Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
#27
“K-k-ka-kalian…” Cetus Dokter Angga terbata tak percaya.
Bagas menanti kalimat selanjutnya, bibirnya tersenyum lebar penuh kemenangan, karena ia berhasil melompat selangkah lebih maju dari pria di hadapannya. “Kami resmi pacaran— lagi!” kata Bagas dengan lugas, tanpa meninggikan suaranya.
“Apa—” sahut Dokter Angga lemas.
“Papa— pacaran itu apa?” cetus Tiara tanpa terduga.
Pluk!
Dinda memukul lengan Bagas pelan, “Tuh, kan, makanya jangan ngomong sembarangan di depan anak-anak,” tegur Dinda kesal.
“Sorry, Sayang. Reflek.” Bagas menyeringai, ia tak marah ketika Dinda memberi perhatian pada Tiara, anggap saja gadis kecil itu adalah penghibur hatinya karena mereka belum menemukan Abel. Tapi jika pada papanya, huh! Jangan harap Bagas akan menyerah, sampai kapanpun akan ia kerahkan jutaan amunisi demi mengalahkan Dokter Angga.
•
Flashback tadi pagi.
Brak!
Dinda menutup pintu mobil Bagas dengan kasar, wajahnya cemberut karena pria itu terlambat datang menjemput. “Dari mana aja, sih?”
“Dari apartemen,” jawab Bagas santai.
“Bermalam di rumah kekasihmu?”
“Duh, Dinda kenapa kamu menanyakannya, sih?! Pertanyaan itu menyiratkan sesuatu, tahu, nggak?!” jerit Dinda dalam hatinya.
Bagas menghentikan tangannya, tadinya ia ingin segera tancap gas kembali ke rumah, karena pagi tadi Bi Sani menelepon, katanya Eyang sudah bangun dan menanyakan dirinya. Untung saja Eyang Tuti percaya ketika Bi Sani beralasan bahwa Bagas dan Dinda belum bangun, jadi Eyang juga enggan keluar lamar.
“Kamu cemburu?” tanya Bagas, lihatlah senyumnya, wajahnya yang kusut tiba-tiba berubah ekspresinya, bangga penuh kemenangan.
“Cih! Geer!” dengus Dinda, “Udah, buruan jalan!”
“Jawab, dulu pertanyaanku, kamu cemburu, kan? Kan? Kan?”
“Nggak,” jawab Dinda tanpa menoleh, malas sekali harus berdebat lagi, padahal mata mereka baru saja terbuka.
“Tatap mataku, dan jawab dengan benar!” pinta Bagas, serius.
Dinda menoleh, dan sangat terkejut karena wajah Bagas berada tepat di hadapannya. Tak ada yang bisa memungkiri ketampanan pria ini, termasuk Dinda. Apalagi dengan sifat dan sikapnya yang super duper ngeyel ingin rujuk, hati wanita mana yang tidak berbunga-bunga.
Tapi, kembali lagi, Dinda tak akan pernah bisa memenuhi salah satu keinginan Bagas yang ingin memiliki banyak anak darinya, karena itu adalah salah satu hal yang hilang akibat kecelakaan besar yang menimpanya beberapa tahun silam.
Tak hanya patah tulang dan cedera serius, dokter juga terpaksa mengangkat rahim Dinda yang rusak setelah kecelakaan, selain itu tulang pinggulnya juga bergeser akibat benturan keras.
Dinda terbaring koma untuk sementara, dan menjalani proses pemulihan panjang di salah satu rumah sakit besar di Singapura. Itu adalah salah satu bentuk tanggung jawab Dokter Angga, begitu totalitas tak main-main, karena menyangkut nyawa manusia.
Tiba-tiba
Cup
Bagas menciumnya tanpa aba-aba, pria itu tak memberi celah pada Dinda yang berusaha memberontak melepaskan diri.
“Mas!” jerit Dinda kesal, setelah berhasil melepaskan diri.
Bagas menyeringai senang, “Kamu tak bisa menjawab, artinya kamu masih menyimpan namaku di hatimu.”
Bagas benar, Dinda tidak pernah benar-benar bisa melupakan Bagas, ia hanya menyisihkan nama itu di sudut hatinya yang paling gelap, lalu berusaha untuk tidak pernah lagi menoleh ke tempat tersebut.
“Karena masih cinta, hari ini kita resmi pacaran.”
“Aku nggak mau.” Dinda kukuh menolak.
“Mau langsung menikah?”
“Mas!”
“Iya, Sayang, kamu mau mas kawin apa?”
Dinda melengos, tak menjawab, sebab apapun jawabannya selalu berhasil di belokkan Bagas ke tempat yang paling diinginkannya. Rujuk.
Flashback end.
•
Bagas menggenggam tangan Dinda, menempatkan jari-jarinya di sela-sela jari wanita itu.
