Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
“MAX!”
Teriakan itu disertai suara benda berat yang jatuh dari atas membuat mama Maxime yang sedikit khawatir di bawah langsung terkejut.
Tak lama kemudian, sosok Helena muncul hanya dengan balutan handuk yang bahkan tak bisa menutupi tubuhnya secara sempurna.
“Helena, ada apa?” tanya mama maxime cemas.
Helena sama sekali tak bisa menjawab. Ia mempercepat langkahnya. Tindakan yang membuat mama Maxime bisa melihat dengan jelas, bekas merah yang cukup besar di dada wanita itu.
“Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi,” gumamnya yang ikut berlari mengejar Helena.
Di bawah, pakaian Maxime yang berantakan itu membuat para pengawal yang melihatnya terkejut.
“Tuan Muda?” serempak mereka memanggil Maxime yang berusaha bangkit.
Tubuhnya yang panas, dan kakinya yang terkilir akibat meloncat dari lantai dua itu membuatnya terengah engah. Matanya menatap kearah pengawal pengawal itu.
“Siapa yang bisa megantarku kembali ke mansionku, aku akan memberi kalian hadiah satu juta dollar,” ucapnya yang langsung membuat mata para pengawal berbinar.
Namun, sebelum pengawal itu saling berebut untuk menerima tawaran itu, teriakan melengking Helena membuat mereka tersentak.
“TIDAK ADA YANG BOLEH MEMBAWANYA PERGI!”
Mata mereka bahkan melotot saat melihat tubuh Helena yang benar benar terekspos itu.
Mama Maxime yang melihat keadaan anaknya begitu terkejut.
“Max,” panggilnya tak percaya.
Ia ingin mendekati putranya. Namun, tatapan penuh kebencian putranya dan ucapan dingin pria itu membuat langkah mama Maxime benar benar goyah.
“Menjauh dariku!” peringatnya dingin.
“Siapa yang berani membawa suamiku pergi, jangan harap akan tetap bisa bekerja di sini,” ancam Helena lagi.
Ia bahkan tak peduli, mansion ini bukan wailayahnya. Namun, ia bertekat, malam ini rencananya harus berhasil. Ia haya perlu membawa Maxime kembali masuk ke dalam. Memastikan, kamar yang mereka tempai tdak memiliki jendela untuk membiarkan Maxime kabur.
Ia tak percaya, dalam pengaruh obat, dan dengan kondisi tubuhnya yang begitu menggoda, Maxime tidak akan tergugah.
Mata Maxime semakin menggelap. Kali ini, dia tidak hanya membenci Helena, tapi juga merasa jijik.
“Siapa yang membawaku kembali, dia tidak hanya mendapatkan hadiah satu juta dollar, tapi akan aku pekerjakan di mansionku,” ucap Maxime yang membuat Helena membelalak.
“MAX!” marah Helena yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Maxime.
Beberapa pengawal dengan sigap menjemput Maxime. Membantu pria yang tak berdaya iu untuk masuk ke mobil Maxime unuk meninggalkan mansion tua itu.
Helena yang melihat itu begitu panik. Ia langsung menatap mertuanya yang hanya diam dan terpaku menatap kepergian putranya.
“ma, kenapa mama hanya diam saja? Bukankah mama ingin menyatukan kami?”
“Helena_”
“Ma! Cepat cegah mereka. Mereka akan membawa Maxime pergi,” panik Helena saat melihat Maxime berhasil di masukkan kedalam mobil.
Ia tahu, jika Maxime berhasil kabur sebelum mereka berhasil melakukan sesuatu, ia benar benar kehilangan kesempatan emas ini. Bukan hanya itu, Maxime tidak akan pernah memaafkanya dan membencinya. Jalannya untuk mendapatkan Maxime akan tertutup sempurna.
“Max, kau tidak bisa pergi begitu saja, kita harus menyempurnakan pernikahan kita,” ucap helena yang tergesa gesa mengejar mobil Max.
Maxime yang benar benar marah sama sekali tak peduli. Matanya menajam, ia memberi kode pengawal itu yang langsung dipahami olehnya.
Tanpa ragu, ia mendorong Helena menjauh, membuat Helena yang tak berdiri kokoh itu terhuyung ke belakang, kemudian terjengkang dan membiarkan handuk yang menutupi tubuhnya terlepas.
“Ahh,” pekik beberapa pelayan wanita yang melihat tubuh polos Helena yang terekspos di tanah itu.
