NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah urusan dengan Pak Dadang benar-benar selesai dan dokumen pernyataan pelunasan utang serta persetujuan perceraian sudah ditandatangani, Samantha segera membawa Bu Lastri dan Suci meninggalkan rumah tua itu. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya beberapa pakaian penting yang sempat dikemas terburu-buru bagi mereka, yang terpenting saat ini adalah keselamatan dan kebebasan.

Samantha membawa mereka menuju sebuah hotel berbintang lima milik keluarganya, tempat yang aman, nyaman, dan terjaga kerahasiaannya. Sesampainya di sana, ia langsung meminta manajer untuk menyiapkan dua kamar tidur yang luas dan nyaman untuk mereka berdua sementara waktu.

“Bu, Suci, istirahatlah dengan tenang di sini. Anggap saja ini rumah sendiri sampai nanti kita menyiapkan tempat tinggal yang lebih layak untuk kalian,” ucap Samantha lembut saat mereka sudah berada di dalam kamar yang tertata indah itu.

Setelah memastikan mereka merasa nyaman, Samantha bersiap untuk pulang. “Saya pamit dulu ya, Bu, Suci. Sudah agak malam, nanti keluarga saya khawatir kalau saya belum sampai rumah.”

Sebelum melangkah keluar, ia kembali berpesan dengan ramah, “Kalau kalian butuh apa saja, entah itu makanan, minuman, atau keperluan lain, jangan sungkan untuk memesan ke layanan kamar. Cukup sebutkan saja pesanan dari saya, semuanya akan dipenuhi tanpa perlu khawatir soal biaya.”

Bu Lastri mendekat, menggenggam tangan Samantha erat-erat dengan mata berkaca-kaca. Air mata haru menetes di pipinya, dan ia mengucapkan berulang kali dengan suara parau penuh rasa syukur, “Terima kasih, Nak Samantha... terima kasih yang sebesar-besarnya. Kamu seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan kami. Entah dengan cara apa kami bisa membalas kebaikanmu yang luar biasa ini.”

Samantha tersenyum tulus, lalu mengusap punggung tangan wanita itu dengan penuh kasih sayang. Ia menggeleng pelan, lalu menjawab dengan lembut, “Bu, tidak perlu memikirkan balasan apa pun. Bu Lastri ini sudah saya anggap sebagai ibu kandung saya sendiri, dan Suci adalah saudara kandung saya. Sudah sewajarnya anak membantu ibunya, dan saudara saling melindungi satu sama lain.”

Mendengar kalimat tulus itu, hati Bu Lastri dan Suci terasa begitu hangat dan terharu. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan kasih sayang sedemikian rupa dari keluarga yang bahkan sebelumnya tidak pernah memiliki hubungan darah. Suci memeluk lengan Samantha dengan erat, merasa sangat bersyukur memiliki sahabat sebaiknya.

“Terima kasih, Sam... kata-katamu membuat hati kami merasa damai sekali,” ucap Suci dengan mata berbinar.

Setelah berpamitan dengan penuh kehangatan, Samantha pun melangkah keluar, meninggalkan mereka yang kini akhirnya bisa bernapas lega dengan perasaan aman dan damai untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.

Malam semakin larut saat mobil Samuel akhirnya melaju masuk ke halaman rumahnya yang luas dan sunyi. Hari ini terasa sangat melelahkan baginya, mulai dari urusan kantor, pertemuan yang penuh pemikiran, hingga perasaan rindu yang terus mengusik hatinya. Begitu masuk ke dalam rumah, ia meletakkan tas kerjanya dengan napas panjang, lalu berjalan menuju ruang makan.

Ternyata Bima sudah ada di sana. Anak itu duduk diam di kursi meja makan, menunduk memainkan ujung seragamnya, menunggu kedatangan ayahnya. Samuel melirik sekilas, melihat Bima masih mengenakan pakaian sekolah yang sudah kusut, rambutnya pun berantakan seolah baru saja pulang bermain tanpa sempat membersihkan diri. Biasanya Samuel akan menegurnya dengan tegas, namun malam ini kelelahan yang dirasakannya membuatnya hanya membiarkannya berlalu.

