NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️


Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.

Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.

Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.

Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.

Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !

Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.

bac

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Selisih Paham di Kantor

...Pagi itu, suasana kantor Arkananta Group terasa lebih dingin dari biasanya....

...Rania baru saja meletakkan laporan proyek yang dikerjakannya semalaman di atas meja Arkan....

...Matanya terasa pedih karena kurang tidur, dan kepalanya sedikit berdenyut. Ia berharap setidaknya ada ucapan terima kasih atau komentar positif, mengingat ia sudah berusaha keras....

..."Rania, masuk ke ruangan saya sekarang!" suara Arkan terdengar menggelegar dari interkom, membuat beberapa staf di luar ruangan menoleh ke arah meja Rania....

...Rania menarik napas dalam-dalam, menguatkan mental, lalu melangkah masuk....

...Begitu pintu tertutup, Arkan langsung melemparkan map biru itu ke atas meja dengan kasar....

..."Apa-apaan laporan ini?" tanya Arkan dingin, menatap Rania tajam....

...Rania tertegun. "Ada yang salah, Pak? Saya sudah memeriksanya tiga kali sesuai instruksi Bapak."...

...Arkan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Rania sambil menunjuk-nunjuk angka di halaman ketiga....

..."Di sini! Kamu salah memasukkan format data. Ini membuat seluruh kalkulasi di halaman berikutnya tidak valid. Kamu ini sekretaris atau bukan? Tugas dasar seperti ini saja tidak becus!"...

..."Maaf, Pak," suara Rania bergetar. "Kemarin Bapak bilang formatnya disesuaikan dengan data terbaru. Saya sudah mengikuti data yang Bapak berikan."...

..."Jangan membantah!" potong Arkan dengan suara tinggi....

..."Saya tidak mau dengar alasan. Kamu magang di sini untuk belajar, bukan untuk membuang waktu saya dengan laporan sampah seperti ini."...

...Arkan berjalan keluar ruangan, membuka pintu lebar-lebar, dan sengaja membiarkan semua orang di divisi itu mendengar....

..."Semuanya perhatikan!" seru Arkan kepada seluruh karyawan di ruang terbuka....

..."Ini adalah contoh laporan yang tidak kompeten. Saya tidak mau melihat kesalahan seperti ini lagi di divisi saya. Rania, kamu ulangi semuanya dari awal. Jangan pulang sebelum selesai!"...

...Rania berdiri mematung di depan mejanya, merasa wajahnya panas karena malu....

...Rekan-rekan kerjanya yang lain menatapnya dengan kasihan, namun tak ada yang berani bicara....

...Rania merasa dadanya sesak oleh rasa kesal yang luar biasa. Ia sudah berkorban waktu dan tenaganya, tapi Arkan justru memperlakukannya seperti orang yang tidak punya otak....

..."Baik, Pak," jawab Rania pelan, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya....

...Arkan kembali masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan keras....

...Ia sebenarnya merasa bersalah, tapi ia harus melakukan ini. Ia harus memperlakukan Rania seburuk mungkin agar kecurigaannya tentang kemiripan gadis itu dengan Milky bisa hilang....

...Kalau Rania adalah orang yang sama dengan pelayan yang ia sukai, maka Rania pasti akan melawan atau setidaknya terlihat tersinggung dengan cara yang berbeda....

...Di mejanya, Rania mulai mengerjakan ulang laporannya dengan jari yang gemetar karena marah. Pria sombong itu, batinnya....

...Dia pikir dia siapa bisa mempermalukan orang lain seperti itu? Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik, dan ini balasannya?...

...Saat jam istirahat tiba, Rania tetap duduk di mejanya, tidak beranjak sama sekali. Ia tidak lapar. Ia hanya ingin segera menyelesaikan laporan ini dan keluar dari kantor secepat mungkin....

...Tiba-tiba, pintu ruangan Arkan terbuka. Arkan berjalan keluar dengan santai menuju kantin, melewati meja Rania tanpa menoleh sedikit pun....

...Saat ia kembali, ia tidak membawa apa pun untuk Rania. Padahal, Rania ingat betul bagaimana bosnya itu sering membelikan kopi untuk asisten lain yang lembur....

...Ternyata dia benar-benar tidak punya hati, pikir Rania....

...Sekitar jam tiga sore, Rania memberanikan diri masuk ke ruangan Arkan lagi untuk menyerahkan revisi laporan....

..."Sudah selesai?" tanya Arkan tanpa melihat ke arah Rania....

..."Sudah, Pak," jawab Rania singkat, meletakkan dokumen itu di meja....

...Arkan memeriksa sekilas, lalu menutup map itu dengan keras....

..."Masih banyak yang kurang. Tapi ya sudahlah, untuk kelas kamu, ini sudah cukup."...

