengira ini adalah tempat yang aman kami membuat api unggun yang sangat terang dan berpesta, bernyanyi dan menari membuat pesta semakin meriah. Di tengah-tengah pesta, tiba-tiba saja sekolompok zombie menyerang kami entah dari mana mereka berasal yang mengakibatkan pesta kami jadi terganggu, WKWKWKW. Jadi kami terpaksa meninggalkan tempat ini dan terus mencari tempat yang aman, Alhamdulillah semua selamat. Kita akan berjumpa di puncak bukit ya, Alisya. Teruslah berjalan dan berhati-hatilah. Tertulis abang Rasyid.

"Ini petunjuk yang kedua dari abang Rasyid, kita harus terus berjalan dan mengikuti tanda darinya," jelas ku sambil melihat kearah mereka semua.

"Oke..., ayo kita jalan lagi teman-teman. Aku sudah tidak sabar berjumpa dengan keluargaku." ajak Rizqi dengan penuh semangat.

"Bentarlah, we.... Capek kali aku loh. Minum kek atau makan dulu gitu," jawab Nita yang sangat capek sambil bersandar di batu besar.

Nia bersandar di sebelah Nita dan berkata, "iya, minum dulu kek kita. Haus kali aku loh, mintalah we minumnya."

Fikri berjalan kearah Nia sambil mengambil minum didalam tasnya dan berkata, "ini minumnya Tuan Putri," Fikri tersenyum menggoda.

Nia mengambil minum yang berada di tangan Fikri sambil tersenyum dan berkata, "terimakasih Pangeran."

"Cie, cie..." ucap kami serentak sambil tersenyum manis melihat mereka berdua.

Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan duduk di atas batu-batu kecil. Setelah beberapa saat kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, kami mulai bangkit dan berjalan. Tiba-tiba saja Nia menendang kaleng yang berada di bawahnya sehingga terdengar suara kaleng yang sangat berisik dan membuat kami semua menjadi kaget.

"Selo dikit kau jalannya, Niong. Bikin kaget kami saja ya," sahut Indah yang tepat berada di hadapan Nia.

"Nggak nampak aku, loh...!!" Nia melihat kearah kaleng dan berkata lagi, "kau pun bodoh kali, mau saja di tunjang bukannya minggir malah disitu kau. Kaleng, kaleng...!!" balas Nia sambil tertawa terbahak-bahak.

"WKWKWKW," kami semua pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Nia.

Aku mengambil kaleng yang berada di bawa kakiku dan berkata, "ini kaleng bagus juga. Untuk di letakan di sekitar tenda dan menjaga dari zombie dikala kita sedang beristirahat, kebisingannya memberi sinyal kepada kita kalau zombie datang," jelas ku kepada mereka semua.

"Betul juga itu," ucap Intan.

"Bagus itu idenya," balas Zulham.

"Seharusnya tuh... kalian berterimakasih ke aku, kalau bukan kerena aku sih, Alisya. Nggak bakalan punya ide semacam itu," ucap Nia sambil tertawa terbahak-bahak.

"Yang betul itu... Berterimakasih kepada kaleng, bukan sama kau, Niong," jawab Alwi sambil tertawa terbahak-bahak.

"WKWKWKW," kami pun mulai tertawa terbahak-bahak.

Kami semua pun tertawa sangat lepas dan semakin terbahak-bahak sambil duduk di atas batu-batu kecil. Wajah letih telah terganti keceriaan, capek pun sudah hilang bersama tawa yang telah terhembus oleh angin, teriknya matahari mengiringi langkah kami yang sedang mengambil kaleng-kaleng bekas, senyum dibibir masih terpancar seperti awan dengan setianya menghalangi dari kepanasan. Aku dan Nia sudah melupakan kejadian tempo hari di minimarket, kekompakan dan keceriaan ini membuat jarak di antara kami telah musnah malah persahabatan kami semakin erat. Nia menarik tanganku dan bersama-sama mengutip kaleng, aku sudah sangat yakin kalau Nia benar-benar sudah memaafkan aku.

Setelah kaleng-kaleng bekas sudah kami kumpulkan, kami pun mulai berjalan lagi dan memasuki pepohonan mengikuti jalan yang sudah di beri tanda oleh abang Rasyid. Langkah demi langkah yang menanjak naik terlihat pepohonan terus mengiringi jalan kami, disetiap pepohonan sudah di ukir tanda memanah ke depan kami terus mengikuti tanda itu.

