NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Heroic Action

Di tengah asyiknya Lintang duduk diam mesam mesem menahan salah tingkah yang luar biasa brutal, suasana santai di sudut lapangan itu mendadak pecah.

Tepat di samping mereka, stan kelas 12 IPS 1 yang berdampingan dengan stan 12 IPS 2 tiba-tiba tampak miring ke kanan.

Suara-suara kepanikan langsung melengking membelah keramaian bazar.

"EEEHH, ITU MIRING ITUUU! TAHAN, WOY!"

"AWAS, AWAS! KELUAR, COY! KELUAR DARI TENDA!"

Situasi dalam sekejap berubah menjadi sangat heboh dan kacau.

Beberapa tiang besi penyangga stan kelas sebelah ternyata kurang kokoh menahan beban dekorasi yang terlalu berat.

KRETEK!

Besi penyangga itu patah. Stan kelas 12 IPS 1 roboh total, miring dengan cepat dan langsung menghantam stan kelas 12 IPS 2 seperti efek domino yang tak terbendung.

Stan kelas Lintang ikut miring ke kiri, lalu ambruk dengan kecepatan tinggi ke arah tempat duduk mereka berdua.

"LINTANG, AWAAAS!" teriak Zahiya histeris dari kejauhan.

"AAAAAAK!" Lintang berteriak histeris.

Karena syok dan tidak sempat melarikan diri, Lintang refleks langsung jongkok di lantai lapangan sambil menutup kepala dengan kedua tangannya.

Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan besi tenda yang akan menghantam tubuh mungilnya.

BRUK! BRAAAK!

Suara hantaman keras dari kain terpal tebal dan tiang besi yang roboh terdengar begitu menggelegar, memicu jeritan histeris dari seluruh penjuru lapangan.

Namun, rasa sakit yang Lintang bayangkan ternyata tidak pernah datang.

"ARKA?!" teriak anak-anak cowok kelas 12 IPS 2 dengan histeris.

Mereka semua membelalak hebat saat melihat Arka sama sekali tidak lari menyelamatkan diri.

Cowok itu justru melompat, memosisikan tubuh tegapnya tepat di atas tubuh Lintang yang sedang menjongkok.

Arka menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup untuk melindungi Lintang dari reruntuhan besi dan balok kayu dekorasi stan.

DUG!

Punggung kokoh Arka telak terkena hantaman kerangka bangunan stan yang ambruk.

Otomatis, tubuh Lintang ikut terdorong oleh posisi Arka yang melindunginya dari atas.

Posisi lintang yang jongkok berbuah sepersekian detik menjadi terduduk di lantai, membuat mereka berdua kini berada dalam posisi jatuh yang saling berhadapan sangat dekat.

Ruang di bawah reruntuhan kain terpal itu mendadak terasa begitu sempit dan kedap suara.

Kening Arka bertumpu pasrah di atas pundak Lintang.

Sementara kedua tangan kekar cowok itu bergerak protektif, menutup dan membungkus kepala Lintang erat-erat di dalam dekapannya agar sama sekali tidak tersentuh material yang jatuh.

"Lu... nggak papa?"

Suara berat, bariton, dan sedikit terengah itu terdengar tepat di dekat daun telinga Lintang.

Lintang membelalakkan matanya bulat-bulat sempurna dalam kegelapan di bawah kain terpal.

Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar.

Suara bising dari luar lapangan mendadak senyap, digantikan oleh suara detak jantung Lintang yang berdegup gila-gilaan, jauh lebih heboh daripada bunyi sound horeg mana pun di dunia ini.

"Woy, woy! Bantuin itu yang di dalem! Diriin lagi stan-nya! Angkat besinya!" teriak Zaenal, memberi komando dari luar terpal.

Murid-murid cowok langsung bergotong-royong mengangkat kerangka besi stan yang ambruk.

Untungnya, kerusakan stan tidak terlalu parah sehingga bisa langsung didirikan kembali dan diperbaiki agar posisinya jauh lebih kokoh dari sebelumnya.