...Rania mencengkeram ujung roknya. "Bapak sengaja, ya?"...

...Arkan mendongak, menatap Rania dengan alis terangkat....

..."Maksud kamu?"...

..."Bapak sengaja mencari kesalahan saya," suara Rania mulai meninggi, ia tidak bisa menahan emosinya lagi....

..."Saya sudah lembur, Pak. Saya sudah berusaha teliti. Tapi Bapak selalu saja mencari-cari kesalahan yang bahkan bukan kesalahan saya. Apa sebenarnya mau Bapak?"...

...Arkan bangkit dari kursinya, berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menatap Rania dengan tatapan meremehkan....

..."Mau saya? Mau saya adalah sekretaris yang kompeten. Kalau kamu tidak mampu, silakan mengundurkan diri. Saya tidak butuh karyawan yang cengeng."...

...Rania terdiam....

...Rasa sakit hati yang dirasakannya berubah menjadi kemarahan yang dingin....

..."Bapak benar-benar bos yang paling menyebalkan yang pernah saya temui. Saya bekerja keras di sini, tapi Bapak tidak pernah menghargai usaha saya sedikit pun. Saya harap Bapak tidak akan pernah menyesali cara Bapak memperlakukan orang lain."...

...Rania berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan cepat. Ia tidak peduli lagi apakah Arkan akan memecatnya. Ia sudah tidak tahan....

...Arkan tertegun di dalam ruangannya. Ia mendengar pintu tertutup dengan keras. Ia duduk kembali, tangannya sedikit gemetar....

...Ia merasa sudah melangkah terlalu jauh. Tapi, di sisi lain, reaksi Rania barusan... itu adalah reaksi seseorang yang terluka, bukan reaksi seorang penipu yang sedang berakting....

...Apakah aku salah? pikir Arkan....

...Apakah dia benar-benar hanya sekretaris yang sedang berusaha keras dan aku baru saja menghancurkan mentalnya?...

...Arkan menatap meja kosong di depannya. Pikirannya kacau. Ia merasa menjadi pria yang sangat jahat....

...Ia hanya ingin membuktikan kecurigaannya, tapi yang ia lakukan justru menyakiti seseorang....

...Di meja kerjanya, Rania sedang membereskan barang-barangnya. Ia sudah memutuskan untuk pulang. Ia tidak peduli jika harus lembur. Ia tidak mau berada di satu ruangan dengan Arkan satu menit pun lagi....

...Saat ia berjalan menuju lift, ia berpapasan dengan rekan kerjanya....

..."Rania, kamu tidak apa-apa?" tanya temannya....

...Rania hanya tersenyum kecut....

..."Aku tidak apa-apa. Hanya sedang sial saja punya bos seperti dia."...

...Rania masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai dasar. Ia merasa marah, kecewa, dan sedih secara bersamaan. Ia benci Arkan. Ia benar-benar benci pria itu....

...Dia tidak akan pernah tahu, pikir Rania. Dia tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya aku. Dan kalaupun dia tahu, aku tidak akan pernah memaafkannya setelah apa yang dia lakukan hari ini....

...Di dalam lift yang sunyi, Rania menyeka air mata yang akhirnya jatuh juga....

...Ia berjanji pada dirinya sendiri, mulai besok, ia akan menjadi sekretaris yang super profesional. Ia tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi Arkan untuk mengkritiknya....

...Ia akan membuktikan bahwa Arkan salah tentang dirinya....

...Sesampainya di luar gedung, langit sudah mulai gelap....

...Rania menarik napas panjang, mencoba menghirup udara sore yang dingin. Ia harus segera berganti pakaian....

...Ia harus segera melupakan kejadian hari ini dan menjadi Milky....

...Milky tidak punya masalah di kantor, bisiknya pada diri sendiri....

...Milky adalah gadis yang ceria. Milky tidak marah pada siapa pun....

...Rania melangkah menuju tempat biasa ia berganti pakaian dengan langkah yang lebar dan mantap. Ia akan membalas Arkan dengan cara lain....

...Ia tidak akan melawannya secara terang-terangan di kantor, tapi ia akan membuatnya sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan sekretaris terbaik yang pernah ia miliki....

...Setiap langkah yang diambil Rania semakin menguatkan tekadnya. Ia tidak akan menangis lagi. Ia akan bangkit. Ia akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya....

...Arkan, di sisi lain, masih terjebak di ruangannya. Ia menatap dokumen yang ditinggalkan Rania tadi. Ia membukanya kembali. Laporan itu sebenarnya sangat sempurna....

...Tidak ada satu pun kesalahan di dalamnya....

...Ia baru saja menyadari kesalahannya. Ia telah mencari kesalahan yang tidak ada, hanya demi kepuasan logikanya sendiri....