* * *

Setelah sudah berjam-jam kami berjalan akhirnya menemukan sungai dan memutuskan untuk bermalam di sini. Sungai yang sangat panjang memiliki lebar kurang lebih sekitar 5 meter dan terlihat bebatuan kecil, arus yang pelan, dan air yang sangat jernih sehingga ikan-ikan pun terlihat. Tujuan kami masih sangat jauh, terlihat tanda di ujung sungai dari abang Rasyid. Yang tertulis.

«Yang tertulis.»

Serbangilah sungai ini, dan teruslah berjalan hingga menemukan petunjuk lainya, Alisya. Tertulis, abang Rasyid.

Semua barang bawaan pun di letakan di atas tanah dan kami pun membagi tugas untuk mencari kayu, mencari ikan, dan memasang tenda. Zulham, Kirana, Dea, Alwi, dan Intan bertugas memasang tenda. Fikri, Indah, Nia, dan Nasywa, bertugas mencari ranting kayu didalam hutan. Sedangkan Aku, Amel, Nita dan Rizqi, bertugas mencari ikan di sungai mengunakan tongkat kayu yang sebelumnya sudah digunakan untuk membunuh zombie (tongkat kayu sudah di cuci terlebih dahulu ya 😆). Rizqi sangat pandai mencari ikan di kampung halamannya, dan sekarang dia akan menunjukan bakatnya.

Dengan perlahan Rizqi berjalan mengendap-endap sambil menggenggam tongkat kayu runcing dan mengarahkannya ke ikan yang sedang berenang di dekat batu kecil, dengan sangat cepat tongkat kayu pun di lemparkan kearah ikan tersebut dan menancap di bagian tubuhnya hingga mengenai tanah yang berada didalam air. Sedangkan kami para wanita sedang berdiri di belakangnya sambil memegang kuali kecil, Rizqi pun menarik kayu tersebut dengan cepat terlihat ikan yang sedang bergoyang-goyang di ujung tongkat kayu runcing. Kami berempat pun berteriak kesenangan.

"Wow. BERHASIL," teriak Rizqi kesenangan.

"Wah...!! Rizqi hebat banget," ucap kami bertiga dengan serentak.

"Hebat aku kan, we...!!" kata Rizqi kepada kami bertiga sambil berpose sok keren.

"Iya lah tuh, yang sok keren," jawab kami bertiga dengan serentak sambil menyirami Rizqi dengan air sungai mengunakan kuali kecil yang sedang kami pegang. Rizki pun menyirami kami bertiga mengunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih memegang tongkat kayu runcing yang terdapat ikan besar.

Kami berempat pun tertawa sambil menyirami air ke wajah satu sama lain sambil tertawa terbahak-bahak, WKWKWKW.

Rizqi kembali mencari ikan di sungai, sedangkan kami lagi mencuci ikan sambil duduk di atas batu di tengah sungai. Terlihat Fikri, Nia, Indah, dan Nasywa, sudah kembali dari hutan dan ketiga tenda pun sudah berdiri tegak menghadap kearah sungai. Mereka yang berada di dekat tenda pun mulai membuat pagar dari kaleng bekas mengunakan kayu dan tali dari akar-akar kecil yang tergantung di pepohonan.

Setelah ikan-ikan sudah di bersihkan kami pun berjalan ke arah mereka semua yang sedang duduk mengelilingi api, ikan-ikan pun kami bakar di atasnya.

* * *

Tiga tenda yang sudah terpasang rapi menghadap kearah sungai dan di kelilingi oleh pagar kaleng bekas setinggi bahu, air sungai mengalir pelan, tercium aroma ikan bakar di sekitar tenda dan suara tawa yang ceria, asap putih menjulang tinggi ke langit, suara kicauan burung pun terdengar dari sekitar sungai, dan hembusan angin yang sejuk.

Beberapa cemilan dan minuman segar terletak di tengah-tengah kami, bersamaan dengan ikan-ikan yang sudah selesai di bakar yang berada di atas daun yang lebar. Tulang-tulang ikan kami kumpulkan di samping api yang sudah padam, sampah cemilan dan minuman pun di kumpulkan kedalam plastik hitam.

Dengan sangat lahapnya kami memakan ikan yang masih hangat, walaupun kami tidak memberi bumbu kedalam masakan tapi rasanya sanggatlah lezat dan segar, semua ikan kami habiskan tanpa tersisa sedikitpun. Karena ikan-ikan tersebut baru di ambil di sungai, Rizqi sangat pandai menangkap ikan yang banyak dan besar walaupun hanya mengunakan tongkat kayu runcing.

