NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Misterius

Mei Mei tersentak hebat saat sebuah tepukan halus namun terasa dingin mendarat di pundaknya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Dengan gerakan patah-patah menahan ngeri, Mei Mei menoleh ke belakang, mendapati sesosok yang dia kenal berdiri di sana.

Lin Jia sudah kembali memakai cadarnya yang sempat terlepas.

"No... Nona..." gumam Mei Mei dengan suara terbata-bata dan napas yang masih memburu. Jujur saja, dia masih sangat syok setelah menyaksikan kilatan demi kilatan pedang dan auman mengerikan beberapa saat lalu.

Lin Jia hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tenang seolah badai di sekitar mereka sama sekali bukan ancaman. "Ayo, kita lanjutkan perjalanannya," kata Lin Jia lembut namun tak terbantahkan.

Ia langsung melangkah maju, memimpin di depan. Di samping kanannya, sang Serigala Hewan Roh berjalan beriringan. Cahaya emasnya berkilau pelan, mata birunya yang tajam menatap awas ke sekeliling, mengikuti Lin Jia dengan kesetiaan mutlak.

Mei Mei menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri berusaha keras menetralkan degup jantungnya yang bertalu-talu. Setelah emosinya sedikit mereda, ia pun bergegas menyusul sang Nona agar tidak tertinggal.

Setiap jengkal langkah kaki mereka di dalam hutan itu diiringi oleh 'melodi' yang mengerikan: dentingan logam dan jeritan pilu. Itu adalah simfoni pertarungan para bangsawan yang tengah bertaruh nyawa demi menangkap dan menjinakkan Hewan Roh langka.

Namun, Lin Jia tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya lurus ke depan, mengabaikan sekitarnya, sampai akhirnya mereka tiba di bawah naungan sebuah pohon raksasa berdaun keemasan.

"Kita istirahat dulu di sini," kata Lin Jia seraya menyandarkan tubuh anggunnya pada batang pohon yang kokoh.

Mei Mei mengangguk patuh. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menyerahkan kantong kulit berisi air minum yang dibawanya sejak awal perjalanan. Lin Jia menerimanya dengan anggun.

"Terima kasih, Mei Mei," kata Lin Jia sebelum meneguknya perlahan.

Mei Mei kembali mengangguk. Matanya kemudian melirik takut-takut ke arah Serigala Roh yang kini sedang merebahkan diri di dekat kaki Lin Jia. Sambil memberanikan diri, Mei Mei berbisik, "Nona, aku rasa... memiliki Serigala Roh ini saja sudah lebih dari cukup. Kekuatannya sudah luar biasa. Menurutku, lebih baik kita segera kembali ke istana."

Lin Jia terdiam sejenak. Tatapannya menerawang jauh menembus rimbunnya dedaunan, namun kemudian ia menggelengkan kepala dengan perlahan.

"Apa ada peraturan tertulis bahwa satu orang hanya boleh membawa satu Hewan Roh di kompetisi ini?" tanya Lin Jia, membalikkan argumen dengan nada suara yang teramat tenang.

Mei Mei langsung menggeleng cepat. "Tidak, Nona... tidak ada aturan seperti itu. Tapi—"

"Kalau begitu... aku masih ingin melanjutkan petualangan di tempat ini," potong Lin Jia, melontarkan kalimat yang seketika membuat sepasang mata Mei Mei membola sempurna karena tidak percaya.

"Nona! Itu bukan ide yang bagus! Tempat ini sangat berbahaya!" seru Mei Mei panik, berusaha menyadarkan majikannya.

Lin Jia justru melangkah satu langkah lebih maju, mendekat ke arah batas semak-semak. "Justru karena sangat berbahaya, di situlah letak tantangannya," kata Lin Jia seraya menoleh, memperlihatkan senyum tipis misteriusnya yang khas.

Ia kemudian berjongkok di atas tanah yang lembap, mengulurkan tangannya yang putih mulus untuk mengusap lembut kepala Serigala Roh. Hewan Roh itu memejamkan mata, menikmati sentuhan sang tuan. "Jika orang lain yang mendapatkan mereka... Hewan-hewan Roh yang murni itu hanya akan berakhir terluka, disiksa, atau dimanfaatkan. Aku... hanya ingin membebaskan mereka."

Mei Mei memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri mendengar idealisme sang Nona. Ia benar-benar tidak habis pikir. "Sebenarnya... Nona ingin ikut pertandingan berburu ini untuk memburu dan memenangkan gelar, atau justru untuk menjadi penyelamat Hewan Roh?" Mei Mei menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, meratapi nasibnya sendiri.

Lin Jia tidak menjawab pertanyaan itu secara lisan. Ia hanya melemparkan senyuman yang penuh arti, sarat akan rahasia besar yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap saja. Baru beberapa menit suasana tampak tenang dan teduh di bawah pohon besar tersebut, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah drastis menjadi sangat mencekam. Angin seolah berhenti berembus.

Dari kejauhan, telinga tajam Lin Jia menangkap gesekan semak yang asing—suara sayup-sayup langkah kaki yang bergerak mendekat ke arah mereka.

Spontan, seluruh otot tubuh Lin Jia langsung menegak kaku, bersiap menghadapi bahaya baru yang mengintai dari balik kegelapan hutan.

