Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 14 — Upacara Uji Spiritual bg. 5
Sorak-sorai dan bisikan hinaan masih terdengar riuh di sekitar panggung. Dari barisan murid, Qin Lian mengepalkan kedua tangannya erat-erat, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam sembari berdoa dalam hati agar pemuda yang jauh di depannya itu dapat membalikkan keadaan.
Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang meremehkan, telapak tangan Qin Mu menyentuh permukaan dingin Batu Uji Spiritual.
Swoosh.
Secercah cahaya biru yang sangat redup perlahan merembes keluar, seolah-olah batu tersebut hanya merespons energi yang sangat lemah dari seorang praktisi tingkat Penempaan Tubuh biasa. Reaksi tersebut langsung memicu gelombang tawa dari arah tribun penonton.
"Lihat itu! Sudah kuduga, dia tidak bisa melakukan apa-apa!" seru seorang murid junior dengan nada mengejek.
"Bahkan untuk memicu cahaya redup saja dia kesulitan. Sungguh memalukan bagi garis keturunan utama!" sahut yang lain.
Namun, di tengah gelak tawa yang semakin keras, sudut bibir Qin Mu terangkat membentuk senyuman tipis. Ia sengaja menahan energinya agar mereka merasa puas terlebih dahulu sebelum memberikan kejutan yang sesungguhnya.
Dalam sekejap, Qin Mu mengalirkan sebagian kecil kemampuannya yang sebenarnya dari dalam dantiannya.
BOOM!
Suara ledakan tumpul bergema di seluruh penjuru lapangan. Batu Uji Spiritual yang tadinya memancarkan cahaya redup tiba-tiba memuntahkan pendar biru yang sangat terang dan menyilaukan mata. Cahaya itu begitu pekat dan berat, memancarkan aura dingin namun mendalam yang menekan napas semua orang yang hadir di tribun.
Pendar biru yang menyala itu bukan lagi berada di tahap Penempaan Tubuh, melainkan standar kekuatan dari Ranah Spiritual Mendalam tahap awal.
Suasana di tribun seketika membeku. Tawa yang tadinya menggema terputus seolah ada yang mencekik leher mereka. Semua orang menatap batu tersebut dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Qin Lian menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru dan rasa takjub bercampur menjadi satu di benaknya.
"Mu'ge... Kau... meraih ranah Spiritual Mendalam?! Kau benar-benar berhasil!" batinnya penuh rasa syukur.
Di kursi kehormatan, ekspresi para tetua berubah drastis.
Patriark Qin Feiyan yang duduk di kursinya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jantungnya berdebar kencang karena rasa bangga yang luar biasa. Namun, terdapat rasa terkejut luar bisa yang tak bisa ia utarakan.
"Mu'er... Kau... Bakatmu sungguh..." batin Qin Feiyan, matanya tajam menatap Qin Mu yang berdiri kokoh di depan batu uji spiritual.
"Manual Kultivasi Menembus Batasan seharusnya hanya membantu mu sampai ke tahap kesempurnaan Pembentukan Fondasi. Namun kau meraih lebih jauh, bakatmu sungguh luar biasa Mu'er." lanjut Qin Feiyan dalam hati, guratan ekspresi bahagia tidak bisa ia sembunyikan dari wajah perkasanya.
Sementara itu, Tetua Pertama, Qin Xuanyu, dan Tetua Kelima, Qin Changin, saling berpandangan dengan tatapan penuh arti.
"Mu'er... Kau benar-benar menyembunyikan kemampuanmu dengan sangat rapat, atau..." batin Qin Xuanyu, rasa dingin menyelimuti matanya saat menyadari potensi besar yang selama ini diabaikan olehnya.
"Mu'er!? Kau... Meraih Spiritual Mendalam hanya dalam waktu kurang dari sebulan!?" batin Qin Changin.
Tetua Keempat sendiri tercengang, "Tidak salah lagi itu pancaran energi itu adalah pencapaian spiritual ranah Spiritual Mendalam!" gumamnya pelan melirik Qin Mu kemudian melirik Qin Feiyan dengan pikiran licik baru.
"Feiyan... Ini semua diluar dugaanku."
Di atas podium, pembawa acara sekaligus Tetua Kedua, Qin Chong, terlihat sangat terkejut hingga wajahnya memucat. Ia menatap batu tersebut dengan sorot mata yang dipenuhi rasa tidak senang. Perkembangan ini benar-benar berada di luar skenario yang telah ia susun bersama faksi Tetua Keempat.
