NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Setelah momen penuh perasaan itu berlalu, kesunyian yang elegan kembali menyelimuti ruangan.

Queen, yang kelelahan karena permainan yang ia mulai sendiri, akhirnya jatuh terlelap di atas daybed empuk di ruang istirahat pribadi Nial yang terletak di balik pintu rahasia ruang kerjanya.

Nial menatapnya selama beberapa saat. Jemarinya yang panjang merapikan helai rambut Queen yang menempel di dahi wanita itu karena keringat.

Ada kilat posesif yang jauh lebih dalam dari sekadar nafsu di matanya, meski ia sendiri belum bisa mendefinisikan perasaan asing itu.

Nial melangkah keluar, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, dan menemukan Rayden sedang berdiri kaku di depan pintu ruang kerja dengan wajah kaku.

"Rayden," panggil Nial dingin.

Rayden tersentak, lalu berbalik dengan tatapan memelas. "Tuan ... demi segala dokumen yang saya jaga, lain kali tolong pastikan pintu tertutup rapat."

Nial hanya menaikkan sebelah alisnya, ia paham apa yang dimaksud Rayden tapi sama sekali tidak merasa bersalah. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya—tempat yang beberapa saat lalu menjadi saksi bisu inisiatif Queen—lalu menuangkan segelas wiski tanpa es.

"Naikkan gajimu sepuluh persen bulan depan," ucap Nial santai.

Mata Rayden berbinar sekejap, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia melangkah mendekat, menurunkan nada suaranya. "Jadi ... Nona Queen. Dia benar-benar berbeda, bukan? Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi, saya belum pernah melihat Anda melakukan aktivitas lain di jam kerja."

Nial menyesap wiskinya, matanya menatap tajam ke arah pintu ruang istirahat yang tertutup. "Dia bukan sekadar 'berbeda', Rayden. Dia adalah anomali yang tidak ingin aku hilangkan."

Rayden tersenyum.

"Aku berniat menjadikannya kekasihku, bukan sekadar partner sementara."

Terkejut. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Rayden, langsung luntur seketika. Sebagai orang kepercayaan Nial, ia tentu ikut senang mendengar bosnya akhirnya berniat membuka hati dan memulai sebuah hubungan serius—sesuatu yang selama ini dianggap mustahil bagi sang Ice King.

Namun, terlepas dari rasa senangnya, ada sesuatu yang terasa janggal bagi Rayden. Instingnya sebagai tangan kanan pria paling berpengaruh di Los Angeles itu berdenyut tidak nyaman.

"Tuan," Rayden angkat bicara, suaranya berubah menjadi sangat serius. "Saya senang mendengarnya, tapi ... bukankah ini terlalu cepat? Kita bahkan tidak tahu identitas aslinya. Nona Queen muncul terlalu tiba - tiba, dia juga dikejar - kejar pengawal, dan menggunakan alasan 'barang pecah' yang menurut saya sedikit tidak masuk akal."

Nial terdiam, memutar-mutar gelas wiski di tangannya. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan dingin—mode predator bisnisnya kembali aktif.

"Aku tahu." Dari awal, Nial memang sudah merasa ada yang aneh dari cerita Queen. Hanya saja, ia belum berniat mencari tahu.

Nial meletakkan gelasnya dengan dentingan keras di atas meja. "Itulah sebabnya aku ingin kau melakukan tugasmu sekarang, Rayden."

"Tugas?"

"Selidiki latar belakang Queen. Semuanya," perintah Nial mutlak. "Cari tahu siapa dia sebenarnya, siapa keluarganya, dan kenapa dia dikejar - kejar pengawal malam itu. Aku ingin tahu setiap inci masa lalunya yang ia sembunyikan dariku."

Rayden mengangguk paham.

"Dan ingat!" Lanjut Nial. "Aku ingin laporannya sudah ada di atas mejaku sebelum matahari terbenam esok hari."

"Baik, Tuan." Rayden membungkuk hormat lalu melangkah pergi.

•••

Pukul empat sore, mobil mewah Nial meluncur membelah jalanan Los Angeles yang mulai memutih.

Di luar sana, butiran salju pertama musim ini turun dengan lembut, menempel di kaca jendela sebelum mencair perlahan.

Suasana di dalam kabin sangat sunyi, hanya ada suara deru mesin yang halus dan napas Queen yang terdengar berat.

Queen menempelkan keningnya di kaca jendela yang dingin. Matanya menatap kosong ke arah butiran salju itu. Pikirannya melayang jauh ke musim dingin tahun lalu di mana ia masih bisa tertawa lepas bersama para sepupunya, merencanakan liburan ke pegunungan Alpen tanpa beban.

