Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proposal Kerja Sama
Dengan langkah anggun, wanita berjubah ungu itu berjalan mendekat lalu mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di sebelah kanan Luo Chen. Jarak di antara keduanya hanya terpaut setengah meter.
Melihat kedatangan wanita itu, Chen'er memutar posisi duduknya sedikit ke kiri agar saling berhadapan. Pandangan matanya tetap tenang meski wanita di hadapannya menatap dengan lekat.
Setelah duduk di kursi kayu, wanita itu menopang dagunya dengan tangan kanan. "Ternyata rumor itu tidak salah sama sekali. Alkemis luar biasa yang mampu membuat Tetua Ran Cheng gemetar ketakutan hari ini ternyata adalah seorang adik kecil yang sangat tampan," kata Ning Wushuang dengan suara yang terdengar manja dan sedikit menggoda. Matanya berkedip lambat ke arah wajah Luo Chen. "Melihat pipimu yang sedikit menegang itu, apakah kau merasa tidak nyaman duduk sedekat ini denganku?"
Mendengar ucapan bernada menggoda tersebut, Luo Chen menundukkan pandangannya sedikit ke arah cangkir teh di atas meja, menunjukkan reaksi sedikit malu sebelum akhirnya kembali menegakkan kepala. "Saya datang ke sini untuk membicarakan bisnis yang serius dengan Paviliun Pil Seribu Obat, Pemilik Paviliun Ning. Saya rasa hal-hal di luar urusan alkimia tidak perlu kita bahas hari ini."
"Baiklah, jika itu maumu, mari kita bicarakan bisnis," jawab Ning Wushuang sambil menarik kembali tubuhnya dan duduk tegak dengan senyum tipis yang masih tersisa di bibirnya. "Penawaran seperti apa yang ingin kau tawarkan kepada paviliun kecilku ini?"
"Saya ingin menawarkan sebuah proposal kerja sama untuk memproduksi sebuah pil tingkat dua jenis baru," jawab Chen'er dengan nada datar. "Saya menyebutnya Pil Roh Pencair Qi."
"Pil Roh Pencair Qi?" tanya Ning Wushuang sambil mengerutkan dahi indahnya. "Aku telah membaca ribuan catatan kuno tentang formula pil di benua ini, namun aku belum pernah mendengar nama pil tersebut sebelumnya. Apa keunikan dari pil yang kau tawarkan ini?"
"Pil ini memiliki tiga ciri khas utama yang tidak dimiliki oleh pil tingkat dua mana pun di pasar saat ini," jawab dia sambil mengetukkan jari telunjuknya ke permukaan meja kayu sebanyak tiga kali. "Pertama, pil ini memiliki tingkat efisiensi penyerapan energi lima puluh persen lebih tinggi ketika dikonsumsi oleh seorang praktisi. Kedua, proses meraciknya jauh lebih mudah dan memiliki tingkat kegagalan yang sangat rendah. Ketiga, bahan herba spiritual yang dibutuhkan untuk meraciknya jauh lebih sedikit daripada Pil Kondensasi Qi tingkat dua standar."
Mendengar penjelasan itu, tiga orang tetua yang berdiri di belakang Ning Wushuang langsung saling berpandangan dan mulai berbisik dengan nada tidak percaya.
"Itu sama sekali tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi!" kata Tetua Gu dengan suara keras dari barisan belakang. "Setiap jenis pil tingkat dua di dunia ini telah memiliki formula paten yang ditetapkan oleh Aliansi Alkemis Pusat selama ribuan tahun. Jumlah herba, kadar energi, serta kualitas bahan yang dibutuhkan telah terkunci secara baku. Bagaimana mungkin ada resep yang membutuhkan bahan lebih sedikit namun memberikan khasiat lima puluh persen lebih tinggi?"
"Benar sekali, Pemilik Paviliun!" tambah Tetua Mu Shan dengan nada mendengus sinis. "Jika hal seperti itu benar-benar ada, maka seluruh hukum dasar alkimia yang kami pelajari selama puluhan tahun ini akan menjadi lelucon belaka. Dia pasti hanya sedang bercanda atau mencoba menipu kita dengan nama-nama yang terdengar megah."
Dengan tenang, dia tidak membalas bantahan dari kedua tetua tersebut. Tangan kanan Luo Chen merogoh saku jubah biru emasnya, lalu mengeluarkan selembar kertas putih tebal yang terlipat rapi dan meletakkannya di atas meja kayu.
Kertas tersebut diletakkan tepat di depan Ning Wushuang. "Ini adalah resep lengkap dan instruksi dasar untuk meracik Pil Roh Pencair Qi. Anda bisa memeriksanya sendiri terlebih dahulu."
Tangan lentik wanita berjubah ungu itu langsung mengambil kertas putih tersebut. Matanya membaca baris demi baris tulisan tangan di atas kertas dengan sangat teliti.
*"Tinta hitam di atas kertas ini masih sangat baru, bahkan aromanya belum sepenuhnya hilang. Ini berarti dia baru saja menuliskan resep ini beberapa saat yang lalu di ruang ujian,"* pikir Ning Wushuang di dalam hatinya dengan rasa terkejut yang tertahan. *"Metode penulisan istilah herba, bagan sirkulasi api, hingga detail suhu pemurnian di dalam resep ini ditulis dengan tingkat kejelasan yang luar biasa tinggi. Struktur bahasanya hanya bisa ditulis oleh seorang grandmaster alkemis tingkat tinggi. Dia sama sekali tidak sedang berbohong tentang formula ini."*
Kertas ini diletakkan kembali di atas meja dengan perlahan oleh tangan Ning Wushuang. Matanya menatap lekat-lekat wajah Luo Chen. "Baiklah Tuan muda Luo Chen, Katakan, apa syarat yang kau ajukan dan bagaimana bentuk kerja sama yang kau inginkan dari paviliun kami?"
