NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin

Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍


Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?

Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.

Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Dua Ribu Li dan Bayang-Bayang yang Mengintai

"Baiklah, aku akan menjaga Kakak Pertama dan memastikan kau kembali dengan selamat," ucap Hou Juntian dengan suara yang berat namun penuh keyakinan. Ia membungkuk, mendaratkan ciuman hangat di keningku. Malam itu terasa begitu panjang, namun aku tetap terjaga di sisi Mo Jiu, memastikan napasnya tetap teratur hingga cahaya matahari pertama menembus celah jendela.

Pagi harinya, suasana di kediaman terasa tegang namun tenang. Aku sengaja berpamitan hanya kepada Mo Jiu dan Hou Juntian, membiarkan Shen Changge tetap dalam ketidaktahuannya. Aku tidak ingin debat kusir yang tidak perlu menghambat langkahku.

"Kalian berdua, dengarkan aku. Aku akan segera kembali dengan penawar itu. Jadi Tian-ge, jaga Mo Jiu baik-baik, dan kau... istirahatlah dengan tenang agar racun itu tidak semakin menyebar," ucapku dengan nada tegas namun menyiratkan kasih sayang.

Tiba-tiba, suara lirih Mo Jiu memecah kesunyian kamar. "Ning'er, kau... benar-benar akan pergi?"

Aku tersenyum tipis di balik cadarku, mengusap tangannya yang masih terasa dingin. "A-Jiu, aku pergi untuk kembali. Jadi, istirahatlah dengan baik dan jangan menyusahkan saudaramu dengan sikap kejarmu itu, ya?" candaku mencoba mencairkan suasana sebelum aku melangkah pergi.

"Nona Muda, kuda Anda telah siap," lapor seorang pelayan dengan patuh.

"Baiklah. Aku pergi," jawabku singkat. Aku segera meninggalkan ruangan itu, langkah kakiku berderap meninggalkan kediaman dengan satu tujuan utama.

Saatnya aku memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan. Perjalanan dua ribu li... ini akan memakan waktu setidaknya lima hari jika aku memacu kuda tanpa henti, batinku sembari menaiki kuda gagah yang sudah menungguku di gerbang. Dengan satu sentakan pada kendali, aku melesat meninggalkan kediaman, membelah kabut pagi yang menyelimuti jalanan.

Sementara itu, di kediaman Jianwu, suasana tidak sehangat yang kulihat. Begitu punggungku tak lagi terlihat, Hou Juntian berbalik dengan raut wajah yang berubah drastis—kini tidak ada lagi kelembutan, yang tersisa hanyalah otoritas seorang jenderal.

"Pengawal," panggilnya singkat.

Dalam sekejap mata, sesosok bayangan hitam muncul dari balik tirai, berlutut dengan sempurna di hadapannya. Pengawal bayangan itu bergerak secepat kilat, seolah-olah ia sudah berada di sana sejak awal.

"Ikuti dia secara diam-diam," perintah Hou Juntian dengan suara dingin yang menusuk. "Pastikan dia tidak menyadari keberadaanmu, namun jika ada nyawa yang mengancamnya, kau tahu apa yang harus kau lakukan tanpa perlu menunggu perintahku lagi."

"Siap, Tuan Muda!" jawab pengawal bayangan itu sebelum menghilang kembali ke dalam udara, menyisakan Hou Juntian yang menatap sedih ke arah gerbang tempatku baru saja pergi. Ternyata, perjalanan ini tidak hanya tentang mencari bunga, tapi juga tentang menyingkap siapa kawan dan siapa lawan yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kediaman kami.

"Ya, Jenderal," jawab pengawal itu patuh.

Hou Juntian menatap tajam ke arah bayangan itu, aura otoritasnya memenuhi ruangan. "Ikuti Nona Muda, lindungi dia dengan nyawamu. Jika sampai sehelai rambut pun jatuh dari kepalanya atau dia berada dalam bahaya, kalian akan kuhukum seberat-beratnya!" tegasnya tanpa kompromi.

"Baik, Jenderal!" sahut pengawal itu sebelum ia melesat pergi, mengikuti jejak Anning yang telah jauh di depan.

Tiga hari kemudian, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan melintasi hutan belantara dan jalur pegunungan yang curam, aku akhirnya tiba di sebuah desa yang tenang bernama Desa Hong Ye, atau Desa Daun Merah. Angin musim gugur membuat daun-daun maple berguguran, menciptakan pemandangan yang indah namun terasa sunyi. Karena perutku yang sudah mulai protes karena lapar, aku memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah kedai makan sederhana di pinggir jalan.

"Pelayan, ayam panggang satu dan bakpao dibungkus," ucapku singkat sembari duduk di bangku kayu yang tersedia.

"Baik, segera disajikan," jawab pelayan kedai tersebut.

Saat sedang menunggu, telingaku menangkap percakapan di meja sebelah. Beberapa rakyat jelata sedang berbincang dengan nada yang cukup keras.

"Kalian dengar tidak? Kabarnya Iblis Utara sedang sekarat sekarang, dia hanya tinggal menunggu ajal saja. Aku mendengar istrinya bahkan tidak menjaganya dengan baik, dia justru menghilang entah ke mana," ucap salah seorang dari mereka dengan nada mencemooh.

"Ah... aku juga dengar hal yang sama," sahut yang lain menimpali. "Katanya istri Iblis Utara itu sangat buruk rupa, makanya dia selalu memakai cadar ke mana-mana. Benar-benar pasangan yang menyedihkan."

Aku terdiam, jari-jariku mencengkeram erat pinggiran meja. Hatiku terasa tertusuk mendengar ejekan mereka terhadapku dan Mo Jiu. Namun, aku segera menarik napas dalam-dalam, menekan amarah yang mencoba meluap. Fokus, Anning. Rumor ini tidak penting. Yang terpenting adalah Bunga Teratai Salju itu, batinku menenangkan diri.

"Ini pesanan Anda, Tuan," ujar pelayan itu seraya meletakkan makanan di mejaku.

"Terima kasih," ucapku sambil meletakkan beberapa keping uang di atas meja sebelum beranjak pergi. Namun, sebelum benar-benar melangkah keluar, aku berhenti sejenak dan menoleh ke arah orang-orang yang tadi membicarakan rumor tersebut.

"Kalian... jika hanya bisa mendengar rumor, sebaiknya berhati-hatilah," ucapku dengan suara yang dingin namun tajam, membuat mereka terdiam seketika karena aura intimidasi yang terpancar dariku.

"Jika seseorang yang tidak seharusnya mendengar rumor itu mendengarnya langsung dari mulut kalian, nyawa kalian mungkin tidak akan aman lagi."

Tanpa memedulikan wajah mereka yang pucat pasi karena ketakutan, aku segera berbalik dan meninggalkan kedai tersebut. Aku harus terus bergerak. Setiap detik yang terbuang karena omong kosong orang-orang desa ini adalah kerugian besar bagi nyawa Mo Jiu. Dengan langkah cepat, aku kembali memacu kudaku menuju puncak gunung salju, siap menghadapi apa pun rintangan yang menanti di depan.

1
Seven Wann
karakter fl nya terlalu menye menye
Xue Lian: aduh kak... author baru pertama kali nulis karakter fl nya menye-menye...lain kali author buat karakter nya lebih badas ya🤭🤭
total 1 replies
Xue Lian
Hai...reader!!!

Terimakasih yang sudah spam like.

author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.

author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.

bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".

pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰

ditunggu ya😍
Xue Lian
Hai, para Readers! 👋🥰

Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.

Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖

Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.

Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨

Salam manis,

Author Diah Nation29 🌸
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!