Kini, semua itu terasa seperti mimpi dari kehidupan orang lain.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Ia merindukan rumah, namun ia membenci apa yang menunggunya di sana. Perjodohan dengan Tuan Armand terasa seperti hukuman mati yang digantungkan di atas kepalanya.

Sejak kabur, ia benar-benar memutus akses dunianya. Ponselnya mati total di dalam tas, kartu kreditnya tak berani ia sentuh sedikit pun karena ia tahu keluarganya bisa melacak posisinya dalam hitungan menit melalui transaksi apa pun.

Saat ini, ia benar-benar hanya memiliki Nial. Pria asing yang kini menjadi satu-satunya benteng pertahanannya.

Nial, yang sejak tadi menyadari perubahan suasana hati wanita di sampingnya, melepaskan pandangannya dari tablet kerja. Ia memperhatikan bahu Queen yang sedikit bergetar. Tanpa suara, Nial mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Queen yang terasa sedingin es.

Queen tersentak, lalu perlahan menoleh. Matanya yang sembab tak bisa membohongi Nial.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nial rendah. Nada suaranya tidak menuntut, justru terdengar tenang dan menenangkan.

Queen menghapus air matanya dengan cepat, mencoba memaksakan senyum yang gagal total.

"Hanya ... salju. Aku hanya teringat keluargaku."

Nial mengusap punggung tangan Queen dengan ibu jarinya, memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. "Kau merindukan mereka?"

Queen terdiam sejenak, menatap tautan tangan mereka. "Aku merindukan rumah, tapi aku takut untuk kembali. Keluargaku ... mereka adalah tipe orang yang menganggap segalanya adalah bisnis. Termasuk kebahagiaanku. Mereka ingin aku menjadi sesuatu yang bukan keinginanku, demi ambisi yang bahkan tidak aku pahami."

Ia bercerita dengan hati-hati, memilih setiap kata agar tidak membocorkan nama Arresta. Ia hanya menggambarkan rasa sesak karena ditekan oleh ekspektasi yang tinggi.

Nial mendengarkan dengan saksama. Tatapannya mendalam, seolah mencoba membaca apa yang tersirat di antara kalimat Queen.

"Kau tahu, Queen ... kau bisa menceritakan apa pun padaku. Jika kau merasa tertekan atau ada seseorang yang mengancammu, aku bisa membantumu. Aku punya cara untuk menyelesaikan masalah 'bisnis' seperti itu."

Jantung Queen berdegup kencang. Ia menatap Nial, dan untuk sesaat, ia nyaris menumpahkan segalanya.

Ia ingin berteriak bahwa pria yang tadi pagi duduk di ruang rapatnya adalah perwakilan dari keluarganya yang ingin menjualnya dengan alasan perjodohan. Ia ingin memohon pada Nial untuk melindunginya dari Tuan Armand.

Namun, logika segera menghantamnya kembali.

[Tidak, Queen. Jangan.] batinnya.

Ia teringat kontrak jutaan dolar yang baru saja ditandatangani Nial dengan Arresta Group. Jika ia mengaku sekarang, ia akan menempatkan Nial dalam posisi yang sangat sulit.

Nial adalah pemimpin Percy Group, dia bertanggung jawab pada ribuan karyawannya. Bagaimana jika ceritanya merusak kerja sama fantastis itu? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Nial—sebagai pebisnis—justru menganggap bahwa mengembalikannya ke keluarganya adalah cara terbaik untuk menjaga stabilitas bisnis mereka?

Queen menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan. "Terima kasih, Nial. Tapi biarkan aku menyelesaikannya sendiri untuk saat ini. Kau sudah terlalu banyak membantuku."

Nial tidak membalas. Ia hanya menatap Queen lama, sebelum akhirnya menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia membiarkan kepala Queen bersandar di dadanya yang bidang.

"Baiklah. Aku tidak akan memaksa," bisik Nial di puncak kepala Queen. "Tapi ingat satu hal. Di Los Angeles ini, tidak ada yang bisa menyentuhmu selama kau berada di sampingku. Siapa pun mereka."

Queen memejamkan mata, menghirup aroma maskulin Nial yang menenangkan. Ia merasa aman, namun di balik rasa aman itu, ada ketakutan yang semakin besar. Rahasia ini seperti bom waktu, dan ia hanya bisa berdoa agar saat bom itu meledak, Nial masih mau mendekapnya seperti sekarang.

•••

Dapur Mansion Nial, Pukul Tujuh Malam.

"Aduh!" Queen menjerit kecil, nyaris menjatuhkan pisau kecil di tangannya.

Ia menatap nanar pada siung bawang merah yang baru saja ia kupas. Bukannya bersih, bawang itu justru hancur berantakan di bawah tekanannya yang terlalu kuat. Matanya mulai terasa panas, perih yang menyengat akibat uap bawang mulai menyerang indra penglihatannya.

