Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 28
PERCAYA ATAU TIDAK
Jam menunjukkan pukul satu lewat. Hujan sudah reda sejak tengah malam, menyisakan bau tanah basah dan dingin yang merayap dari celah jendela.
Ketiak Myra, Elina dan Markie makan malam bersama. Markie sesekali melirik ke Myra.
“Apa kau dia Silas saling mencintai?”
Myra menatapnya balik, lalu menatap ke Elina yang tersenyum kecil. “Kau mengatakan hal itu saat ada anak-anak kecil di sini.”
“Elina juga akan tumbuh dewasa, dia akan tahu.” jawab datar Markie sambil sibuk dengan makanannya.
Sementara Myra hanya diam tak menjawab pertanyaan wanita itu mengenai perasaannya pada Silas.
Selang beberapa menit kemudian. Myra masuk ke kamarnya, bersamaan dengan suara air berhenti, pintu kamar mandi terbuka.
Silas keluar hanya mengenakan bathrobe abu-abu. Rambutnya masih basah, menetes ke leher dan bahunya. Uap hangat mengikuti di belakangnya. Bau sabun kayu dan hujan bercampur menjadi satu.
Ia berhenti saat melihat Myra berdiri di sana menatap tertegun karena Myra tak tahu kalau Silas sudah kembali.
“Kapan kau pulang?”
“Saat kau teralihkan.” jawab pria itu enteng sambil berjalan ke arah meja panjang. “Kau belum tidur,” kata Silas. Suaranya rendah, serak karena lelah.
Myra menggeleng. “Ini terlalu awal untuk tidur.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Kau juga belum menjelaskan apa-apa.”
Silas menatapnya beberapa detik, lalu berjalan melewatinya menuju minibar. Ia menuang segelas wiski tanpa es. “Apa lagi yang ingin kau tahu?”
Myra mengikuti. “Siapa Lynda Wolfe sebenarnya. Dan siapa Bianco. Kenapa kau sampai harus ikut campur ke dalam urusan orang Barat itu sampai orang tuamu mati, Cassian mati, dan sekarang kau hampir ikut mati juga.”
Gelak wiski berhenti di bibir gelas. Silas menoleh. “Berisik sekali malam ini,” ucapnya datar tersenyum tipis.
“Itu karena aku lelah,” jawab Myra, suaranya mulai meninggi. “Aku lelah hidup di rumah yang setiap sudutnya punya rahasia. Aku lelah melihat Markie duduk di kursi roda. Aku lelah melihat Elina menangis. Dan aku paling lelah karena suamiku sendiri tidak pernah berkata jujur.”
Silas meletakkan gelasnya. Ia melangkah mendekat. Jarak mereka hanya tinggal satu langkah. Bau sabun dari tubuhnya bercampur dengan dingin dari luar.
“Jadi kau sudah menganggap ku suamimu?”
Myra menelan ludah tak berkedip menatap wajah Silas yang begitu dekat.
“Kau ingin tahu?” tanya Silas pelan. “Baiklah.”
Ia mengangkat tangannya, mengusap rahang Myra dengan punggung jari. Sentuhannya dingin.
“Lynda Wolfe adalah wanita yang membesarkanku setelah orang tuaku mati. Dia yang mengajariku cara menembak, cara berbohong, cara bertahan. Dan dia juga yang menyuruhku membunuh Cassian. Karena Cassian ingin keluar dari bisnis keluarga. Dan itu ancaman.”
Myra menahan napas. “Lalu Bianco?”
“Bianco adalah keluarga Lynda. Keluarga yang terlalu besar untuk dikendalikan oleh satu orang. Amber, Pedro, Fernando... mereka semua ingin kursi itu. Dan aku berada di tengahnya karena aku adalah anjing yang paling setia saat itu.”
“Anjing?” Myra menepis tangan Silas. “Kau bukan anjing.”
Silas tersenyum tipis. Senyum yang tidak bahagia. “Dulu iya. Sekarang tidak.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Myra menatapnya lama. Marahnya belum hilang, tapi di balik marah itu ada sakit. “Kau tidak berbohong.”
“Bagaimana menurutmu?”
Keduanya masih menatap lekat, tangan Silas kini menyentuh leher Myra. “Kenapa kau tidak bilang dari awal?”
“Karena kau tidak perlu menanggungnya,” jawab Silas. “Tugasku adalah menjagamu jauh dari semua ini.”
