Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sisi Lain Alex
Malam semakin larut. Suara jangkrik di luar mulai melemah, digantikan oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh embusan angin malam yang sesekali berhembus melewati celah jendela. Cahaya bulan purnama masih bersinar terang, menerangi kamar tidur Liora dengan siluet perak yang lembut.
Di atas sofa panjang di sudut kamar, Liora tertidur dengan lelap. Napasnya teratur dan pelan. Wajahnya yang masih muda tampak tenang, meskipun ada sedikit kerutan di alisnya—seperti mimpi buruk yang sesekali mengganggu tidurnya. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya sedikit tergeser, memperlihatkan bahunya yang tertutup daster krem.
Di atas tempat tidur utama, Alex tampak tertidur pulas. Namun, beberapa saat kemudian, matanya perlahan terbuka.
Bukan mata yang sayu dan mengantuk seperti tadi malam. Bukan tatapan polos seorang anak kecil yang baru bangun tidur.
Mata Alex terbuka lebar. Tatapannya tajam. Fokus. Dan sangat sadar.
Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan, lalu perlahan-lahan ia memutar kepalanya ke arah sofa di mana Liora tertidur. Dan begitu matanya menemukan sosok Liora, tatapannya berubah.
Bukan lagi tatapan polos yang biasa ia tunjukkan pada Liora. Tatapan itu berubah menjadi sesuatu yang sangat dalam. Obsesif. Posesif. Seperti seorang pria dewasa yang sedang menatap sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang menjadi miliknya, dan yang tidak akan pernah ia lepaskan.
Alex bangkit dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Gerakannya tidak tergesa-gesa. Ia melangkah tanpa suara, seperti seekor kucing yang mendekati mangsanya. Kakinya yang bertelanjang kaki menyentuh lantai kayu tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun.
Ia berhenti di samping sofa. Ia menunduk, menatap wajah Liora yang tertidur dari atas. Cahaya bulan jatuh tepat di wajah Liora, memperlihatkan bulu matanya yang panjang dan pipinya yang sedikit berwarna merah muda. Napasnya masih teratur. Ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Perlahan, Alex mengulurkan tangannya. Jari-jarinya yang besar dan kokoh bergerak dengan sangat lembut, seolah takut merusak sesuatu. Ia menyentuh pipi Liora, hanya menyelipkan ujung jarinya di kulit halus itu. Sentuhannya sangat ringan, hampir seperti bulu yang jatuh.
Liora tidak bergerak. Ia tetap tertidur lelap.
Alex tersenyum. Bukan senyuman polos Alex yang biasa. Ini adalah senyuman yang berbeda. Senyuman yang penuh arti. Senyuman seorang pria dewasa yang sedang melihat istrinya.
Lalu, matanya tertuju pada beberapa helai rambut Liora yang jatuh menutupi wajahnya. Dengan hati-hati, Alex menggeser rambut-rambut itu ke belakang telinga Liora. Jari-jarinya menyapu pelan, menyisir rambut Liora dengan lembut, seolah sedang merawat harta karun yang paling berharga.
Setelah rambut Liora tersingkap, Alex menunduk lebih rendah. Wajahnya mendekati wajah Liora. Ia berhenti sejenak, menatap bibir Liora yang sedikit terbuka. Lalu, ia menempelkan bibirnya di dahi Liora.
Sebuah kecupan ringan. Lembut. Dan penuh makna.
Setelah itu, Alex tidak berhenti. Ia berjongkok di samping sofa, lalu dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tubuh Liora dari sofa. Tangannya yang kuat dan kokoh—tangan seorang pria dewasa—memeluk tubuh Liora dengan erat namun tetap lembut. Liora tidak terbangun. Ia hanya mengerang sedikit, lalu kepalanya bersandar di dada Alex.
Alex membawa Liora ke tempat tidur utama. Ia menurunkan Liora dengan sangat perlahan di atas ranjang, lalu merebahkan dirinya di sampingnya. Dengan satu tangan, ia menarik selimut menutupi mereka berdua.
