Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Di Kastil
Malam di kastil. Mereka tengah berada di bioskop pribadi. Menyaksikan film anime yang tengah hitz. Film tentang satu keluarga yang tinggal di sebuah hutan dan harus menghadapi monster penghisap darah.
Yuna berada di tengah di antara mereka.
Hanya selang lima belas menit, Leo sudah mulai mengendus-endus lengan Yuna, lalu merambat ke pundaknya, dan lebih merambat ke lehernya. Membuat kecupan lembut di sana. Yuna menoleh dan ciuman mendarat di bibirnya. Sangat sebentar, karena Yuna segera menghindar.
“Daddy, ada si kecil bersama kita,” bisik Yuna pelan. Dia menatap mata Leo dalam remang lampu layar lebar di depan.
“Dia fokus menonton, Mom,” jawab Leo, berbisik. “Kau menggodaku dari tadi siang dan jangan berfikir jika aku akan melepaskanmu,” lanjut Leo dengan langsung memasang selimut diatas tubuh Yuna.
Yuna segera menahan tangan Leo. “Bisakah kau menunda hukumannya sebentar?! Paling tidak, tunggulah sampai selesai menonton." Dia sangat hafal bagaimana Tuan suami dengan hukumannya. Laki-laki itu tidak akan pernah bercanda tentang keinginannya satu itu. Jiwanya selalu bergelora.
Leo tidak menjawabnya. Dia tetap mengendus leher Yuna. Menyusupkan tangannya ke dalam selimut, mengusap-usap perut Yuna yang sudah mulai buncit, kemudian tangannya bergerak keatas dengan cepat dan menangkap sesuatu yang ia inginkan.
Yuna mengigit bibirnya agar ia tidak bersuara. Tangan Leo bergerak teratur kebawah dan semakin kebawah.
“Daddy, hh,” Yuna menoleh kearahnya. Tatapan mata meminta ampun untuk tidak melanjutkan hukumannya saat ini.
“Kenapa, Sayang. Kau suka?” tanya Leo sengaja. Yuna menggeleng. Leo semakin menggodanya, dia menggerakkan tangannya, membuat Yuna mengigit bibir menahan suara.
“Mom, apa Mommy ketakutan?” tanya si kecil tiba-tiba. Leo dan Yuna membatu dengan cepat. Mereka diam dan menatap si kecil.
“Kenapa, Sayang?” tanya Yuna pada si kecil. Leo menatap putranya dan menunggu jawaban.
“Kenapa Mom menggenggam tanganku dengan erat?!” tanyanya polos. Dia berfikir jika monster di layar besar itu membuat Mommynya takut. Monster penghisap darah.
Yuna berkedip cepat mendengar jawaban si kecil. Sementara Leo langsung melihat ke arah tangan Yuna yang sungguh menggenggam tangan si kecil. Yuna juga langsung membawa pandangannya pada tangan kirinya. Dia mengendurkan genggaman tangannya.
“Oh, Mom merasa disini sangat dingin,” jawab Yuna memberikan jawaban kenapa dia sampai menggenggam tangan si kecil dengan erat.
Si kecil menatapnya. Tatapan mata yang tidak terlalu jelas karena didalam ruangan hanya ada cahaya dari layar lebar di depan. Namun dari gerak kepala dan getar suara Mommy, sepertinya Mom tengah berbohong. Apakah Mommy malu mengakui jika dia takut dengan monster penghisap darah? Batin si kecil.
“Ohh, dingin sekali,” ucap Yuna lagi. Dia sengaja mengambil tangan si kecil lalu menggosok-gosoknya. Ini untuk meyakinkan si kecil jika ia sungguh kedinginan. Sementara Leo tertawa kecil tanpa suara. Yuna kenapa sangat lucu sekali. Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak karena Yuna dengan tidak sadar menggenggam tangan si kecil dengan erat.
Sementara Yuna malu setengah mati. Rasanya dia ingin kabur saja dari sini. Bagaimana bisa dia tidak sadar jika ia menggenggam tangan si kecil. Fikirannya entah kemana, Leo membawanya terbang hingga tidak memberinya kesempatan untuk berfikir apapun selain ikut terbang bersama. Leo. Ya, Leo adalah orang paling bersalah atas kejadian ini. Dan dia bahkan tidak ikut menjelaskan sama sekali?!! Awas saja!! AWAS SAJA KAU DADDY.
Setelah memastikan si kecil kembali menonton. Yuna segera menoleh ke arah Leo, menatap pria itu dengan tajam. Laki-laki itu selalu siap untuk membalas tatapan mata indahnya.
“Aku tidak akan memaafkanmu,” ucap Yuna pasti dengan kekesalan. Dia langsung berpura-pura bersin setelah itu. Dia tidak memberi kesempatan pada Leo untuk menjawab.
“Sayang, kau disini bersama Daddy tidak apa-apa bukan?” tanya Yuna pada putranya. Si kecil tersenyum dan mengangguk.
Mendengar itu, Leo segera menangkap tangan kanan Yuna dan menggenggamnya erat. Tidak boleh begitu. Yuna tidak boleh pergi.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab si kecil. Jalan cerita semakin seru dan ia sangat penasaran.
Yuna mencium rambut si kecil. “Maaf tidak bisa menemanimu sampai selesai,” ucap Yuna. Si kecil mengangguk lagi, memaklumi.
Kemudian, tanpa menoleh Yuna menarik kasar tangannya dari genggaman Leo dan ia segera beranjak lalu keluar dari bioskop itu.