“Dengan cara menikahiku dan membawaku ke sarang serigala? Dan membuat paman, bibiku terbunuh karena musuhmu.”
Silas tidak menjawab. Ia hanya menatap.
Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya dan melepaskan ikatan bathrobe-nya. Kain itu terbuka sedikit, memperlihatkan dada bidangnya yang masih ada bekas luka lama. Uap dari kamar mandi masih menempel di kulitnya.
Myra mundur setapak. “Silas—”
“Jika kau marah,” potong Silas, suaranya menjadi lebih rendah. “Maka marahlah padaku. Bukan pada dunia.”
Ia melangkah maju lagi. Kali ini Myra tidak mundur.
Jari Silas menyentuh dagu Myra, mengangkat wajahnya agar saling bertatapan. Mata mereka bertemu. Di mata Silas tidak ada keangkuhan malam ini. Hanya lelah. Dan sesuatu yang lebih dalam yang selama ini ia sembunyikan.
“Kau pikir aku tidak takut?” bisik Silas. “Aku takut. Setiap kali aku keluar dan tidak tahu apakah aku akan kembali. Setiap kali aku melihatmu, aku ingin mendekatimu.”
Myra menggeleng. Air matanya hampir jatuh sekaligus emosi yang meluap. “Lalu jangan buat aku kesal.”
Silas menghela napas. Tangannya turun, melingkar di pinggang Myra dan menariknya mendekat. Bathrobe-nya yang setengah terbuka kini bersentuhan dengan lengan Myra. Hangat tubuhnya kontras dengan dingin ruangan.
Ciuman Silas jatuh tanpa peringatan. Bukan ciuman lembut. Ini ciuman milik pria yang baru pulang dari neraka dan butuh kepastian bahwa ia masih hidup.
Awalnya Myra kaku. Marahnya masih ada. Tapi cengkeraman tangan Silas di punggungnya, napasnya yang tidak beraturan, dan nama “Myra” yang keluar dari bibirnya di sela ciuman itu membuat semua pertahanan Myra runtuh.
Myra membalas. Tangannya naik, menggenggam kerah bathrobe Silas, menahannya agar tidak pergi.
Ketika mereka terpisah, keduanya sama-sama terengah. Dahi Silas bersandar di dahi Myra.
“Aku tidak bisa menjanjikan dunia yang aman,” ucap Silas pelan, bibirnya masih dekat dengan bibir Myra. “Tapi aku bisa berjanji, selama aku bernapas, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Myra menutup matanya. “Itu bukan janji. Itu tuntutan.”
Silas tertawa pelan di tenggorokannya. Suara itu jarang sekali ia keluarkan. “Baiklah. Tuntutanku.”
Ia mengangkat Myra dengan mudah. Kaki Myra reflek melingkar di pinggangnya. Bathrobe abu-abu itu kini menjadi satu-satunya penghalang di antara mereka.
Silas membawanya ke ranjang dan meletakkannya hati-hati, seolah ia takut Myra akan pecah.
Ia bertumpu di atasnya, menatap dari atas. Rambut basahnya menetes ke pipi Myra.
Ciuman berikutnya lebih lambat. Lebih dalam. Tangannya menyusup ke bawah ujung gaun tidur Myra, menyentuh kulitnya dengan hati-hati seolah mengingat setiap lekuk.
Myra memejamkan mata. Untuk beberapa jam malam itu, ia melupakan nama Lynda. Melupakan Bianco. Melupakan kursi roda dan ancaman di luar sana.
Yang ada hanya napas Silas, hangatnya, dan cara ia menyebut nama Myra seperti doa.
Ketika semuanya reda, kamar menjadi sunyi lagi. Hanya lampu tidur yang menyala temaram.
Silas berbaring di samping Myra, satu lengannya masih melingkar di pinggangnya. Bathrobe-nya kini tergeletak di lantai.
Myra menatap langit-langit. Jantungnya masih berdebar.
“Jadi...” bisik Myra. “Apa rencanamu sekarang?”
Silas membuka mata. “Membersihkan semuanya. Sampai ke akar.”
“Termasuk Amber?”
“Termasuk siapa pun yang berani menyentuh keluargaku.”
Kata "keluargaku" itu membuat Myra menoleh. Silas menatapnya balik. Tidak ada keraguan di sana namun Myra teringat akan Pedro yang kurang ajar pernah menyentuh pantatnya.
“Ada apa?”
“Nothing.”