"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Malam Pertama di Kamar Sebelah
Sinar matahari sore yang keemasan perlahan meredup, digantikan oleh semburat warna ungu dan jelaga yang menandai datangnya malam.
Setelah sore yang melelahkan namun penuh tawa di taman belakang, Yoyo akhirnya tertidur pulas di kamarnya.
Gadis kecil itu tidur dengan senyuman tipis yang sudah sangat lama tidak terlihat di wajahnya, ditemani oleh Goldie—sang Ksatria Emas—yang meringkuk setia di karpet bulu tepat di samping tempat tidurnya, bertindak sebagai penjaga pribadi yang tak tergoyahkan.
Viona melangkah keluar dari kamar Yoyo dengan sangat perlahan, memastikan pintu kayu ek yang tebal itu tertutup tanpa menimbulkan suara.
Ketika ia berbalik, atmosfer koridor lantai dua yang megah itu langsung menyambutnya dengan keheningan yang kontras.
Lorong panjang bernuansa klasik Eropa dengan deretan lampu dinding kristal itu mendadak terasa begitu sunyi.
Ia berjalan menuju kamarnya sendiri yang terletak tepat di sebelah kamar Yoyo. Begitu pintu kamarnya tertutup, Viona menyandarkan punggungnya di balik pintu, menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.
Ini adalah malam pertamanya di mansion ini dengan status yang baru:
Nyonya Oliver yang sah secara hukum, meskipun semuanya terikat di atas selembar kertas kontrak.
Viona memandang sekeliling kamar tamu yang kini menjadi ruang pribadinya.
Kamar itu sangat luas, didominasi warna putih gading dan abu-abu lembut.
Tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra, sofa beludru di dekat jendela besar yang menghadap ke taman, dan sebuah lemari pakaian berbahan kayu jati yang tertutup rapat.
Di atas meja rias, tas ransel kainnya yang usang tergeletak di sana, menjadi satu-satunya benda yang mengingatkannya pada kehidupan lamanya yang penuh derita bersama Lin.
Baru saja Viona hendak melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, suara ketukan yang pelan namun tegas terdengar dari arah pintu.
"Tok. Tok."
Jantung Viona berdegup sedikit lebih kencang.
Ketukan itu memiliki irama yang sangat ia kenali—bukan ketukan sopan yang biasa dilakukan Pak Pelayan atau para pelayan wanita lainnya.
Ini adalah ketukan yang penuh dengan otoritas.
Viona segera membuka pintu. Sosok tegap Oliver berdiri di ambang pintu.
Pria itu sudah menanggalkan jas abu-abu gelapnya.
Kini ia hanya mengenakan kemeja hitam formal dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aroma kayu cendana yang maskulin dan dingin langsung menguar, memenuhi indra penciuman Viona.
"Tuan Oliver," ucap Viona refleks, sedikit membungkuk hormat.
Oliver menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di bawah temaram lampu koridor, wajah Viona tampak bersih tanpa riasan, namun matanya memancarkan ketenangan yang anehnya mampu meredakan ketegangan yang dibawa Oliver dari dunia luar.
"Apakah Yoyo sudah tidur?"
tanya Oliver, suaranya rendah dan berat, menggema di lorong yang sepi.
"Sudah, Tuan. Yoyo tertidur sekitar lima belas menit yang lalu. Goldie menemaninya di dalam. Tampaknya Yoyo sangat kelelahan setelah bermain di taman tadi," jawab Viona dengan nada seprofesional mungkin.
Oliver mengangguk pelan. Ia melirik ke dalam kamar Viona sekilas, lalu kembali menatap mata Viona.
"Pak Pelayan memberi tahu saya tentang semua yang kau lakukan sore ini. Mulai dari membawa anjing dari suaka hingga sandiwara ksatria itu."
Pria itu terdiam sejenak, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku harus mengakui, metodemu sangat tidak biasa. Tapi... itu berhasil. Aku belum pernah melihat Yoyo tertawa lepas seperti itu sejak dua tahun lalu."
Viona tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa rasa lega.
"Anak-anak yang mengalami trauma hebat sering kali membangun dinding pertahanan yang sangat tebal di sekitar diri mereka, Tuan Oliver.
Manusia dewasa sering kali mendekati mereka dengan tuntutan, harapan, atau rasa kasihan yang berlebihan.
Hal itu justru membuat mereka semakin merasa tidak aman. Anjing seperti Goldie tidak memiliki motif tersembunyi.
Mereka memberikan kasih sayang yang murni dan tanpa syarat. Itulah yang dibutuhkan Yoyo saat ini—merasa aman tanpa dihakimi."
Oliver mendengarkan penjelasan itu dengan saksama.
Ada kedalaman emosi dalam kata-kata Viona yang membuat Oliver menyadari sesuatu.
Wanita di depannya ini bukan hanya seorang ibu tiri kontrak yang dibayar untuk merawat anaknya;
ia adalah seseorang yang pernah berada di dasar kegelapan yang sama dengan Yoyo, dan berhasil menemukan jalan keluar menggunakan sisa-sisa kekuatannya sendiri.
"Bagaimana dengan dirimu?"
tanya Oliver tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya, membuat Viona sedikit tersentak.
"Maaf, Tuan?"