Menyadari situasi yang mulai berbalik, Qin Chong segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan muka. Dengan suara keras dan tajam, ia menunjuk ke arah Qin Mu.
"Ini tidak mungkin! Pasti ada yang tidak beres!" seru Qin Chong dengan nada menuduh.
"Bocah ini pasti menggunakan metode curang atau jimat terlarang untuk memanipulasi Batu Uji Spiritual. Tidak mungkin seseorang yang sebulan lalu berada di tahap Penempaan Tubuh bisa mencapai Ranah Spiritual Mendalam secepat ini!"
Ucapan Tetua Kedua langsung memicu reaksi dari para penonton. Kerumunan yang tadinya terdiam mulai berbisik-bisik, terpecah menjadi berbagai opini.
"Benar juga, bagaimana mungkin dalam waktu satu bulan seorang yang dianggap sampah bisa melompati begitu banyak tahapan?" bisik seorang murid dengan nada curiga.
"Tetua Kedua mungkin benar. Pasti ada benda pusaka yang disembunyikan di dalam jubahnya."
Di tengah keriuhan yang mulai memihak pada kecurigaan tersebut, Qin Mu hanya menggelengkan kepala pelan. Ia menatap orang-orang itu dengan tatapan datar, merasa miris melihat bagaimana kepicikan dapat membutakan mata mereka dari kenyataan.
Saat itulah, sebuah raungan keras memecah keheningan lapangan. Patriark Qin Feiyan bangkit dari kursinya dengan aura yang menekan, melompat tinggi hingga berdiri tepat di samping putranya.
"Cukup, Qin Chong!" teriak Qin Feiyan dengan suara yang menggelegar, sarat akan kemarahan seorang pemimpin klan.
"Selama ini, aku telah memaklumi segala tindakan, hinaan, dan pembatasan sumber daya yang kalian lakukan terhadap putraku! Namun, sekarang ketika ia menunjukkan pencapaian yang sebenarnya, kalian masih tidak mau mengakui kenyataan ini!"
Sorot mata Qin Feiyan kemudian beralih dengan tajam ke arah Qin Chong dan Qin Zhang yang berdiri di barisan para murid junior.
"Kalian berbicara tentang kecurangan? Bukankah yang seharusnya dianggap curang adalah putra dari Tetua Kedua sendiri?" lanjut Qin Feiyan dengan senyum dingin.
"Kalian pikir aku tidak tahu dari mana energi semu itu berasal? Bukti nyata ada di dalam tubuh Qin Zhang yang mengonsumsi Pil Merah Banteng Api untuk menipu mata kita semua!"
Perkataan yang dilontarkan oleh Patriark begitu menohok hingga membuat bulu kuduk Qin Chong dan Qin Zhang berdiri. Wajah mereka memerah menahan malu sekaligus ketakutan.
Namun, sebelum faksi Tetua Kedua dapat memberikan pembelaan, Qin Feng, saudara dari Qin Zhang, melompat maju dan berteriak keras.
"Tidak mungkin! Itu fitnah!" teriak Qin Feng dengan wajah memerah karena marah.
"Kakakku adalah jenius sejati klan ini! Bagaimana mungkin seorang sampah seperti Qin Mu yang hanya berlatih menggunakan samsak pasir bisa meraih Ranah Spiritual Mendalam dalam waktu singkat? Jelas-jelas ini adalah kecurangan yang dibuat oleh Patriark untuk menyelamatkan muka putranya sendiri!"
Teriakan Qin Feng membuat suasana di lapangan kembali memanas. Anggota keluarga dan murid-murid mulai berpikir dua hingga tiga kali, bingung harus mempercayai siapa di antara kedua belah pihak.
Di tengah situasi yang semakin gaduh, Qin Mu melangkah maju. Ia mengangkat satu tangan, meminta perhatian, dan suaranya yang tenang memecah keributan.
"Jika kalian semua masih meragukan kemampuanku dan menuduhku menggunakan kecurangan, bukankah ada cara yang paling adil untuk membuktikannya?" ujar Qin Mu sambil menatap tajam ke arah Qin Zhang.
"Bagaimana kalau aku bertarung dengan Qin Zhang di arena? Dari sana, kita akan tahu siapa yang benar-benar menggunakan obat terlarang, dan siapa yang benar-benar memiliki kekuatan murni."