Mei Mei dengan sigap langsung mengambil posisi di samping Nonanya. Di saat yang sama, Serigala Roh yang tadinya berbaring tenang kini bangkit, bulu kudunya berdiri tegak seraya mengeluarkan geraman lirih yang mengancam dari balik taringnya, bersiap penuh untuk menerjang bahaya.

Mata Lin Jia menyipit tajam. Pandangannya lurus menusuk ke balik rimbunnya pepohonan purba di depan mereka. Sebuah bayangan samar tampak bergerak goyah di antara remang hutan. Sampai tiba-tiba...

"To... tolong..." suara itu terdengar sangat lirih. Tersendat dan kurang jelas, namun sarat akan rasa putus asa dan permohonan yang mendalam.

Kewaspadaan yang membakar Lin Jia seketika berubah menjadi kebingungan yang membingkai wajahnya. Kakinya terayun hendak mendekat ke arah sumber suara, namun Mei Mei dengan cepat merentangkan tangan, menghalanginya.

"Nona, tunggu! Jangan gegabah. Bagaimana jika itu hanya jebakan?" bisik Mei Mei penuh kecemasan.

Lin Jia tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada bayangan itu. "Seperti ada yang aneh," gumam Lin Jia pendek.

Ia memilih mengabaikan peringatan Mei Mei. Didorong oleh rasa penasaran, Lin Jia melangkah semakin lebar menembus semak belukar. Mau tidak mau, Mei Mei dan Serigala Roh terpaksa mengikuti dari belakang dengan tingkat kewaspadaan yang semakin meninggi.

Begitu langkah Lin Jia semakin dekat dan menyibak dedaunan terakhir, sepasang matanya seketika membelalak sempurna.

Di atas tanah lembap, seorang pria dengan pakaian hanfu mewah yang kini sedikit kotor oleh debu dan noda tanah tampak merintih, meringis menahan kesakitan yang luar biasa.

Tanpa ragu, Lin Jia langsung mendekat dan berlutut di sampingnya. Pria itu tersentak, menoleh dengan mata yang menyipit lemah, mencoba memfokuskan pandangannya yang mengabur.

"Ja... jangan... mendekat..." bisiknya, mencoba mendorong diri menjauh walau tenaganya sudah terkuras habis.

Lin Jia segera memeriksa kondisi fisik pria tersebut secara cepat. Anehnya, tidak ada luka tusuk, sayatan, ataupun darah yang mengalir. Hanya butiran keringat dingin berukuran besar yang membanjiri wajah pucatnya. Dan juga warna kulitnya yang tampak memerah.

"Tuan, apakah Anda baik-baik saja? Tenanglah, aku akan membantumu," kata Lin Jia dengan nada tenang namun tegas.

Pria itu kembali menggelengkan kepalanya yang terasa berat. "Jangan..." lirihnya lagi, menolak bantuan dari orang asing.

Namun, Lin Jia bukanlah tipe orang yang mudah menyerah pada penolakan. Mengabaikan protes lemah tersebut, ia langsung meraih pergelangan tangan sang pria dan memegang urat nadinya. Tindakan tiba-tiba itu membuat sang pria tersentak kaget. Namun karena kondisinya yang teramat lemah, ia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau menarik tangannya kembali.

Lin Jia mengernyitkan dahi, merasakan aliran energi di dalam tubuh pria itu. "Nadinya... tampak normal sekali," katanya dengan nada heran, tidak menemukan tanda-tanda keracunan fisik ataupun luka dalam yang parah.

Tepat saat jemari Lin Jia menyentuh kulit pergelangan tangannya, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Aliran kehangatan yang tak kasatmata mengalir dari jemari Lin Jia, meresap ke dalam tubuh pria itu. Rasa sakit yang semula mencabik-cabik kesadarannya perlahan memudar, dan tubuhnya yang tadinya lemas tanpa daya berangsur-angsur membaik secara drastis.

Pria itu tersentak hebat karena terkejut. Matanya melebar menatap Lin Jia, sementara hatinya menjerit penuh ketidakpercayaan. 'Kenapa dengan tubuhku? Kutukan itu... bagaimana bisa. Tapi kenapa... napasku justru mulai teratur? Bahkan tanpa ramuan obat yang biasa aku minum... bagaimana mungkin ini bisa terjadi?'

Rasa penasaran juga berkecamuk di dalam diri Lin Jia. Untuk memastikannya kembali, Lin Jia berniat melepaskan cengkeraman tangannya. Namun, tepat saat jemari wanita itu mulai merenggang, pria itu justru membalikkan keadaan. Dengan sisa tenaga yang tiba-tiba pulih, dia mencekal pergelangan tangan Lin Jia dengan erat.

Lin Jia terkejut hingga napasnya tertahan, mata indahnya membelalak menatap pria di depannya. Meski begitu, entah mengapa dia tidak menghindar ataupun mencoba melepaskan diri dari cekalan tersebut.

Mata pria itu kembali melebar saat kulit mereka saling bersentuhan tanpa ada rasa sakit yang menyiksanya.

‘Wanita ini... dia bisa menyentuhku,’ gumam hati pria itu dengan debaran yang tak menentu.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!