Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pria tua berjubah putih itu melangkah santai. Tongkat kayu cendana di tangannya mengetuk tanah pelan.
Tok... tok... tok...
Warok tidak mencabut goloknya, tetapi seluruh otot di tubuhnya menegang keras.
"Sudah puluhan tahun..." ucap Warok pelan. "Tidak ada seorang pun yang memanggil nama guruku."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Karena hampir semua orang yang mengenalnya sudah mati."
Jangkrik memperhatikan wajah gurunya. Ia belum pernah melihat Warok setegang ini.
"Warok..."
Warok mengangkat tangan. "Diam."
Jangkrik langsung menutup mulutnya.
Pria tua itu memandang Jangkrik cukup lama. "Jadi... inilah murid yang kau pilih."
Warok melangkah setengah langkah ke depan, menghalangi pandangan pria tua itu. "Kalau ada urusan, bicara denganku."
Pria tua mengangguk. "Tentu. Aku memang datang mencarimu."
Pendekar bertombak dan Bayu saling berpandangan. Keduanya cukup berpengalaman untuk menyadari bahwa mereka sedang berada di tengah pertemuan yang bukan urusan mereka.
Bayu berkata pelan, "Sepertinya kita sebaiknya pergi."
Warok menggeleng tanpa menoleh. "Jangan. Kalian sudah melihat wajahnya. Kalau sekarang pergi, belum tentu kalian selamat."
Kedua lelaki itu langsung membeku.
Pria tua berjubah putih tertawa kecil. "Masih setajam dulu."
Warok bertanya singkat, "Siapa yang mengirimmu?"
Pria tua menghela napas. "Tidak ada. Aku datang atas kemauanku sendiri."
"Lalu untuk apa?"
Pria tua memandang langit sesaat. "Kau masih ingat malam ketika Perguruan Harimau Putih dibakar?"
Jantung Warok seolah berhenti sesaat. Jangkrik menangkap perubahan napas gurunya. Meskipun hanya sekejap, ia tahu pertanyaan itu mengenai titik paling dalam di hati Warok.
Warok menjawab dengan suara berat, "Aku ingat."
Pria tua mengangguk. "Bagus. Berarti kau juga ingat siapa yang selamat malam itu."
Warok tidak menjawab, tangannya perlahan mengepal.
Jangkrik menatap gurunya dengan bingung. Selama bertahun-tahun, Warok tak pernah sekalipun menceritakan tentang gurunya maupun perguruannya. Kini, masa lalu itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Pria tua itu tersenyum. "Ki Brantas memiliki tiga murid. Satu mati, satu menghilang, dan satu lagi berdiri di depanku."
Jangkrik menoleh kepada Warok. "Warok... kau punya saudara seperguruan?"
Warok tetap membisu.
Pria tua melanjutkan, "Yang menghilang itu... akhirnya kembali."
Kalimat itu membuat mata Warok menyipit tajam. "Di mana dia?"
Pria tua mengangkat tongkatnya, lalu menunjuk ke arah utara. "Di sana. Dia sedang mengumpulkan semua bekas murid Perguruan Harimau Putih."
Warok mendengus. "Untuk apa?"
Pria tua tersenyum tipis. "Balas dendam."
"Pada siapa?"
Pria tua memandang lurus ke mata Warok. "Pada orang yang membakar perguruan."
Suasana mendadak kaku dan mencekam. Jangkrik merasa ada sesuatu yang janggal. Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang hidup demi dendam. Ternyata, Warok pun menyimpan luka yang sama.
Namun sebelum Warok sempat berbicara, telinga Jangkrik menangkap suara yang sangat pelan.
Sret...
Daun bergesekan. Bukan satu arah—dua, tiga, empat.
Ia memejamkan mata, menghitung.
"...enam..."
"...delapan..."
"...sepuluh..."
Matanya langsung terbuka. "Warok! Ada orang!"
Warok tidak menoleh. "Berapa?"
"Dua belas!"
"Hampir," Warok menggeleng pelan. "Lima belas."
Belum selesai kalimat itu, belasan sosok berpakaian hitam bermunculan dari balik pepohonan. Mereka berdiri membentuk lingkaran besar. Tidak ada satu pun yang berbicara. Masing-masing mengenakan topeng hitam bergambar paruh gagak.
Di tangan mereka tergenggam berbagai senjata: golok, tombak, rantai, hingga busur.
Di antara mereka, seorang pria bertubuh tinggi melangkah ke depan sambil membawa tongkat hitam berukir kepala gagak.