"Saya hanya memberikan resep ini kepada paviliun Anda untuk diproduksi secara massal. Seluruh bahan baku herba, tempat pemurnian, tenaga alkemis, dan jalur distribusi akan disediakan sepenuhnya oleh pihak Anda. Sebagai gantinya, saya ingin hasil penjualan dari pil ini dibagi rata sebesar lima puluh persen untuk saya, dan lima puluh persen untuk paviliun Anda," jawab Chen'er.
"Bagi rata? Lima puluh persen?" tanya Tetua Gu dengan mata melebar karena terkejut.
Dua pengawas berjubah abu-abu di belakang Ning Wushuang langsung melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi rasa tidak setuju.
"Pemilik Paviliun, ini adalah bentuk pemerasan yang nyata!" teriak Tetua Gu dengan nada suara tinggi. "Dia hanya memberikan selembar kertas dengan coretan tulisan, sementara paviliun kita harus menanggung seluruh biaya herba yang mahal, tenaga kerja para alkemis kita, dan risiko kegagalan pasar. Jatah lima puluh persen terlalu enak bagi dia!"
"Benar sekali! Bagian itu terlalu besar untuk satu formula yang belum terbukti khasiatnya!" tambah Tetua Mu Shan ikut memprotes dengan keras. "Dua puluh persen saja sudah merupakan batas maksimal untuk kerja sama jenis resep baru di benua ini!"
Di bawah tatapan penuh protes dari kedua tetua itu, Luo Chen tetap menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dengan santai.
"Pil ini memiliki biaya produksi yang hanya setengah dari Pil Kondensasi Qi tingkat dua biasa, namun khasiatnya jauh melampaui pil tersebut," jawab Chen'er dengan nada dingin namun tegas. "Ketika pil ini pertama kali dilempar ke pasar, harga jualnya bisa ditekan hingga tiga puluh persen lebih murah daripada kompetitor Anda, namun margin keuntungan Anda masih akan melonjak dua kali lipat. Pil ini akan mengguncangkan seluruh pasar pil di Kota Qingfeng, merebut semua pelanggan dari klan-klan pesaing, dan bahkan bisa mengundang perhatian dari kota-kota besar di sekitarnya. Apakah menurut Anda formula pembuat perubahan pasar seperti ini tidak layak mendapatkan jatah lima puluh persen?"
"Keuntungan lima puluh persen dari sebuah pasar baru yang sangat besar," gumam Ning Wushuang lirih. Matanya berkedip cepat saat menganalisis potensi keuntungan finansial yang baru saja dipaparkan.
Setelah terdiam selama beberapa saat untuk berpikir, Ning Wushuang akhirnya mengetukkan telapak tangan ke permukaan meja kayu sekali. "Baiklah, jika semua yang tertulis di dalam resep ini memang benar dan khasiat pilnya terbukti setelah kami meraciknya nanti, aku menyetujui pembagian hasil lima puluh persen tersebut."
"Tentu saja," jawab Chen'er sambil tersenyum tipis.
Dengan gerakan santai, dia berdiri dari kursi kayunya, merapikan kembali lipatan jubah biru emasnya yang anggun, lalu melangkah menuju ke arah pintu keluar ruangan ujian lantai dua.
"Kirimkan pesan ke kediaman keluarga Luo di kaki Gunung Tiga Jari setelah Anda berhasil menyelesaikan proses uji coba racikan pertama tersebut," ucap Chen'er tanpa menghentikan langkah kakinya. "Saya akan menunggu kabar baik dari Anda."
Langkah kakinya bergerak dengan stabil menuruni anak tangga kayu lantai dua menuju ke arah pintu keluar utama Paviliun Pil Seribu Obat.
Pintu kayu lantai dua tertutup rapat kembali setelah kepergian Luo Chen.
Suasana di dalam ruangan langsung dipenuhi oleh protes dari kedua pengawas berjubah abu-abu.
"Pemilik Paviliun! Kenapa Anda begitu mudah mempercayai anak itu?" teriak Tetua Gu dengan ekspresi panik di wajahnya. "Resep berharga itu ditinggalkan begitu saja di atas meja tanpa ada jaminan kontrak jiwa. Jika formula itu memang asli dan berharga, mana mungkin dia meninggalkannya begitu saja secara gratis? Ini pasti resep palsu yang sengaja dia buat untuk mempermainkan kita!"
"Resep berharga itu pasti palsu!" tambah Tetua Mu Shan dengan nada meyakinkan. "Dia pasti tahu bahwa kita tidak akan bisa melacak keberadaannya setelah dia pergi membawa uang atau ketenaran dari tempat ini!"
"Tutup mulut kalian berdua!" bentak Ning Wushuang dengan suara dingin yang dipenuhi otoritas seorang Alkemis Tingkat Empat. Tekanan energi Qi ungu berputar pelan di sekitar tubuhnya, membuat kedua tetua tersebut langsung menundukkan kepala mereka ketakutan. "Ran Cheng, siapkan bahan-bahan herba yang tertulis di dalam resep ini ke dalam ruang pemurnian pribadiku sekarang juga. Aku sendiri yang akan mempraktikkan dan membuktikan keaslian resep ini secara langsung."
Wanita itu langsung menyambar lembar resep putih di atas meja dengan gerakan cepat namun lembut, lalu berjalan dengan anggun, langkah manisnya mengarah ke arah tangga lantai tiga kediamannya.