Begitu tenda berdiri tegak lagi, anak-anak kelas 12 IPS 2 buru-buru merapikan kembali posisi barang dagangan mereka yang sempat berantakan.

Arka berdiri tegak, diikuti oleh Lintang yang tubuhnya masih gemetaran karena syok brutal.

Lintang menatap Arka dengan mata berkaca-kaca penuh kecemasan.

"Lu beneran nggak papa, Ka? Sakit nggak? Kalau sakit ke UKS aja, yuk. Biar diobatin, gue takut punggung lu kenapa-napa," cercah Lintang panik setengah mati. Jari tangannya bahkan sudah memegangi ujung jaket Arka.

"Sstt, gue gak papa," potong Arka pelan dengan suara tenangnya yang menghanyutkan.

Arka melirik sekilas ke arah wajah Lintang yang pucat, lalu menepuk pucuk kepala gadis itu sekali dengan gerakan sangat cepat-nyaris tak terlihat.

"Udah, benerin lagi raknya," ujar Arka datar, berusaha mengalihkan perhatian agar Lintang berhenti panik.

Lintang langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jantungnya kembali berulah berdegup kencang, kali ini bukan karena takut tertimpa besi, melainkan karena perlakuan super manis dari sang es batu.

Mereka berdua mulai menata kembali rak kayu mini tempat pajangan boneka kawat bulu.

Ajaibnya, rak kayu itu sama sekali tidak patah, dan sepuluh boneka beruang di dalamnya masih utuh tanpa cacat sedikit pun.

Namun, keributan stan ambruk dan aksi penyelamatan heroik Arka barusan ternyata sukses memancing perhatian lautan manusia di lapangan.

Banyak murid dari kelas lain, bahkan wali murid yang sedang lewat, sengaja berkerumun di depan stan 12 IPS 2 karena penasaran dengan objek yang dilindungi Arka mati-matian.

Mata seorang ibu-ibu wali murid berpenampilan sosialita mendadak tertuju pada barisan boneka kawat bulu di rak paling depan.

Tepat pada boneka beruang cokelat buatan Arka yang kepalanya paling miring bin penyok.

"Aduh, lucu banget ini! Ini boneka kawat bulu yang lagi viral di internet itu ya? Bentukannya unik banget, kepalanya estetik miring begini!" seru ibu-ibu itu heboh sambil mengangkat boneka abstrak buatan Arka.

Lintang yang melihat peluang emas langsung mengaktifkan mode jiwa bisnisnya.

"Iya, Tante! Itu produk limited edition murni buatan tangan cowok ganteng di sebelah saya ini! Filosofinya mendalam banget, melambangkan seni kontemporer!" cerocos Lintang lancar tanpa rem.

Arka yang mendengar bualan Lintang hanya bisa menarik napas panjang, pasrah.

"Aduh, saya suka banget yang unik begini! Berapa harganya, Neng?" tanya ibu tersebut, sudah merogoh dompet kulit mahalnya.

"Goceng aja, Tante! Lima ribu rupiah saja!" jawab Lintang semangat.

Ibu-ibu itu menggeleng cepat. "Aduh, karya seni begini masa cuma lima ribu? Nih, Tante bayar seratus ribu, Tante ambil beruang penyok ini sama beruang yang gemuk di sebelahnya ya! Gak usah kembalian!"

Ibu itu meletakkan selembar uang merah seratus ribu ke atas meja, menyambar dua boneka kawat bulu, lalu pergi dengan wajah puas.

Lintang melongo menatap uang seratus ribu di tangannya.

Ia perlahan menoleh ke arah Arka dengan mata berbinar-binar gila. "Ka... lu liat kan? Boneka juling buatan lu dihargai seratus ribu sama spek Tante Girang kaya raya!"

Arka melirik uang merah itu datar, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sangat tipis yang kali ini sengaja dia perlihatkan ke Lintang.

"Modal malming kita makin banyak," sahut Arka lempeng.

Detik itu juga, Lintang rasanya ingin pingsan di tempat karena tidak kuat menahan pesona ketampanan Arka yang baru saja tersenyum tipis di depan wajahnya.

APA KATA DIA?! MALMING KITA?!

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!