Pria tua berjubah putih menghela napas panjang. "Terlambat... Mereka ternyata mengikuti langkahku."
Pria bertongkat itu membuka mulutnya. Suaranya berat dan dingin.
"Warok. Kali ini... kau tidak akan pulang hidup-hidup."
Lima belas orang bertopeng membentuk lingkaran rapat. Tidak ada satu pun yang gegabah melangkah; mereka semua menjaga jarak seolah memahami bahwa lawan di hadapan mereka bukan pendekar biasa.
Warok menyapu mereka dengan pandangan datar. "Empat belas..."
Jangkrik mengernyit. "Warok?"
Warok menunjuk pria bertongkat di depan. "Yang itu bukan anak buah. Dia pemimpinnya."
Pria bertongkat tersenyum tipis. "Penglihatanmu masih setajam dulu."
Warok menggeleng. "Bukan penglihatan, tapi kehadiranmu jauh lebih berat daripada mereka."
Jangkrik diam-diam mengamati. Ia mulai memahami pelajaran gurunya: bukan pakaian atau senjata yang menunjukkan kekuatan seseorang, Namun cara ia berdiri dan menguasai suasana.
Pria bertongkat mengangkat tongkat hitamnya. "Aku tidak datang untuk berbincang."
Warok menjawab singkat. "Aku juga."
Suara tongkat menghantam tanah.
Tok!
Dalam sekejap, lima belas orang itu bergerak bersamaan. Tanpa teriakan, tanpa aba-aba, mereka menyerang seperti kawanan serigala yang telah berlatih bertahun-tahun.
"Dua di kiri!" teriak Jangkrik. Warok tidak bergerak.
"Tiga di kanan!" lanjut Jangkrik. Warok masih diam.
"Lima di depan!"
Saat itulah Warok melangkah—hanya satu langkah. Goloknya keluar dari sarung.
Srak!
Kilatan baja melintas begitu cepat hingga mata Jangkrik kehilangan jejaknya.
Trang! Trang! Clang!
Lima senjata terpental ke udara bersamaan. Lima penyerang terdorong mundur beberapa langkah, telapak tangan mereka bergetar hebat.
Jangkrik membelalakkan mata. Warok sama sekali tidak melukai mereka, ia hanya mematahkan irama serangan lawan.
"Perhatikan baik-baik," ucap Warok tanpa menoleh. "Kalau dikeroyok, jangan lihat senjatanya. Lihat langkah kakinya."
Belum sempat Jangkrik mencerna ucapan itu, empat penyerang lain menyelinap dari belakang.
Bayu berteriak, "Belakangmu!"
Warok memutar tubuh, bukan dengan golok, melainkan dengan cambuk Samandiman.
Pletarrr!
Ledakan cambuk mengguncang udara. Empat orang itu langsung melompat mundur sebelum ujung cambuk menyentuh tubuh mereka. Salah seorang dari mereka terlambat; ujung cambuk menggores lengan bajunya.
Bres!
Seluruh lengan baju itu robek hingga ke bahu, disertai kulit yang ikut terkelupas. Pria itu menjerit sambil memegangi arm-nya yang berdarah.
Jangkrik menarik napas panjang. Ia baru sadar Warok masih menahan diri. Jika cambuk itu benar-benar mengenai leher, kepala orang itu mungkin sudah terpisah dari raga.
Pemimpin bertongkat memandang anak buahnya. "Lingkaran kedua."
Delapan orang segera mengubah formasi. Kini mereka tidak menyerang sekaligus, melainkan bergantian masuk dan mundur untuk memaksa Warok terus menguras tenaga.
Jangkrik mulai memahami taktik lawan. "Mereka ingin menguras tenaga Warok..." gumamnya.
Warok tersenyum tipis. "Tepat. Itulah cara membunuh orang yang lebih kuat."
Namun sesaat kemudian, suara pria tua berjubah putih memecah suasana.
"Warok! Mereka bukan target utamanya!"
Warok langsung menoleh. Dalam sepersekian detik celah itu, pemimpin bertongkat tersenyum.
"Itu dia."
Dari balik kabut, dua sosok lain muncul tanpa suara. Mereka tidak mengarah ke Warok, tidak pula menuju Bayu atau pendekar bertombak. Mereka melesat cepat tepat ke arah Jangkrik.
Baru saat itulah Jangkrik sadar. Sejak awal, target sebenarnya bukanlah Sang Warok, Tapi justru dirinya.
Dua bilah pedang hitam meluncur deras ke arah dadanya dari dua sisi, nyaris tanpa menyisakan ruang untuk menghindar.