"Kau menghabiskan seluruh energimu untuk menyembuhkan anakku,"
ujar Oliver, melangkah satu langkah lebih dekat ke ambang pintu, membuat auranya terasa semakin menindas namun tidak mengintimidasi.
"Tetapi kau sendiri baru saja melewati perceraian yang buruk dan serangan mental dari mantan suamimu. Apakah kamarmu cukup nyaman? Apakah kau membutuhkan sesuatu?"
Viona terpaku.
Ia tidak menyangka sang tirani bisnis yang terkenal kejam dan tidak berperasaan di dunia korporasi ini bisa menanyakan kenyamanan dirinya dengan nada yang, meskipun tetap datar, tersirat sedikit perhatian.
"Kamar ini jauh lebih dari cukup, Tuan Oliver. Ini adalah tempat paling nyaman yang pernah saya tinggali selama bertahun-tahun,"
jawab Viona jujur, matanya menatap langsung ke dalam manik mata elang Oliver.
"Bagi saya, bisa terlepas dari tekanan keluarga Lin dan melihat Yoyo tersenyum sudah merupakan obat terbaik untuk jiwa saya sendiri. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya."
Oliver menatap mata jernih Viona selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
Keheningan malam di antara mereka berdua di ambang pintu itu terasa begitu intim namun tetap terjaga oleh batasan tak kasatmata yang mereka sepakati.
"Baguslah kalau begitu,"
ucap Oliver akhirnya, memutus kontak mata dan menurunkan tangannya kembali ke samping tubuh.
"Besok pagi, tim hukumku akan mengirimkan salinan dokumen resmi pernikahan kita ke alamat lama mantan suamimu.
Mulai besok, seluruh kota akan tahu bahwa kau adalah Nyonya Oliver.
Jika pria bernama Lin itu atau keluarganya mencoba menghubungimu atau mengganggumu lagi, kau hanya perlu memberi tahu Pak Pelayan.
Aku akan memastikan mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di kota ini lagi."
Mendengar janji perlindungan yang begitu absolut dari Oliver, Viona merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Lin, ia selalu menjadi pihak yang disalahkan, diinjak-injak, dan dibuang.
Kini, pria yang baru ia kenal beberapa hari ini berdiri seperti gunung yang kokoh, siap menghancurkan siapa saja yang berani menyentuhnya.
"Terima kasih, Tuan Oliver. Saya sangat menghargainya," bisik Viona tulus.
"Satu hal lagi,"
tambah Oliver sebelum berbalik pergi.
"Karena kita sudah resmi menikah di mata hukum, di depan para pelayan dan dunia luar, panggil aku Oliver. Tidak perlu menggunakan embel-embel 'Tuan'. Itu terdengar aneh di rumahku sendiri."
Viona sedikit ragu, namun ia mengangguk patuh. "Baik... Oliver."
Nama itu terdengar asing namun memiliki getaran yang kuat saat keluar dari bibir Viona.
Oliver tampak puas dengan jawaban itu.
Ia memberikan satu anggukan kecil, lalu berbalik dan berjalan menuju ujung koridor, menaiki tangga menuju lantai tiga yang menjadi area pribadinya.
Langkah kakinya yang tegap perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang kini terasa jauh lebih hangat bagi Viona.
Viona menutup pintu kamarnya kembali. Setelah membersihkan diri dengan mandi air hangat yang melekskan otot-otot tubuhnya yang tegang, ia mengenakan piyama satin sederhana berwarna biru tua yang disediakan di dalam lemari.
Ia mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya temaram berwarna kuning lembut.
Viona berjalan menuju jendela besar, menyibak tirai tipisnya, dan menatap ke luar.
Taman belakang yang beberapa jam lalu dipenuhi tawa Yoyo kini diselimuti kegelapan malam yang tenang.
Angin malam berembus perlahan, menggoyang dedaunan pohon-pohon hias di bawah sana.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menderita major depressive disorder, Viona tidak merasakan dadanya sesak saat malam tiba.
Biasanya, malam hari adalah waktu yang paling menakutkan baginya, saat memori makian Lin dan kurungan kamar gelap menghantuinya tanpa ampun.
Namun malam ini, di kamar sebelah seorang gadis kecil yang membutuhkannya, dan di bawah atap seorang pria dingin yang melindunginya, Viona merasakan sebuah kedamaian yang mendalam.
Ia berjalan menuju tempat tidur mewah itu, merebahkan tubuhnya yang rapuh di atas kasur yang empuk.
Saat ia menarik selimut tebal hingga ke dada, ia bisa mencium sayup-sayup aroma kayu cendana yang tampaknya tertinggal dari mantel wol Oliver yang sempat diletakkan di kamar ini semalam.
Aroma itu seolah menjadi pengingat bahwa badai dalam hidupnya telah berlalu, dan ia kini berada di tempat yang aman.
Di luar jendela, bulan sabit bersinar terang di langit malam yang bersih.
Di kamar sebelah, seorang gadis kecil tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk.
Dan di lantai atas, sang tirani dingin berjaga di atas takhta bisnisnya.
Malam pertama Viona di kamar sebelah berlalu dengan keheningan yang menyembuhkan, membuka gerbang bagi lembaran baru kehidupan yang penuh dengan harapan di kediaman keluarga Oliver.