Helena yang tak menyangka akan dipermalukan oleh seorang pengawal, di depan para pelayan dan pengawal rendahan itu berteriak. Wajahnya merah padam. Ia dengan terburu buru mengambil handuk untuk menutupi ketelanjangannya.
Mama Maxime yang melihat semua itu semakin memucat. Matanya tanpa sadar menatap ke arah Maxime yang bahkan tak menatapnya itu. Namun, kalimat yang dilontarkan Maxime membuat lututnya lemas.
“Aku rasa, cukup sampai di sini hubungan kita sebagai orang tua dan anak. Aku akan tetap memberikan tunjangan bulanan sebagai tanda baktiku sebagai seorang anak. Tapi untuk yang lainnya, maaf, aku tidak akan pernah melakukannya,” tegas Maxime sebelum meminta pengawal menutup pintu dan membawanya pergi.
Mama Maxime jatuh berlutut. Matanya menatap kearah mobil yang menjauh itu. Bukan mobilnya yang meninggalkanya, tapi Maxime, satu satunya putranya yang ia banggakan lah yang meninggalkannya.
“Ma, mama tidak bisa membiarkan max lolos begitu saja. Ma, per_ akh!” Helena memekik terkejut saat ia mendapatkan tamparan kuat di pipinya.
Mama maxime yang benar benar marah karena hubungannya dengan putranya hancur demi wanita di depannya itu tak lagi menatap Helena dengan pandangan lembut.
“Ma, kenapa mama menamparku?”
“Ini pantas kau dapatkan. Gara gara kau, Maxime tidak lagi peduli padaku!” marah mama Maxime yang membuat Helena semakin tercengang.
Takut jika dia melihat Helena lebih jauh lagi dia akan kehilangan kendali, ia meminta para pelayan untuk membawa pergi Helena. Mengantar Helena ke rumahnya sendiri.
“Bawa wanita itu pergi, aku tidak ingin melihatnya lagi!” perintah mama maxime tegas.
Helena membelalak. Namun, ia benar benar tak diberi kesempatan untuk melawan. Tubuhnya diangkut begitu saja, kemudian memaksanya masuk ke dalam mobil tanpa membiarkannya memakai pakaian yang layak.
“Nyonya,” kepala pelayan yang melihat betapa hancurnya mama maxime saat ini ingin menghiburnya.
Namun, kepala pelayan itu juga tidak tahu bagaimana harus menghiburnya.
“Andrew, apa yang sudah aku lakukan? Aku menghancurkan hubunganku dengan putraku sendiri demi wanita luar itu?” tanyanya dengan suara tercekat.
Sekali pun Helena menantunya, apa hal itu sebanding dengan kehilangan putra semata wayangnya?
***
“Max.” Mata Selena membelalak saat melihat Maxime yang dibopong masuk ke dalam kamarnya.
Wajah Maxime yang memerah hebat, dengan tubuh gemetar tak terkendali membuat Selina panik.
Ia langsung mendekat guna melihat keadaan prianya. Namun, baru saja tangannya menyentuh pipi Maxime, Maxime menepisnya.
“jangan sentuh aku. Hanya Selina yang boleh menyentuhku,” desisnya dengan suara dingin.
Sekali pun keadaanya sudah seperti ini, Maxime masih memperhatikan kesucian dirinya
Selina yang mendengar semua itu diam diam merasa terharu. Sekali pun tujuannya menaklukan Maxime semua demi misi balas dendam, ia harus mengakui, ketulusan Maxime sedikit mengguncangnya.
“Max, ini aku Selina,” bisik Selina lembut.
Maxime yang mendengar suara Selina berusaha membuka matanya. Bibirnya berdarah hanya agar dirinya tetap sadar.
Saat matanya bertemu dengan tatapan Selina, kewarasan yang selama ini ia pertahankan langsung runtuh. Ia langsung menerkam Selina, menciumnya dengan rakus, bahkan tak mempedulikan jika pintu kamarnya belum tertutup.
Selina yang bisa merasakan darah Maxime itu sedikit mengernyit. Namun, saat ia mendengar pengingat sistem jika Maxime dalam pengaruh obat yang bahkan jauh lebih besar dosisnya dibanding obat yang pernah Maxime konsumsi waktu itu benar benar terkejut.
“Sial! Apa wanita itu tak mempedulikan tubuh putranya sendiri,” gumamnya benar benar tak percaya jika seorang ibu kandung rela menjebak putranya sendiri sampai seperti ini.