Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dua hari kemudian, sejak rencana bulan madu diputuskan, Gavin dan Dara berangkat menuju vila pribadi milik Sherly yang berada di tepi pantai. Rencananya mereka berada di sana selama seminggu. Sebenarnya Sherly menyuruh mereka menikmati masa berbulan madu selama dua minggu atau sebulan.
Sejak pagi, Gavin mengemudikan mobil dengan tenang. Jalan yang mereka lalui perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan hamparan pepohonan kelapa dan semak-semak hijau yang tumbuh di sepanjang pesisir. Semakin jauh dari pusat kota, suasana semakin sepi. Hanya sesekali terlihat kendaraan lain melintas dari arah berlawanan.
Dara yang sejak tadi duduk di kursi penumpang beberapa kali menoleh ke luar jendela. Rasa penasarannya semakin besar ketika samar-samar ia melihat garis biru di kejauhan.
"Aa," panggil Dara pelan, tatapan matanya tidak lepas dari sebuah pemandangan indah yang terhampar luas.
"Iya?"
"Itu lautnya, ya?" tanya Dara dengan penuh antusias.
Gavin melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Dara, lalu mengangguk. "Iya."
Senyum Dara terus mengembang lebar. Perlahan ia menurunkan sedikit kaca jendela mobil. Seketika angin laut berembus masuk, menerbangkan beberapa helai anak rambut di dekat pelipisnya. Aroma air laut yang khas langsung memenuhi udara di dalam mobil.
Dara memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang. "Harumnya berbeda," gumamnya pelan.
Gavin menoleh sekilas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat tingkah polos istrinya.
Beberapa menit kemudian, hamparan laut biru terlihat semakin jelas. Cahaya matahari memantul di permukaan air hingga tampak berkilauan seperti ribuan butiran kaca.
Mata Dara berbinar-binar. "Indah sekali!"
Dara benar-benar terpukau. Selama ini ia hidup di daerah perbukitan, kini ia melihat laut dari jarak sedekat itu.
Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah jalan kecil yang menanjak ke arah tebing.
Di ujung jalan berdiri sebuah vila megah bergaya Eropa klasik. Bangunannya didominasi dinding batu berwarna krem dengan jendela-jendela tinggi berbingkai kayu. Atapnya menjulang anggun, sementara tanaman rambat menghiasi sebagian dinding luar sehingga membuat bangunan tua itu terlihat begitu asri.
Meski usianya sudah lebih dari seratus tahun, vila itu tampak sangat terawat. Cat dindingnya masih bersih, taman bunganya tertata rapi, dan setiap sudut bangunan terlihat dirawat dengan penuh perhatian.
Begitu mobil berhenti di halaman, sepasang suami istri yang selama ini dipercaya menjaga vila langsung keluar menyambut mereka.
"Selamat datang, Den Gavin. Neng Dara," sapa Pak Budi ramah sambil membungkukkan badan sedikit.
"Terima kasih, Pak Budi."
Gavin membalas sapaan itu dengan sopan. Sementara Dara hanya tersenyum malu sambil mengucapkan salam.
Begitu turun dari mobil, langkah Dara langsung terhenti. Matanya terpaku pada pemandangan yang terbentang di depan vila.
Di balik pagar batu, laut biru membentang sejauh mata memandang. Deburan ombak terdengar jelas menghantam batu-batu karang di bawah tebing. Angin bertiup cukup kencang hingga membuat ujung rambut Dara berkibar.
Dara berdiri mematung. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Bukan karena lelah, melainkan karena ada perasaan aneh yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Perasaan yang sulit dijelaskan.
Tempat itu terasa asing. Namun, pada saat yang sama, juga terasa sangat akrab. Dara tanpa sadar mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangannya di dada.
"Aneh," gumam Dara lirih. "Aku seperti pernah berada di tempat seperti ini."
Gavin yang sedang menurunkan koper dari bagasi langsung menoleh ketika mendengar gumaman istrinya. "Dara?"
Dara menoleh. "Ada apa, A?"
Gavin maju beberapa langkah sehingga berhadapan dengan Dara. "Seharusnya aku yang tanya itu sama kamu. Ada apa?"
Dara terdiam sejenak. Lalu berkata, "Ini pertama kalinya aku datang ke pantai. Tapi, kenapa aku merasakan kerinduan sama pantai."
Perlahan Dara kembali mengarahkan pandangannya ke arah laut. Tatapannya kosong. Seolah sedang berusaha menangkap sesuatu yang nyaris muncul dari dasar ingatannya. Namun, bayangan itu kembali menghilang begitu saja. Hanya menyisakan rasa penasaran yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Gavin berjalan menghampiri istrinya. "Mungkin waktu masih kecil kamu pernah datang ke pantai," ucapnya lembut. "Tanpa sadar, kenangan itu tersimpan di dalam memori ingatanmu."
Dara mengangguk pelan. "Mungkin saja seperti itu."
Dara memejamkan mata, mencoba mengingat. Sedikit demi sedikit muncul kilasan yang sangat samar. Seorang pria dewasa mengangkat tubuh seorang anak perempuan kecil sambil tertawa. Seorang wanita berlari di atas pasir dengan senyum hangat. Suara ombak, langit yang cerah. Lalu ....
"Dara ...." Suara itu terdengar sangat lembut, penuh kasih sayang. "Dara, ayo ke sini!"
Kelopak mata Dara langsung terbuka. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun, tidak ada siapa pun.
"Aa."
"Iya?"
"Aku seperti mendengar ada yang memanggil namaku."
Gavin memandang istrinya beberapa saat. "Mungkin hanya perasaanmu saja."
Dara mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kilasan-kilasan itu adalah serpihan kenangan bersama kedua orang tuanya.
Kenangan indah seminggu sebelum keduanya meninggal dalam kecelakaan saat menjalankan tugas dinas. Kenangan yang selama bertahun-tahun terkubur jauh di dalam ingatannya.
sukses selalu utk kak author 🤗