Kemudian, Alex memeluk Liora dari belakang. Lengannya melingkar erat di pinggang Liora, menarik tubuh Liora agar bersandar di dadanya. Wajahnya menempel di rambut Liora, ia mencium aroma sampo yang baru dipakai Liora.
Di dalam tidurnya, Liora merasakan kehangatan. Sebuah kehangatan yang asing, tetapi sangat nyaman. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak sedikit, membalikkan badan, dan ia membalas pelukan itu. Tangannya meraih lengan Alex yang melingkar di pinggangnya, lalu ia mendekatkan diri, bersandar sepenuhnya pada dada Alex.
Alex membuka matanya. Ia menatap wajah Liora yang menempel di dadanya. Kemudian, ia tersenyum lagi—sebuah senyuman smirk yang tipis, licik, dan penuh kemenangan.
"Itu dia, istriku," bisiknya, nyaris tidak terdengar. Suaranya sama sekali bukan suara anak kecil.
Kemudian, Alex menutup matanya, masih memeluk erat Liora, dan mereka tertidur dalam keadaan berpelukan sepanjang malam.
---
Pagi hari tiba. Cahaya matahari mulai merembes masuk melalui tirai jendela, mengubah ruangan dari gelap menjadi cerah. Suara burung berkicau di luar, dan ayam mulai berkokok di peternakan belakang.
Liora perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menusuk kelopak matanya. Tubuhnya terasa sangat hangat, jauh lebih hangat daripada saat ia tidur di sofa semalam. Ia merasa sangat nyaman.
Liora tersenyum kecil dalam tidurnya. Ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Sebuah lengan. Lengan yang berat dan kokoh. Dan di belakang punggungnya, ada dada yang luas dan hangat.
Liora membeku.
Ia membuka matanya sepenuhnya. Perlahan, ia menunduk, melihat lengan besar yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik seorang pria. Lengan itu milik Alex.
Liora menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak ingat pindah ke tempat tidur. Ia tidak ingat memeluk Alex. Yang ia ingat, ia tidur di sofa.
Dengan sangat perlahan, Liora menoleh ke belakang. Dan di sana, tepat di belakangnya, Alex masih tertidur. Wajahnya kembali berubah seperti wajah polos yang biasa. Mulutnya sedikit terbuka, dan napasnya teratur. Ia memeluk Liora seperti anak kecil memeluk boneka kesayangannya.
Liora menggigit bibirnya. Wajahnya memerah. Ia mencoba untuk melepaskan lengan Alex dari pinggangnya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Satu sentimeter demi satu sentimeter.
Akhirnya, tangan Alex terlepas. Liora segera berguling ke sisi lain tempat tidur, menjauh dari Alex. Ia bangkit dengan cepat, menatap Alex yang masih tertidur lelap tanpa sadar.
Liora menghembuskan napas panjang. Ia tidak tahu apa yang terjadi semalam. Yang ia tahu, pagi ini ia merasa sangat bingung.
Ia berjalan cepat menuju kamar mandi, menutup pintu, dan menatap dirinya di cermin. Wajahnya merah, dan rambutnya berantakan.
Liora membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia menggosok gigi, merapikan rambutnya, dan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih rapi.
Setelah ia selesai, ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuruni tangga menuju dapur, mempersiapkan diri untuk membuat sarapan seperti biasa.
Namun, ia tidak tahu bahwa di lantai atas, Alex sudah terbangun sejak tadi. Alex sudah bangun bahkan sebelum Liora membuka matanya. Ia berbaring di tempat tidur, menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu tersenyum tipis saat mendengar langkah kaki Liora menuruni tangga.
Matanya yang tajam mengikuti sosok Liora yang menghilang di balik tangga.
Dan Alex tersenyum lagi, senyuman yang tidak pernah dilihat Liora.
"Selamat pagi, istriku," bisiknya pelan. "Kau benar-benar spesial."
saling support sabi kali😉