"Kenapa benda kecil ini susah sekali dikuliti? Dan kenapa baunya menyakitkan begini?" gumam Queen frustrasi.

Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, yang tentu saja adalah kesalahan besar karena sisa cairan bawang di tangannya justru membuat matanya semakin terbakar.

Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia mencoba fokus pada wajan di depannya, tempat kentang yang ia potong dengan bentuk tidak beraturan mulai mengeluarkan bunyi letupan yang mengancam.

"Oke, Queen. Fokus. Kau bisa melakukan ini. Kau hanya perlu ... ugh!" Ia berjengit mundur saat satu percikan minyak panas mengenai lengannya.

"Ternyata memasak jauh lebih sulit daripada memilih koleksi perhiasan limited edition."

Ia berdiri dengan posisi yang sangat canggung—badan condong ke depan untuk mengaduk, namun kaki siap melompat mundur sejauh mungkin. Bibirnya mengerucut, menahan tangis antara perih mata dan rasa payah yang menghantam harga dirinya.

Di sisi lain, Nial, yang baru saja selesai mandi, berjalan menuruni tangga. Ia mengenakan kaus rumahan santai dan celana training hitam, namun aura kepemimpinannya tetap terpancar kuat.

Langkahnya terhenti saat mendengar suara riuh yang tidak biasa dari arah dapur.

Ia berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan bahunya di kusen sambil melipat tangan di dada. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di wajahnya saat melihat Queen sedang berduel melawan sebuah wajan.

"Apa yang sedang kau lakukan?" suara bariton Nial memecah konsentrasi Queen.

Queen tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan spatulanya. Ia menoleh dan mendapati Nial sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Maaf, Nial. Aku ... tadinya aku berpikir ingin memasakkanmu sesuatu untuk makan malam, tapi aku ... aku ternyata tidak tahu cara memulainya dengan benar," Queen merasa benar - benar tidak berguna; tidak bisa bekerja di rumah, dan sekarang bahkan gagal di dapur.

Nial tidak menjawab dengan kata - kata. Ia melangkah mendekat. Tanpa ragu, ia berdiri di belakang Queen, tangannya terulur untuk melepaskan ikatan celemek dari tubuh wanita itu.

Sentuhan jemari Nial yang dingin di pinggangnya membuat jantung Queen berdegup liar.

Nial mengambil spatula dari tangan Queen, lalu menuntun bahu wanita itu menuju kursi di meja makan pulau (kitchen island).

"Duduklah di sini. Biar aku yang mengambil alih," ucap Nial rendah namun mutlak.

Queen terdiam, terpaku menatap punggung tegap Nial yang kini mulai bergerak lincah di depan kompor. Ia benar - benar terharu. Dalam berbagai artikel bisnis yang pernah ia baca, Nial Percy digambarkan sebagai pria yang menghargai waktu lebih dari apa pun.

Waktunya bernilai jutaan dolar per detik, namun sekarang, pria itu justru meluangkan waktu berharganya hanya untuk memanggang steak untuknya.

Queen memperhatikan setiap gerakan Nial. Cara pria itu membumbui daging, mengatur suhu api, hingga membolak - balik steak dengan gerakan yang begitu cekatan dan artistik.

Di matanya, Nial tampak begitu sempurna—pria yang memiliki segalanya namun mau melakukan hal sederhana seperti ini.

Pikiran Queen pun melayang. Di tengah ketidakpastian hidupnya, terselip sebuah keinginan kecil: memiliki seseorang yang benar - benar mencintainya dan rela melakukan apa pun untuknya.

"Nial..." panggil Queen spontan, suaranya memecah keheningan yang diisi bunyi desisan daging di atas pan.

"Hm?" sahut Nial tanpa menoleh.

"Apa kau tidak pernah terpikir untuk menikah?"

Tangan Nial yang sedang memegang penjepit daging sempat terhenti sejenak. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mematikan kompor.

Nial berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepian meja dapur sambil menatap Queen dengan pandangan datar yang sulit dibaca.

"Tidak," jawab Nial singkat. "Menikah itu rumit. Aku lebih suka segala sesuatunya berjalan fungsional tanpa status yang mengikat secara permanen."

Jawaban itu menghantam Queen tepat di ulu hati. Senyum kecil yang tadi sempat terbentuk di bibirnya perlahan memudar.

Sekarang ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengharapkan masa depan atau tempat berlindung selamanya dari pria seperti Nial.

"Ya ... itu masuk akal," gumam Queen dengan suara yang dipaksakan tetap stabil.

Nial hanya menatapnya sebentar sebelum memindahkan steak yang sudah matang ke piring.

"Sudah selesai, ayo makan."

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!