...Ia telah mempermalukan gadis yang tidak bersalah di depan semua karyawan....

...Bodoh, umpatnya pada diri sendiri. Aku benar-benar bodoh....

...Ia meraih ponselnya, berniat menghubungi Rania untuk meminta maaf, tapi ia mengurungkan niatnya....

...Bagaimana ia bisa meminta maaf sebagai seorang CEO kepada sekretaris yang baru saja ia caci maki? Itu akan terlihat sangat tidak profesional....

...Arkan akhirnya bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kantor. Ia butuh udara segar. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya....

...Ia memutuskan untuk pergi ke tempat biasa untuk mencari ketenangan. Ke Dark Moon Maid Cafe....

...Rania, yang saat itu baru saja selesai berganti pakaian dan memakai wig cokelatnya, sedang melangkah menuju kafe dengan perasaan yang campur aduk....

...Ia masih merasakan sisa-sisa amarah di hatinya. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di depan pintu kafe, ia harus membuang semua itu....

..."Selamat datang, Tuan!" sapa Rania dengan senyum yang dipaksakan....

...Arkan baru saja masuk ke kafe saat Rania menyapanya. Ia menatap Rania atau Milky dengan tatapan yang sulit diartikan....

...Ada rasa bersalah yang terpancar dari matanya, tapi ia segera menyembunyikannya di balik wajah dinginnya....

..."Aku butuh meja VVIP," kata Arkan singkat....

..."Tentu saja, Tuan Besar! Silakan lewat sini," ujar Rania, tetap menjaga karakter Milky dengan sempurna....

...Saat mereka berjalan menuju ruang VVIP, Rania bisa merasakan tatapan Arkan yang terus tertuju padanya. Ia tidak peduli. Ia tetap berjalan dengan anggun dan senyum yang manis....

...Ia tidak akan membiarkan Arkan melihat satu pun jejak amarah dari kantor tadi....

...Sesampainya di ruangan, Rania menyajikan teh untuk Arkan dengan gerakan yang lembut. Arkan memperhatikannya dengan teliti....

..."Apa ada yang salah, Tuan?"...

...tanya Rania dengan suara yang lembut dan imut....

...Arkan terdiam sejenak. "Tidak. Tidak ada apa-apa."...

..."Tuan terlihat sangat lelah hari ini. Apa pekerjaan di kantor sangat berat?" pancing Rania, ingin tahu apakah Arkan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya tadi....

...Arkan mendongak, menatap mata Rania. "Ya. Sangat berat. Terutama karena ada karyawan yang tidak becus bekerja."...

...Rania tersenyum tipis....

..."Mungkin dia hanya butuh waktu untuk belajar, Tuan. Lagipula, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini."...

...Arkan menatap Rania lekat-lekat. Kata-kata itu terdengar sangat tidak asing....

..."Kamu benar. Tidak ada orang yang sempurna."...

...Rania kembali tersenyum....

..."Kalau begitu, jangan terlalu membebani diri sendiri, Tuan. Itu hanya akan membuat Tuan terlihat semakin tua."...

...Arkan tertawa kecil, sebuah tawa langka yang jarang sekali ia tunjukkan....

..."Kamu benar-benar tahu cara menghibur orang, Milky."...

...Rania senang bisa membuat Arkan tertawa, meski ia tahu pria itu baru saja menghancurkan harinya beberapa jam yang lalu....

..."Tentu saja, Tuan. Itu kan tugasku," jawab Rania manis....

...Arkan meneguk tehnya. "Milky, apa menurutmu seseorang bisa berubah dalam satu hari?"...

...Rania terdiam....

..."Menurutku, seseorang tidak berubah dalam satu hari. Tapi, mereka bisa menyadari kesalahan mereka dalam satu hari."...

...Arkan tertegun mendengar jawaban Rania....

...Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang lebih lembut....

..."Kamu benar. Terima kasih, Milky."...

...Rania tersenyum. "Sama-sama, Tuan Besar."...

...Malam itu, Rania merasa telah memenangkan permainannya. Ia telah menunjukkan kepada Arkan bahwa ia bukanlah sosok yang lemah....

...Ia adalah sosok yang bisa bertahan, bahkan di bawah tekanan yang paling berat sekalipun....

...Dan Arkan, meski ia belum tahu kebenarannya, mulai melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Milky....

...Sesuatu yang membuatnya merasa semakin penasaran....

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
yang banyak update nya 😉😉😉
Tya
bagusssssss bgttt
Tya
crazy up dong authorrrrrr😭🙏 gbisa bgt cerita sebagus ini ditunda2 buat dibaca😭
Watini Salma
kalau sekarang MLM Minggu berarti besok kantor libur dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!