Samuel pun langsung duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Ia menyantap hidangan yang sudah disiapkan Bi Inah dengan tenang, menikmati makan malam itu bersama anaknya dalam keheningan yang panjang. Bima sendiri juga tidak berani membuka suara, hanya sesekali melirik ayahnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan rindu yang tak terucapkan.

Setelah makan selesai, Samuel meletakkan sendok dan garpunya perlahan. Ia tidak menambahkan piringnya lagi, karena niatnya sudah bulat: setelah ini ia ingin segera membersihkan diri dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaganya.

“Aku ke kamar dulu untuk mandi dan beristirahat,” ucap Samuel singkat sambil berdiri. “Kamu juga cepat selesaikan makan mu, lalu bersihkan dirimu dan segera tidur. Jangan begadang.”

Tanpa menunggu jawaban Bima, Samuel melangkah menuju kamar utamanya, meninggalkan Bima yang masih duduk sendirian di meja makan, merenungi suasana yang terasa begitu jauh meskipun fisik mereka berada di tempat yang sama.

Bima hanya diam terpaku, menatap punggung ayahnya yang perlahan menghilang di ujung lorong menuju kamar. Di matanya terpancar kepedihan yang mendalam. Sejak kepergian ibunya ke alam baka, ayahnya yang dulu ramah dan penuh senyuman kini benar-benar berubah menjadi sosok yang dingin, kaku, dan sulit didekati. Seolah ada tembok tinggi yang memisahkan hati mereka berdua, membuat Bima merasa kesepian meskipun tinggal serumah dengan ayahnya sendiri.

Bi Inah yang baru datang membawa nampan cucian piring, melihat pemandangan itu dengan pandangan yang penuh kesedihan dan belas kasihan. Ia sudah mengabdi di rumah ini bertahun-tahun, sehingga ia sangat mengerti perasaan ayah maupun anak. Perlahan ia mendekati Bima.

“Den Bima… kenapa duduk melamun sendirian?” tanyanya lembut.

Bima menoleh, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia bertanya dengan suara yang terdengar begitu rapuh dan penuh keraguan, “Bi… apakah Ayah sudah tidak menyayangi aku lagi ya? Sejak Ibu tiada, sepertinya Ayah tidak pernah lagi peduli padaku. Semua perkataannya selalu keras dan penuh amarah.”

Bi Inah tersenyum tipis penuh keikhlasan, lalu mengusap lembut kepala anak itu. “Jangan berpikir begitu, Den . Percayalah, Tuan Samuel itu sangat menyayangimu. Hanya saja, rasa kehilangan yang mendalam membuat hatinya tertutup rapat, dan ia belum menemukan cara yang tepat untuk menunjukkannya lagi. Di dalam hatinya, Aden tetaplah satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki di dunia ini.”

Mendengar penjelasan yang menenangkan itu, hati Bima terasa sedikit lebih lapang. Meski belum sepenuhnya hilang keraguannya, namun ia merasa sedikit lebih tenang. Ia pun mengangguk pelan.

“Terima kasih ya, Bi Inah… aku akan coba memahaminya,” ucap Bima pelan. “Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu, mau istirahat.”

“Silakan, Den . Ingat pesan tuan , den . jangan bergadang . Bibi tidak ingin mendengar Aden di marahi tuan Samuel ,” jawab Bi Inah. Bima mengangguk paham .

Bima pun berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya, membawa sedikit harapan baru di hatinya. Sementara Bi Inah hanya bisa menghela napas panjang berdoa dalam hati, semoga suatu hari nanti dinding dingin di antara ayah dan anak itu bisa runtuh kembali.

" kasihan , Den Bima . Harusnya di usianya masih mendapatkan perhatian dari orangtuanya ." gumam bi Inah . lalu bereskan sisa makanan di meja lalu membawanya ke dapur .

bersambung ,,,

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!