Hari pun semakin sore, setelah semua ikan sudah kami habiskan tanpa tersisa dan perut pun juga tidak sanggup untuk diisi lagi, barulah kami membersikan tempat tersebut. Plastik hitam yang sudah penuh dengan sampa tulang ikan dan sampah-sampah yang lain di letakkan di samping pohon yang berada di dekat sungai, setelah di sekitar tenda dan setumpuk kayu yang sebelumnya di buat untuk membakar ikan sudah benar-benar bersih barulah kami pergi ke sungai untuk mengambil wudhu.

Kami semua sholat berjamaah mengikuti arah matahari terbenam yang menyerong ke kanan, yang di pimpin oleh Fikri (imam), mukenah selalu kami bawa kemanapun kami pergi sedangkan para lelaki selalu membawa peci kemana pun mereka pergi, tapi kalau masih di perjalanan kami selalu sholat sendiri-sendiri didalam mobil.

Walaupun terjadi Wabah Zombie kami tetap beribadah karena itu adalah kewajiban. Kami bukannya anak yang terlalu sholeh dan sholeha, kami juga bandel sering keluyuran dan sering berbuat salah. Tapi sholat dan berbakti kepada kedua orangtua itu adalah wajib. Kami juga sering terlambat sholat, tapi tidak pernah absen sholat.

Setelah selesai sholat selimut yang Kami pakai untuk menjadi sajadah kami lipat dan di simpan kedalam tas kemping. Dan semua mulai bersantai kembali, ada yang didalam tenda, duduk di tepi sungai, melempar kerikil ke sungai, dan ada juga yang berbaring di atas tanah. Sedangkan aku lagi duduk di pintu tenda bersama Intan dan Amel.

Terimakasih ya sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel Thor 👍😄, kritik dan saran sangat diperlukan agar Thor lebih semangat lagi up episode terbaru. janagan lupa LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😁😉

Terimakasih 😊

1
aas
thor. ayo dong lanjutin 🤭 masih penasaran apa yg disembunyiin sama kak rasyid. sama kelanjutan alisya, fadli, fikri 😍
aas
hmmm kebenaran apa ya? 🤔🤔
aas
atuhlaaah masa si nia jadi jahat sih. 😔
aas
fikri apa fadli yaaaa. dua2nya sweet 😅🤭
aas
sama dong suka banget sama hal2 tentang zombie 🤭
alisya putri (akun ke 2)
Hay terimakasih untuk pembaca setia, maaf Alisya uda lama x ngak nulis di karenakan Alisya sudah tidak mau lagi nulis akibat akun Alisnya sebelumnya terhapus di ponsel lama dan tidak bisa masuk ke akun author, ada beberapa data yang terhapus (dokumen novel) dan ada beberapa hal lainya

dan InsyaAllah, sekarang sudah mulai aktif lagi nulis😁

do'a kan ya... semoga saja Alisya bisa nulis novel yang baik 🙏🥰
aas: lanjutin dong thor 🤭
total 1 replies
Z3R0 :)
yah sayang aku gak suka kaya gini Islam tapi bolehin pacaran hah serah Lu dah thor
Z3R0 :)
Hem bagus novelnya penulisannya pas gak berantakan nice lanjut kak aku kasih bunga deh
Juwina Wina
thor alisya nya kok lemah si jangan lemah dong thor pengennya pemeran utama tuh kuat
Hanya Seekor Rubah~
ngakak bacanya wkwkwk....😂
Li Permana
Semangat terus bekarya!
Santai Dyah
selalu mendukung
Santai Dyah
ceritanya bagus lanjut thor salam kenal dari Kabut cinta
boom like untuk karya terbaikmu
Rasmi Aprilia Atni
bagus banget ceritanya Thor. salam dari Cherry blossom in love 2🤗😘😍
Hiatus
Hi aku mampir ya. Jgn lp mampir jg ke tempatku dan tinggalkan jejak.
semangat trs menulisnya^^
Farrel18
Semangat Thor🤓
✨✿[Oliv_¥]✿✨
Mc Nya Perempuan Mestilah Di Baca Wkkwkwkww...
✨✿[Oliv_¥]✿✨
SEMANGAT ya Ka Umi Up Nya
Akan Ku Pantau Selalu Hehee,😉
dahe_
halo kak aku udh mampir semangat ✨
Isma Aji
Semangat 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!