Yuna melangkah kesal menuju kamarnya dan ia menguncinya. Hampir satu jam kemudian, pintu kamarnya diketuk. Dan Leo melakukan panggilan telfon karena suaranya tidak akan terdengar jikapun ia bicara degan kencang.
Yuna memeluk gulingnya di dalam sana. Dia membiarkan ponselnya terus berdering. Disisi lain, Leo tidak patah semangat untuk terus menelponnya. Dia sungguh akan frustasi jika Nyonya benar-benar tidak mau membukakan pintu kamar untuknya.
Pada panggilan ke dua puluh, Yuna baru mengangkatnya. Leo menghembuskan nafas dengan lega.
“Sayang buka pintunya. Biarkan aku masuk” pintanya begitu panggilan terhubung.
“Kau ingin tidur di kamar?” tanya Yuna.
“Iya.” Leo mengangguk diseberang telfon.
“Oke. Kau di kamar dan aku di luar,” jawab Yuna ketus. Dia masih sangat kesal.
“Aku di kamar, kamu di kamar,” sahut Leo.
“Tidak,” Yuna menolaknya dengan tegas.
“Sayang ini malam terakhir di kastil, besok kita sudah kembali ke Ibu Kota. Tolong jangan marah,” ucap Leo. Suaranya rendah penuh permohonan.
“Aku tidak marah, aku hanya kesal padamu. Aku sudah bilang padamu jangan macam-macam saat kita bersama si kecil tapi kau tidak mau mendengarkan ku. Aku sudah memintamu untuk menahannya tapi kau malah menggodaku. Kau keterlaluan kau tahu!! Kau sangat menyebalkan. Hukuman katamu? Hhh, keterlaluan. Kau sangat gila jika itu tentang hasrat mu. Benar-benar gila dan kau sangat menyebalkan. Kau sangat, sangat, sangat menyebalkan Leo. Aku benci.”
Yuna benar-benar kesal pada Leo. Andai Leo tidak menggodanya, dia tidak akan melakukan hal bodoh dengan tidak sadar menggenggam tangan si kecil dengan erat.
Leo diam mendengarkan semua omelan Yuna. Dan saat wanita itu sudah diam dia berkata, “Iya aku salah, Mom. Aku minta maaf,” ucapan dengan suara yang penuh penyesalan. “Sayang aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku,” ucap Leo lagi dengan suara yang semakin teraniaya penuh penyesalan. Dan sungguh Yuna langsung meleleh.
Ini Leo yang pandai membujuk atau Yuna yang mudah memaafkan.
Yuna mengambil nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia beranjak dari kasurnya dan ia membukakan pintu.
Leo berdiri di depan pintu dengan kedua telapak tangan yang menguncup dan dengan pandangan mata yang imut. Dia sedang merayu.
Yuna menatapnya. Dia merasa meleleh seketika. Kenapa ada makhluk seindah ini. Dia kesal dalam hati karena gagal marah.
“Setelah ini, aku berdo’a pada Tuhan agar aku bisa marah yang lama padamu. Agar aku tidak mudah untuk luluh memaafkanmu dengan cepat,” ucap Yuna. Dia menatap Leo dengan tajam.
“Tidak boleh,” sahut Leo segera. “Tidak boleh berdo’a yang seperti itu. Kau harus selalu memaafkan ku dengan cepat.”
“Aku kesal saat aku kalah pada diriku sendiri. Aku ingin tetap marah tapi sebelah hatiku luluh padamu. Itu sangat menyebalkan, aku tidak suka diriku yang itu.”
Leo tersenyum mendengarnya. Senyum manis seperti anak-anak imut yang menggemaskan. Dia senang mendengar pengakuan Yuna. Yuna yang tidak bisa marah lama padanya.
“Kenapa kau senyum-senyum?” tanya Yuna galak.
“Kamu cantik,” jawab Leo. Dan ia langsung menangkap Yuna, membawanya ke atas ranjang mereka.
“Berjanjilah untuk tidak macam-macam saat kita bersama si kecil,” ujar Yuna memperingatkan Leo.
“Baik," jawab Leo patuh.
“Berjanjilah.”
“Iya. Aku janji.”
Leo merebahkan Yuna dengan hati-hati lalu langsung memeluknya.
“Janji dengan benar, jangan hanya di bibirmu saja. Sekarang kau berjanji, tapi saat kau berhasrat kau akan lupa pada janjimu.” Yuna mengomelinya lagi.
“Benar-benar janji, Mom. Tidak berani mengingkari,” ucap Leo. Dia tidak mau Yuna mengusirnya dari kamar, jadi ia menjawab dengan patuh.
Yuna menghela nafas dan memejamkan matanya.
“Sayang,” panggil Leo pelan. Tangannya mengusap-usap paha Yuna dan hidung mancungnya mulai mengendus aroma Yuna. Bibirnya menyentuh kulit halus leher Yuna.
Yuna menangkap tangan Leo. Membuat tangan itu diam dan tidak bergerak lagi.
“Kamu dihukum, Daddy,” ucap Yuna. Ia menyingkirkan tangan Leo dan ia segera membelakanginya.
Leo segera memeluknya dari belakang dan berbisik tepat di telinganya. “Ok. Malam ini kau yang menghukum ku, Momm.” Dan Leo langsung mendapatkan sodokan di perutnya.
“Mesum.”
Leo terkekeh. Dia mencium rambut Yuna dan memeluknya dengan hangat.
“Selamat tidur, Sayang,” ucapnya.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..