“Mas apa-apaan, sih,” geram Dinda, sebab Bagas seolah sengaja menampakkan kemesraan di depan Dokter Angga, padahal ia belum benar-benar setuju untuk menjadi pacar pria itu.
Dinara yang sejak tadi melihat dari jarak cukup dekat, hanya bisa menahan senyumnya. Siapakah yang harus ia beri dukungan, sebab kedua pria itu sama-sama menyimpan perasaan mendalam untuk Dinda. Sama-sama ngeyel ingin membawa Dinda ke pelaminan, tapi siapa yang akan berhasil mewujudkannya? Hanya Tuhan saja yang tahu.
Akhirnya Dinara mengambil jalan tengah, ia mengajak Tiara menjauh dari keributan orang-orang dewasa itu.
Setelah Tiara menghilang di balik pintu, barulah Dokter Angga angkat bicara. “Apa benar itu, Dind?” tanyanya tak percaya, seribu persen ia tak percaya dengan ucapan Dinda, sebab ia tahu dengan jelas betapa terluka dan putus asanya Dinda hingga berdiri dengan perasaan bimbang di trotoar.
Berusa bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke mobil Dokter Angga yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi di tengah hujan deras malam itu.
“Ya, itu benar,” sahut Bagas, padahal baru saja Dinda membuka mulutnya. Pria itu maju hingga persis berhadapan dengan Dokter Angga.
Dinda terjebak di tengah, mungkin tak terlihat, karena kedua pria itu saling menatap tajam.
“Kamu cuma mantan! Bersamamu Dinda mengalami banyak kepahitan.”
“Kamu juga cuma orang baru yang tidak tahu apa-apa, tapi bersikap seolah kamu yang paling tahu segalanya. Jadi aku sarankan sebaiknya kamu mundur sebelum terlempar.”
“Kamu yang harus mundur!” Dokter Angga tak mau menyerah.
“Kamu!” Begitupun Bagas yang mulai menunjukkan keteguhan niatnya.
“Stop!”
Dinda menepis tangan Bagas, kedua matanya tajam mengawasi dua pria yang bersikukuh memperebutkannya itu.
“Kalian berdua sebaiknya kubur saja impian itu, karena aku berencana hidup sendiri, aku tak akan pernah menikah sampai kapanpun!”
“Hah! Hidup sendiri? Kenapa? Kan, ada aku.”
“Karena Dinda nggak butuh pria sepertimu, pria pengecut yang membiarkannya menangis sendirian di tepi jalan, hingga dia putus asa dan ingin—”
“Masa Angga, Stop!” cegah Dinda sebelum sempat pria itu mengatakan yang sesungguhnya. Dinda menggeleng pelan, seolah tak ingin Bagas mengetahui apa yang terjadi padanya malam itu di tengah hujan.
“Dind— apa yang terjadi?” tanya Bagas mulai khawatir.
Setelah kecelakaan itu, Dokter Angga dan Dinda adalah teman baik, pria itu rela menjadi tempat Dinda menumpahkan kesedihan serta rasa rindunya pada Abel. Mendengar keluh kesah Dinda, tangisan Dinda, curahan rasa rindunya, membuat Dokter Angga menyadari bahwa kesedihannya setelah istrinya meninggal tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan masalah yang dialami Dinda.
“Maaf, Mas. Aku dan Mas Bagas harus pergi,” pamit Dinda yang tak ingin memperpanjang masalah, terpaksa memilih pergi bersama Bagas.
Tak terkira senangnya hati Bagas, karena Dinda memilih pergi dengannya.
Dokter Angga hanya bisa pasrah menatap kepergian Dinda bersama pria kunyuk menyebalkan itu. Begitulah julukan Dokter Angga untuk Bagas, mantan suami Dinda.
•••
Di tempat lain, seorang pria tengah melenggang bersama seorang gadis yang usianya jauh lebih muda darinya. Selalu ada saja alibinya, alasan pekerjaanlah, memperkenalkan calon member barulah. Kepandaiannya dalam berkelit dan berkamuflase sudah sangat dihafal oleh istrinya.
“Pak, kita mau kemana?” tanya gadis itu, sepertinya dia masih polos, karena tak tahu kemana Igun membawanya.
“Cari pakaian baru, dong, masa kamu mau audisi jadi model pakaiannya itu-itu saja.”
“Lho, bukannya pakaian baru seharusnya diurus agency?”
“Siapa bilang, pakaian baru untuk audisi di luar agency harus pakaian pribadi milik calon model,” jawab Igun dengan tatapan genit, bahkan jari tangannya tak tinggal diam, ikut mencolek hidung dan dagu gadis polos itu.
Tanpa disadari pria itu, seseorang tengah mengawasi, lengkap dengan kamera profesional yang mengabadikan setiap langkah serta gerak-gerik Gunadi Kristanto, suami Btari Samudera.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss